Sabtu, 27 Desember 2008

1. Genesis

“Jangan keluyuran,” pesan itu selalu Sony ulang setiap hari. Dasar bengal. Sudah dinasehati berkali-kali, pikirannya masih saja suka berkelana ke mana-mana. Meloncat dari satu kejadian ke peristiwa yang lain. Melayang dari satu memori ke kenangan berikutnya. Menyelinap dari satu masa menuju ke kala yang jauh. Meliuk dari satu soal ke perihal yang satunya. Berkelok dari satu topik ke bahasan yang berbeda. Pelesiran melulu. Capek dia, meski kadang-kadang mengasyikkan juga.
Pria paruh baya itu akhirnya menyerah. Karena sudah bosan memberi nasehat, dia biarkan saja pikirannya itu keluyuran kesana-kemari. “Silahkan jalan-jalan. Sampai gempor,” gerutunya.
Nama lengkapnya Adi Suharsono. Keluarga dan kawan-kawan memanggilnya Sony. Istrinya, Febriana Silangturi, seorang wanita karir yang berhasil, bekerja di sebuah perusahaan furnitur besar sebagai pemasar. Anak pertamanya, Rizky Putra, duduk di bangku SMP, baru kelas satu. Sedangkan anaknya yang kedua, Salsabila Putri, masih kelas tiga SD.
Sony senantiasa merasa sangat beruntung memiliki keluarga bahagia. Sehari-harinya pria berkacamata itu seorang pengusaha. Bukan pengusaha besar, memang. Tapi, kalau dibilang gurem, tidak juga. Omzetnya lumayan. Setelah lebih dari sepuluh tahun berwiraswasta, Sony mampu memberikan lapangan kerja bagi dua puluh tiga orang di kantornya, di daerah Kebayoran. Sebagian besar karyawannya masih muda-muda.
Siang itu Sony lagi sebel. Masih terbayang jelas dalam ingatannya bagaimana dia dipermalukan oleh seekor makhluk bau yang tak berakal. Hari Minggu kemarin dia membawa keluarganya piknik ke Kebon Binatang. Tak dinyana, seekor orangutan lepas dari kandangnya. Pengunjung berlarian, tunggang langgang. Febriana dan Rizky sempat bangkit dari duduk mereka mendengar keributan itu. Sony cuma melongok ke arah orang-orang yang pada berhamburan, sekedar ingin tahu. Tapi, tiba-tiba dia mendengar anak perempuannya yang sedang bermain busa tiup di bawah pohon menjerit-jerit. Hewan yang panik itu berlari ke arah putrinya. Secara refleks Sony langsung bangkit dan berlari sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan Salsa. Namun, sebelum tangannya sempat menjangkau gadis kecil itu, binatang yang gemar memonyong-monyongkan bibirnya tersebut malah menabraknya. Memeluknya erat-erat.
Sony jatuh terguling-guling di rerumputan, dengan seekor orangutan gagu menempel lekat di dadanya. Dua orang petugas kebon binatang bergegas menghampiri dan kemudian membantunya berdiri.
“Bapak tidak apa-apa?” tanya salah seorang dari mereka, dengan napas yang masih terengah-engah. Keringat bercucuran deras membasahi baju mereka, terutama di bagian ketiak. Sony tak sempat menjawab. Dia sedang sibuk melepaskan diri dari pelukan hewan yang tingkah polanya terkadang mirip manusia itu.
“Pak, Pak, jangan melawan. Nanti dia tambah ketakutan dan tak mau lepas,” seru Syamsul. Namanya terukir rapi di atas saku bajunya. Syamsul Rifa’i. Sedangkan temannya, dari logat bicaranya ketahuan kalau orang Madura, bernama Kaderi. Mereka mencoba menenangkan Sony, dan juga Agnes, orangutan betina itu.
Namun, anehnya, dibujuk dengan apapun, Agnes tak kunjung melepaskan belitan tangannya. Diiming-imingi pisang ambon tak mempan. Dipancing dengan sebungkus besar kacang garing Cap Dua Kelinci juga tak bereaksi. Dibujuk dengan dua kon es krim diam saja. Dilambai-lambaikan tiga lembar uang seratus ribuan tepat di depan matanya dia malah melengos. Sebatang rokok Djie Sam Soe yang diulurkan Kaderi sama sekali tak disentuhnya. Dibawakan tahu goreng kesukaannya juga tak ditengoknya.
Pelukannya semakin erat. Bahkan dia berusaha mencium pipi kiri Sony. Orang-orang yang berkerumun pada ketawa melihatnya. Sony jadi blingsatan. Tengsin berat menjadi tontonan gratis para pengunjung kebon binatang itu. Berbagai cara sudah mereka lakukan, tapi Agnes tetap saja tak mau melepaskan rangkulannya. Syamsul dan Kaderi mulai kelihatan putus asa. Akhirnya mereka menyerah. Duduk-duduk saja, sambil garuk-garuk kepala.
Tiba-tiba Syamsul bangkit dan beranjak mendekati Agnes. Dia elus-elus kepala gadis berbulu itu sambil membisikkan sesuatu. Ajaib. Agnes langsung manggut-manggut dan kemudian melepaskan rengkuhannya dari badan Sony. Kaderi segera membawanya pergi. Menuntunnya. Seperti menuntun anak sendiri. Semua orang bertepuk tangan. Riuh sekali. Malah ada yang usil berseloroh, “Pacaran ni, ye ….”
Sony merasa sangat lega. Bebas sudah. Sambil mengibas-ngibaskan bajunya, dia menghampiri pria berkumis tipis itu, yang tampak mulai bisa tersenyum. “Memangnya, tadi kamu ngomong apa sama monyet buluk itu?”
Syamsul menatap kedua mata Sony agak dalam. Sepertinya dia ragu-ragu. Tapi akhirnya dia menjawab, “Saya kasih tahu Agnes agar balik ke kandangnya dulu untuk bersiap-siap, karena Bapak mau melamarnya hari ini.”
