Sabtu, 27 Desember 2008

4. Profesi

Banyak orang yang kecemplung begitu saja dalam pekerjaan yang ditekuninya hingga saat ini. Begitu ada lowongan kerja terpampang di koran, lamaran langsung pergi. Tak peduli posisi apa yang dicari. Diterima syukur, tidak diterima ya coba lagi. Terus-menerus begitu. Sampai pekerjaan masuk ke dalam saku. Mereka tak pernah merencanakan, dan bahkan tak pernah tahu atau menyangka sebelumnya, kalau akhirnya bekerja di suatu bidang yang boleh jadi akan memberikan peluang berkembang yang sangat luas, penghasilan besar, menyenangkan, sesuai dengan hobi, menjemukan, melelahkan, kurang pas dengan karakter personal, gajinya kecil, dan lain sebagainya. Semuanya seperti tebak-tebakan.
Memang, ada kutu loncat yang terus-menerus pindah kerja. Berusaha terus mencari, hingga akhirnya menemukan profesi yang dirasa paling cocok untuk dirinya. Kesempatan seperti itu memang terbuka luas bagi para fresh graduates pada saat ekonomi Indonesia sedang booming di tahun delapan puluhan hingga paruh pertama sembilan puluhan. Masa jaya, yang tinggal kenangan. Tapi tak semua orang seberuntung mereka, terutama generasi sekarang dan ke depan. Mereka harus menghadapi persaingan yang lebih sengit, dan butuh modal lebih dari sekedar ijazah.
“Wah. Wah. Wah.” Sony hanya geleng-geleng kepala. Dia memasang iklan lowongan kerja di Kompas, mencari account executive untuk memperkuat Bagian Pemasaran di kantornya. Lamaran yang masuk lebih dari dua ratus. Semuanya tak jelas. Sehingga dia bingung sendiri, mau panggil yang mana. Dua puluh sembilan sarjana akuntasi mengira lowongan itu untuk mereka, hanya karena tercantum kata account. Mungkin dikira accounting executive, tapi salah ketik. Setelah dipilah-pilah selama empat hari, hanya lima belas pelamar yang kayaknya memenuhi syarat. Maka Anita memanggil mereka untuk wawancara. Ternyata, hanya tiga orang yang mengerti apa itu account executive. Sisanya lholak-lholok. Tidak tahu apa-apa. Setelah dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi yang disyaratkan, mereka malah menanyakan kalau-kalau bisa ditempatkan pada posisi yang lain. Asal bisa kerja. Hebat sekali semangat mereka. Patut dihargai. Tapi salah alamat.
Seperti halnya yang kerap terjadi di perusahaan lain, Sony juga beberapa kali melakukan kesalahan dalam rekrutmen karyawan. Terutama untuk karyawan di Bagian Pemasaran. Gampang-gampang susah. Sudah tak terhitung berapa orang yang dia keluarkan karena tidak kunjung berhasil membuat transaksi, meski telah diberikan masa perpanjangan dan dibantu habis-habisan. Pada waktu tes wawancara, mereka kelihatan sangat percaya diri dan berani memberikan garansi. Tapi begitu nyemplung ke dalam pekerjaan yang sesungguhnya, mereka seperti jajaran pisau majal yang terbuat dari bahan seng. Diasah berkali-kali dengan cara apapun – serong kiri, serong kanan, naik turun, depan belakang – tetap saja tak bisa dipakai untuk mengiris bawang. Seandainya dibikin panci atau kuali, mungkin mereka akan lebih berguna. Hanya saja, yang Sony butuhkan adalah tenaga pemasaran. Bukan orang produksi atau staf administrasi. Bukan pula office boy.
Kerumitan persoalan ini mengingatkan Sony pada upaya Mendikbud Prof.Dr.Ing. Wardiman Djojonegoro yang dengan semangat menggelora mendengung-dengungkan link-and-match pada pertengahan tahun sembilan puluhan. Gagasan dasarnya adalah para lulusan sekolah menengah umum/kejuruan maupun perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi SDM siap pakai ketika memasuki dunia kerja. Dunia usaha dan industri pun digandeng, digadang-gadang, dicomblangi agar berjodoh dengan dunia pendidikan. Berselingkuh juga boleh. Asal jangan sampai saling menularkan penyakit bawaan. Kenyataannya, program itu tak banyak membuahkan hasil. Hanya bergerak pada tataran wacana. Merdu di telinga, tapi tak jalan.
Sesungguhnya, link-and-match adalah sebuah gagasan brilian sebagai upaya penciptaan SDM yang siap pakai ketika memasuki dunia kerja. Hanya saja, implementasinya kurang membumi dan nuansanya serba teknis. Mungkin karena Pak Wardiman seorang insinyur. Dalam kenyataannya, tak mungkin berharap banyak kepada dunia usaha dan industri untuk berpartisipasi menyukseskan program seperti ini. Mereka hanyalah pemakai jasa yang ingin mendapatkan tenaga kerja bagus tanpa merasa perlu terlibat dalam proses penciptaannya.
“Itu urusan pemerintah, gawe-nya Pak Wardiman, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kalau output-nya bagus kita pakai, kalau tidak ada yang oke, ya kita cari dari sumber lain.” Begitulah cara berpikir mereka. Praktis.
Dengan demikian, tak perlu lagi bicara soal link, cukup match.
Kondisi mismatch dapat ditemukan dengan mudah pada perilaku mayoritas pencari kerja. Ada lowongan apa saja, surat lamaran langsung terbang. Siapa tahu diterima. Untung-untungan. Seperti berjudi. Nanti, setelah diterima, tinggal dipelajari cara kerjanya, begitu pikir mereka. Pasti ada yang mengajari. Kan, ada job training. Sudah, embat saja. Yang penting masuk dulu. Maka, lulusan Sospol jadi tenaga administrasi. Sarjana Hubungan Internasional jadi staff Bagian Umum. Macam-macamlah. Paling fenomenal, banyak alumnus Institut Pertanian Bogor yang jadi wartawan, sehingga nama perguruan tinggi itu sering dipelesetkan menjadi Institut Publisistik Bogor. Ini perguruan tinggi memang hebat, lulusannya bisa jadi apa saja, kecuali petani. Tanya saja sama Pak Bungaran. Pasti dia mengiyakan.
Situasi mismatch juga tercermin dari realitas yang sering terjadi di dunia kerja dan apa yang kerap dialami pekerja. Seorang pekerja hampir bisa dipastikan akan menjadi profesional sukses apabila mampu meraih posisi dan penghasilan yang mapan sebelum usia tiga puluh tahun. Artinya, dalam waktu sekitar lima tahun bekerja, seluruh potensi yang terdapat di dalam dirinya dapat berkembang secara maksimal. Ini hanya bisa terjadi bila dia berada di tempat yang tepat. Dengan kata lain, dia beruntung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan seluruh kemampuannya, apa pun latar belakang pendidikannya.
Sebaliknya, bila usia sudah melewati tiga puluh tahun, dan masih belum juga mengalami perkembangan berarti dalam karier maupun penghasilan, ini baru namanya gawat. Kenapa ini bisa terjadi? Itu bukan karena dia bodoh atau tidak kapabel. Juga bukan karena dia terlahir pada hari Selasa Kliwon seperti kata primbonis Drs. H. Imam Soeroso, MM MBA. Sama sekali bukan. Hanya saja, selama ini dia berada di tempat yang salah, yang tidak memungkinkan seluruh potensinya berkembang secara maksimal.
Lantas, apakah seumur hidup akan bernasib seperti itu? Stuck di situ-situ saja? Tidak juga. Tak perlu berkecil hati. Masih bisa di-restart, walaupun harus kehilangan waktu yang berharga. Caranya? Kenali seluruh kemampuan pribadi. Baru kemudian tentukan pekerjaan apa yang paling memungkinkan segenap potensi yang dimiliki berkembang penuh. Artinya, harus siap pindah posisi, atau, pindah kerja sekalian. Memang tidak mudah. Posisi atau pekerjaan baru belum tentu gampang didapatkan, apalagi usia sudah kepala tiga. Tapi itulah harga yang harus dibayar. Diperlukan kebesaran hati, ketegaran dan keberanian. Karena bisa jadi harus mulai dari nol lagi. Namun, bila peluangnya menjanjikan, why not?
Dosa apakah gerangan yang menjadikan begitu banyak orang terperangkap dalam pekerjaan yang sama sekali tidak memberikan peluang untuk berkembang? Apakah itu murni kesalahan mereka? Sama sekali bukan. Hal serupa dialami oleh jutaan orang. Sony dulu juga begitu. Tamat kuliah langsung kirim lamaran ke mana-mana. Asal tembak. Tak tahu mau jadi apa nantinya. Bahkan, ketika diterima bekerja di Citibank, dia sempat dua hari mengikuti training. Tapi, karena merasa tidak bakat menjadi orang bank, dia tak hadir lagi besoknya. Ngilang begitu saja. Beruntung, setelah empat kali loncat ke sana-sini, Sony mendapatkan pekerjaan yang lumayan cocok untuk mengasah dan mengembangkan semua kemampuannya, hingga akhirnya dia putuskan untuk memulai usaha sendiri pada usia dua puluh delapan tahun. Meski harus jatuh bangun.
Jadi, apa, atau siapa, yang salah? Sistem pendidikan? Orangtua? Guru dan dosen? Lingkungan? Pacar? Atau, dunia kerja yang tak mau tahu? None of them. Para fresh graduates sering kali tidak tahu pekerjaan yang akan dilamar membutuhkan kualifikasi seperti apa, karakter personal yang bagaimana, dan lain sebagainya. Langsung saja bereksperimen. Tanyakan kepada anak-anak yang baru lulus SMU, atau keponakan yang baru tamat kuliah, “Mau kerja di mana? Mau jadi apa?” Mereka pasti kebingungan. Karena tak tahu harus menjawab apa.
Jawaban tipikal yang sering terdengar adalah, “Ya kita lihat saja nanti, mana yang masuk duluan? Kalau dapat panggilan kerja dari sana, ya kerja di sana. Kalau panggilan kerja datangnya dari sini, ya kerja di sini. Mana yang dulu sajalah. Mau jadi ini kek, jadi itu kek. Tak masalah. Yang penting kerja.”
Terlepas dari sengitnya persaingan mencari kerja akibat timpangnya pertumbuhan jumlah pencari kerja dan lapangan kerja yang tersedia, pengenalan yang sangat terbatas, dan bahkan tidak ada sama sekali, mengenai jenis-jenis profesi yang terus berkembang menjadikan mereka tak cukup mampu mempersiapkan diri secara benar dalam memasuki dunia kerja. Sehingga, kalaupun kemudian mendapatkan pekerjaan, sering kali mereka akhirnya terjebak dalam profesi yang tidak memungkinkan seluruh kemampuannya berkembang secara maksimal. Karena itu, pengenalan profesi perlu segera diberikan kepada para siswa sekolah menengah umum/kejuruan dan mahasiswa perguruan tinggi. Ini sangat urgent. Sama sekali belum terlambat. Tapi jangan ditunda-tunda. Semakin ditunda, generasi mendatang akan semakin merugi.
“Lantas, bagaimana caranya, dan dalam bentuk apa, Mas?” tanya Pak Bambang Sudiro yang tampak sedang bersusah payah menyendoki sisa-sisa kuah mie godok yang luar biasa lezat itu. Belum sempat Sony menjawab pertanyaan tersebut, pria berdahi lebar itu sudah meyambung lagi pertanyaannya, “Magang?”
Sony langsung menukas, “Itu terlalu general, Pak, dan sekaligus terlalu spesifik. Karena orang dengan beragam latar belakang kemampuan dan karakter personal yang berbeda harus magang pada satu jenis pekerjaan yang belum tentu cocok untuk semua.”
Malam itu, Sony bersama Pak Bambang sedang menikmati mie godok di warung Pak Rebo, yang terletak tepat di depan SD Kintelan, Yogyakarta. Kelezatan mie godok di situ tak kalah dengan Mie Kadin yang terlalu ramai pengunjungnya, atau mie godok Mbah Mo yang juga mbludak pelanggannya, sehingga harus menunggu berjam-jam hanya untuk menikmati sepiring mie kuah.
“Cari metode yang paling sederhana dan applicable. Tambahkan saja mata pelajaran pengenalan profesi bagi murid kelas III sekolah menengah umum atau kejuruan dan mata kuliah pengenalan profesi bagi mahasiswa semester akhir,” sambung Sony seraya menghirup teh panas yang agak terlalu manis itu.
“Lha, materinya apa, Mas?” tanyanya lagi, seolah diburu rasa ingin tahu.
Sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, Sony mulai mengeluarkan semua unek-unek yang ada di pikirannya selama ini. Dia tak peduli, apakah Pak Bambang yang insinyur pertanian itu paham atau tidak dengan semua yang dikatakannya. Tapi, tampaknya priyayi Ngayogjokarto Hadiningrat yang berperawakan pendek tegap tersebut mendengarkan dengan sangat antusias ketika mulut Sony mulai nyerocos tak terbendung.
Pendidikan pengenalan profesi bisa dimulai dengan penyusunan sebanyak-banyaknya biografi para profesional negeri ini dari berbagai jenis profesi. Seperti advokat, apoteker, penyiar radio, penyiar televisi, MC, jaksa, pelukis, politisi, akuntan, pengusaha restoran, penari, sutradara, aktor, animator, web designer, copy writer, graphic designer, pemusik, penyanyi, penari, pemasar, dokter gigi, wartawan, humas, pembalap, petinju, arsitek, penulis, polisi, tentara, pilot, pramugari, pelaut, guru, dosen, perawat, dokter … dan masih banyak lagi yang lainnya, kata Rhoma Irama. Toh, semua jenis profesi yang berkembang di dunia ini, sudah ada di Indonesia. Termasuk astronot.
Pertama-tama, petakan dulu semua jenis profesi yang ada di dunia kerja. Kemudian dibuat pengelompokan-pengelompokan berdasarkan kedekatan antara satu profesi dengan profesi lainnya. Dan langkah selanjutnya adalah membuat percabangan-percabangan dari masing-masing profesi. Setelah peta besar tersusun, bisa ditambahkan profesi-profesi yang mungkin baru teridentifikasi belakangan atau profesi yang perlu dihapuskan karena agak tumpang tindih, kurang relevan dan tidak layak diangkat. Barulah kemudian dinominasikan figur-figur, termasuk tokoh-tokoh yang sudah meninggal, yang akan menjadi role-models untuk setiap profesi. Setiap profesi diwakili sepuluh nominees yang kemudian disaring lagi hingga tingal dua atau tiga tokoh yang dipastikan akan menjadi role-models. Setiap jenis profesi tidak harus menampilkan satu tokoh, bisa dua atau lebih. Tapi dibuat sebagai buku yang terpisah. Tidak dijadikan satu.
Setelah didapatkan kesediaan dari para role-models, langsung saja digeber habis proses wawancara dan penulisan, supaya cepat kelar. Sistematikanya tidak perlu dibuat baku seperti buku diktat. Yang penting, TOR-nya jelas dan rinci. Termasuk buku panduan pengajaran. Orang-orang Diknas pasti jago bikin yang beginian. Sudah biasa mereka.
Setiap biografi dibuat dalam dua versi. Versi lengkap untuk mahasiswa, dan versi ringkas (concise) untuk siswa sekolah menengah umum/kejuruan. Buku-buku biografi tersebut memotret perjalanan hidup role-models secara menyeluruh, mulai dari masa kanak-kanak hingga pencapaiannya yang tertinggi sebagai profesional di bidangnya. Balutan cerita menjadi penting, agar sajian tak membosankan, sekaligus sebagai media untuk mengeksplorasi berbagai kelebihan, kelemahan, kebiasaaan, kecenderungan, sifat dan karakter, serta detil-detil lain yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan hidup dan pekerjaan sang tokoh.
Bagi siswa sekolah menengah umum/kejuruan, pengenalan profesi ditujukan untuk membuka mata mereka mengenai jenis-jenis profesi yang dapat mereka masuki nantinya apabila tidak berminat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pada satu sisi, dan pada sisi lainnya memberikan panduan yang memadai bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar dapat memilih fakultas atau jurusan yang paling tepat dalam mengejar profesi impian.
Memang, tak semua profesi mensyaratkan harus lulusan perguruan tinggi. Boleh-boleh saja kalau mau langsung bekerja selepas sekolah menengah umum/kejuruan. Tak ada yang melarang, kok. Karena banyak juga penyedia lapangan kerja yang membutuhkan tenaga kerja dengan jenjang pendidikan seperti itu. Namun, tamatan sekolah menengah umum/kejuruan biasanya, meski tak semua, cenderung mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja teknis, tenaga clerical.
Namun bukan berarti bahwa pengenalan profesi tidak penting bagi siswa yang ingin langsung bekerja setelah lulus. Bagaimanapun, pengenalan profesi akan memberikan bekal yang memadai mengenai pilihan-pilihan profesi yang paling pas yang tersedia bagi mereka di dunia kerja nantinya dan juga akan sangat membantu dalam memilih kursus yang paling cocok untuk mengembangkan keterampilan.
Ngomong-ngomong soal kursus, Sony jadi teringat akan sebuah lembaga kursus terkenal di Jakarta yang membekali semua lulusannya – dari semua jurusan – dengan praktek kerja table manner. Tampaknya lembaga ini, menurut pandangan Sony, ingin agar para lulusannya jadi Jago Makan, alias orang kaya. Karena hanya orang banyak duit yang bisa jadi Jago Makan. Anita adalah salah seorang lulusan lembaga kursus tersebut. Hanya saja, hingga kini dia belum jadi Jago Makan.
Jangan ngelantur, Oom.
Bagaimana cara pengajarannya? Tidak susah-susah amat. Pak guru tinggal memberikan gambaran awal mengenai jenis-jenis profesi yang ada di dunia kerja kepada murid-muridnya. Kemudian mempersilahkan siswa memilih sendiri paling tidak tiga jenis profesi untuk dipelajari. “Pilih saja yang kira-kira paling cocok dan sesuai dengan diri kalian. Tapi, jangan sampai salah pilih,” pesan Pak Yudho.
Siswa disuruh membuat esai dan menceritakan di depan kelas apa yang telah mereka baca dan bagaimana mereka membandingkan berbagai kesamaan maupun perbedaan yang melekat pada diri sang tokoh dengan dirinya sendiri. Tujuannya adalah mengajak siswa melakukan benchmarking terhadap dirinya sendiri, sehingga tergerak untuk mulai mengidentifikasi semua kelebihan dan kekurangan, termasuk karakter personalnya, agar dapat mulai menentukan profesi apa yang paling memungkinkan seluruh potensinya berkembang secara maksimal nantinya.
“Selamat siang, Pak. Selamat siang, kawan-kawan. Saya sudah membaca biografi Slamet Raharjo, Garin Nugroho dan Christine Hakim. Setelah saya banding-bandingkan dengan minat dan hobi saya, juga sifat-sifat dan kemampuan saya, kayaknya saya ingin jadi sutradara, Pak. Setamat dari sini nanti saya akan mendaftar ke IKJ,” demikian Sahat menyimpulkan.
“Bagus. Bagus,” sahut Pak Yudho sambil membetulkan letak kacamatanya. Dia senang, karena Sahat mampu memahami dengan benar dan membuat perbandingan yang pas. “Munir, sekarang giliranmu maju. Jangan cengengesan!”
Munir yang kepalanya plontos itu langsung melenggang ke depan kelas. Dengan sebatang tusuk gigi menyelip di bibirnya. Seperti biasa, dia selalu berhasil mengocok perut kawan-kawannya bila diberi kesempatan berbicara di depan kelas. “Saya ingin jadi pelawak, Pak. Seperti almarhum Taufik Savalas. Saya mau nyatrik di rumah Tukul.”
Siapkan banyak pilihan bagi mereka. Mau jadi apa saja sudah ada referensinya. Kan, sudah ditulis ratusan biografi sebagai pengenalan jenis-jenis profesi yang dapat digeluti nantinya, sehingga bila berminat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi mereka akan memperoleh gambaran yang memadai mengenai fakultas atau jurusan apa yang nantinya akan dipilih agar jalan menuju profesi idaman lebih mulus.
Bagaimana untuk para mahasiswa? Tidak jauh berbeda. Caranya hampir sama. Tambahkan mata kuliah pengenalan profesi bagi mahasiswa semester akhir, tanpa perlu membeda-bedakan mereka dari jurusan atau fakultas apa. Bukannya tidak mungkin lulusan fakultas hukum ingin jadi pemasar atau penulis. Tak mustahil pula tamatan kedokteran hewan ingin menjadi wartawan atau penyiar televisi. Berikan pilihan tiga buku biografi untuk dipelajari setiap mahasiswa. Selanjutnya suruh mereka membuat esai dan melakukan diskusi-diskusi kelompok. Bagi mahasiswa, dari fakultas atau jurusan apa saja, pengenalan profesi ditujukan untuk memberikan wawasan dan pilihan yang makin mengerucut mengenai profesi yang nantinya akan memungkinkan seluruh potensi yang ada di dalam dirinya berkembang secara penuh.
Dengan diberikannya pengenalan profesi secara lebih dini kepada siswa dan mahasiswa, ke depan tak perlu lagi terdengar kisah-kisah sedih tentang sekian banyak pekerja yang sampai tua jadi itu-itu saja, hanya karena dari awalnya masuk ke dalam profesi yang salah atau mismatch, yaitu profesi yang sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi segenap potensinya untuk berkembang maksimal. Padahal, sesungguhnya mereka dapat menjadi pekerja yang handal dan produktif bila sedari awal menekuni profesi yang pas dengan kemampuannya. Di samping menyia-nyiakan energi dan kapasitas sekian juta tenaga kerja yang seharusnya bisa menjadi pekerja jempolan apabila bekerja dalam profesi yang tepat, kondisi mismatch seperti ini juga menghilangkan kesempatan bagi para pekerja Indonesia untuk berkembang secara optimal menuju puncak profesionalisme.
Seandainya saja kondisi ideal match ini dapat segera diwujudkan secara bertahap melalui pengenalan profesi yang memadai kepada siswa dan mahasiswa, Sony yakin Indonesia tercinta tak perlu lagi mengimpor begitu banyak manajer dari negara-negara lain. Karena para pekerja lokal sudah mampu mengambil alih peran mereka. Birokrasi dan dunia usaha akan semakin kuat karena ditangani oleh orang-orang jempolan. SDM yang siap pakai dan siap berkembang. Indonesia akan kian jaya.
Namun, terlepas dari sekian banyak profesi yang terus berkembang di dunia kerja, ada sebuah profesi pilihan yang bisa dimasuki semua orang dari berbagai latar belakang pendidikan, yaitu pemasar. Profesi ini sangat menantang, dan menjanjikan penghasilan besar. Bahkan negara-negara maju di seluruh muka bumi dulunya adalah negeri kaum pedagang. Mereka bangsa niaga. Tengok tetangga sebelah, Singapura. Bangsa makelar itu tak sedikit pun tertarik mengembangkan industrinya sendiri. “Silahkan bikin apa saja, biar nanti saya yang jualan,” kata mereka. Kenyataannya, mereka menjadi bangsa yang makmur hanya dengan berniaga.
Berkembang dari Bandar Malaka yang sejak dulu memang sudah menjadi titik perlintasan perniagaan antarbenua, negeri Cap Singa itu kini menjelma menjadi salah satu pusat perdagangan yang paling sibuk di dunia. Tak heran bila hampir semua perusahaan multinasional menempatkan kantor pemasaran wilayah Asia di negara kota itu. Sehingga tidak berlebihan pula menyebut Singapura sebagai jatung pemasaran berbagai barang/jasa yang dihasilkan oleh para produsen dari seluruh dunia. Bahkan, banyak produk ekspor Indonesia yang harus numpang lewat dulu di Singapura sebelum diedarkan ke berbagai negeri.
Di Indonesia, profesi pemasar banyak digeluti oleh masyarakat keturunan Tionghwa. Baik di daerah perkotaan maupun di pelosok-pelosok desa. Di seluruh penjuru Nusantara mereka berniaga. Dari ujung barat hingga ujung timur. Mereka ada di mana-mana. Berdagang seolah sudah menjadi identitas mereka. Dari sononya, konon kata yang punya cerita, mereka memang berjiwa pedagang. Tekun, ulet dan berani mengambil risiko.
Namun demikian, profesi pemasar tidaklah eksklusif untuk masyarakat keturunan Tionghwa. Karenanya, tidak harus berpacaran dulu dengan Mei Lan atau Fang Fang, atau melakukan operasi penyipitan mata, untuk menjadi pemasar yang berhasil. Siapa saja bisa berprofesi sebagai pemasar. Tak peduli apakah berkulit legam, coklat, kuning ataupun putih. Tak pandang apakah berambut ikal, lurus ataupun gimbal. Tak soal apakah pria, wanita atau banci.
“Kalau mau duit banyak, harus sering-sering ketemu manusia. Jangan cuma bergaul sama alat dan mesin,” demikian Ceng Li pernah memberikan tipsnya kepada Sony.
Pria bermata sipit itu teman main golf Sony. Dua minggu sekali mereka main golf bersama. Tempatnya berpindah-pindah. Kadang juga di luar kota. Bagi Sony, Ceng Li tergolong teman istimewa, meski penampilannya sepintas kurang meyakinkan, karena suka pakai sandal butut ke mana-mana. Ceng Li orang yang ramah, sopan, penuh perhatian, baik hati dan kaya raya. Tanahnya terserak di mana-mana. Ruko puluhan jumlahnya. Deposito bermilyar-milyar. ATM dan kartu kreditnya semuanya Platinum. Rumahnya besar dan megah. Mobilnya berjejer-jejer di garasi. Semuanya merek papan atas dan keluaran terbaru.
Namun Sony tak pernah tahu apa pekerjaannya. Sehingga pada suatu kali dia tanyakan kepadanya, “Emangnya, loe kerja apaan?”
“eL eM Ji E,” sahutnya singkat, sambil membetulkan celananya yang agak melorot.
“Apa?” tanya Sony dengan penasaran, karena jawabannya tadi terdengar asing dan kurang jelas di telinganya.
“eL eM Ji E,” ulangnya sekali lagi, dengan gerakan bibir yang agak samar.
LMGA, dilafalkan dalam bahasa Inggris. Lu Mau, Gua Ada. Mau traktor seratus unit, dia bisa penuhi. Mau bangun ruko, dia pasti sanggupi. Mau pensil dua kontainer, dia akan pergi mencari. Mau gula seratus ribu ton, dia akan beri. Mau besi tua, kapal dan pabrik tua akan dia pereteli. Apa saja yang diminta, dia pasti bisa kasih. Itulah Ceng Li, penggemar sate kiloan dan nasi pecel. Dan, banyak juga orang yang berprofesi seperti itu. Tak perlu bangun pabrik. Tak perlu piara karyawan hingga ratusan. Cukup menjalin jaringan seluas-luasnya. Dan, menjadi sahabat bagi setiap orang.
Sony pertama kali kenal Ceng Li di pasar ikan hias di Jalan Sumenep, di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Mereka berdua sama-sama penggemar ikan hias air laut. Hampir setiap hari Sabtu Sony pergi ke sana, membeli rebon beku untuk makanan ikan-ikan kesayangannya dan beberapa galon air laut. Terkadang dia juga tambah-tambah koleksi ikan dan terumbu karang baru.
Setiap kali duduk-duduk ngopi untuk meluruskan kaki yang pegal sambil mengamati ikan-ikan berwarna-warni berenang kian kemari di dalam akuarium besar di salah satu kios langganannya, Sony selalu ketemu orang yang sama. Seorang pria paruh baya yang gemar pakai celana kolor dan kaos oblong dengan sandal butut yang sepertinya sudah dijahit berkali-kali. Jangan-jangan itu sandal bertuah, pikir Sony. Karena sering ketemu muka dan ngobrol-ngobrol soal perawatan ikan, akhirnya mereka akrab. Mereka juga sering bertukar buku-buku mengenai ikan laut. Kebetulan, mereka juga suka main golf. Nyambunglah jadinya.
Tak peduli di laut atau di darat, profesi pemasar menuntut kemampuan personal yang lebih dalam berhubungan dengan manusia. Interpersonal skill, dalam bahasa kerennya. Suatu kemampuan untuk memahami manusia, menempatkan diri pada posisi mereka, menjadi bagian dari mereka, dan akhirnya mempengaruhi mereka, untuk suatu tujuan yang terencana. Sebagian besar memang bakat alam. Bawaan orok, kata orang. Tapi juga bisa dipupuk dan dikembangkan melalui pelatihan, atau, ditumbuhkan dengan penciptaan lingkungan yang menunjang. Namun ada satu lagi syarat yang penting untuk menjadi seorang pemasar, yaitu kegigihan. Soal jaringan, tak perlu terlalu dipusingkan. Memang penting, tapi jaringan bisa dibangun secara bertahap apabila sudah memiliki dua syarat yang disebutkan di muka.
Seorang pemasar biasanya supel dan pandai bergaul, penuh empati, pendengar yang baik, sabar dan tidak grusah-grusuh, mampu memberikan solusi, tidak defensif dan tidak pula ofensif, lebih suka menghindari konflik, tidak gampang tersinggung, serta berjiwa melayani. Satu musuh terlalu banyak, seribu kawan masih kurang, kata mereka. Personalitas seperti ini sangat penting karena setiap hari seorang pemasar harus berurusan dengan manusia-manusia dari beragam latar belakang seperti budaya, pekerjaan, sifat, adat dan kebiasaan, bahasa, keluarga, hobi dan bahkan agama. Ini merupakan modal utama yang harus dimiliki setiap pemasar. Dalam kenyataannya, banyak pemasar yang jarang-jarang ngomong soal pekerjaan dengan kliennya, karena mereka lebih suka diajak bicara soal hobi, keluarga, pengalaman dan lain sebagainya. Hal-hal seperti itulah yang akan semakin mendekatkan hubungan mereka secara personal, sehingga penetrasi menjadi lebih efektif.
Seorang pemasar akan berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang dihadapinya, baik secara korporat maupun personal, sehingga dia tidak lagi dianggap sebagai orang lain. Menjadi teman mereka. Sahabat mereka. Masuk ke dalam dunia mereka. Ibaratnya, harus nyemplung ke dalam kolam dan menjadi ikan dulu kalau sedang berjualan celana dalam ikan mas koki. Bila berjualan BH kambing, harus bisa mengembik dan bersedia memakai kostum berbulu, lengkap dengan tanduknya dan parfum khusus aroma kambing yang lebus itu. Dengan banyaknya barang/jasa sejenis yang disediakan oleh pasar, pilihan yang melimpah sering kali malah membingungkan, sehingga keputusan membeli akan lebih ditentukan oleh seberapa dekat hubungan antara penjual dan pembeli, bukan barang/jasa yang ditawarkan. Karena konsumen lebih suka membeli dari orang yang sudah mereka percayai.
Sedangkan pengetahuan mengenai produk, atawa product knowledge, relatif bisa dipelajari semua orang. Tidak terlalu susah. Kalaupun tidak bisa menguasai semuanya karena terlalu banyak detil, biasanya ada backup teknis dari orang-orang dapur. Kalau sama sekali tidak tahu? Gampang. Pemasar yang pintar biasanya akan berusaha membuat lawan bicaranya tidak tahu bahwa sebenarnya dia tidak tahu. Bingung, kagak? Pikirin sendiri. Karena seorang pemasar harus mampu menjual apapun. Termasuk telor busuk, tanpa perlu mengelabui pembeli. Caranya? Dilubangi saja pakai jarum dan buang isinya. Ambil kertas warna, lem, gunting dan spidol. Jadilah telor hias. Harganya bisa lebih mahal. Demikian pula, jeruk yang sudah tidak segar lagi kulit luarnya dapat diubah menjadi orange juice yang segar lagi mak nyus. Kreativitas menghasilkan nilai tambah.
Soal kegigihan, penjual asuransilah yang terkenal tahan banting. Para penjual keanggotaan kartu kredit tak perlu diperhitungkan. Pekerjaan mereka ringan-ringan saja, karena hampir semua orang yang ditawari biasanya memang ingin memiliki kartu kredit. Sedangkan para penjual asuransi harus bekerja ekstra keras menjual produk yang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia masih dipandang dengan sebelah mata manfaatnya. Di tengah pasar yang kurang bersahabat inilah mereka mesti meyakinkan setiap orang yang ditemui akan manfaat asuransi, dengan mulut yang berbusa-busa. Bagi mereka, tak ada calon nasabah yang sulit tembus, yang ada hanyalah orang-orang yang belum dikenal dekat. Penolakan adalah sarapan pagi. Diremehkan adalah pemacu semangat. Dipersilahkan duduk dan diberi kesempatan menerangkan produk adalah pintu menuju kesepakatan jual-beli.
Profesi pemasar menjanjikan tantangan yang menyenangkan, terutama bagi orang-orang yang gigih dan para pecandu ketegangan. Sedikitpun mereka tak pernah menganggap calon klien yang sulit ditembus sebagai suatu halangan. Malah sebaliknya, sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Setitik peluang, sudah cukup bagi mereka. Persis seperti ketika penggemar olahraga pemacu adrenalin melihat sebuah tebing terjal yang berdiri tegak lurus di hadapannya. Harus ditaklukkan. Setelah menggapai puncak, matanya akan menyalang ke mana-mana untuk mencari tebing yang lebih sulit dipanjat. Semakin menantang, semakin bikin ketagihan. Asyik, kata mereka. Namun, banyak juga pemasar pria yang memanfaatkan kelebihan ini untuk menaklukkan hati klien wanita yang sedang digarapnya. Biar saja. Itu urusan mereka sendiri. Tapi yang beginian jangan ditiru.
“Batu saja lama-lama bisa berlubang kena tetesan air, masa Pak Silaen tak mau bicara sama saya. Mana berkas-berkasnya. Sini, biar saya yang garap. Tapi bonusnya saya yang ambil. Berikutnya bolehlah dibagi dua. Kasih saya waktu dua minggu. Kalau tak mampu mengajak dia makan malam dan karaoke, lebih baik saya makan tanah. Pulang kampung. Tanam jagung. Pakai rok sekalian. Pasti bisa. Kalau gagal, kamu tak perlu lagi panggil nama saya Heru Wibowo. Ganti saja, James Bond. Biar tambah keren.”
Kadang-kadang sedikit sesumbar diperlukan, untuk membangkitkan semangat dan rasa percaya diri. Begitulah cara Heru memompakan semangat baru kepada anak buahnya yang hampir putus asa karena selalu menabrak tembok. Kalau tidak bisa ditembus dari depan, ya harus cari jalan memutar. Kenyataannya, Pak Silaen akhirnya takluk juga. Malah jadi kawan akrab. Ke mana-mana minta diantar. Sering curhat pula. Dua proyek besar pun berhasil dikantongi Heru, Manajer Pemasaran di kantor Sony. Itulah kiatnya.
Kiat. Kata itu pernah menjadi rubrik tetap di majalah Tempo sekitar lima belas tahun hinga dua puluh silam. Sony adalah salah seorang penggemar beratnya. Tak pernah sekalipun dia melewatkan tulisan Bondan Winarno yang selalu inspiring. Terutama ketika orang Madiun dia ngoceh soal pasar, pemasar dan pemasaran. Bahkan ketika tulisan-tulisan yang renyah itu dibukukan, Sony langsung mengoleksinya. Kini Pak Bondan lebih sibuk menggoyang lidah. Menguji rasa mengendus aroma. Njajah deso milang kori. Memburu top markotop. Lelaki ganteng yang beristrikan wanita bule itu sudah kebanyakan duit rupanya. Tapi kolesterolnya tampak terjaga, meski lelehan lemak sering mengulasi bibirnya. Bleger-nya pun tergolong bagus untuk pria seusianya.
“Gwen, seret papamu ke dapur. Siapkan laptop dan secangkir kopi kental, panas mengepul-ngepul. Biar dia bersemangat lagi menumis kata-kata. Menggoreng frasa. Dengan kalimat-kalimat pendek sebagai garnish-nya. Meracuni pikiran anak-anak muda agar mereka bersemangat menekuni profesi sebagai pemasar. Memberi mereka inspirasi dan contoh. Mencekoki para fresh graduates dengan anggur merah agar mereka mabuk dan terbeliak matanya melihat dunia marketing yang begitu menggoda dan menantang. Karena bapakmu itu bisa jadi panutan bagi mereka. Bujuk dia agar mau membagi-bagikan cerutu harum koleksinya itu sehingga kaum muda doyan berjualan. Paksa dia membuat jajanan yang gurih. Sesekali bikin pecel boleh-boleh saja. Juga sambal terasi. Meski hanya berbahan kertas dan tinta, dijamin, rasanya pasti mak nyus.”
Mak nyus memang, rawon bikinan nenek Sony. Di kampung halaman sana, neneknya seorang pengusaha warung makan. Bisa dibilang, Sony terlahir dari keluarga pedagang. Kakeknya seorang saudagar tembakau. Paman dan bibinya sebagian juga berprofesi sebagai pedagang. Mulai dari yang berjualan di pasar hingga yang kerjanya jadi makelar di terminal. Belum lagi yang buka depot.
Ayah Sony sendiri, seorang guru yang nyambi berdagang. Membuka sebuah toko kecil yang khusus menjual buku-buku agama, sekaligus menjadi agen majalah-majalah syi’ar Islam. Semasa kanak-kanak dulu, Sony sering diajak ayahnya pergi ke kota-kota kecamatan pada hari Jum’at. Kadang sampai bolos sekolah. Ikut ayahnya yang pergi memenuhi undangan berkhotbah. Menjadi khotib sholat Jum’at. Bubaran sholat, barulah makan sate dan gule kambing. Setelah kenyang, buru-buru ayahnya yang berperawakan raksasa itu mengajak Sony kecil mendatangi rumah beberapa kawannya untuk menawarkan buku-buku agama yang mereka bawa. Berdakwa sekaligus berniaga. Seperti kisah-kisah lama. Kadang mereka juga menggelar dagangan di pasar.
Pemasar dan pasar. Penjual dan pembeli. Begitulah mereka berinteraksi. Dalam jalinan yang saling mengisi. Meski kata para pakar pasar hanyalah sebuah persepsi, namun ia bukanlah sebuah misteri yang tak bisa dipahami. Sony merasa aneh ketika menemukan ada sebuah perusahaan yang memasang slogan “No more mistery in marketing, because we are the missing link.” Seolah menegaskan bahwa pasar adalah misteri yang tak terselami bagi banyak orang, kecuali untuk mereka yang telah menjadi the missing link. Ini benar-benar discouraging. Menjadikan orang ciut duluan nyalinya sebelum masuk ke dunia marketing.