Sialan.
“Inilah akibatnya kalau dokter hewan suka iseng meminjamkan buku teori evolusi kepada orangutan. Sepertinya mereka telah mempelajari teori itu, dan kini menagih janji. Ingin menikah dengan manusia,” ujar Syamsul dengan mimik serius. Kayaknya dia tidak sedang bercanda. Di wajahnya yang agak katrok itu tak sedikitpun tersirat kesan bahwa dia ingin membanyol.
“Memang benar, begitu?” sergah Sony setengah tak percaya.
“Betul Pak. Kurang lebih delapan bulan lalu Pak Jatmiko pulang dari Amerika membawa buku bahasa Inggris, judulnya original apa gitu …,” pemuda santun tersebut mencoba mengingat-ingat.
“The Origin of Species,” sahut Sony.
“Betul Pak, kayaknya begitu. Diberikan kepada Bu Susan, ibunya Agnes.”
Nama lengkapnya Agnes Monica, baru berusia dua tahun. Sedangkan Susan Bachtiar, ibunya, berumur delapan tahun. Hubungan ibu dan anak tersebut sangat dekat. Mereka saling menyayangi. Dan sepertinya mereka berdua sangat akrab dengan Kaderi, pengasuhnya. Adalah pemuda Madura itu yang memberikan nama-nama tersebut kepada mereka berdua.
Harapannya tidak muluk-muluk. Apabila suatu saat nanti kedua perempuan berbulu tersebut benar-benar menjelma menjadi manusia, dia ingin wujud mereka sama persis seperti nama yang disandang masing-masing. Bila itu benar terjadi, Kaderi dengan senang hati akan menikahi salah satu dari mereka. Tak peduli anaknya atau ibunya. Sama saja. Toh, mereka masih muda-muda.
Begitulah ceritanya. Sony bertanya-tanya. Benarkah suatu saat nanti Agnes dan Susan akan berubah menjadi manusia?
Karena penasaran, malam harinya Sony pergi ke toko buku di Blok M untuk membeli buku karangan Charles Darwin itu. Secara sekilas dia paham teori evolusi, manusia berasal dari monyet, begitu garis besarnya. Tapi dia belum pernah membaca buku tersebut. Hanya dengar-dengar saja.
Kini buku yang membuat kepalanya makin puyeng itu sudah hampir selesai dibacanya. Di dalamnya, Darwin memaparkan bahwa semua makhluk hidup yang ada di muka bumi, termasuk yang hidup di dalam air, berasal dari satu bentuk kehidupan tunggal yang kemudian berevolusi menjadi spesies-spesies berbeda yang masih hidup hingga sekarang maupun yang sudah punah. Proses evolusi itu telah berlangsung selama berjuta-juta tahun, katanya.
Melakukan pengamatan di Kepulauan Galapagos yang terpisah dari Benua Amerika (Selatan) pada zaman ketika es di kutub meleleh karena perubahan iklim yang ekstrem akibat terjadinya global warming, naturalis berkebangsaan Inggris ini menemukan bahwa hewan-hewan yang hidup terisolasi di sana telah berevolusi menjadi spesies-spesies yang berbeda dari moyangnya yang tinggal di daratan utama. Dia menduga bahwa telah terjadi persaingan sengit di antara spesies-spesies itu untuk bertahan hidup di tempat yang telah dipagari oleh lautan tersebut. Survival of the fittest. Memperbaiki cara hidup maupun bentuk fisik agar tetap bertahan hidup. Yang kuat merajai. Yang lemah harus minggir. Atau, mati.
Berangkat dari temuan ini, pria berjenggot lebat itu kemudian dengan penuh semangat mencoba merekonstruksi asal-usul manusia. Sampailah akhirnya dia pada suatu kesimpulan yang sangat sembrono dan ngawur bahwa manusia pada awalnya adalah primata, yang kemudian berevolusi menjadi manusia-primata (manusia primitif, bentukan kata sifat dari kata benda primata), dan selanjutnya berevolusi lebih jauh lagi menjadi manusia modern seperti yang ada sekarang.
Teori Darwin sungguh konyol, pikir Sony, karena jelas-jelas dia mengalami hari buruk siang kemarin dengan manusia yang masih setengah jadi. Darwin benar-benar ngigau ketika mengatakan bahwa nenek moyang manusia adalah kera. Seingat dia, Al-Qur’an menyebutkan bahwa penghuni bumi diciptakan dalam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Monyet ya monyet. Manusia ya manusia. Begitu saja.
Tapi, kalau sapi, memang benar memiliki pertalian darah dengan manusia. Sapi dan manusia masih saudara sesusuan. Karena menyusu dari ibu yang sama, sapi betina. Ini semua karena banyak kaum ibu yang ogah memberikan ASI kepada bayinya. Kalaupun mau menyusui sendiri, sering kali si orok harus berbagi dengan sang ayah. Yang beginian kadang-kadang gampang membuatnya muntah, karena ASI mamanya tercemar nikotin.
Maka, tak ada pilihan lain. Sapi menjadi pahlawan. Penyantap rerumputan itu mampu menghasilkan minuman bergizi tinggi kapan saja. Apalagi kalau dipaksa makan banyak daun katuk, pasti susunya melimpah ruah dan harganya akan murah. Sehingga semua anak Indonesia dapat minum segelas susu di pagi hari sebelum berangkat sekolah.
Teori evolusi tentu saja tidak dilatarbelakangi oleh kebiasaan Darwin minum susu sapi murni-segar di pagi hari. Dia hanya mencoba menebak-nebak sambil mencocok-cocokkan kepingan-kepingan bukti sumir mengenai keberadaan makhluk prasejarah, yang kemudian dirunutnya hingga mengarah pada manusia. Seperti sedang asyik bermain puzzle, yang dia ciptakan berdasarkan imajinasinya sendiri.