Profesi pemasar sesungguhnya bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, ia menyenangkan dan mengasyikkan. Karena memberikan kesempatan luas untuk mengenal manusia luar dan dalam. Sekaku apapun klien yang harus ditaklukkan, pasti ada sisi-sisi lunak yang bisa dimasuki. Kalau tidak di depan pasti di belakang. Bila tidak di kiri pasti di kanan. Andai tidak di bawah pasti di atas.
Memang, tak semua orang cocok bekerja sebagai pemasar, baik sebagai tenaga marketing yang berdasi ataupun salesman yang menjajakan barang dari rumah ke rumah. Namun tak perlu takut memasuki profesi ini, sepanjang memiliki dan mampu mengembangkan karakter dasar yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemasar. Kenyataannya, banyak pemasar yang berhasil memulai karirnya dengan menjadi salesman, atau Soleman, kata orang Madura. Hanya saja, karena sedari awal sudah membayangkan yang susah-susah, banyak orang yang enggan dan jerih menjadi pemasar.
Situasi ini pernah dimanfaatkan secara culas oleh sebuah perusahaan otomotif pada masa-masa awal krisis ekonomi 1998. Keadaan yang menyesakkan dada memaksa mereka untuk segera membuang lemak yang menggelambir di tubuhnya. Karena jantung sudah agak lemah untuk memompakan darah. Badan harus dikuruskan. Ikat pinggang mesti dikencangkan. Hanya tersedia sepiring nasi untuk satu hari. Jangan sampai terkena HO. Apalagi busung lapar. Malu-maluin. Maka, ia pun mewajibkan karyawan dari semua bagian – kecuali produksi dan marketing, yang merupakan aset mereka yang sesungguhnya – beralih menjadi pemasar. Aturannya mudah dan sederhana. Apabila tak mampu menjual sesuai target dalam jangka waktu yang telah ditentukan, silahkan melangkah teratur ke tepian. Minggir. Banyak sekali yang berguguran. Bisa jadi, karena sedari awal sudah nyerah duluan. Hanya sedikit yang bertahan.
Cara seperti itu memang sangat manjur untuk program diet instan, tapi tidak fair dan cenderung curang. Terkesan mau menangnya sendiri. Tanpa mempertimbangkan kendala yang dihadapi orang lain. Pertama, pengalihan tugas tidak disertai dengan pelatihan yang memadai untuk menjalankan tugas baru. Akibatnya, banyak yang tergagap-gagap mengucapkan kata pasar. Kedua, tak semua karyawan memiliki atau mampu mengembangkan kualitas personalnya untuk menjadi pemasar. Walhasil, banyak yang nyalinya ciut duluan sebelum maju berperang. Ketiga, mereka harus beramai-ramai menjual pada saat banyak orang sedang ramai-ramai tak ingin membeli. Tentu saja, satu pelanggan harus dikerubuti puluhan orang. Tapi orang-orang di atas punya alasan, “Kapal mau tenggelam, penumpang harus sukarela berloncatan ke lautan. Sekoci hanya akan diturunkan bila keadaan sudah benar-benar darurat.” Seolah tak ada jalan lain yang lebih berbudaya.
Bagaimanapun, anak-anak muda, para fresh graduates, harus sebanyak mungkin didorong untuk menggeluti profesi sebagai pemasar. Baik lulusan sekolah menengah umum/kejuruan maupun tamatan perguruan tinggi. Inilah salah satu profesi yang akan banyak membantu Indonesia mempercepat proses kebangkitannya kembali. Berbicara di kancah global. Seperti pada zaman kejayaan kerajaan-kerajaan niaga di masa lalu.
Oleh karena itu, perlu dibuat dalam jumlah agak banyak biografi para pemasar untuk mata pelajaran dan mata kuliah pengenalan profesi. Agar para siswa dan mahasiswa terbuka matanya bahwa profesi berpenghasilan besar bukan hanya arsitek, artis, dokter, pengacara dan lain sebagainya. Ada sebuah profesi yang menjanjikan penghasilan jauh lebih besar dan tantangan yang lebih mengasyikkan, yaitu pemasar. Sudah bukan zamannya lagi menjadi bangsa yang cuma pintar membuat barang, tetapi selalu kebingunan kalau disuruh menjual.
“Perkara jual, itu urusan nanti. Yang penting, bikin dulu barangnya.”
Sony masih teringat ucapan seorang kenalannya, direktur sebuah pabrik pupuk pelat merah, sekitar sembilan tahun silam. Insinyur kimia itu sedang berancang-ancang memproduksi pupuk jenis baru. Tentu saja tak perlu pusing soal pemasaran. Karena ketika itu distribusi pupuk masih dimonopoli oleh PT PUSRI. Dia tinggal produksi. Urusan pemasaran biar holding yang memikirkan. Toh, itu pupuk memang jenis unggulan. Pasti diserap petani.
Tapi, ketika sebuah BUMN harus bersaing di pasar yang sesungguhnya, mereka selalu kedodoran. Ambil contoh di sektor transportasi. Baik di darat, laut dan udara, semuanya pada babak belur. Atau, di bidang farmasi, misalnya. Keuntungan mereka rata-rata di bawah lima persen dari nilai penjualan yang segede gajah. Kadang malah rugi. Dengan angka penjualan yang sama dan pabrik yang jauh lebih kecil, perusahaan swasta mampu meraih keuntungan rata-rata di atas empat puluh persen. Ini benar-benar anomali. Mereka cuma pintar dan fokus membuat barang, dan sibuk berorganisasi. Tidak gemar berdagang. Bondan Winarno bahkan pernah menulis, industri farmasi pabriknya kecil untungnya besar. Kenyataannya, industri farmasi pelat merah pabriknya besar-besar dan bercabang-cabang, dahan dan ranting pemasarannya menjulur-julur ke mana-mana, tapi untungnya sangat kecil.
Berkembangnya profesi pemasar di kalangan kaum muda akan memicu lahirnya banyak pengusaha baru di masa depan. Karena orang buka usaha tujuannya bukan untuk bikin barang, melainkan melayani pasar. Tanpa pasar di genggaman, sebaiknya urungkan saja niatan membuka usaha. Karena yang lebih penting adalah menjual. Urusan bikin barang, nanti saja setelah pasar benar-benar siap menyerap barang yang akan diproduksi. Kalau perlu, jualan dulu. Setelah ada yang mau beli, baru bikin barang. Sekali lagi, yang pertama dan utama, adalah berjualan.
Sekolah Alam saja sudah mengajarkan kepada murid-murid SD untuk gemar berdagang sejak belia. Dan itu benar-benar dipraktekkan. Mereka melakukan survai harga ke toko-toko. Membawa barang apa saja dari rumah untuk dijual kepada sesama teman dan juga kepada orangtua murid dan guru. Ukuran keberhasilannya sangat gampang. Mereka harus menjadi anak-anak yang mata duitan.

5. Pekerja

Pahlawan devisa. Sebutan bagi pekerja yang mengantongi visa. Karena di kampung halaman sudah tak ada lagi pekerjaan tersisa. Berangkat di hari Selasa. Mengarungi samudera membelah angkasa. Menyeberangi laut berbusa. Demi mengejar sepotong asa. Mengadu nasib di mancanegara. Bekerja jauh dari sanak keluarga. Untuk meraih impian hidup bahagia. Merelakan keringat tertumpah. Menjual tenaga demi segenggam upah. Yang terkadang tak pernah ia terima. Dera dan siska sebagai gantinya. Tanpa pernah tahu apa yang salah. Karena posisinya selalu kalah. Pahlawan itu kini terbujur kaku. Tubuhnya dingin dan membiru. Diam membisu di dalam kotak kayu. Tak boleh lagi duduk di kabin penumpang. Tempatnya lorong bagasi barang.
Setiap kali ada pekerja migran Indonesia yang disiksa, diperkosa, atau mati didera, hampir bisa dipastikan di kandang macan mana mereka bekerja, Malaysia, Singapura dan Jazirah Arabia. Namun, setiap tahun bertambah banyak saja pekerja migran yang dikirim ke kandang macan yang berjumlah tiga. Menjadi umpan mudah bagi macan yang siap menerkam dengan mulut menganga. Pemerintah lebih sering memanglingkan muka. Mereka TKI ilegal, katanya. Para pejabat menutup mata. Tak pernah bergerak kecuali dengan kata-kata. Seolah tak pernah ada fakta. Menganggap mereka sebatas angka-angka. Seluruhnya berjumlah sekian. Di negeri sini sekian. Di negara sana sekian. Yang legal sekian. Yang ilegal sekian. Yang kabur sekian. Yang dipenjarakan sekian. Yang diseterika sekian. Yang diperkosa sekian. Yang mati sekian. Hanya bilang kasihan.
Kandang macan pertama menampilkan kebengisan yang menyesakkan dada. Tanpa pernah diusut secara tuntas oleh polisi diraja. Sebagian masyarakat Malaysia memandang sebelah mata orang Indon yang mencari kerja dengan menjadi apa saja. Di negeri jiran itu, mereka dianggap manusia kelas dua. Dijual seperti butiran kelapa. Diperlakukan semena-mena. Ditangkap kapan saja. Disiksa semaunya. Menjadi kambing hitam bila terjadi sengketa antara majikan dan pekerja. Dikurung tanpa pernah diadili. Diperas bayar penalti. Bila perlu ditembak mati di tengah laut. Dijadikan makanan ikan pesut. Sesungguhnya, ini hanyalah sebuah manifestasi. Dari perasaan rendah diri. Mereka iri. Karena artis Indonesia cantik-cantik dan cakep-cakep. Sementara para pesohor mereka wajahnya seperti perawan kampung dan ban serep.
Sony pernah sekali pergi ke Malaysia. Kunjungan iseng tanpa peta. Hanya berwisata. Sekalian mengunjungi teman lama. Pergi sendirian saja. Tapi dia merasa tak betah di sana. Seseorang berseragam menghentikan langkahnya. Tatapan matanya kurang bersahabat. Seperti sedang merazia penjahat. Tangan kirinya bergelang kawat. Tangan kanannya menggaruk-garuk sesuatu di balik cawat. Wajahnya penuh jerawat. Berminyak dan tak terawat. Kumisnya tidak terlalu lebat. Tapi sepatunya mengkilat. Kayaknya baru dicat. Dari balik bajunya sepucuk pestol mencuat. Sungguh, pengalaman laknat. Ketemu oknum bejat. Mencecar pertanyaan-pertanyaan sesat. Dunia serasa mau kiamat. Rencana makan malam jadi telat.
Keesokan paginya Sony langsung cabut. Seumur hidup, tak mau lagi dia pergi ke kandang macan itu. Meski diberi tiket, uang saku dan disediakan kamar hotel supermewah. Mending ke kebon binatang. Ketemu Agnes, pacar barunya.
Tak mengherankan bila hubungan bilateral Indonesia-Malaysia selalu naik turun seperti ayunan di TK Melur. Sesekali naik, sering kali menghujam bagai sangkur. Rentan seperti kulit luar sebutir telur. Terkadang menggelinding liar membentur-bentur. Meluncur-luncur. Beberapa bagian retak dan hancur. Ketika majikan mencelakai orang yang kerja di dapur. Hanya karena salah menyajikan bubur. Kepada kakek yang sudah uzur. Layu seperti seikat sayur. Tergolek lemah di kasur. Sebentar lagi masuk kubur.
Cemeti langsung diulur. Lidahnya menjulur-julur. Suaranya mengguntur. Melukis garis-garis lurus membujur. Di punggung kurus yang melengkung seperti busur. Badan berbilur-bilur. Kucuran keringat menjadikan darah luntur. Semua persendian terasa kendur. Babak-belur. Tak mampu lagi kabur.
Tak hanya urusan pekerja migran Indonesia dizalimi, dalam banyak soal negeri jiran itu merasa superior. Meski dalam soal budaya selalu mengekor. Kepada saudara tuanya yang selalu tekor. Dan, berwajah jontor. Sering kali anak bawang itu berlagak seperi mandor. Bertamu sambil menggedor-gedor. Muka melengos masuk dengan kaki kotor. Kepala mendongak air seni menggelontor. Sayang, lupa tak pakai kolor.
Indonesia lebih suka mengalah. Bahkan ketika beberapa pulaunya ditilep dengan konspirasi gajah. Tentara gatal tangannya mau menembak. Senapan tak sabar ingin menyalak. Tapi pemerintah memilih menyingkirkan tombak. Meski harus berjalan di tengah ladang penuh onak. Dengan harga diri yang koyak. Nurani yang berontak. Meredam amarah yang bergejolak. Agar tak menjadi amuk yang menggelegak. Karena amunisi sudah memenuhi geladak. Tinggal disulut sumbunya pasti langsung meledak.
“Ganyang Malaysia.” Slogan pemompa nasionalisme yang begitu menggetarkan pada masa konfrontasi itu selalu muncul kembali setiap kali Indonesia bersinggung punggung dengan Malaysia. Pintar sekali Bung Karno mengocok kata-kata. Sederhana, tapi mobilizing, mengerakkan semua. Bahkan badak bercula satu dan orangutan dengan sukarela akan ikut angkat senjata.
Sony sependapat dengan sebagian orang, sesekali negeri congkak itu perlu diberi pelajaran. Dijewer kupingnya. Dipukul bokongnya. Orang diam bukan berarti takut. Hanya mencoba bersikap patut. Tapi jangan sembarangan kentut. Kalau tak mau dijadikan campuran sayur bakut.
“Tuan, tolong jangan berperilaku biadab. Kami orang-orang beradab. Tuan, berhentilah menganiaya. Kami bangsa berbudaya. Perbaiki perangai Tuan. Atau, kami yang akan meluruskan.”
Lain Malaysia lain lagi Singapura negeri makelar. Lobang hidungnya selalu mekar. Rambutnya kasar. Berkibar-kibar. Taringnya setajam cakar. Ekornya setengah melingkar. Memang, kadang macan kedua ini relatif kurang sangar. Tapi tak boleh disikapi dengan biar. Bisa-bisa tambah kurang ajar. Banyak saudara sebangsa merintih di sana karena dihajar. Disekap di dalam kamar. Sebagian malah masuk sangkar. Dan sebagian lagi pulang dibungkus tikar. Disisipkan uang beberapa lembar. Sebagai pengganti harapan yang telah buyar. Hati serasa terbakar. Melihat belati, tangan ingin menyambar. Tapi harus dicari jalan memutar. Karena Indonesia bukan bangsa barbar. Meski sering menderita luka dan memar. Lebih baik dibicarakan di dalam hanggar. Agar bara tidak semakin melebar. Hanya karena beberapa orang sudah tak sabar. Ingin menampar.
Kandang macan ketiga berada nun jauh di sana. Di tanah kerontang raja dahaga. Miskin air kaya minyaknya. Penduduknya gemar makan kurma. Menyantap daging domba. Ke mana-mana naik onta. Jazirah Arab namanya. Sebagian masyarakatnya masih menganut tradisi lama. Pekerja migran dianggap hamba sahaya. Dinilai sebagai harta. Ditimbang seperti tumpukan kain perca. Diperlakukan semaunya. Disentuh seenaknya. Di bagian dada. Di bagian paha. Karena telah dibeli dengan materai bergores pena. Perkosaan merajalela. Persis seperti perilaku kuda. Birahi dibiarkan menjadi raja. Atas nama tradisi yang bermuka dua. Diambil sisi enaknya saja. Sehingga korban dengan mudah menjadi tersangka. Dikurung di ruangan tanpa jendela. Tanpa seorang pun yang datang membela. Hakim telah menetapkan kata. Hukuman pancung menggelindingkan kepala.
Pahlawan devisa. Sebutan membanggakan itu begitu gampang meluncur dari mulut yang penuh busa. Tak seperti kenyataan pahit yang kerap mereka hadapi di luaran sana. Ketika siksa mendera. Ketika tamparan melukis wajah. Ketika sepiring makanan basi diberikan sebagai hadiah. Ketika tangan-tangan gatal majikan pria dengan penuh birahi menggerayangi tubuhnya. Ketika air mendidih disiramkan ke muka. Ketika setrika panas menggosok punggung. Ketika cambuk mengayun bergulung-gulung. Ketika raga meregang nyawa.
Mereka tak tahu harus mengadu kepada siapa. Tak tahu harus berlindung di mana. Tak tahu harus lari ke mana. Sebagian pulang dengan badan penuh luka. Sebagian malah ketawa-tawa karena gangguan jiwa. Sebagian menanggung malu berbadan dua. Sebagian lagi hanya pulang nama. Sampai kapan kita akan menutup mata? Menyaksikan anak bangsa mati disiksa. Kejadian seperti ini senantiasa berulang. Dan terus berbilang.
“Seperti lingkaran setan,” kata Heru dengan geram. “Padahal mereka telah berjasa besar mengurangi angka pengangguran di dalam negeri dan membawa masuk devisa yang jumlahnya hanya bisa dikalahkan oleh sektor migas. Itu pun belum dihitung dengan pemasukan devisa yang tidak tercatat dalam sistem perbankan dan jalur formal lainnya karena dibawa pulang dengan cara-cara tradisional. Bisa-bisa malah mengalahkan pendapatan devisa dari sektor migas,” dia menambahkan dengan berapi-api.
Heru sedang terlibat diskusi panas dengan Sony soal pekerja migran Indonesia. Sony mengiyakan pendapatnya. Tapi dia balik bertanya, “Memangnya, lingkaran setan itu apa, Her?”
Dengan tangkas Heru menjelaskan ucapannya, “Lingkaran setan adalah persoalan yang tak pernah bisa diselesaikan karena masalahnya terus berputar. Gambarannya begini, Pak. Tikus takut sama kucing. Kucing takut sama anjing. Anjing takut sama harimau. Harimau takut sama pemburu. Pemburu takut sama istrinya. Istri pemburu takut sama ibu mertua. Ibu mertua takut sama tikus. Berputar-putar terus. Tidak selesai-selesai. Masa, Pak Sony tidak tahu?”
Setelah Depnakertrans menyerahkan urusan pekerja migran kepada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) – tak lebih dari sekedar pelepasan organisasi – yang hingga kini belum juga kunjung pinter mengurusi, apalagi melindungi, para TKI, sudah saatnya dibentuk Kementerian/Departemen Pekerja Migran. Lembaga baru ini harus benar-benar bersih dari orang-orang lama yang gemar dengan status quo. Baik menterinya, pejabat eselonnya, karyawannya, hingga tukang sapunya. Semuanya harus orang baru. Tak boleh ada kaitan sedikit pun dengan mereka yang selama ini tak pernah becus mengurusi pekerja migran. Harus dipotong satu generasi. Seperti ketika Presiden SBY mengambil sikap tegas untuk tidak melakukan penerimaan mahasiswa baru di IPDN selama setahun untuk memutus lingkaran setan kekerasan yang melingkupi sekolah calon camat itu.
Persoalan pekerja migran tidak pernah tuntas karena banyak pihak menghendaki demikian. Terlepas dari masih banyaknya TKI ilegal, posisi tawar PJTKI, baik yang lurus maupun yang culas, sangat lemah di hadapan agen penempatan pekerja migran di luar negeri. Dengan mudah mereka ditekan bila terjadi sesuatu yang tak normal atas pekerja migran Indonesia (yang legal). Dipaksa tidak membesar-besarkan persoalan yang dianggap ecek-ecek itu. Ancamannya, quota dipotong atau tidak bisa melakukan pengiriman lagi. Tentu saja, PJTKI keder dan memilih bungkam. APJATI akan segera melobi para pejabat agar tidak mengangkat permasalahan itu ke permukaan.