Tapi Sony tidak mendapatkan sedikit pun informasi di buku itu apakah Darwin punya kenangan manis dengan kera semasa kecilnya. Yang pernah dia dengar, Darwin sempat ragu-ragu ketika akan merilis teori tersebut. Takut kalau-kalau akan dimarahi ibunya.
Memang, secara fisik bentuk manusia dan hewan mengikuti grand design yang serupa. Ada kepala, badan, kaki, tangan dan lain sebagainya. Juga mata, mulut, hidung dan telinga. Bahkan organ-organ dalamnya pun hampir sama, bentuk maupun fungsinya. Namun, karena manusia berjalan tegak dengan kakinya, tumitnya menyentuh tanah. Telapak kakinya memanjang, sehingga keseimbangannya terjaga dengan baik. Sedangkan hewan, yang berjalan dengan menggunakan kaki dan tangannya – bahkan binatang yang berjalan setengah tegak sekalipun, kadang dengan kaki dan tangannya, kadang dengan kakinya saja, seperti beruang – tumitnya terangkat dan tidak menyentuh tanah. Telapak kakinya sangat kecil, sehingga tak tahan berdiri berlama-lama hanya dengan bertumpu pada kaki. Bahkan, sebagian hewan tak punya telapak kaki, hanya kuku-kuku besar dan tebal yang menginjak tanah.
Kaki hewan berjinjit, sehingga lututnya terlihat seperti menekuk ke depan. Padahal tidak. Lutut hewan, sama seperti halnya lutut manusia, juga menekuk ke belakang. Ruas-ruas tulangnya juga sama seperti yang terdapat pada manusia. Demikian pula persendian-persendian yang memungkinkan kaki-kaki itu menekuk. Mirip semua. Hanya saja, paha hewan terlipat dan tersembunyi di bagian belakang (bawah) badannya sehingga seolah-olah lututnya, yang sebenarnya tumit, menekuk ke depan.
Tumit dikira lutut. Betis dikira paha. Kekeliruan inilah yang sering membuat bingung penjual fried chicken, dengan menawarkan paha atas (paha) dan paha bawah (betis) yang bentuknya seperti pentungan itu kepada para pelanggannya.
Primata memang memiliki banyak kemiripan fisik dengan manusia. Bahkan beberapa jenis primata tak punya ekor di bokongnya, seperti Agnes, yang juga mengalami siklus menstruasi seperti gadis-gadis manusia. Malahan, pada primata jantan seperti gorila, misalnya, terdapat sepasang pentil susu seperti halnya pada manusia berjenis kelamin pria, meski tak ada air mancur di sana. Sebaliknya, banyak mamalia betina mempunyai puting susu lebih dari dua.
Dengan adanya begitu banyak kemiripan itu, Sony jadi bertanya-tanya, dan mencoba menerka-nerka, apakah ada hewan yang gay atau lesbian? Kayaknya tidak ada. Buktinya, tidak ada dokter hewan yang mengambil studi lanjutan dengan spesialisasi psikiatri kehewanan, majoring asmara binatang. Kalau ada, siapa profesornya? Onta, kali.
Manusia, sejak pertama kali dihadirkan ke dunia, sosoknya sudah seperti sekarang ini. Tak pernah berubah. Karena manusia diciptakan segambar dengan Tuhan, demikian Injil, kitab suci umat Nasrani itu, menyatakan. Begitu pula hewan, dari mula bentuknya tidak berbeda seperti yang ada hari ini. Ada yang menyeramkan. Ada yang lucu. Ada yang menggemaskan. Ada yang berwarna-warni. Ada yang lehernya panjang. Ada yang berbelalai. Ada yang hidup di darat. Ada yang hidup di air. Dan ada pula yang dapat hidup di air dan di darat sekaligus.
Lagian, kalau memang semua makhluk hidup berevolusi dari satu bentuk kehidupan tunggal menjadi spesies-spesies yang berbeda – persis seperti yang digambarkan dalam filem kocak Evolution yang dibintangi David Dukovny – apakah tumbuhan juga termasuk di dalamnya? Apakah tumbuhan merupakan salah satu kerabat jauh manusia?
Semua agama Samawi secara tegas menolak teori Darwin. Pihak gereja langsung mencak-mencak ketika itu. Sewot dan uring-uringan. Sangat geram. Luar biasa berang. Mereka segera merapatkan barisan. Tak rela dan benar-benar tersinggung dibilang berkerabat dengan monyet. Apalagi kalau harus dijajarkan bersama. Mereka jengkel sekali. Pokoknya, mangkel banget. Tapi lama-kelamaan tidak terdengar lagi perlawanan yang sengit. Adem-ayem saja.
Belakangan, Harun Yahya, yang getol menafsikan Al-Qur’an dengan pendekatan sains, mencoba mematahkan teori evolusi Darwin dengan paparan-paparan logikanya yang memukau. Dia menunjukkan bahwa ada banyak kekacauan di dalam teori evolusi yang dibangga-banggakan oleh Charles Darwin itu. Namun, upaya-upaya tersebut masih dilakukan secara parsial. Belum ada yang tergerak untuk membangun sebuah teori tandingan yang komprehensif. Sehingga Pak Jenggot tetap menang. Survival of the fittest. Yang paling blo’on pasti menang.
Berkenaan dengan urutan penciptaan semua makhluk hidup yang menghuni bumi, Sony mencoba mencari bandingan dengan membuka-buka Perjanjian Lama. Di sana dinyatakan bahwa bumi telah dipersiapkan dengan matang dan seksama sebelum manusia dihadirkan. Pertama-tama diciptakan tumbuh-tumbuhan, baik yang berkembang biak dengan tunas maupun biji. Kemudian ikan-ikan besar yang berkeriapan di lautan. Selanjutnya berbagai jenis burung yang beterbangan di langit dengan mengepak-ngepakkan sayapnya. Terakhir, binatang ternak dan hewan-hewan yang hidup di darat, termasuk binatang melata. Setelah itu barulah diturunkan manusia pertama ke bumi, yang diriwayatkan sosoknya setinggi dua puluh tujuh meter. Orang raksasa, kata Kitab Kejadian.
Jadi, ketika Nabi Adam ketemu dinosaurus, itu sama sekali bukan ancaman, tapi sumber makanan. Dinosaurus hanyalah sebutan untuk hewan yang berukuran besar, sama halnya seperti Thesaurus yang berarti kamus besar. Habil, anak Nabi Adam, beternak domba raksasa. Kalau diperbandingkan dengan ukuran penggembalanya, binatang ternak itu tingginya sekitar sepuluh meter atau lebih. Itulah yang disebut dinosaurus.
Berapa sih, ukuran dinosaurus? Bandingkan dengan sosok Nabi Adam yang setinggi dua puluh tujuh meter. Ketika tiba-tiba muncul seekor T-Rex di hadapannya, tak ubahnya seperti Benu Buloe si jurumakan ketemu kucing garong saat ini. Ngapain takut? Ditendang saja. Pasti ngeong-ngeong.
Namun, banyak juga satwa yang ukurannya lebih besar dari Nabi Adam, bahkan jauh lebih besar lagi. Tak ubahnya seperti di dunia sekarang. Syukurlah, binatang-binatang yang berukuran besar itu kebanyakan pemakan tumbuhan, alias vegetarian. Memang, ada juga hewan-hewan besar yang doyan makan daging sehingga bisa menjadi ancaman potensial bagi manusia yang jumlahnya masih sangat sedikit kala itu. Tapi, sebagai makhluk yang ditakdirkan menjadi penguasa bumi, anak cucu Nabi Adam sudah dibekali dengan akal dan pikiran. Mereka berlindung di dalam gua atau mendirikan kemah. Juga mengacungkan tombak dan melemparkan batu untuk menghalau hewan buas. Maka, selamatlah mereka.
Karena semakin penasaran, secara iseng Sony mencoba meletakkan dua premis yang saling bertolak punggung tersebut di atas sebidang nampan. Sekalian, pikirnya, sudah terlanjur bingung. Berpegang pada asumsi Darwin dengan teori evolusinya yang kacau-balau itu pada satu sisi, dan merujuk kepada berbagai riwayat yang disebutkan di dalam kitab-kitab suci yang telah diturunkan bagi umat manusia pada sisi lainnya, dia mendapatkan gambaran bahwa Nabi Adam harus memotong sedikitnya lima puluh ekor kambing (ukuran sekarang) untuk menyiapkan makan malam bagi seluruh anggota keluarganya. Seperti keluarga Pak Busyairi yang sedang menyantap lima puluh ekor marmut panggang dalam sebuah jamuan makan keluarga. Sungguh merepotkan.
Memang, perbanding tersebut tidak apple to apple. Karena keduanya berangkat dari titik tolak yang sama sekali berbeda. Namun keisengan tersebut justru membuat kepala Sony semakin dipenuhi tanda tanya. Kok, begini jadinya. Padahal, pengajaran di sekolah-sekolah dikuasai oleh teori evolusi hasil rekaan Darwin itu. Gawat ini, kalau sedari kecil anak-anak dicekoki dengan pengetahuan yang keliru, menurutnya. Daripada tambah bingung, dan karena takut kuwalat, Sony memutuskan teori evolusi Darwin tak perlu digubris. Karena logika dasarnya jelas salah. Darwin sendiri juga bingung dengan teori yang diciptakannya itu. Kacau, berputar-putar, dan mengada-ada. Mbulet, koyok ususe wedus. Saking bingungnya, akhirnya Darwin memunculkan istilah the missing links untuk menjustifikasi banyak hal yang tidak bisa dia jelaskan.
Memang benar ada proses evolusi, tapi hanya menyangkut ukuran dan bentangan usia makhluk hidup, dan sama sekali tidak berkenaan dengan perubahan bentuk fisik. Nabi Ibrahim yang datang kemudian tingginya diperkirakan tinggal dua belas sampai lima belas meter saja, dan umurnya tidak lagi sepanjang usia Nabi Adam yang mencapai sembilan ratus tiga puluh enam tahun. Ini terbukti dari besaran rumah ibadah yang beliau bangun, yaitu Ka’bah, dan juga maqom (jejak kaki) yang tercetak pada batu.
Terjadi proses down-sizing. Ukurannya semakin mengecil. Demikian pula dalam soal usia. Nabi Ibrahim meninggal pada umur seratus tujuh puluh lima tahun. Proses evolusi yang sama mestinya juga terjadi pada dinosaurus, hewan-hewan raksasa itu. Kalau tidak sama-sama mengecil dan berkurang umurnya dalam perbandingan yang sama dengan yang dialami oleh manusia, gawat jadinya. Manusia akan habis dimangsa binatang-binatang besar yang mampu beranak-pinak dalam jangka waktu lama, sehingga bumi akan benar-benar menjelma menjadi Animal Kingdom.
Jadi, sekali lagi, demikian yang dipahami Sony, yang dimaksud dengan evolusi sama sekali bukalah proses panjang berubahnya suatu bentuk kehidupan tunggal menjadi bentuk-bentuk kehidupan lain yang berbeda secara ekstrem, seperti berubahnya monyet menjadi manusia, sebagaimana yang diyakini Charles Darwin. Melainkan, mengecilnya ukuran dan memendeknya usia semua makhluk hidup – baik manusia, hewan maupun tumbuhan – secara terus-menerus dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Bahwa Darwin mendapati hewan-hewan yang terisolasi di Kepulauan Galapagos berbeda dengan moyangnya yang hidup di daratan utama, sama sekali bukanlah hal aneh. Para breeders ikan hias setiap saat menciptakan strain baru untuk menggeliatkan pasar agar dagangan mereka laris dan pendapatan melonjak. Louhan, contohnya, yang pernah membuat Sony tergila-gila itu.