“Ini soal kecil. Satu di antara sejuta,” kata mereka. Angka-angka statistik membela mereka.
Ya, Tuhan! Sekalipun satu, itu insan. Bukan hewan. Bukan pula sekedar bilangan. Tapi karena sudah rutin mendapat setoran, para oknum tak berhati nurani memilih diam. Kalaupun bergerak, hanya mulutnya. Biar kelihatan kerja. Hayo …, berubah! Jangan bikin repot Presiden melulu.
Kementerian/Departemen Pekerja Migran yang baru harus merestrukturisasi hubungannya dengan PJTKI. Dari hubungan patron-klien, dikembalikan lagi menjadi sebentuk interaksi antara regulator dan pelaku usaha. Hentikan perselingkuhan bertumbal. Stop perilaku Dajal. Dari titik baru inilah bisa mulai dilakukan penataan dan pemetaan ulang semua PJTKI. Yang asal-asalan dibubarkan saja. Kalau perlu diracun pakai sambal superpedas. Biar perutnya mulas-mulas. Yang bagus dibina dan dibantu memperkuat posisi tawarnya terhadap agen penempatan pekerja migran di luar negeri, melalui jalur government-to-government dan semua akses yang bisa diberdayakan. Karena sebagian besar persoalan berada di luaran sana. Apabila di luar sudah beres, akan lebih mudah menata yang di dalam. Agar pekerja migran tidak lagi menjadi pekerja migren.
Kementerian/Departemen Pekerja Migran yang baru juga harus mampu meminimalisir dan secara bertahap menihilkan TKI ilegal, karena dari sinilah pokok persoalan sering kali bersumber. Mereka, para TKI ilegal itu, rentan sekali terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Ini sangat crucial. Harus segera ditangani. Lha wong TKI legal saja juga sering ketimpa sial, apalagi yang ilegal.
Sebenarnya bukan salah mereka menjadi TKI ilegal. Mereka tidak punya pilihan, karena biaya keberangkatan melalui jalur formal memang sangat muaahal. Di sinilah sebenarnya Kementerian/Departemen Pekerja Migran yang baru dapat mengambil peran. Sistem penempatan dan pemberangkatan TKI harus diubah total. Dalam sistem baru, biaya pemberangkatan dan penempatan dibebankan kepada tiga pihak – yaitu, calon TKI, PJTKI dan pemerintah – secara merata ataupun secara proporsional. Dana talangan tersebut harus dikembalikan oleh TKI dengan mencicil dari gaji bulanan mereka selama enam bulan sampai satu tahun hinggal lunas. Tidak seperti selama ini, di mana seluruh biaya keberangkatan harus ditanggung sendiri oleh calon TKI. PJTKI cuma bermodal dengkul.
Dengan cara ini, secara bertahap jumlah TKI ilegal bisa diminimalkan, dan akhirnya dinihilkan, karena mereka tidak perlu lagi menyiapkan dana yang terlalu besar untuk bekerja di luar negeri. PJTKI juga akan terseleksi secara alamiah. Mereka yang cuma bermodal dengkul dan tidak profesional akan tergerus dengan sendirinya. Sedangkan pemerintah sebagai salah satu pihak yang turut andil dalam membiayai keberangkatan TKI otomatis harus ikut memantau TKI yang ditempatkan agar duitnya bisa kembali dan menjadi dana bergulir bagi calon-calon TKI berikutnya. Karena harus terus memantau keberadaan para TKI di luar negeri, Kementerian/Departemen Pekerja Migran yang baru tersebut perlu menempatkan Atase Pekerja Migran di setiap KBRI di mana terdapat TKI yang sedang bekerja.
Namun persoalan ketenagakerjaan Indonesia tidak melulu berkaitan dengan para TKI yang bekerja di luar negeri. Di dalam negeri pun, persoalan ketenagakerjaan tidak kalah peliknya. Bahkan, boleh dibilang carut-marut. Kalau tak mau dibilang rumet, rumit dan bikin kepala mumet.
Departemen Tenaga Kerja memang makhluk yang luar biasa aneh. Setelah Departemen Transmigrasi dilikuidasi dan kemudian dicangkokkan ke ketiaknya, dia memanjangkan nama menjadi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, disingkat Depnakertrans. Jaka Sembung, alias kagak nyambung. Urusan transmigrasi mestinya diplesterkan ke punggung Departemen Sosial, karena ia lebih banyak bersentuhan dengan soal-soal yang mengurai problematika sosial. Biar Depnaker bisa konsentrasi mengurus masalah tenaga kerja. Karena departemen yang satu ini agak telmi dan tabiatnya sedikit pemalas. Bertahun-tahun tak pernah mau belajar. Hanya asyik bermain gitar. PR selalu dikerjakan oleh ibunya. Walhasil, setiap kali menerbitkan aturan baru, selalu saja mengundang reaksi menyimpang dari dua pihak, pekerja dan pengusaha.
Para pengangguran berbusana necis yang justru berkantor di Depnakertrans sesungguhnya tidak pernah bekerja sepanjang para pekerja dengan wajah marah menarik garis demarkasi terhadap pengusaha. Demikian pula sebaliknya. Mereka saling bersiasat. Merentangkan pagar kawat. Mulut bertukar hujat. Padahal mereka bukanlah orang-orang jahat. Hanya saja, masing-masing takut dikepret dari belakang. Lengah sedikit bokong ditendang. Karena sang wasit asyik merapikan ikatan dasi. Mengusap-usap pantalon hitam yang begitu serasi. Seraya mengelus-elus jambul yang seksi. Urusan mendesak dibiarkan terbengkalai di lemari. Karena tak paham bagaimana menanak nasi. Beras setengah matang didiamkan di kuali. Akhirnya basi. Bau tak sedap merembes dari kisi-kisi. Menyuburkan jamur dan bakteri. Bikin keracunan orang-orang yang mengkonsumsi.
Sesungguhnya pekerja dan pengusaha adalah saudara kandung. Di tubuh mereka mengalir darah yang sama, merah. Membutuhkan udara yang sama, untuk bernapas dan memompa ban mobil. Makanannya juga sama, nasi berlauk semur jengkol, dengan ikan cuek dua ekor. Tujuannya sama, mencari nafkah. Hanya faktor kepemilikan yang membedakan mereka. Dan, otomatis, juga soal pendapatan. Tapi itu hukum ekonomi semata. Tidak perlu menempatkan diri dalam posisi yang berseberangan. Aku di sini kau di sana. Saling curiga. Merasa saling dimanfaatkan dan memanfaatkan. Pengusaha juga mati kutu tanpa pekerja. Sedangkan pekerja akan kesulitan menjual jasa apabila tidak ada pengusaha yang membuka lapangan kerja. Sama-sama saling membutuhkan. Tak perlu dikotori dengan prasangka yang bukan-bukan. Apalagi dikompori dengan omongan-omongan menyesatkan. Ayo …, bergandengan tangan. Bersalam-salaman. Berpeluk-pelukan.
Mereka pun bersalam-salaman dengan perasaan haru. Berpeluk-pelukan dengan tatapan mata sayu. Salsa menangis seharian. Tak mau makan. Dia sangat sedih. Orang yang selama ini dianggapnya sebagai kakak akan pergi. Sedangkan Rizky, terlihat diam saja. Sesekali dia mengucek mata. Sony tak tahu apa yang ada di dalam benak anak lelakinya. Titin pamit pulang. Emak-nya sudah menemukan jodoh untuknya. Tujuh tahun bekerja sebagai pembantu di rumah Sony, semenjak Salsa masih bayi, dia sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Tapi tidak dalam soal gaji. Sony selalu memberikan kenaikan gaji sepuluh persen setiap tahun. THR tak pernah terlewatkan sekalipun. Minimal satu kali gaji. Atau dua kali gaji, kalau lagi banyak rezeki. Sedang biaya mudik gratisan. Karena Titin bertetangga dengan Sony di kampung halaman.
Di perumahan di mana keluarga Sony tinggal, Titin yang berkulit legam dan berambut pendek itu tergolong pembantu bergaji besar. Dalam usianya yang masih belia, dia sudah mampu merenovasi rumah keluarganya di kampung halaman sana. Perhiasannya juga lumayan banyak. Disimpan di kotak disket di kamarnya. Pakaiannya bagus-bagus.
Pernah, beberapa sejawatnya iri kepadanya, dan kemudian mengajukan protes kepada majikan masing-masing. Malah, pakai mogok kerja segala. Menuntut gaji yang sama dengan gaji Titin. Prahara pun bermula. Akibatnya, sejumlah ibu-ibu lapor ke Pak RT, mendesaknya agar menegur keluarga Sony, karena dianggap mengganggu ketenteraman lingkungan dengan merusakan pasaran gaji pembantu.
Febriana, istri Sony, tak tahan. Telinganya merah sepulang dari arisan bulanan. Disindir oleh ibu-ibu. Meski ada juga beberapa orang yang membelanya. Tapi Sony tetap pada pendiriannya. Ini urusan domestik. Masalah kedaulatan republik. Tak boleh dikutak-katik. Tapi protes semakin bergema. Daripada harus berperang melawan tetangga, dicarilah jalan tengah. Titin pun di-briefing.
“Kamu ngomong saja sama teman-temanmu. Gajimu sudah diturunkan. Juga soal libur satu hari dalam seminggu itu. Bilang sudah dihapuskan. Pura-pura saja. Biar tidak ribut ini komplek.”
Titin setuju belaka. Dia sadar telah keceplosan omongan dan terlalu berterus-terang, sehingga menimbulkan gonjang-ganjing dalam hubungan pembantu-majikan. Syukurlah, setelah hampir sebulan masalah itu akhirnya reda juga.
Sony tak habis pikir, bagaimana mereka bisa sesewot itu. Dia hanya mencoba memanusiakan pembantu. Tapi tetap saja dianggap salah. Padahal pembantu rumah tangga bekerja lebih dari dua belas jam dalam sehari. Tujuh hari penuh dalam seminggu. Sudah sepatutnya mereka mendapatkan penghargaan yang layak. Baik dalam hal fasilitas, perlakuan dan pendapatan.
Sebagai misal, kamar Titin dilengkapi radio-tape dan TV empat belas inci. Fasilitas ini diberikan karena Titin terlihat kurang nyaman dan agak sungkan bila nonton TV bareng di ruang keluarga. Apalagi Sony punya kebiasaan buruk pindah-pindah saluran. Sehingga sering berantem dengan istri dan kedua anaknya, yang akhirnya mengungsi ke kamar masing-masing untuk menonton acara kesukaan mereka di TV yang lebih kecil.
Demikian pula perlakukan keluarga Sony yang dianggap terlalu memanjakan pembantu oleh para tetangga, karena memberikan libur sehari dalam satu minggu kepada Titin. Bagi Sony, ini sama sekali tidak berlebihan. Toh, Titin jarang-jarang memanfaatkan hari liburnya. Lagian, kalau setiap hari hanya berkutat di rumah, bagaimana mereka bisa melihat dunia luar dan cari pacar? Apakah mereka tidak berhak mendapatkan pasangan?
Titin saja sudah dua kali pacaran. Pertama dengan Dahlan, tukang ojek di gerbang depan. Akhirnya putus, karena pemuda ceking itu ternyata mata keranjang. Kedua, dengan Tukijan, supir Sony. Tapi yang ini dipotong di tengah jalan oleh Sony, karena Tukijan sudah beristri, anaknya dua masih kecil-kecil. Keduanya dijewer oleh Febriana. Dicuci habis pakai Rinso. Hingga putih bersih. Dengan ancaman yang tidak main-main, bubar atau dikeluarkan.
Kini, Titin akan pergi. Di kampung telah menunggu calon pasangan hidupnya. Sugito, tukang becak yang tinggal di belakang rumahnya. Mudah-mudahan pemuda itu menjadi suami yang baik baginya. Sony tak kuasa berkata-kata. Istrinya sama saja. Matanya berkaca-kaca.
“Tin, baik-baik ya, di sana. Salam untuk emak-mu dan calon suamimu. Ini, saya beri pesangon tujuh kali gaji,” kata Sony dengan suara terbata-bata.
“Iya, Pak. Terima kasih,” jawabnya, sambil menadahkan tangan dan mengucurkan air mata.
Sementara Febriana yang terus-menerus kelilipan, mengulurkan sebuah amplop sambil berpesan, “Tin, aku ada uang lima juta. Mudah-mudahan cukup untuk biaya pernikahanmu. Sering-sering telepon ke sini, ya. Biar Rizky dan Salsa tidak kesepian. Jadi obat kangen buat mereka.”
Kedua perempuan itu kemudian saling berpelukan. Bertangis-tangisan. Sama-sama menumpahkan air mata. Lantai basah semua.
Pembantu. Pembantu. Pembantu. Sebagian orang suka menyebutnya babu. Belum lagi sebutan sinis lainnya, yang terkesan merendahkan, seperti jongos, kacung, bedinde, pesuruh, buruh dan lain sebagainya. Padahal mereka orang-orang yang sangat berjasa, dan luar biasa vital keberadaannya. Sony merasakan sendiri. Bila salah seorang karyawannya tidak masuk kerja, dia tak terlalu pusing asal ada alasan yang jelas. Tapi, bila Usep, office boy yang kocak itu, absen, kantor langsung lumpuh. Cari minum susah. Mau makan siang susah. Sampah menggunung. Piring dan gelas kotor semua. Pendeknya, minta ampun.
Begitu pula pada musim mudik Lebaran. Pembantu pada pulang. Banyak keluarga yang kelimpungan. Berhari-hari menyantap makanan kalengan. Sebagian terpaksa makan di restoran. Belum lagi soal cucian. Juga seterikaan. Punggung patah menyapu halaman. Encok kumat mengurus binatang piaraan. Karena tak tahan, akhirnya mengungsi ke penginapan.
Banyak orang bekerja sebagai pembantu karena tak punya lagi pilihan. Itulah pekerjaan yang paling gampang mereka dapatkan. Meski imbalan yang diterima sering kali tak sepadan. Dibanding kucuran keringat yang membasahi badan. Bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan. Kemudian membereskan cucian. Dilanjutkan dengan bermain tarik-ulur bersama gosokan. Siang malam disibukkan oleh pekerjaan. Mulai dari memasak hingga menjaga kebersihan. Istirahat tak lagi jadi perhitungan. Namun mulutnya tak pernah menyuarakan keluhan. Menerima apa adanya tugas yang dibebankan. Tak pernah sedikit pun berpikir soal masa depan. Yang penting tenaganya masih dibutuhkan. Sebagian malah menekuni profesinya hingga kepalanya penuh uban. Sebagian lagi tetap setia dengan panggilan jiwanya hingga hayat berpisah dengan badan.
Sony suka sedih mendengar berita-berita mengenai pembantu yang dianiaya. Gaji tak terbayar, badan penuh memar. Makan tak diberi, berhari-hari dikunci di kamar mandi. Geram hatinya. Menitik air matanya. Maka, dia berkirim surat kepada Presiden, dengan tembusan kepada Menakertrans. Karena sudah berkali-kali SMS-nya tak berjawab. Dia tulis surat itu dengan tinta jelaga yang diaduk dengan air mata. Tanda tangannya berbentuk sebuah crying face. Tak lupa dia sisipkan sepotong baju Titin yang tertinggal di rumahnya.
“Pak Presiden, tolong dong, ditunjuk seorang Dirjen PRT. Agar para pembantu rumah tangga di seluruh Indonesia mendapatkan penghargaan, perlindungan dan perlakuan sewajarnya. Dibuatkan standar gajinya. Ditentukan hak cutinya. Diberikan hari liburnya. Diperjuangkan nasibnya. Diangkat martabatnya.”
Jangan mentang-mentang mereka diam saja maka majikan bisa berlaku semena-mena. Kalau perlu kumpulkan beberapa PRT senior dari seluruh penjuru tanah air untuk diangkat menjadi staf ahli Pak Dirjen. Biar mereka memberikan masukan-masukan berharga bagi Direktorat Jenderal yang baru itu.
Surat itu tergeletak begitu saja di meja. Isinya singkat. Pemberitahuan pengunduran diri. Orangnya sudah tak nongol lagi. Padahal kemarin sore, pada saat gajian, Sony masih sempat berbicara dengannya. Menanyakan salah satu pekerjaan yang sudah harus selesai empat hari lagi.
Palgunadi, karyawan di Bagian Produksi, memilih kabur begitu saja tanpa merasa perlu bertemu dengannya. Sony agak kecewa. Sesungguhnya dia tak berharap berlebihan. Kalau masuknya dengan cara baik-baik, mestinya pergi dengan cara yang baik pula. Minimal ada pemberitahuan sebulan sebelumnya. Toh, Sony tak pernah melarang, apalagi menahan, orang yang mau mengundurkan diri. Biasa saja. Itu terjadi di mana-mana.
Sudahlah, tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Beberapa karyawan mengatakan kepadanya, lulusan Universitas Diponegoro itu diterima bekerja di sebuah perusahaan raksasa di daerah Kuningan. Syukurlah kalau begitu.
Bukan sekali dua kali hasil didikan keras Sony dipanen orang lain. Palgunadi hanyalah salah satunya. Tapi Sony tak terlalu mempermasalahkannya. Dia ikhlas saja. Itu merupakan salah satu kontribusinya sebagai warga negara untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai bagi perusahaan lain. Asal tidak keterusan saja. Bisa kuwalat mereka. Sebab, sebagai pengusaha kecil, Sony cukup tahu diri untuk tidak merekrut tenaga kerja yang sudah jadi.
Makanya, dia telaten mencari bibit-bibit unggul yang kemudian dia godok dengan air garam. Tak lupa diceburkan tiga lembar daun salam. Juga selembar celana dalam. Direbus bermalam-malam. Hingga lebam-lebam. Dalam waktu tiga bulan, paling lama, seorang fresh graduate akan menjelma menjadi pekerja yang mumpuni di tangan Sony. Tapi dia tak pernah mencegah kutu loncat lari dari kantornya. Itu sudah garis tangan mereka. Dia hanya berdoa. Mudah-mudahan mereka menjadi anak manis, dan tidak nakal di luaran sana.
Tapi, kadang-kadang karyawan mau menangnya sendiri. Pernah Sony membuat peraturan baru karena beberapa karyawan suka titip absen padahal datang terlambat. Dia kumpulkan seluruh karyawannya dalam rapat paripurna. Sony meminta mereka berkata jujur, siapa yang suka nitip absen dan siapa yang sering dititipi absen. Tidak akan dikenai sanksi. Hanya perlu diperbaiki. Agar tidak menjadi tradisi.
Tak seorang pun mengaku. Resepsionis, yang mestinya paling tahu soal ini, karena mesin absen berada di samping mejanya, malah ketakutan. Sepertinya Amelia diancam, agar tidak membocorkan rahasia. Demikian pula Anita, yang setiap hari memeriksa absensi terkait dengan tugasnya menghitung uang makan. Wajahnya agak kecut karena dimusuhi beberapa karyawan. Ketika Sony panggil mereka berdua ke dalam ruangannya untuk menanyakan soal itu, mereka memilih bungkam. Inikah yang namanya solidaritas karyawan?