Di samping itu, pasti ada alasan mengapa ukuran dan umur makhluk hidup mengalami penyusutan. Bertambahnya jumlah manusia membutuhkan ruang yang lebih luas pula untuk hidup, termasuk persaingan dalam mencari pangan, sekalipun manusia awal sudah mengenal cara bercocok tanam. Qabil, anak sulung Nabi Adam, misalnya, hidup dari bertani. Banyangan bila ukuran makhluk hidup tidak mengalami proses down-sizing. Dengan jumlah penduduk sebanyak 6,7 milyar jiwa saat ini, bumi akan penuh sesak dihuni oleh manusia-manusia raksasa. Setiap kali seseorang melangkah, tanah akan berguncang. Belum lagi dinosaurus yang membutuhkan tempat bermainnya sendiri, dan juga pepohonan yang besar-besar itu. Apalagi kalau umur manusia juga tidak mengalami pengurangan secara signifikan, sehingga dapat beranak-pinak dalam jangka waktu yang lebih lama. Jumlahnya pasti akan meledak menjadi ratusan milyar jiwa. Keringat akan terus bercucuran dari badan, karena setiap hari harus hidup berdesak-desakan.
Sony juga mendapati inkonsistensi teori evolusi yang disajikan secara telanjang dalam filem-filem Hollywood maupun fiksi-ilmiah dokumenter produksi Barat yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Darwin. Mereka selalu menggambarkan dinosaurus-dinosaurus ukuran purba sedang makan dedaunan dari pepohonan ukuran masa kini. Kasihan sekali dinosaurus-dinosaurus itu, karena harus bersusah payah mengumpulkan banyak sekali daun-daun ukuran unyil untuk dikunyah di mulutnya yang begitu besar. Pasti mereka membutuhkan banyak tusuk gigi setelah makan.
Sony yakin, ini bukanlah kealpaan dalam proses montase dan animasi. Mind set mereka memang sudah begitu. Kalau memang benar demikian adanya, lantas di manakah Nabi Adam yang setinggi pohon kelapa (masa kini) itu berteduh? Di bawah semak-semak dan perdu? Ukuran tumbuhan tentu saja ikut berevolusi. Bisa jadi daun bayam dulunya sebesar daun jendela. Tanya saja sama Popeye si Pelaut.
Langsung terbersit dalam pikiran Sony untuk mencoba membandingkan sosok Nabi Adam dengan manusia modern yang rata-rata tingginya, katakanlah, 1,7 meter. Ketemu. Angka-angka yang muncul di kalkulatornya mengatakan bahwa ukuran manusia telah menyusut drastis hingga tinggal 6,3 persen dari asalnya. Terjadi penurunan ukuran yang luar biasa. Atau, untuk membuat perbandingan yang lebih mudah, sosok Nabi Adam sekitar enam belas kali lipat dari ukuran manusia sekarang, kata kalkulator bermerek Canon itu. Demikian pula soal umur. Dibandingkan dengan Nabi Adam yang hidup hampir seribu tahun, manusia zaman sekarang berapa sih rata-rata umurnya? Kalau berpatokan pada Nabi Muhammad yang tutup usia pada umur enam puluh tiga tahun, berarti telah terjadi diskon besar-besaran pada umur manusia.
Kenapa manusia awal diciptakan dengan ukuran sebesar itu? Di samping untuk mengimbangi ukuran hewan-hewan raksasa yang sudah terlebih dulu merajai bumi, postur yang besar akan mempermudah dan mempercepat proses penyebaran manusia yang akhirnya berkembang menjadi bangsa-bangsa. Dengan perbandingan ukuran manusia masa kini, nenek moyang manusia cukup mengayunkan satu langkah untuk menempuh jarak lebih dari sepuluh meter. Maka, jarak yang begitu jauh dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat. Begitu pula ketika harus menyeberangi sungai-sungai yang dalam, pasti tak akan tenggelam. Seandainya mereka diundang mengikuti acara gerak jalan susu Anlene yang diketuai Indy Barens itu, yang mengajak orang mengayunkan kaki sebanyak sepuluh ribu langkah per hari, berarti mereka berjalan sejauh seratus kilometer.
Berbeda dengan tumbuhan dan hewan yang diciptakan lebih awal dan kemudian mendiami seluruh permukaan bumi, manusia pertama diturunkan di satu tempat. Nabi Adam diturunkan di India, kata sebagian orang. Sedangkan Siti Hawa diturunkan di Jazirah Arab, kata yang lainnya. Mereka akhirnya bertemu di suatu tempat.
Lantas beranak-pinak dan melanjutkan hidup.
Penyebaran manusia ke berbagai belahan dunia berlangsung dalam tiga tahapan besar. Tahap pertama adalah menyebarnya anak cucu Nabi Adam ke kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, dan mungkin lebih jauh lagi. Namun penyebaran ini harus berakhir pada zaman Nabi Nuh. Seluruh manusia di kolong langit dibinasakan oleh azab air bah karena telah berpaling dari Tuhan, kecuali Nabi Nuh beserta keluarga dan kerabatnya yang keseluruhannya berjumlah empat puluh orang – ada yang bilang sepuluh orang, dan sebagian lagi mengatakan delapan puluh orang – yang selamat karena berada di dalam bahtera raksasa yang dibangun dengan petunjuk dan tuntunan langsung dari Allah.
Masa kehidupan Nabi Nuh, yang meninggal dalam usia seribu lima puluh tahun itu, hanya berselisih beberapa generasi dari Nabi Adam. Sony menemukan ada banyak versi mengenai usia Nabi Nuh, tapi hampir semuanya menyebutkan angka di atas seribu tahun. Namun, meski berbeda generasi, Nabi Nuh dilahirkan tiga ratus delapan tahun sebelum Nabi Adam wafat. Memang, umur manusia sangat panjang pada masa itu, dan juga mampu beranak-pinak dalam jangka waktu yang lama, sehingga anaknya banyak. Rentang usia keduanya juga tak jauh berbeda. Belum terjadi proses evolusi. Berarti, tinggi badan Nabi Nuh masih sekitar dua puluh tujuh meteran. Dengan demikian, bisa dibayangkan seberapa masif ukuran bahtera yang dibangun oleh Nabi Nuh itu.
Bahtera yang dibuat dari bahan kayu gofir tersebut sangat kokoh dan ukurannya luar biasa besar – jauh lebih besar dari kapal induk kelas Nimitz yang dibangga-banggakan oleh Amerika Serikat itu – karena harus mampu memuat perbekalan untuk jangka waktu setengah tahun, baik pangan manusia maupun makanan untuk semua satwa yang ada di dalamnya. Belum lagi muatan utamanya. Empat puluh manusia raksasa. Sementara setiap jenis hewan, termasuk satwa melata dan burung-burung, masing-masing dibawa sepasang. Sedangkan untuk binatang yang tidak haram dimakan, dalam hal ini yang dimaksud adalah hewan ternak, diperintahkan agar masing-masing jenis dibawa tujuh pasang. Diangkut pula benih dan bibit tumbuhan dari semua jenisnya.
Bahtera yang dibangun Nabi Nuh panjangnya tiga ratus hasta (300 x 16 x 45 cm = 216.000 cm = 2.160 m), lebar lima puluh hasta (50 x 16 x 45 cm = 36.000 cm = 360 m), dan tingginya tiga puluh hasta (30 x 16 x 45 cm = 21.600 cm = 216 m). Hasta adalah satuan ukuran sepanjang rentangan tangan, empat puluh lima sentimeter, bagi manusia masa kini. Karena Nabi Nuh tingginya dua puluh tujuh meter, atau enam belas kali lipat dari ukuran manusia sekarang, maka ukuran hasta (rentangan tangan) bagi para manusia raksasa itu adalah 16 x 45 cm = 720 cm = 7,2 m.
Dibangun tiga tingkatan di bagian dalam kapal, dengan kompartemen-kompartemen yang sangat luas sehingga manusia dan hewan tidak perlu berdesak-desakan. Mereka tetap mendapatkan privasi masing-masing di dalam bahtera raksasa tersebut.
Hebatnya, bahtera yang dibangun bukan di galangan kapal sebagaimana yang biasa dijumpai sekarang dan bahkan sama sekali belum pernah diuji coba itu langsung mengapung dengan stabil di tengah gelontoran hebat air bah, terjangan angin topan yang menderu-deru, dan guyuran hujan lebat yang tak pernah berhenti selama empat puluh hari penuh. Kapal raksasa tersebut terangkat setinggi lima belas hasta (15 x 16 x 45 cm = 10.800 cm = 108 m) dari tempatnya semula. Tidak ada kebocoran sama sekali. Bahtera raksasa itu terombang-ambing selama seratus lima puluh hari hingga air surut dan akhirnya kandas di sebuah bukit.
Sony menduga bahwa perintah untuk menyelamatkan semua jenis satwa secara berpasang-pasangan, hewan ternak masing-masing tujuh pasang, dan juga bibit tanaman, ditujukan agar setelah air bah surut Nabi Nuh beserta keluarga dan kerabatnya bisa segera memulai kembali kehidupan yang normal seperti sedia kala di lingkungan yang sama sekali baru.
Maka, setelah air benar-benar menyusut, turunlah mereka dari bahtera raksasa itu. Manusia dan satwa berbaris rapi menapaki pintu lambung kapal yang diturunkan menjadi tangga. Hewan-hewan itu segera menyebar ke tempat-tempat di mana mereka bisa memulai kehidupan liar yang baru dan kemudian beranak-pinak kembali.
Sony pernah mendengar sebuah versi yang agak ugal-ugalan mengenai keberadaan para satwa di dalam bahtera raksasa itu. Karena khawatir ada hewan yang tak mampu menahan diri untuk kawin dan kemudian beranak di dalam kapal, sehingga akan menambah beban muatan, maka diambillah sebuah langka antisipatif. Semua alat kelamin hewan jantan disita untuk sementara dan kemudian disimpan di dalam gudang yang pintunya dikunci dengan gembok besar.
Setelah air mulai surut, para pejantan itu sudah tak sabar lagi untuk mengambil alat kelaminnya kembali. Kuda, yang larinya paling kencang, adalah yang pertama sampai di depan gudang. Pintu langsung dia dobrak, dan diambilnya penis yang paling besar. Tak tahu kepunyaan siapa. Pokoknya dipilihnya yang paling gede. Makanya, setiap kali seekor sapi ketemu kuda, pasti dia akan langsung geleng-geleng kepala. Keheranan dan tak habis pikir dengan kenakalan kawannya itu. Namun, sungguh malang nasib itik. Penisnya terinjak gajah sebelum sempat diraihnya, sehingga sampai sekarang alat kelamin itik jantan bentuknya gepeng.
Setelah turun dari bahtera raksasa, manusia tinggal untuk beberapa lama di sana, dan kemudian mulai menyebar ke tempat-tempat yang lebih jauh begitu jumlahnya mulai banyak. Maka dimulailah penyebaran manusia untuk kedua kalinya. Kali ini cukup jauh jangkauannya, tidak hanya di Timur Tengah, tetapi sudah mencapai sebagian Eropa, Afrika dan beberapa bagian Asia lainnya. Karena sudah mengenal cara membuat kapal, penyebaran itu juga dilakukan dengan melintasi lautan. Namun, mereka tidak perlu lagi membuat kapal yang berukuran raksasa. Dengan demikian, tidak tertutup kemungkinan penyebaran manusia pada tahap kedua ini sudah merembes ke seluruh bagian bumi. Sedangkan penyebaran manusia pada tahap ketiga, yang merangsek hingga ke seluruh penjuru dunia, terjadi setelah zaman Nabi Ibrahim. Bapak para nabi dan rasul itu ditakdirkan mempunyai keturunan yang kemudian berkembang menjadi bangsa-bangsa sebanyak bintang-bintang di langit.