Biasa. Di mana-mana begitu. Namanya juga karyawan. Macam-macamlah kecurangannya. Sony mahfum adanya. Nyolong-nyolong sedikit dia biarkan. Asal tidak keterlaluan. Dia juga tahu klaim bensin terkadang aneh-aneh. Anita bahkan pernah menemukan sebundel bon bensin kosong tertinggal di mejanya. Tapi, yang bikin Sony gusar adalah kebocoran telepon. Dua bulan berturut-turut. Biayanya bengkak lebih dari delapan juta. Setelah di-print, ketahuan ada yang suka ngendon di kantor hingga malam hari untuk menelepon nomor esek-esek.
Penjaga malam langsung menunjuk hidung Rofi’i, orang Produksi yang belakangan suka lembur sendirian. Tinggal digelandang. Rofi’i mengaku. Minta ampun supaya tidak dipecat. Dia bersedia mengganti semua kerugian dengan dipotong gaji. Anehnya, besoknya dia ngilang. Tak pernah datang ke kantor lagi.
Tapi ada juga kecurangan yang benar-benar keterlaluan. Heru pernah bercerita kepada Sony mengenai Heri, kakaknya yang menjadi Penyelia Produksi di sebuah pabrik perakitan elektronik. Karena pusing mengurus pekerja-pekerja yang curang dan banyak ulah, dia stres dan akhirnya mengundurkan diri. Malu kepada manajemen.
Bagaimana tidak, mereka selalu mencari berbagai cara untuk memperlambat pekerjaan, bahkan dengan menjaili mesin. Tujuannya, lembur. Target produksi memang terpenuhi, tapi harus lembur setiap hari. Tak mungkin tambah shift, karena yang demikian berarti harus merekrut pekerja tambahan. Terlalu berisiko untuk order dadakan. Jadilah Heri ikut-ikutan lembur saban hari. Pola hidup jadi tak normal. Mending mundur teratur. Daripada babak belur. Kurang tidur.
Lembur boleh-boleh saja. Sesekali perlu dilakukan. Apalagi kalau tengat waktu sudah menampakkan taringnya. Tapi, kalau setiap hari lembur, berarti ada masalah. Boleh jadi karena cara kerjanya kurang efektif. Atau, mungkin saja, jumlah dan kapasitas SDM-nya tidak mencukupi.
Sesungguhnya, kerja lembur yang keterusan sama sekali tidak menyelesaikan masalah, bahkan cenderung menciptakan persoalan baru. Manusia pada dasarnya mempunyai keterbatasan. Ketika bekerja dari jam delapan pagi hingga pukul lima sore, kapasitasnya masih seratus persen. Apabila diteruskan hingga pukul sembilan malam, kapasitasnya tinggal lima puluh persen. Bila dilanjutkan lagi hingga tengah malam, sesungguhnya kapasitasnya tinggal dua puluh persen. Apalagi kalau digeber sampai pagi. Mereka bekerja dengan kapasitas cuma sepuluh persen. Apa yang bisa dihasilkan dengan kapasitas sekecil itu?
Lebih gawat lagi, setiap kali habis lembur, datangnya selalu telat. Tidur dulu, alasannya. Sehingga jam kerja dimulai siang hari, dan bahkan sore hari. Kalau terus-terusan begini, namanya menggeser jam kerja. Bagaimana mau berkoordinasi dalam teamwork? Mereka bekerja pada saat orang lain lagi enak-enaknya tidur di malam hari. Pagi hari, pada saat orang lain sibuk bekerja, mereka pada ngorok sambil ngiler di gudang bawah. Jarang mandi lagi. Celana dalam sudah side B. Andalannya cuma minyak wangi. Hal seperti itulah yang mendorong Sony agak ketat dalam soal absensi. Karena orang Pemasaran pernah komplain. Pagi-pagi klien sudah tanya ini-itu, tapi orang-orang Produksi belum pada nongol. Jadi tengsin. Bisa kabur itu peluang. Urung dapat bonus. Gondok mereka.
Tapi tak semua karyawan suka berulah. Sony paling salut kepada karyawannya di Bagian Pemasaran. Mereka semua pekerja keras. Saling bersaing satu sama lain, sehingga tak sedikit pun punya waktu luang untuk bertingkah aneh-aneh. Motivasi mereka hanya bonus. Siapa yang mendapatkan paling banyak bonus dialah raja. Tak peduli orang baru atau lama. Ukurannya hanya angka-angka.
Heru Wibowo, Manajer Pemasaran di kantor Sony, hanya jebolan SMA. Tapi dia orang yang luar biasa. Tidak kalah dengan anak buahnya yang hampir semua lulusan sarjana. Meski bicaranya suka belepotan, dia mampu menutupi kekurangannya dengan kepiawaiannya menyihir manusia. Terlebih lagi, dia ahli menyerap ilmu orang dalam sekejap. Meski baru kenal, dijamin, orang itu akan segera menjadi sahabatnya. Itulah Heru, orang Semarang yang sudah pernah melakoni semua jenis pekerjaan di ibukota. Seperti Tukul, manusia setengah monyet yang jenaka itu.
Sony pernah sekali merekrut seorang pemasar jebolan perusahaan besar. Hernawan namanya. Langsung dia tempatkan pemuda yang menyandang gelar pasca-sarjana dari Amerika itu sebagai wakil Heru. Harapan Sony, agar ilmunya dicuri habis-habisan sama Heru. Memang benar, Heru mengakui, ini orang ilmunya sangat tinggi. Tapi tidak sakti. Buktinya, selama enam bulan tak pernah bikin transaksi. Barang sebiji. Cuma pintar teori. Padahal gajinya bergerigi. Akhirnya dipersilahkan pergi. Setengahnya dia juga malu sendiri.
Sony menduga, selama ini karir itu orang moncer di tempat kerja sebelumnya karena perusahaan tersebut sudah mapan. Dia tak pernah menghampiri pelanggan. Sebaliknya, pelanggan yang datang kepadanya. Hanya menunggu. Kalau cuma beginian, tak perlu lulusan luar negeri.
Kasus seperti ini sering terjadi. Beberapa orang hebat dari perusahaan raksasa seperti mati kutu ketika memulai usaha sendiri atau pindah kerja. Kesaktiannya luntur begitu saja setelah tak lagi menjadi bagian dari institusi yang membesarkannya. Mereka kelihatan sakti hanya karena perusahaan tempatnya bekerja sudah well-established. Jadi, yang sakti sebenarnya perusahaannya. Bukan orangnya.
Banyak contohnya. Tak perlu sebut nama. Pasti yang bersangkutan manggut-manggut dan mengakui sendiri. Tapi banyak juga perkecualian. Misalnya, almarhum Cacuk Sudaryanto. Ini orang memang jagoan. Berlaga di mana saja tetap saja sakti mandraguna. Sesungguhnya, Sony pernah punya karyawan jenis ini. Sayang, setelah menikah, dia mengundurkan diri. Ikut suaminya yang melanjutkan sekolah ke luar negeri.
“Ke luar negeri? Kapan?” tanya Sony.
“Kemarin berangkatnya, Pak. Pulangnya seminggu lagi,” jawab Sandy, sekretarisnya.
Pagi itu Sony minta tolong sama si Belanda Depok agar disambungkan dengan Pak Ferdy, kliennya di Surabaya. Ternyata dia pergi ke Amerika Latin. Mendampingi Direktur Utama menghadiri simposium gula internasional. Ya sudah. Berarti harus menunggu minggu depan. Padahal ada pekerjaan yang membutuhkan approval Pak Ferdy. Tidak bisa digantikan orang lain. Pesannya sudah begitu. Mau dikata apa.
Pak Ferdy bukan klien biasa. Kebetulan, adiknya teman lama Sony. Pernah sekantor di daerah Sudirman di masa lalu. Bagi Sony, Pak Ferdy adalah sahabat sekaligus teman mengobrol yang mengasyikkan. Wawasannya luas. Analisanya tajam. Dan, suka berterus-terang.
Bulan lalu, mereka berdiskusi soal pekerja di perusahaan perkebunan pelat merah yang memproduksi gula, cemilan legit kegemaran semut itu. Sony bertanya kepada Pak Ferdy, kenapa perusahaan tempatnya bekerja piara karyawan hingga belasan ribu orang. Padahal mereka sibuk pada saat musim giling saja. Belum lagi karyawan kampanye, yang jumlahnya seperti rayap itu. Seandainya pola budidaya diintensifkan melalui mekanisasi dan dilakukan perbaikan teknologi pada pabrik-pabriknya yang sudah uzur, jumlah karyawan pasti bisa dipangkas hingga tinggal seperempatnya saja. Hari gini, teknologi gula tidaklah mahal. Sangat sepadan dengan efisiensi yang bisa dihasilkan.
Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama menggantung di benaknya. Baru kali ini Sony berkesempatan menanyakan langsung kepada orang yang mestinya tahu betul masalah tersebut. Ternyata Sony sok tahu. Dan harus menanggung malu. Pak Ferdy yang wajahnya mirip bintang filem kawakan Herman Felani itu menjawab dan sekaligus mematahkan pertanyaannya secara telak dengan paparan logika yang sangat masuk akal.
Apabila dilakukan mekanisasi, bagaimana nasib ribuan karyawan dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan? Namanya juga BUMN. Ada misi bisnis sekaligus misi sosial yang dibebankan ke pundaknya. Jadi, tidak bisa dilongok dari hitung-hitungan bisnis semata. Demikian pula aktivitas di pabrik, yang sebagian besar mesinnya peninggalan dari zaman Belanda. Bahkan usianya jauh lebih tua dari para pekerjanya. Bila diganti dengan teknologi mutakhir, ribuan orang harus dirumahkan. Padahal, semenjak zaman dulu, yang namanya pabrik gula mampu memberikan efek berganda kepada masyarakat sekitar dalam jangkauan yang sangat luas. Tak hanya dalam spektrum ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Kalau harus diubah, sekian puluh ribu orang akan kehilangan pekerjaan. Pasti mereka akan kesulitan untuk beralih profesi. Tatanan sosial-budaya juga akan terguncang. Jadi, dibiarkan saja begitu. Itulah pilihan yang paling masuk akal. Toh, perusahaan masih mampu mencetak laba operasi.
Tapi, Pak Ferdy yang sangat religius dan santun itu mengeluhkan soal serikat pekerja. Mereka luar biasa galak. Suka memaksakan kehendak. Main keroyokan. Unjuk kekuatan. Beberapa organisasi buruh dari luar negeri malah ikut-ikutan mengompori. Hampir semua BUMN dibelit persoalan serupa. Direksi kerepotan dibuatnya. Kalau tidak dilayani, percikan kecil akan berkobar ke mana-mana dan melumpuhkan aktivitas usaha. Bila sedikit saja diberi angin, mereka akan langsung nglunjak. Menuntut macam-macam sambil jual lagak. Seolah hendak menjadi manajemen bayangan. Ikut ngatur-ngatur jalannya perusahaan.
Sebenarnya ini anomali. Bukankah sejarah pergerakan kaum buruh di seluruh dunia dimotivasi oleh tuntutan akan jaminan kesejahteraan pasca-kerja? Mereka ini, para karyawan BUMN itu, adalah pekerja-pekerja yang sudah dijamin hari tuanya. Jadi, untuk apa lagi berserikat seperti itu? Situasi konyol ini tak ubahnya seperti satu raga yang diperebutkan oleh dua nyawa. Jadinya, kesurupan melulu. Bagaimana bila PNS, tentara dan polisi juga melakukan hal yang sama? Membentuk serikat pekerja? Sama sekali tak relevan. Dan cenderung mengada-ada. Bubarkan saja. Bergabung sajalah dalam koperasi dan paguyuban karyawan.
Pangkal masalah bermula dari Menteri BUMN yang sekarang, Pak Sofyan Djalil, Mister James itu, alias si Penjaga Mesjid. Bagaimanapun, penjaga masjid itulah, yang di masa lalu menjabat sebagai Deputi Bidang Komunikasi di bawah Menteri P-BUMN Tanri Abeng, yang membidani pembentukan serikat pekerja BUMN. Nuansanya serba politis. Karena mendekati Pemilu. Sekarang, terbukti menjadi senjata makan tuan. Tanya saja kepada semua direksi BUMN. Daripada tambah tidak keruan ke depan, mending buru-buru dikekang. Kalau perlu dilikuidasi sekalian. Bila dibiarkan terus-terusan begitu, lama-lama menjadi macan. Mau dicakar, kamu?
Silahkan dibereskan, Oom, mumpung masih menjabat. “Kau yang mulai kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji kau yang mengingkari.”
Ngomong-ngomong soal Mister James, Sony jadi teringat kawan lamanya. Dia langsung meneleponnya. “Halo, Pak Kopo. Keren sekarang. Sudah jadi Staf Ahli Menteri. Bagi-bagi kerjaan, dong.”
Sohib Sony yang kini menyandang gelar doktor itu kelihatannya sudah agak berubah. Sedikit pelit dalam berbagi informasi. Bicaranya seperti tertata dan diatur. Namanya juga pejabat. Tapi Sony yakin, meski belum sempat bertemu sejak beberapa lama, ada satu hal yang tak akan pernah berubah darinya, potongan rambut cepak. “Isis,” katanya.
Pak Kopo orangnya memang serius. Luar biasa cerdas bin pintar. Tapi suka berkelakar. Pernah dia mengeluh kepada Sony mengenai tidak enaknya tinggal di Bekasi. “Buku teleponnya tipis,” katanya, sambil membuka-buka Buku Petunjuk Telepon Jakarta yang setebal bantal bayi, di ruang rapat di kantor Sony, beberapa tahun lalu.
“Pak Kopo, saya dapat titipan amanat dari beberapa direksi BUMN kenalan saya, supaya Pak Menteri membubarkan saja serikat-serikat pekerja. Biar orang bisa bekerja dengan tenang. Agar pembayaran dividen naik terus. Kebetulan kan, dulu Mister James bidannya, sekarang bisa jadi algojonya.”
Pak Kopo tidak berkomentar sedikit pun mengenai permintaan itu. Hanya menanggapi dengan ucapan singkat tanpa makna, “Ya. Ya. Ya.”
Bagi Sony, tak penting apakah permintaannya diteruskan kepada Mister James atau tidak. Pokoknya, dia sudah menyampaikan amanat tersebut. Sebab, dia suka sedih melihat direksi BUMN yang memilih ngumpet dan tidak ngantor ketika serikat pekerja lagi angot. Takut ditodong ramai-ramai untuk membuat pernyataan tertulis.
“Tapi ini kan hanya tulisan. Tak akan berpengaruh terhadap produktivitas pekerja,” kata Pak Jumhur, sambil menyedot dalam-dalam rokok Gudang Garam merahnya.
Sony sedang mengobrol dengannya mengenai produktivitas karyawan di kantor Pak Jumhur, sebuah perusahaan pupuk raksasa bercat merah. Sungguh aneh, pria yang rambutnya sudah penuh uban kendati usianya belum terlalu tua itu malah mencotohkan dirinya sendiri. Dia pernah melakukan penelitian kecil-kecilan. Sebagai orang yang tergolong paling banyak pegang kerjaan di kantornya, dia malah menemukan bahwa dirinya bekerja secara efektif hanya dua jam dalam sehari. Sisa jam kerjanya dihabiskan untuk nyamper sana nyamper sini, telepon sana telepon sini, main games, ke kantin, bercanda dengan asap rokok, dan sesekali jalan ke mall. Panji Klantung, luntang-lantung.
Bukannya malas. Tapi sudah tak ada lagi pekerjaan yang perlu diselesaikan. Pekerjaan yang semestinya cukup ditangani satu orang, dikeroyok ramai-ramai oleh puluhan karyawan. Biar semuanya kebagian kerja, atau, pura-pura kerja. Bandingkan dengan pembantu rumah tangga yang harus bekerja keras hampir seharian penuh, sendirian lagi. Yang paling konyol, katanya, perusahaan tempatnya bekerja memelihara pekerja klerikal dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada pekerja teknis di pabrik. Seolah semua urusan pabrik berada di papan ketik komputer dan kertas-kertas yang berlembar-lembar itu.
“Jujur saja, urus pabrik beginian tak perlu sampai tiga ribu orang. Sudah hi-tech. Tinggal pencet-pencet tombol. Semuanya terpampang di monitor. Seandainya jumlah karyawan harus dipangkas habis hingga tinggal sepuluh persen saja, pasti masih bisa jalan,” begitu katanya.
Sony agak bingung, sesungguhnya Pak Jumhur berada di pihak mana?
Sebenarnya bukan hanya Pak Jumhur yang suka bengong kurang kerjaan. Banyak PNS malah tidak pernah bekerja sama sekali. Mas Hardi, tetangga sebelah rumah Sony di kampung halaman, adalah PNS yang lebih banyak meluangkan waktu bersama burung-burung dara kesayangannya.
“Nggak ngantor, Mas?” tanya Sony yang saat itu sedang pulang kampung untuk memperbaiki kijing keramik di makam ibunya yang patah karena tanahnya gembur.
“Nanti,” jawabnya. Besoknya juga begitu. Hanya sedikit agak panjang jawabannya. “Habis, tidak ada yang dikerjakan. Mendingan di rumah.”
Lha, kalau pekerjaannya sedikit, ngapain karyawannya mesti menyemut? Sehingga mereka bosan sendiri duduk-duduk di kantor, dan akhirnya lebih suka kelayapan di luaran atau tinggal di rumah saja. Namun, tidak semua PNS bebal seperti itu. Banyak juga yang pekerja keras, dan hebat-hebat. Pintar-pintar lagi. Sony banyak kenal orang-orang seperti itu. Bahkan, mereka bekerja jauh lebih keras daripada karyawan swasta. Tanya saja sama Pak Taufik Effendi.
Untuk mengubah tabiat buruk sebagian PNS, sejumlah Pemerintah Daerah getol merazia pegawainya yang kelayapan di luar pada saat jam kerja. Tapi jarang sekali yang terjaring. Padahal kantor-kantor pada melompong. Di manakah mereka? Apa ngumpet di got? Tak mungkin. Bau. Konon katanya, sebagian langsung menyamar jadi patung. Ada pula yang pura-pura jadi tukang dagang. Biar tidak ketangkep.
Kalaupun ada yang terjaring, biasanya ibu guru yang baru sempat pergi ke pasar sepulang mengajar. Para pahlawan tanpa tanda jasa yang memiliki tugas dan jam kerja yang jelas itu – meski banyak di antara mereka belum mengantongi status kepegawaian yang jelas – malah sering menjadi kambing hitam.
Sebenarnya, bukan itu pokok masalahnya. Jawaban Mas Hardi sudah jelas, “Tidak ada kerjaan.” Dengan demikian bisa dikatakan sebagian PNS adalah pengangguran tak kentara. Dibandingkan dengan para pekerja serabutan yang sering direndahkan dengan sebutan disguised unemployment, segolongan PNS malah lebih parah. Mereka real unemployment. Pengangguran tulen. Namanya juga PNS, eh, salah, penggangguran.

6. Pengusaha

Pencapaian tertinggi bagi orang-orang yang memilih berkarir di swasta berbeda-beda ukurannya. Sebagian orang merasa cukup puas dengan menjadi safety player, asal pekerjaan aman dan pendapatan menjulang. Tak peduli pegang jabatan atau hanya menjadi staf biasa. Bagi sebagian lainnya, menapak ke jenjang manajer sudah dianggap sebagai pencapaian yang lumayan membanggakan. Sementara para profesional mematok target yang lebih tinggi, mengincar posisi puncak, duduk di jajaran direksi. Apalagi bila dipercaya menjadi direktur utama, itulah pencapaian tertinggi. Tapi, banyak pula yang lebih suka bermetamorfosis menjadi ikan besar di kolam kecil. Berwiraswasta, menjadi pengusaha. Apabila keberuntungan memihaknya, suatu saat nanti bisa membesarkan kolamnya sendiri, menjadi telaga.