Sebagian orang malah percaya bahwa manusia sama sekali tidak melakukan penyebaran ke seluruh bagian dunia. Sebaliknya, mereka hanya kembali ke tempat asal masing-masing. Alasannya sederhana saja. Diriwayatkan bahwa manusia diciptakan dari segumpal tanah yang diambil sejumput-sejumput dari semua belahan bumi. Jadi, ketika sekelompok manusia awal sampai di Benua Eropa dan kemudian menetap serta beranak-pinak di sana, sebenarnya mereka telah kembali ke daerah asal di mana pernah diambil sejumput tanah yang kemudian dipakai sebagai bahan baku untuk menciptakan manusia. Demikian pula kelompok-kelompok manusia yang sampai di Benua Afrika, Asia, Australia dan Amerika. Sesungguhnya mereka kembali ke daerah asal masing-masing. Dari mana jumputan tanah itu berasal juga menentukan warna kulit mereka.
Banyak orang percaya bencana air bah pada era Nabi Nuh adalah zaman ketika es di kutub mencair akibat pemanasan global. Pada waktu air surut, bumi tak lagi kembali seperti semula. Sebagian dataran yang tidak terlalu tinggi hilang ditelan air, berubah menjadi sungai, danau, selat dan lautan. Kejadian inilah yang memisahkan daratan besar menjadi lima benua, dengan ribuan gugusan kepulauan, serta ratusan ribu pulau besar dan kecil lainnya yang menghampar dan berserak indah bagaikan lukisan alam. Peristiwa ini pula yang memisahkan Kepulauan Galapagos – di mana Charles Darwin pernah asyik berkongkow-kongkow bersama sejumlah kera – dari daratan induknya.
Azab air bah diturunkan untuk memusnahkan seluruh manusia – yang jumlahnya masih terbilang sedikit itu – karena mereka telah berbuat banyak kerusakan di muka bumi. Semua manusia musnah, kecuali yang berada di dalam bahtera Nabi Nuh. Namun, hewan-hewan yang hidup di berbagai belahan bumi lainnya selamat berkat naluri bertahan hidup mereka, demikian yang ada dalam pikiran Sony. Sebelum es di kutub meleleh, dia menduga cuaca pasti berubah menjadi sangat panas dan tidak bersahabat. Akibatnya, terjadilah penguapan masif yang menghasilkan gumpalan-gumpalan uap air dalam akumulasi luar biasa sehingga hujan baru berhenti menari setelah empat puluh hari. Dalam cuaca yang sangat panas seperti itu, secara naluriah hewan akan pergi ke tempat yang lebih tinggi karena udaranya lebih sejuk di sana. Sama seperti hewan-hewan yang turun gunung ketika sebuah gunung berapi menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Maka, ketika es di kutub mencair dan bumi tergenang, selamatlah mereka, termasuk nenek moyang Darwin di Kepulauan Galapagos itu.
Peristiwa ini sekaligus mematahkan anggapan para raja ngawur bahwa semua dinosaurus sudah punah. Bahkan ada teori yang menyebutkan dinosaurus punah ketika sebuah meteor raksasa jatuh dari langit, sehingga menimbulkan gelombang panas yang luar biasa, iklim bumi tak lagi bersahabat, dan kemudian es di kutub mencair. Teori ini sepertinya paralel dengan kisah air bah di zaman Nabi Nuh. Hanya saja, teori tersebut seolah menyuratkan bahwa dinosaurus harus dibersihkan dulu agar tidak menjadi ancaman bagi kehadiran manusia yang akan menguasai dunia. Padahal dinosaurus sama sekali bukan ancaman bagi manusia. Mereka hidup berdampingan. Dan sebagian dinosaurus malah menjadi sumber pangan bagi manusia. Sekali lagi, dinosaurus hanyalah sebutan untuk hewan yang berukuran besar.
Kalaupun ada beberapa spesies dinosaurus yang punah, itu bukanlah sesuatu yang mustahil, karena di masa sekarang pun ada saja spesies yang tiba-tiba dilaporkan punah oleh WWF. Tapi tidak semua spesies dinosaurus punah begitu saja. Sebagian besar mereka tetap ada hingga hari ini, namun telah mengalami penyusutan ukuran. Maka, apabila ditemukan fosil dinosaurus setinggi sepuluh meter yang diperkirakan hidup pada zaman Nabi Adam, misalnya, akan dapat ditemukan padanannya pada hewan modern yang tingginya kira-kira enam puluh sentimeter sepanjang ia tidak termasuk dalam jenis spesies dinosaurus yang punah.
Bagi Sony, yang menggelikan adalah bahwa orang-orang pintar itu suka berimajinasi secara berlebihan dalam merekonstruksi fosil-fosil hewan purba. Tulang-belulang yang kadang tidak lengkap itu kemudian disusun ulang dan ditampilkan dalam bentuknya yang hidup dengan tambahan di sana-sini sehingga tampak menyeramkan dan ganas, termasuk bagaimana cara hewan itu bergerak dan apa yang biasa dimakannya. Bahkan tulang-belulang monyet purba direkonstruksi dengan imajinasi yang begitu liar sehingga menyerupai manusia. Lebih konyol lagi, tidak ada dinosaurus yang digambarkan kulitnya berbulu seperti domba atau kucing. Semuanya berkulit kasar seperti biawak, badak atau kudanil. Sebagian malah menyerupai kulit buah salak. Sony juga memperhatikan bahwa burung-burung purba selalu digambarkan memiliki sayap membran seperti kelelawar, bukan bulu yang berhelai-helai.