Sony mulai berwiraswasta pada usia dua puluh delapan tahun. Setelah dipikirkannya masak-masak, akhirnya dia memutuskan keluar dari pekerjaannya yang lumayan mapan. Dia berhimpun bersama dua orang rekannya mendirikan sebuah perusahaan. Hanya saja, kedua temannya itu, Rachmad Santosa dan Sunarna Wiguna, masih tetap menekuni pekerjaan masing-masing. Rachmad seorang wartawan. Sedang Sunarna adalah pengusaha perakitan komputer yang baru genap setahun memulai usaha sendiri setelah sebelumnya cukup lama ngenger di salah satu perusahaan milik pengusaha-politisi liat dan tahan banting asal Surabaya.
Maka, jadilah Sony pengelola tunggal perusahaan kelas gurem itu. Kedua sohibnya hanya seminggu sekali datang. Tak apa. Di luaran sana, mereka giat membantunya mencari order. Pekerjaan apa saja disabet. Pokoknya ada pemasukan. Dapat sedikit untung dibagi-bagi di antara mereka bertiga.
Sebuah rumah kos di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur, mempertemukan mereka di akhir tahun delapan puluhan. Sama-sama masih bujangan dan culun karena baru datang dari kampung. Rachmad, orang Solo itu, menyelesaikan kuliahnya di Institut Pertanian Bogor, jurusan Tanah. Makanya, kulitnya agak gelap. Malahan bisa dibilang gosong. Mungkin karena terlalu sering dijilati matahari. Sedangkan Sunarna, yang orang Cianjur, hanyalah tamatan SMA, namun sangat cerdas. Kemampuan analisanya luar biasa tajam dan selalu optimistis menatap masa depan. Keterbatasan ekonomi keluarga melarangnya duduk-duduk di bangku kuliah. Karena omongan yang sama-sama nyambung, jadilah mereka tiga serangkai yang ke mana-mana selalu bareng, pergi ke bioskop, berburu buku loak di Kwitang, menggoda waria di Taman Lawang, nonton video porno, termasuk main kyu-kyu.
Selama dua tahun pertama perusahaan baru itu tidak mengalami perkembangan berarti. Sekedar bisa jalan. Kantornya numpang di garasi rumah mertua Rachmad di daerah Kemang. Karyawan hanya dua orang. Nancy menangani administrasi. Sedangkan Suradi kebagian urusan umum. Tugasnya mengantar surat dan barang, bersih-bersih kantor, dan juga membelikan makan siang.
Memasuki awal tahun ketiga, Sony mulai terengah-engah. Gaji karyawan dua kali tertunda. Sementara kebutuhannya sendiri terus meningkat semenjak anak pertamanya lahir. Akhirnya Sony menyerah. Kantornya bubar. Sebulan kemudian dia diterima bekerja di sebuah perusahaan pameran. Di sinilah pertama kali dia bertemu Heru Wibowo, orang kepercayaannya saat ini. Juga Mualim, yang tidak terlalu pintar tapi hokinya besar. Dan Lexy, orang Manado yang berwajah cina itu.
Pak Mansyur, pemilik perusahaan tersebut, sangat menyukai Sony karena dianggap membawa banyak perubahan bagi kemajuan perusahaan. Dalam waktu kurang dari setahun dia dipromosikan jadi manajer. Namun promosi ini membawa berkah sekaligus petaka. Biasa, selalu ada sisi hitam dan putih, baik dan buruk. Djumali, orang lama kepercayaan Pak Mansyur, iri kepadanya. Dia merasa terancam, dan dipinggirkan. Beberapa kali Sony difitnah. Namun mental belaka.
Sebenarnya jenggah juga. Bekerja di bawah sorotan mata. Tapi Sony agak terhibur hatinya. Posisi baru tersebut memberinya kesempatan luas untuk memahami apa itu pengelolaan usaha. Yang sebelumnya dia jalani begitu saja. Apa adanya. Tanpa rencana. Inilah saatnya. Mencuri ilmu dari mulut yang menganga. Serap habis hingga tak bersisa. Biar tinggal tulang berbalut kulit bertambal kain kassa.
Hanya satu setengah tahun Sony bekerja di sana. Sungguh tak nyaman, sekaligus menyebalkan. Kaki kiri menginjak bara neraka, kaki kanan bertumpu di tubir surga. Akhirnya dengan berat hati dia keluar, dan memutuskan kembali berwiraswasta.
Ada beberapa pertimbangan yang membulatkan tekadnya. Pertama, Djumali yang gemar memakai sepatu koboi itu semakin keterlaluan. Sudah menjurus ke cara-cara edan. Kedua, Sony merasa tidak nyaman dengan istri bosnya yang sering datang ke kantor dan sok mengatur. Apalagi, perempuan ganjen itu cs berat dengan Djumali. Mereka seperti berkomplot untuk menjatuhkan Sony. Ketiga, merasa sudah makmur, Pak Mansyur mulai mengimpor lusinan kerabat dari kampung halaman untuk bekerja di kantornya. Sebagian orangnya baik-baik, tapi kebanyakan cuma merecoki orang yang lagi kerja. Keempat, Rachmad dan Sunarna mengajaknya bergabung kembali. Anak seorang konglomerat bersedia mendanai.
Keren benar. Sony berkantor di Menara Mulia. Karyawan langsung direkrut lima. Dia tarik Lexy menjadi pembantu utamanya. Ini baru namanya perusahaan, pikirnya. Namun, seperti biasanya, Rachmad dan Sunarna tidak bergabung penuh. Mereka memilih menjadi direktur freelance. Seperti yang sudah-sudah, kedua karibnya itu masih berat meninggalkan pekerjaan masing-masing. Sudahlah, tak perlu dirisaukan. Karena dua proyek besar sudah di genggaman tangan.
Baru sekali ini Sony benar-benar merasa percaya diri sebagai seorang pengusaha. Kejayaan sudah di pelupuk mata. Satu pekerjaan sudah diselesaikannya. Menghasilkan keuntungan yang luar biasa gendut. Segendut Pretty Asmara, perawan cantik dari Sukodono itu. Sementara pekerjaan kedua hampir kelar, dan beberapa pekerjaan baru segera menyusul.
Kiamat. Datang begitu cepat. Seperti kilat. Cakarnya menggurat-gurat. Langit langsung pekat. Sebulan setelah Sony berhasil menyelesaikan pekerjaan besarnya yang kedua, krisis ekonomi menyergap. Harapan tiba-tiba lenyap. Sirna ditelan senyap. Semua orang tergagap-gagap. Banyak yang megap-megap. Seolah mulutnya dibekap. Padahal mereka mangap. Masih untung, sebagian malah sudah tengkurap. Berenang di atas kayu sirap. Dengan paku-paku tajam yang menancap.
Palu godam datang dengan mengendap-endap. Kemudian mengepakkan sayap. Meliuk-liuk melintasi deretan atap. Berayun-ayun seperti tongkat sulap. Menghancurkan bisnis menyisakan asap. Bank-bank pada tiarap. Dari tubuh mereka berlelehan kecap. Tertatih-tatih beringsut merayap. Sementara bank sentral terus menghamburkan parap. Menyembelih anak-anaknya yang terperangkap. Sebagian berhasil lari menyelinap. Korban berjatuhan ke dalam lobang gelap. Berguguran seperti rayap. Mereka hanya bisa meratap. Sedikit berharap. Dan, kalap.
Dalam gilasan krisis, kantor baru Sony hanya mampu bertahan setahun. Keuntungan dari pekerjaan pertama dan kedua habis untuk menutup biaya bulanan. Beberapa pekerjaan batal. Hanya dua yang tetap jalan. Tanpa tetesan keuntungan. Krisis itu telah menggerus modal. Bubar.
Sony goyah. Malahan sempat memunggungi Tuhan. Karena kemalangan menimpanya justru pada saat kejayaan sedang bermula. Kecewa. Putus asa. Merasa seolah telah terlempar dan tidak lagi menjadi bagian dari dunia yang sedang berputar. Beruntung, Febriana yang terkena PHK malah lebih tabah dan senantiasa mengingatkannya agar lebih tawakal. Benar, pikir Sony. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dengan menjual mobilnya, sebuah sedan Toyota Corona keluaran tahun sembilan tiga, ditambah secawan perhiasan istrinya, Sony memulai usaha baru. Dia menyewa ruangan seukuran garasi di sebuah gedung jangkung yang matanya selalu awas memelototi kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang di jalan tol lingkar luar itu. Karyawannya hanya tiga. Heru, Anita dan Usep, office boy yang jenaka itu, yang masih kerabat jauh Sunarna.
Tapi kali ini Sony jalan sendirian saja. Single fighter. Tidak bergabung lagi bersama kawan-kawannya. Beruntung, Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Belum genap dua bulan, Sony sudah mendapatkan pekerjaan yang lumayan besar dari sebuah perusahaan pupuk milik negara, dengan sedikit tepu-tepu, tentu saja. Dari sinilah dia mulai melebarkan kepakan sayapnya. Menembaki sasaran mudah. Sitting ducks. Institusi pemerintah dan perusahaan-perusahaan pelat merah.
Dalam kenyataannya, banyak pengusaha yang lebih suka menguber proyek-proyek dari pemerintah atau institusi yang terkait dengan pemerintah, juga BUMN dan BUMD. Alasannya sederhana saja. Pertama, pasti dibayar, karena setiap proyek baru bisa dilaksanakan setelah anggaran turun. Artinya, uangnya sudah pasti ada. Kedua, harga bisa dimain-mainkan, bila perlu, diajak berjoget gaya jaipongan, semalam suntuk.
Di masa lalu, permainan harga cenderung gila-gilaan, hingga bisa digelembungkan sesukanya, seperti balon udara, sebagian lagi melar menjadi balon raksasa. Tetapi tetap ada batasnya, jangan sampai balon itu meletus dan memuntahkan isi perutnya yang berbau anyir.
“Monggo, Mas. Mau ambil untung berapa, asal setengahnya untuk kita,” kata mereka.
Hanya orang gila yang akan membuang muka menerima tawaran menggiurkan seperti itu. Dengan demikian, berarti para pengusaha adalah orang-orang yang waras. Kalau begitu, yang gila, siapa?
“Katakan tidak pada korupsi”, kata iklan sebuah partai politik. Ngawur itu. Iklan tersebut seolah menyiratkan bahwa kalangan dunia usaha suka usil menggoda para aparat birokrasi untuk melakukan korupsi. Terbalik, nyung. Aparat birokrasilah yang gemar mengajak para pengusaha untuk melakukan kong-kalikong. Mau bukti? Banyak. Ambil contoh, kasus BNI Melawai yang melibatkan Pauline Lumowa itu. Orang-orang BNI justru yang mengajari Bu Gendut dan mengatur segala sesuatunya.
Banyak orang geram menyaksikan praktek-praktek binal seperti itu. Dengan tatapan mata marah dan mulut berapi-api mereka menyebutnya korupsi. Wajar-wajar saja, karena mereka bersandar pada sudut pandang sistem. Bagi pengusaha seperti Sony, itu tak lebih dari sekedar biaya lobby, yang sudah diperhitungkan dan dianggarkan dalam pos biaya entertain atau pos-pos biaya lain yang disamarkan.
Memang tipis perbedaannya, antara korupsi dan biaya lobby, karena mereka berdua masih sedarah, terlahir dari bapak dan ibu kandung yang sama. Artinya, bukan anak haram, tapi anak blasteran. Buah cinta dari perselingkuhan nikmat antara para birokrat dan pengusaha. Karenanya, tak perlu dibikin pusing. Biarkan saja masing-masing melihat dengan cara pandangnya sendiri-sendiri. Korupsi, atau biaya lobby, boleh-boleh saja, asal jangan keterlaluan. Kenyataannya, begitu banyak, kalau tak mau dibilang jutaan, anak Indonesia yang dibesarkan dari uang hasil korupsi, termasuk sebagian pendemo itu, yang suka mejeng di TV.
Namun, sebagai warga negara, bagaimanapun, Sony juga ingin korupsi bisa terus ditekan di negeri ini. Kalau mau dibasmi, mustahil. Sampai kepalanya botak juga tak akan berhasil. Seperti orang yang kurang kerjaan saja, usil.
“Korupsi mempercepat derap langkah pembangunan, dan melahirkan para pahlawan.” Ini sama sekali bukan ucapan yang ngasal dan mengada-ada. Kalimat yang agak membingungkan itu meluncur dari mulut seorang mantan direktur sebuah bank bergincu merah yang telah beralih profesi menjadi pengusaha.
Siang itu, Sony sedang mengobrol sambil menyantap iga panggang di Tony’s Roma bersama sohib kentalnya tersebut, dan juga Ceng Li. Mereka bertiga sama-sama penggemar ikan hias air laut yang sering ketemu di pasar ikan hias di Jalan Sumenep hampir setiap Sabtu. Makanya, setiap kali makan bersama, mereka sebisa mungkin menghindari seafood. Jangan sampai PMP, pren makan pren.
“Maksudnya apa, Pak,” tanya Sony, sambil mengunyah gigitan kecil daging harum itu seraya memperhatikan Ceng Li yang tampaknya juga agak bingung dengan pernyataan aneh tersebut.
Kedua bola mata pria tinggi besar itu agak melotot. Pupilnya bergerak-gerak sedikit liar ke atas dan ke bawah. Berputar-putar lembut. Dari keningnya mulai menitik beberapa noktah cairan asin. Jakunnya naik turun pelan. Kedua tangannya diregangkan. Sepertinya dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan Sony karena mulutnya penuh dengan potongan-potongan kecil daging iga yang lembut, manis dan pedas yang sedang dikunyahnya. Lelehan saus merah mengalir malas dari sudut-sudut bibirnya. Enak tenan. Mantap kale, kata Benu Buloe si jurumakan.
“Begini, Bung,” ujarnya sambil mengelap mulutnya. Tapi dia tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Napasnya masih belum teratur. Mungkin tenggorokannya bingung. Karena harus terus-terusan membuka tutup secara bergantian, saluran pernapasan untuk memberi jalan kepada pasukan yang sedang memanggul jutaan karung oksigen ke dalam paru-paru, dan saluran menuju lambung yang setiap saat kemasukan bagian-bagian kecil dari seekor sapi tak bernama. Salah langkah, bisa cegukan itu orang.
Setelah meneguk segelas air putih, barulah pria berbusana batik sutra itu terlihat agak rileks. Kemudian dengan tangkas dia menguraikan logikanya. Selama ini orang selalu menyorot korupsi dari sudut pandang sistem. Karena ada aturan yang dilanggar, maka ada pihak yang dirugikan dan ada pula pihak yang merugikan. Yang beginian sudah jamak di mana-mana. Sudah basi. Anak SD juga tahu. Persoalan korupsi mestinya didekati dengan tinjauan bisnis, dan juga sosiologis.
Para pelaku korupsi sebenarnya bukanlah orang-orang tamak bin serakah. Sebaliknya, merekalah pahlawan ekonomi, karena senantiasa berbagi hasil korupsi dengan keluarga, kerabat, sejawat, masyarakat dan dunia usaha, sehingga terbentuklah jutaan mata rantai ekonomi dalam untaian-untaian kecil namun panjang melalui uang hasil korupsi yang dibelanjakan tersebut. Konsumsi naik ekonomi bergerak. Sektor riil mau diajak beranjak. Asal jangan diinjak. Ayo …, korupsi. Edan.
Pahlawan ekonomi itu, para pelaku korupsi, tambahnya, janganlah diuber-uber. Mereka harus dihormati, dan diberi penghargaan. Kalau perlu disiapkan pin emas barang tiga atau lima gram. Bagaimanapun, tabiat buruk mereka selama ini terbukti mampu mempercepat laju pembangunan dan menggerakkan ekonomi, sehingga masyarakat dan para pelaku usaha pada tersenyum. Itulah chemistry yang paling pas untuk situasi faktual Indonesia.
Buktinya, setelah para pahlawan ekonomi itu diuber-uber dengan ganas, pembangunan jalan di tempat. Proyek-proyek cuma dikurung, tak dilepas. Pengusaha ngaplo. Masyarakat melongo. Duit Pemda yang jumlahnya ribuan kali lipat penduduk bumi itu dibiarkan berpesta mesum di bilik-bilik tertutup di kantor-kantor bank. Sehingga berceceranlah anak-anak haram yang dihasilkan dari perselingkuhan bejat itu. Mereka jadi malas beredar. Tiduran saja. Pinggulnya masih ngilu. Semalam bertempur habis-habisan.
Sekarang, kalau tukang uber-uber tersebut memang sakti, mampu kagak mereka memaksa trilyunan duit Pemda yang sedang pelesiran sambil menikmati wine dan menghisap cerutu Kuba itu agar segera check out dari kamar-kamar SBI dan perbankan? Agar Sony menari-nari riang. Karena main proyek di pemerintahan nikmat banget. Sedangkan, kalau main di swasta, agak seret. Harga ditekan habis. Pasti dibayar, meski ada juga yang tak terbayar. Karena pembiayaan pekerjaan biasanya dianggarkan dari proyeksi pemasukan. Kalau pemasukan agak terganggu, pembayaran bisa mundur tak keru-keruan. Menciptakan efek berantai yang merugikan banyak pihak serta menimbulkan ketidaknyamanan.
Sony sendiri tak pernah menolak pekerjaan dari swasta, bahkan terus mengubernya. Dia pegang pekerjaan besar dari salah satu perusahaan kawannya. Dia tekuni dengan serius meski marginnya kecil kalau dihitung per satuan. Namun, karena rutin dan volumenya lumayan tambun, akumulasi marginnya bisa menutup biaya bulanan.
Sony merasa sangat bersyukur karena usaha barunya berjalan relatif lancar. Sejumlah pekerjaan baru dia dapatkan. Fadli, adiknya itu, beberapa kali meminjaminya tambahan modal kerja. Tanpa bunga. Meski pekerjaan terus bertambah, dia belum punya keinginan merekrut karyawan baru untuk meringankan beban kerja. Masih melihat-lihat dulu. Tunggu sampai benar-benar aman. Panggil saja pekerja freelance. Banyak di luaran sana. Tidak perlu bayar gaji bulanan.
Dia lebih fokus pada pemupukan modal. Sebagian keuntungan dia sisihkan untuk beli mobil, sebagai ganti dari mobilnya yang telah dijual untuk modal awal, sehingga tak perlu lagi pinjam mobil istrinya bila berangkat kerja. Karena Febriana, istri kesayangannya itu, sudah bekerja lagi sebagai pemasar di sebuah perusahaan furnitur raksasa. Katanya, banyak klien gajah – sebagian besar instansi pemerintah dan BUMN – yang suka datang ke kantornya.
“Saya mau ke kantor Bapak besok pagi. Ada beberapa perbaikan yang harus saya periksa sendiri, karena menyangkut angka-angka.” Pak Jumhur menelepon Sony siang itu.
Gawat, pikirnya. Di luaran sana, selama ini dia selalu berkoar-koar kalau perusahaannya mapan dan memiliki daya dukung SDM yang kuat. Padahal, kantornya hanya seluas dua puluh empat meter persegi. Dengan empat set meja-kursi, dua komputer dan satu laptop. Karyawan hanya tiga. Plus freelance satu, yang datang sesuai panggilan.
Karenanya, Sony tak pernah sekalipun mengundang klien untuk datang ke kantornya. Malu-maluin. Ketahuan nanti kalau selama ini bo’ong. Makanya, dia yang aktif menyambangi klien-kliennya. Kalau mereka ingin berkunjung, dia selalu punya cara untuk mengelak. Sedang tidak berada di kantor adalah alasan yang paling mudah diterima. Sehingga dengan gampang mereka digiring masuk ke restoran atau numpang ngobrol di lobby hotel mewah. Biar kelihatan gaya. Tak perlu keluar uang banyak. Hanya segelas dua gelas minuman dingin, atau beberapa cangkir kopi. Tapi kali ini Sony tidak bisa mengelak. Sudah empat kali Pak Jumhur gagal ke kantornya. Harus putar akal. Cari cara yang tepat.
“Pak Sony, kok bengong saja? Ayo, ngobrol-ngobrol di kantor saya. Kayaknya saya jarang lihat Bapak di kantin.” Pak Hanggono dari kantor sebelah menyapanya.
Sony agak kaget. Baru tersadar, rupanya sudah cukup lama dia berdiri bengong di depan pintu kantornya. “Eh, Bapak. Bagaimana kabar? Iya, kayaknya sudah lama kita tidak ngobrol. Bolehlah ke kantor Bapak.”
Mereka pun berjalan beriringan menuju kantor Pak Angga, demikian nama panggilan tetangga kantornya itu. Di ruang kerja pria baya yang berbadan pendek-gemuk itu, mereka mengobrol seru soal BLBI dan bank-bank yang dilikuidasi.
“Persis seperti sapi goyor. Dikasih minum banyak-banyak, baru kemudian disembelih,” ujar Pak Angga, yang pensiunan pejabat itu, sambil ketawa.
“Betul, Pak. He ... he ... he,” Sony menimpali.
“Pak, mohon maaf ini. Kok, saya lihat seperti ada beban yang berat?” tanya Pak Angga tiba-tiba, dengan tatapan mata serius.
Sony terdiam sejenak. Tapi akal kotornya langsung bergerak. Seperti biasa, dia paling doyan menggiring orang untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya. Kemudian dia bercerita mengenai Pak Jumhur. Belum sempat Sony menyelesaikan ceritanya, Pak Angga langsung memotong. “Gampang itu.”
Sony sudah tahu arahnya. Benar, kan. Pak Angga menawarkan kantornya untuk pura-pura dijadikan kantor Sony bila Pak Jumhur datang berkunjung besok pagi. Kebetulan, kedua kantor yang bersebelahan itu punya pintu penghubung yang selama ini dibikin mati. Tinggal pinjam kuncinya – kalau perlu sekalian dibikin duplikatnya – kepada pengelola gedung agar pintu itu bisa dibuka sementara. Sudah. Tak pusing lagi.
Jadi, begini rencananya. Dengan menggabungkan kantor Sony dan kantor Pak Angga, maka akan didapatkan sepuluh orang yang kelihatan sedang sibuk bekerja. Sambil bekerja seperti biasanya, mereka hanya perlu pura-pura sibuk menelepon dan menerima telepon. Pakai interkom saja. Juga, beres-beres ini itu. Sudah cukuplah untuk membangun kesan pertama yang meyakinkan. Tinggal panggil Idrus, pekerja freelance, agar melakukan atraksi. Urusan lainnya gampang. Semua bisa diatur. Kan, ada Heru, yang juga ahli kadal.
Sungguh kebetulan, besok si empunya kantor ada acara seminar di Hotel Borobudur. Seharian lagi. Maka Sony bisa menggunakan ruang kerja Pak Angga untuk bergaya di depan Pak Jumhur. Beberapa foto di ruangan itu langsung diturunkan. Herlina, sekretaris Pak Angga, di-briefing. “Lin, jangan lupa kasih tahu kawan-kawan yang lain. Bantu Pak Sony,” pesan orang Yogjakarta itu.
“Pagi. Bisa ketemu Pak Sony?”
Ini dia. Pak Jumhur sudah datang. Lina menyambut tamu yang dinanti-nanti. Setelah basa-basi sebentar, diajaknya Pak Jumhur menemui Sony di ruang kerja Pak Angga.
“Ee, Pak Jumhur. Sudah saya tunggu-tunggu dari tadi. Kena macet, ya?” Sony menyapa tamunya itu dengan penuh hormat.
Pak Jumhur langsung duduk dan kemudian membuka map yang sedari tadi dikempit di ketiaknya. Semua berjalan lancar. Pekerjaan lancar. Pembayaran uang muka lancar. Atraksi lancar. Sandiwara lancar. Tepu-tepu lancar.
“Wah, kantor Pak Sony nyaman sekali, ya. Karyawannya hebat-hebat. Pekerja keras semua.”
Sony tersenyum lebar menerima pujian yang tulus itu.
“Siapa tadi sekretarisnya, Pak?”
Sony langsung menyahut, “Lina.”
Pak Jumhur mengangguk sambil tersenyum. “Oh, ya. Mbak Lina. Cekatan sekali dia.”
Dua boks besar Dunkin’ Donats sudah cukuplah sebagai tanda terima kasih kepada para aktor dan aktris dadakan itu. Kadang-kadang juga Pizza Huts. Kalau dihitung-hitung, sudah enam kali Sony bersandiwara seperti itu, dengan tamu yang berbeda-beda. Sepanjang masih bisa membantu, Pak Angga yang rambutnya sudah beruban semua itu tampaknya sama sekali tidak keberatan. Kelihatannya dia sangat tulus. Begitu pula karyawannya. Terutama Lina. Sesekali Sony mentraktir Pak Angga makan di restoran kece sebagai ungkapan terima kasih. Juga bertandang ke rumahnya di Lebak Bulus. Sedangkan Pak Jumhur, yang kini menjadi sahabat dekat Sony dan keluarganya, cuma ketawa-tawa setiap kali diingatkan mengenai sandiwara di kantor sekuprit itu. Begitu obrolan mereka menyinggung-nyinggung soal kantor lama, dia pasti akan langsung berucap, “Lina.” Kemudian mereka tertawa bersama.
Herannya, setiap kali berhasil mengerjai orang, Sony selalu merasa menang dan puas. Dia mulai khawatir, jangan-jangan dirinya sebenarnya orang yang culas. Heru juga pernah curhat mengenai hal yang sama kepadanya. Malahan, bapak dua anak yang asli Semarang itu lebih parah lagi kalau soal ngerjain orang. Sampai-sampai dia tak pernah punya klien, yang ada hanyalah korban. Karena klien-klien yang rajin menggelembungkan bonusnya tak lebih dari korban-korban omongan gombalnya. Lebih mengherankan lagi, klien-klien itu tidak pernah merasa dikadali. Malah sebaliknya, merasa sangat dibantu dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tapi Sony tak ingin tabiat buruknya itu menurun ke anak-anaknya kelak. Makanya, setiap sehabis sholat, yang suka bolong-bolong itu, dia selalu berdoa agar sifat-sifat buruk tersebut diangkat dan dibersihkan darinya. Tapi, namanya juga Sony, setiap kali berubah menjadi orang baik sebentar, tak lama kemudian menjadi anak nakal lagi.
“Nakal anak ini. Mau menangnya sendiri.” Tapi Sony tak sependapat dengan istrinya. Dia tidak melihatnya seperti itu. Rizky, anak pertamanya, hanya manja. Bukan nakal. Buktinya, setelah adiknya lahir, dia berubah menjadi anak yang manis. Rasa tanggung jawabnya mulai tumbuh. Sudah tak pernah lagi menangis sambil berguling-guling hanya karena permintaannya tidak dituruti. Sudah berubah dia.
Memang, kelahiran Salsa, anak keduanya, membawa banyak perubahan bagi keluarga maupun bisnis Sony. Semenjak kelahiran anak keduanya itu, usaha Sony kian berderap melangkah. Jumlah karyawan bertambah dua lagi mengikuti pekerjaan yang terus berganda. Sudah saatnya pindah, pikirnya. Cari kantor yang lebih lega. Sebuah ruko berlantai tiga menjadi incarannya. Di daerah Mampang, tepatnya di Jalan Kemang Utara. Sewanya tergolong murah.
Dengan kantor barunya yang cukup lapang, Sony tak perlu lagi bersandiwara di hadapan kliennya. Malahan, dia suka mengundang mereka untuk memamerkan ruang kerjanya yang seluas lapangan badminton dan dilengkapi dengan meja rapat yang sangat besar. Di dalam ruang kerja yang dindingnya dicat biru muda itu terpasang empat foto raksasa seukuran daun pintu, dengan pigura tebal berwana keemasan.
Keempat-empatnya foto Sony semua. Masing-masing dengan busana yang berbeda-beda, tapi posenya sama. Tegap berwibawa. Foto pertama menampilkan Sony yang bergaya sebagai Panglima TNI merangkap KSAD, dengan lima bintang di pundaknya. Pada foto kedua, Sony berlagak sebagai KSAL. Sedangkan foto ketiga dan keempat, memperlihatkan Sony yang sedang tersenyum gagah dalam balutan seragam KSAU dan Kapolri.
Sebenarnya masih ada yang lebih unik lagi di ruangan itu. Melatarbelakangi meja kerja Sony yang besar dan bentuknya sangat sederhana, seperti meja pingpong dibelah dua, di dinding atas terpampang foto diri Sony yang sedang bergaya sebagai Presiden Republik Indonesia. Sedangkan di sebelahnya dia pasang foto mendiang ibundanya yang sudah dikutak-katik sehingga dandanannya mirip Ratu Elizabeth.
Sony sama sekali tidak berolok-olok. Dia ingin mewujudkan cita-cita masa kecilnya, meski hanya dalam bentuk foto diri. Sebagian tamunya sangat respek atas gagasan besar itu. Namun, kebanyakan yang lainnya hanya melirik dengan senyum ditahan. Juga karyawan-karyawannya, yang suka mengganggapnya sebagai orang gila yang baik hati.
Selanjutnya, di samping kanan meja terpasang bendera merah putih. Sedangkan di ujung satunya lagi, berkibar dengan gagah panji-panji berwarna krem yang di tengahnya bergambar buaya sedang bercengkerama dengan seekor macan, melambangkan kerukunan.
Sony menciptakan sendiri logo itu. Karena selama ini dia merasa kurang sreg dengan ikon merpati sebagai lambang perdamaian dan persahabatan. Konon katanya, merpati tak punya empedu, sehingga tidak ada yang pahit di dalam dirinya. Seolah perdamaian dan persahabatan hanya bicara yang manis-manis. Tidak ada pertengkaran. Tanpa rasa cemburu. Nir-ancaman, dan berbagai negasi lainnya.
Padahal, kata Tolstoy, banyak orang yang bisa tidur nyenyak di rumahnya pada malam hari, karena ada orang lain yang pergi berperang untuknya. Damai, perang. Sahabat, musuh. Biasa saja itu, bahkan sangat natural. Seperti halnya ada malam ada siang. Gelap, terang. Laki, perempuan. Malahan, absennya empedu di tubuh merpati sangat merugikan. Mas Hardi, tetangga Sony di kampung halaman, yang memelihara banyak burung dara itu, suka marah-marah kalau ada tetangga yang menjemur nasi basi di genting. Begitu mematuk-matuk karak, nasi aking, atau nasi basi yang dikeringkan, burung dara langsung keracunan, dan mati.
Mati aku, kata Sony, dalam hati, seraya menepuk-nepuk ubun-ubunnya yang luas dan berambut tipis. Dia benar-benar lupa. Kemarin Rachmad meneleponnya. Sohib lamanya itu memberi tahu ada peluncuran VCD Pasir Berbisik di Hard Rock CafĂ©. Karena tahu kalau Sony tergila-gila pada Dian Sastro, Rachmad menyuruhnya datang ke sana. Tombo ati, katanya. Masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telinga Sony akan janji kawannya itu, “Son, nanti saya coba atur supaya kamu bisa duduk semeja dan makan malam bareng dengan gadis pujaanmu.” Tapi dia juga berpesan, “Awas! Jangan dipelet!”
Tukijan langsung menyiapkan mobil. Begitu Sony sudah duduk nyaman di jok belakang, mobil langsung digeber. Menyelip-nyelip di sela-sela kemacetan. Lincah sekali. Seperti gerakan ikan yang sedang menghindari tangkapan tangan. Ciiiittt …. Ciiiittt …. Clep! Mobil masuk ke kolong truk. Hancur bagian depannya. Mangap. Sony tidak apa-apa. Tukijan hanya mendapatkan lecet-lecet kecil di tangannya. Digigit pecahan kaca. Bahkan, dia masih sempat cengengesan, sepertinya untuk meringankan rasa bersalahnya.
Namun, kecelakaan itu membuat Sony kehilangan mood untuk bertemu gadis pujaannya. Bukan soal mobilnya yang hancur. Tetapi seperti ada sesuatu yang membuat perasaannya seperti tak keruan. Dia sendiri juga tidak mengerti. “It’s not my day,” keluhnya. Meski Tukijan sudah menyetop taksi, Sony memutuskan tidak pergi. Batal. Dia malah menyuruh supir Taksi Express itu mengantarnya pulang ke rumah.
“Tunggulah aku, Dian. Suatu saat nanti kita akan bertemu. Saling jatuh cinta. Berpacaran. Meski hanya dalam mimpi.”
Bagi Sony, ini bencana. Mestinya hari itu dia mendapatkan kebahagiaan besar.
Benar-benar besar. Karena belum pernah Sony ketiban proyek sejumbo itu. Sering-sering saja begini, pikirnya. Saking girangnya, rambutnya mbrodol lima. Pun, seandainya disuruh lari mengelilingi Monas sebanyak tiga kali, pasti dia sanggupi. Cari saja orang yang agak mirip dengannya. Didandani sedikit, kemudian disuruh lari. Dia cukup menguntitnya dari belakang, sambil ngumpet di dalam mobil. Soal dokumentasi video, bisa direkayasa.
Sudahlah. Tak usah beranda-andai. Karena paket pekerjaan raksasa itu sudah di genggaman tangan. Semuanya harus segera diselesaikan. Cepat selesai cepat dibayar. Dari keuntungan proyek ini, Sony mengganti mobil inventaris yang dipakai Heru dengan mobil baru. Dan, menggeber habis penyelesaian pembangunan kantornya di Kebayoran yang sudah hampir setahun terhenti pada pekerjaan pondasi.
Setelah sempat dua setengah tahun ngantor di garasi yang sempit dan gerah di Kemang, kemudian melakukan big leap dengan berkantor sambil bergaya di gedung mentereng Menara Mulia selama satu setengah tahun, dilanjutkan dengan terjun bebas ke ruangan seluas dua puluh empat meter persegi di gedung jangkung di seberang jalan tol lingkar luar selama setahun akibat krisis ekonomi, kemudian menyeberang ke ruko tiga lantai di daerah Mampang setelah rezeki dan jumlah karyawan bertambah, pada tahun dua ribu empat Sony berhasil menyelesaikan pembangunan gedung kantornya sendiri di Kebayoran.
Kantor tiga lantai yang dibangun di atas sebidang tanah seluas tiga ratus empat puluh meter persegi itu merupakan hasil jerih payanya selama beberapa tahun berwiraswasta. Dua lantai di atas dia manfaatkan untuk kantor. Sedangkan lantai bawah dijadikan tempat parkir. Sony menamakan bangunan kantor barunya tersebut Gedung Sanga, dalam bahasa Jawa berarti angka sembilan. Nama itu muncul begitu saja di dalam benaknya. Maknanya, tidak ada sama sekali. Sekedar nama.
Tapi Ceng Li, temannya main golf itu, sangat percaya dengan keberuntungan yang melekat pada sebuah nama. Lima bulan lalu dia mengajak Sony pergi ke Gunung Kawi untuk berburu nama bagi perusahaan baru yang akan didirikannya. Dengan halus Sony menolak ajakan tersebut, karena dia tidak percaya dengan yang begitu-begitu. Baginya, soal keberuntungan dan hoki sudah ditetapkan di atas sana. Manusia tinggal berusaha. Mudah-mudahan saja hasilnya sesuai dengan yang telah dipatok oleh asa. Buktinya, Mualim, kawan lamanya, langsung sukses besar begitu memulai usaha. Padahal, pada awalnya banyak kawan yang meremehkannya. Menganggapnya tak punya daya, apalagi gaya, untuk menjadi pengusaha. Kenyataannya, tanpa harus menempuh jalan yang berliku, bisnisnya membesar begitu saja. Menjadikannya kaya raya.
Tidak harus pintar untuk menjadi pengusaha yang berhasil. Persis seperti yang pernah dikatakan pakar pendidikan Dr. Arief Rachman, bahwa bukan kepintaran yang menjadikan orang berhasil dalam pekerjaannya, tapi kualitas personalnya. Mualim adalah salah satu contohnya. Begitu banyak pengusaha sukses yang semasa sekolah tergolong siswa yang biasa-biasa saja. Bahkan ada juga yang putus sekolah. Tapi, begitu memasuki dunia kerja, dan kemudian membuka usaha, mereka menjelma menjadi orang-orang yang luar biasa hebat.
Namun, rasa-rasanya tak adil menyebut mereka tidak pintar. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang sangat pintar, karena jeli melihat peluang dan piawai membuat keputusan. Kemampuan itulah yang tidak dimiliki semua orang. Syukur-syukur kalau hebat di sekolah sekaligus memiliki kualitas personal yang bagus. Pasti tambah jadi.
Pengusaha pada dasarnya adalah orang yang baik. Di dunia ini, tidak ada pengusaha yang jahat. Kalaupun pernah ditemukan beberapa, jumlahnya sangat kecil. Jarang sekali. Dan, itu termasuk anomali. Sesungguhnya, mereka yang suka berperilaku amoral bukanlah pengusaha. Mereka hanyalah para petualang. Membuka usaha dengan tujuan culas di belakang. Seperti paguyuban tepu-tepu Qsar, koin emas, arisan lebaran dan lain sebagainya. Tujuannya jangka pendek saja. Mengumpulkan nasabah sebanyak-banyaknya. Sekali tepuk mati ribuan nyawa. Kemudian kabur dengan langkah tergesa-gesa. Ngumpet di rumah kerabatnya. Hingga polisi datang menjemputnya. Sebagian lagi, petualang kelas teri. Bikin perusahaan karena dapat proyek. Mengelabuhi pemodal dengan janji bonek. Setelah itu perusahaan di-engek-engek. Tak peduli karyawan pada kececeran ke mana-mana. Yang penting sudah tercapai tujuannya. Setelah itu berpetualang lagi, menjebak korban-korban berikutnya. Sekali lagi, mereka bukanlah pengusaha.
Lain petualang lain pula pengusaha. Pengusaha adalah orang-orang yang berhati mulia. Malahan, Sony yakin, para pengusaha sudah punya kavling masing-masing di surga. Bagaimana tidak? Mereka adalah pribadi-pribadi yang mampu menciptakan lapangan kerja, atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, memberikan mata pencaharian dan nafkah bagi puluhan juta keluarga, dengan sekian banyak mulut yang menganga di belakangnya. Kalau boleh sedikit menepuk dada, para pengusaha berkontribusi besar bagi terciptanya kehidupan yang berkualitas di negeri ini. Tidak hanya melalui lapangan kerja yang mereka ciptakan, tetapi juga melalui jalannya kegiatan usaha sebagai salah satu engine yang memberikan power untuk menggerakkan ekonomi. Seraya membagi-bagikan daya beli. Sehingga terangkatlah kesejahteraan keluarga dan masyarakat, yang pada akhirnya juga berarti kesejahteraan bangsa.
Makanya, para pekerja tidak perlu mencurigai, apalagi memusuhi, pengusaha. Karena pada dasarnya pengusaha tak suka bermusuhan. Musuh hanya akan menutup jalan di depan. Malahan, pengusaha ingin merangkul kawan sebanyak-banyaknya. Termasuk menjadikan para pekerja sebagai mitra. Sesungguhnya, para pengusaha akan merasakan kebahagian dunia akherat ketika melihat para pekerjanya hidup sejahtera.
Tapi gegap-gempita euphoria demokrasi semenjak bergulirnya era reformasi telah menjadikan para pekerja Indonesia kehilangan tatakrama. Malahan, cenderung beringas. Sedikit-sedikit unjuk rasa, tanpa peduli dengan keadaan ekonomi yang terkadang kurang bersahabat. Di mata mereka, para pengusaha adalah orang-orang jahat. Tak pernah sedikitpun berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. Dengan wajah marah selalu menuntut pemerintah berdiri di belakang mereka. Padahal pemerintah harusnya berdiri di tengah, di antara pengusaha dan pekerja.
Kalau begini, namanya mau menang sendiri. Padahal, di samping puyeng menjalankan roda usaha, para pengusaha juga harus berpikir keras mengenai kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Dan, mengantisipasi semua risiko yang setiap saat datang tanpa perlu diundang. Ujung-ujungnya, sebenarnya untuk para pekerja juga, dan, tentu saja, bagi kepentingan pengusaha sendiri. Sama-sama, agar masing-masing pihak, pekerja maupun pengusaha, tidak merugi. Agar perusahan tak sampai tutup dan para pekerjanya pada keleleran. Yang begini ini, para pekerja sering tak mau tahu. Menutup mata. Seolah hanya mereka yang punya hak untuk menuntut begini dan begitu.
Soal upah selalu menjadi pangkal sengketa. Masih untung ada UMP, UMR, standar biaya hidup minimal, atau apalah namanya. Kalau mau jujur, soal upah seharusnya tunduk pada hukum permintaan dan penawaran, mekanisme pasar. Cukup diselesaikan di antara pengusaha dan pekerja. Tak perlu memaksa-maksa pemerintah berpihak. Pemerintah harus berdiri sebagai wasit. Tak perlu cawe-cawe. Cukup mengawasi saja. Karena pengusaha dan pekerja adalah sama-sama warga negara yang harus dilindungi dan dibela kepentingannya. Harus diperlakukan sama. Tidak ada bedanya. Sama-sama makan nasi.
Semuanya harus diserahkan kepada hukum pasar. Mekanisme pasar akan bekerja dengan tangan-tangan gaibnya, kata orang pintar. Di Cina, misalnya, belum lama berselang pernah kejadian di mana suatu kawasan industri kehilangan semua pekerjanya karena mereka ramai-ramai pindah ke daerah dan perusahaan lain yang memberikan upah lebih besar. Biasa itu. Itu yang namanya mekanisme pasar, yang hampir saban hari didengung-dengungkan oleh banyak orang, termasuk pemerintah, dan juga para pekerja. Bahkan, orang-orang yang tinggal di pucuk gunung pun tunduk pada mekanisme pasar global, karena mereka harus membeli barang kebutuhan sehari-hari pada tingkat harga dunia, minyak goreng, misalnya.
Jadi, begini gampangnya. Kalau perusahaan mampunya hanya bayar segitu, mau di bilang apa? Kalau mau, ya silahkan kerja baik-baik, lah. Kalau tidak mau, ya cari saja kerja di tempat lain. Masih bagus bisa kerja. Banyak pengangguran di luaran sana yang bengong jadi penonton dengan mulut menganga. Pun, begitu pula yang berlaku bagi para pengusaha. Kalau mau mendapatkan pekerja yang baik dan terampil, atau supaya tidak ditinggalkan oleh pekerjanya, pasti mereka harus memenuhi tuntutan upah yang lebih tinggi dari para pekerja. Itulah hukum permintaan dan penawaran. Gitu aja kok repot.
Tidak perlu pakai demo-demo segala. Nyusahin orang lain. Mengganggu ketertiban. Memacetkan lalu-lintas. “Berisik,” kata Presiden. Setiap hari demo. Pakai sweeping segala. Itu tabiat keroyokan, alias tawuran. Memberikan contoh yang tidak baik bagi anak-anak kita. Lagian, kalau keadaan dibiarkan begini terus, bisa runyam. Sony sedih melihat sekian banyak investasi asing yang memilih berkemas karena tak tahan dengan ulah para pekerja yang ugal-ugalan. Belum lagi para investor yang urung masuk.
Sony memang paling sebel melihat demo yang begitu marak di mana-mana. Setiap hari, pula. Selalu saja melibatkan, dan dimotori oleh, mahasiswa. Seolah demo sudah menjadi salah satu mata kuliah. Sudalah. Mahasiswa kan telah memberikan kontribusi yang luar biasa besar bagi bergulirnya era reformasi dengan menurunkan Presiden Soeharto melalui demo di gedung DPR. Cukup itu. Semua orang tahu. Dan, mengakui.
Sekarang ndak usah demo lagi, lah. Demo bukanlah satu-satunya cara untuk menyampaikan kebebasan pendapat dan menyuarakan tuntutan. Apalagi dengan mengatasnamakan aspirasi rakyat. Apa bener, itu? Mahasiswa kan calon intelektual bangsa? Apa tidak ada lagi cara lain yang lebih intelek? Dengan tulisan-tulisan tajam yang menggugah di media massa, atau internet, misalnya. Ini zaman keterbukaan, Mas. Pasti mendapatkan perhatian. Paling tidak, akan direspon oleh mereka-mereka yang berkepentingan. Toh, koran ada di mana-mana. Mulai dari yang kelas kabupaten hingga nasional. Atau, pergi ke warnet. Apa susahnya?
Susahnya? Ya, nulisnya itu, Bung. Makanya, para mahasiswa harus dibiasakan mengorganisasikan pikiran-pikiran mereka dalam bentuk tulisan. Dengan demikian mereka dapat menyampaikan apa yang ada di kepala secara lebih sistematis, dan tidak bias. Kalau perlu, dosen diwajibkan membuat soal-soal ujian dengan jawaban yang berbentuk esai. Bukan pilihan ganda yang mirip tebak-tebakan itu. Juga kewajiban membuat paper untuk setiap mata kuliah. Dengan demikian, para calon intelektual itu akan lebih banyak mencurahkan waktu mereka untuk masuk ke dalam kebiasaan intelek tersebut. Mereka akan sibuk, sehingga tak sempat demo. He ... He ... He ....
Sebenarnya ada sesuatu yang salah di negeri ini sehingga setiap hari ada demo. Tapi, apa, atau siapa, yang salah? Jelas, media massa, terutama TV. Stasiun-stasiun televisi begitu gemar meliput demo, sehinga para pendemo merasa mendapat dukungan, dapat ngeceng, dan, unjuk muka sambil berteriak-teriak lantang dengan ucapan yang hebat-hebat. Bahkan, demo yang tidak jelas juntrungannya pun dijadikan berita. Sebaiknya media massa, terutama TV, tidak perlu meliput demo. Kalau perlu, memboikot demo. Kagak bakal naikin rating, kok. Jadi, kalau ada orang-orang yang lagi demo, tidak perlu lagi diliput. Biarin saja. Lama-lama mereka akan bosan sendiri. Capek. Kepanasan. Tidak ada penontonnya.
Ngomongnya jadi ke mana-mana, nih. Padahal tadi kan bicara soal hubungan antara pengusaha dan pekerja. Oh, ya. Beberapa tahun lalu Sony pernah diperkarakan oleh mantan karyawannya. Tapi, tiga kali surat panggilan dari pengadilan hubungan industrial dia abaikan begitu saja. Karena dia tidak mau melayani dendam dan fitnah. Mau lapor ke Depnakertrans kek, atau mengadu ke Presiden sekalipun, tidak akan dia gubris. Akhirnya mereka capek sendiri. Tidak ada kabarnya lagi.
Jadi, begini ceritanya. Yopie, mantan anak buah Heru itu, dikeluarkan karena tidak mampu membuat transaksi. Bahkan setelah diberi waktu perpanjangan selama tiga bulan, masih gagal juga. Ya sudah. Dikeluarkan saja. Model beginian sebenarnya sudah biasa di mana-mana. Marketing yang tak mampu membuat transaksi ya harus minggir. Biar tidak menuh-menuhin tempat. Kalau Depnakertrans ngotot membela pekerja model begini, itu kebangetan namanya. Karena dia sama sekali bukanlah orang yang dizalimi. Malahan, sebaliknya, dia menzalimi diri sendiri.
Ngapain repot-repot menanggapi orang model begini. Mending konsentrasi membesarkan usaha, dan melakukan pemupukan modal. Karena belakangan uang muka semakin susah didapatkan. Lagian, Sony bukanlah tipe pengusaha yang gemar mengambil kredit bank, meski beberapa orang marketing dari bank tempatnya membuka rekening berkali-kali datang ke kantornya menawarkan kredit usaha. Tapi Sony tetap kukuh dengan pendiriannya. Dia tak mau mengelola utang. Dia lebih memilih menempuh jalan tradisional, tidak boros dan tidak pula menunda-nunda membayar utang. Karenanya, pemupukan modal usaha sangat dia perhatikan. Sehingga tak perlu bingung cari pinjaman kiri kanan bila harus memodali pekerjaan-pekerjaan yang agak besar.
Fadli, adiknya, yang membesarkan pabrik pupuknya dengan kredit dari bank, bahkan pernah mengritiknya habis-habisan mengenai soal ini. “Kapan kamu jadi besar kalau tidak mau bersinergi dengan bank dan lembaga pendanaan,” katanya suatu kali.
Sony tak menanggapinya. Diam saja.
Demikian pula soal kartu kredit. Sony cuma punya satu, Visa Platinum. Selebihnya hanya dua keping kartu ATM. Mau dikata tidak modern, kuno, biar saja. Hal yang sama juga dia coba terapkan kepada para karyawannya. Dia berpesan kepada Anita jangan sampai sembarangan memberikan surat keterangan penghasilan atau rekomendasi lainnya kepada karyawan untuk kepentingan pembuatan kartu kredit. Dia tak ingin mereka terperangkap dalam jebakan kartu kredit, yang dengan mudah akan menjerumuskan orang ke dalam tabiat buruk lebih besar pasak daripada tiang. Biar tekor asal tetap sohor. Hal yang seperti ini akan menjadikan hidup mereka tidak normal, karena dikejar-kejar utang. Gali lobang tutup lobang. Bikin kartu kredit baru untuk melunasi sebagian utang kartu kredit lama. Begitu seterusnya. Akhirnya, pekerjaan jadi ikut-ikutan kedodoran. Say no to credit cards? Ndak perlulah. Biar saja.
Namun, sudah waktunya pemerintah, YLKI, Bank Indonesia, atau siapapun dan juga lembaga apapun yang berkepentingan, mulai turun tangan. Memang tidak mungkin melarang orang memiliki kartu kredit, seperti halnya mustahil melarang orang merokok. Ini hak asasi. Toh, banyak juga orang yang mendapatkan manfaat positif dari kartu kredit karena cukup bijak, hati-hati dan bisa menahan diri dalam menggunakannya. Dan tidak mungkin pula bagi YLKI untuk memberikan advokasi kepada para penunggak kartu kredit yang terperangkap dalam utang berlapis-lapis. Bagaimanapun, mereka sudah menikmati berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan, hanya saja digunakan tanpa perhitungan dan benar-benar sembrono. Sebagian lagi karena pada dasarnya memang hobi ngemplang utang. Jadi, harus tanggung sendiri risiko ditongkrongi orang-orang berwajah garang.
Namun, perangkap kartu kredit yang menjebak sekian juta orang yang tidak siap itu sesungguhnya tak kalah merusak dibandingkan dengan berbagai kebiasaan buruk lain yang meracuni masyarakat, seperti merokok atau menenggak minuman beralkohol, misalnya. Bila pada kemasan rokok saja dicantumkan peringatan pemerintah – diadopsi dari aturan yang berlaku di seluruh dunia – yang berbunyi MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN, maka pada setiap keping kartu kredit mestinya juga bisa dituliskan peringatan sejenis, misalnya PENGGUNAAN KARTU KREDIT SECARA TIDAK BIJAKSANA DAPAT MENYEBABKAN PERILAKU LEBIH BESAR PASAK DARIPADA TIANG.
Di samping itu, persyaratan aplikasi dan persetujuan pemberian kartu kredit perlu lebih diperketat lagi dengan survai yang tidak asal-asalan. Upaya perlindungan seperti ini akan lebih bermanfaat bagi kedua belah pihak, nasabah dan bank penerbit kartu kredit. Masyarakat senantiasa diingatkan agar lebih bijaksana dan dapat menahan diri dalam penggunaan kartu kredit, agar tidak terjebak dalam pusaran utang. Sedangkan bank penerbit kartu kredit bisa menghimpun nasabah yang benar-benar memenuhi syarat sehingga jumlah tagihan bermasalah bisa ditekan. Tak perlu menyuburkan profesi tukang tagih.
Begitu gampangnya aplikasi kartu kredit diluluskan sehingga office boy pun bisa memiliki kartu kredit. Sony, yang memiliki kartu kredit Visa, tiba-tiba saja dikirimi kartu kredit Master oleh bank penerbitnya. Setelah dia telepon ke bank, jawabannya sederhana saja. “Kalau Bapak mau pakai, tinggal dilakukan aktivasi. Bila Bapak tidak berkenan, gunting saja kartu itu.” Seandainya kesempatan tersebut jatuh ke tangan orang yang pada dasarnya doyan berutang, pasti langsung diembat penawaran yang menggiurkan seperti itu.
Namun kartu kredit tidak selamanya buruk. Ada juga kolega Sony yang memulai usaha dengan bermodalkan sejumlah kartu kredit dan kredit tanpa agunan atau pinjaman personal. Memang agak berisiko. Gali lobang tutup lobang harus dilakukan. Syukurlah dia berhasil. Usahanya cepat berkembang. Seandainya saja gagal, pasti langsung kiamat. Kejadian deh, libur panjang.
“Libur lagi? Minggu kemarin ada hari libur. Masa, minggu ini masih saja ada tanggal merahnya?” Sony semakin tak paham saja. Sambil bersungut-sungut dia mematikan api rokoknya. Kalau libur hari Sabtu dan Minggu, wajar sajalah. Manusia membutuhkan waktu untuk beristirahat yang cukup setelah bekerja keras. Tapi, banyak banget hari kerja yang diwarnai merah pada kalender. Belum lagi soal cuti bersama. Termasuk penggeseran hari libur yang mengapit Harpitnas di tahun-tahun sebelumnya.
Apa pemerintah kurang kerjaan? Sepertinya senang betul kalau ketemu hari libur. Bagi Sony, libur sehari saja, berarti hilang sudah kesempatan untuk cari duit, sementara biaya bulanan tak mau sedikitpun dimintai libur. Pusing. Pusing. Pusing.
Beberapa jenis industri bahkan harus kelimpungan setiap kali hari kerjanya kepotong tanggal merah. Mereka tak mungkin mematikan mesin, karena butuh waktu berhari-hari untuk proses start up. Tapi pekerja pada menghilang. Jadilah mesin dibiarkan tetap menyala tanpa menghasilkan apa-apa. Utilities terpaksa jalan terus. Rugi. Mau dikata apa.
Sony setuju belaka kalau hari-hari besar keagamaan ditetapkan sebagai hari libur. Tapi mestinya hanya untuk penganut agama yang bersangkutan. Tak perlu berlaku untuk semua. Hari Raya Nyepi, misalnya, harusnya yang mendapatkan libur hanya orang-orang yang beragama Hindu Bali, dan sah-sah saja bila semua kegiatan di Pulau Bali dihentikan. Tapi, bagi penganut agama lain yang tidak tinggal di Pulau Dewata, tentu tak perlu ikut-ikutan diliburkan. Untuk apa? Sebagian besar mereka cuma tidur-tiduran di rumah. Hanya sebagian kecil orang yang punya kelebihan uang yang bisa menikmati long week end.
Pemerintah suka mengganggap semuanya sama rata. Gebyah uyah. Kalau yang satu libur, yang lain harus ikutan libur, meski tak punya kepentingan sama sekali dengan hari yang diliburkan itu. Mungkin mereka tak mau susah-susah membuat pengaturan hari libur yang lebih rinci. Toh, pada dasarnya mereka suka hari libur, karena memang kurang kerjaan. Sementara para pekerja swasta senang-senang saja dengan kebiasaan yang sama sekali tidak menguntungkan bagi kalangan pengusaha ini. Toh, mereka tidak merasa terikat dengan target produksi, target pemasukan dan beban-beban berat yang menghimpit lainnya. Itu urusan manajemen, kata mereka. Asal gaji tak sampai telat dan THR terbayar, mereka pada senyum. Sebaliknya, pengusaha puyeng dibuatnya. Mau protes tidak bisa. Karena sudah ditetapkan di kalender. Sudah formal. Final.
Seandainya pemerintah mau memperhatikan sedikit saja kepentingan para pengusaha dalam menetapkan hari-hari libur nasional dan keagamaan. Misalnya, pada Hari Raya Imlek, hanya masyarakat keturunan Tionghwa yang berhak mendapatkan hari libur. Sedangkan mereka yang tidak ikut merayakan hari yang serba merah itu tetap bekerja seperti biasanya. Kalaupun para pemilik toko di kawasan Glodok menutup toko mereka dan meliburkan karyawannya, itu sah-sah saja. Diliburkan boleh, tidak diliburkan juga tak apa. Terserah mereka. Dengan demikian, tidak perlu dibuat tanggal merah untuk hari libur seperti itu. Bisa saja diganti dengan warna biru atau hijau. Hal yang sama juga dapat diterapkan untuk hari-hari libur keagamaan lainnya.
Lebaran atau Idul Fitri merupakan perkecualian, karena sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam. Sehingga ketika sebagian besar pekerja libur, tidak lucu juga bila kantor-kantor yang karyawannya tinggal satu atau dua orang tidak ikut meliburkan mereka sekalian. Kasihan. Pada bengong sendiri nanti. Tapi tidak perlu diatur-atur soal cuti bersama. Biar para pengusaha yang menentukan sendiri. Mereka toh juga punya toleransi dan cukup tahu diri. Lagian, cuti bersama kan cuma akal-akalan untuk mengatur sebagian PNS yang suka memulur-mulurkan hari libur. Maunya mengatur satu kelompok pekerja, tapi aturannya ditetapkan untuk semua. Ini aneh sekali. Untungnya Menpan sudah membatalkan cuti bersama sebagai hari libur bagi PNS, sehingga karyawan swasta tidak perlu ikut-ikutan menuntut libur.
Sudah waktunya dilakukan pengkajian ulang soal penetapan hari libur, baik libur nasional maupun libur keagamaan. Setiap agama mendapatkan hari libur secara adil dan berlaku khusus hanya untuk penganut agama yang bersangkutan. Jangan terlalu royal dengan hari libur. Itu bukan tabiat bangsa pekerja keras.