Analisa karbon digunakan untuk menentukan usia fosil yang ditemukan. Tujuh puluh lima juta tahun, kata mereka. Seratus lima puluh juta tahun, kata yang lainnya. Begitu gampang mereka menyebutkan angka-angka. Lagian, siapa yang bisa menggaransi validitas analisa karbon yang katanya mampu menentukan umur suatu materi hingga milyaran tahun itu. Analisa karbon pasti punya keterbatasan, dan tidak bisa dipakai menghitung secara akurat hingga angka kelipatan yang tak terhingga.
Dengan analisa karbon pula, yang masih mengundang tanda tanya besar itu, mereka mengatakan bahwa dinosaurus hidup sekitar enam puluh lima juta tahun sebelum manusia berkeliaran di muka bumi. Sok tahu mereka. Bukankah mereka tidak pernah menemukan fosil atau tulang belulang manusia raksasa yang bisa dijadikan sebagai pembanding melalui analisa karbon yang hebat itu? Ini penting, untuk memastikan apakah manusia awal dan dinosaurus hidup pada zaman yang terpisah atau hidup secara berdampingan pada zaman yang sama.
Kenapa tidak pernah ditemukan tulang-belulang manusia raksasa? Sony langsung menjawab pertanyaannya sendiri. Tentu saja, tulang-belulang tersebut sudah hancur. Karena manusia yang mati dikuburkan. Qabil mengebumikan mayat Habil yang dibunuhnya setelah melihat burung gagak melakukan hal serupa. Bila Qabil menggali tanah setinggi pusarnya untuk menguburkan Habil, misalnya, berarti mayat adiknya itu ditanam sekitar lima belas meter di bawah tanah. Sedangkan, tulang-belulang hewan purba yang mati di alam liar terserak begitu saja di atas permukaan tanah. Melalui proses alami yang panjang akhirnya tulang-tulang itu membatu menjadi fosil dan di kemudian hari ditemukan oleh konco-konco-nya Darwin.
Kini, setelah mengalami penyusutan luar biasa dalam proses evolusinya, apakah ukuran dan umur manusia akan menyusut lagi di masa yang akan datang? Sony jadi ketakutan sendiri membayangkannya. Bukannya tidak mungkin hal itu akan terjadi, pikirnya. Hanya saja prosesnya pasti akan jauh lebih lambat dan prosentase penyusutannya juga jauh lebih kecil, karena manusia sudah menguasai teknologi maju untuk memenuhi kebutuhan pangannya, termasuk kebutuhan akan ruang tinggal. Tak usah khawatir, pikirnya. Tak perlu takut hidup berdesak-desakan seperti ikan teri. Itu baru akan terjadi berjuta-juta tahun yang akan datang. Dan ketika itu dia sudah menjadi tulang-belulang.
Sony masih mendapati satu lagi titik lemah teori evolusi yang ditulis oleh Darwin, musuh bebuyutannya itu. Bila memang benar semua makhluk hidup berevolusi dari suatu bentuk kehidupan tunggal menjadi spesies-spesies yang berbeda sebagaimana yang diyakini oleh Pak Jenggot, bagaimana mungkin manusia mampu mengembangkan daya nalarnya sedangkan makhluk-makhluk yang lain tidak. Anjing atau sinpanse, yang oleh para ahli perilaku binatang sering dikatakan sebagai spesies pintar, ya begitu-begitu saja. Mereka tetap hewan. Gampang ditipu, seperti Agnes, pacar baru Sony itu. Mereka sama sekali berbeda dengan manusia. Karena memang asal-usulnya sudah berbeda dari sononya.
Kalaupun ada hewan yang benar-benar pintar, itu adalah nyamuk. Sony pernah mendengar bahwa para petugas donor darah itu mampu membuat perhitungan statistik. Tidak seperti anjing laut di panggung hiburan yang seolah pandai berhitung padahal hanya nyontek kode gerakan tangan pelatihnya. Konon, demikian cerita yang pernah didengar Sony, ketika manusia masih tinggal di gua, banyak nyamuk yang mati karena salah sasaran. Di tengah pekatnya malam nyamuk-nyamuk bermanuver sekenanya sehingga mulutnya yang bertombak itu patah karena salah menghujam ke batu keras yang dikira manusia. Mereka tidak bisa membedakan mana manusia dan mana batu di dalam kegelapan malam.
Karena khawatir jumlah nyamuk akan menipis dan kemudian punah, raja nyamuk mengumpulkan rakyatnya untuk mencari solusi terbaik to save the mosquito race. Setelah dilakukan berbagai percobaan dan dibuat simulasi berkali-kali, akhirnya ditemukan bahwa bila berdengung dulu sebelum menggigit manusia yang sedang tidur, nyamuk bisa mengidentifikasi mana batu dan mana manusia. Karena terganggu bunyi dengungan, manusia akan menggerakkan tangannya untuk mengusir nyamuk sialan itu. Cara ini membawa hasil. Gerakan tangan itulah yang membedakan antara manusia dan batu. Peluangnya delapan selamat dan kenyang, dua mati kena tepukan tangan. Sedangkan apabila tanpa berdengung, delapan mati karena jarumnya patah setelah salah menombak batu dan dua selamat dalam keadaan kenyang.
Kecerdasan nyamuk diakui oleh PMI. Beredar kabar rahasia bahwa raja nyamuk telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Pak Mar’ie Muhammad. Di dalam Memorandum of Understanding sebanyak tiga belas halaman folio itu disebutkan bahwa semua nyamuk tanpa terkecuali wajib menyetorkan separuh dari darah yang disedotnya kepada PMI. Kalau ada yang berani melanggar perjanjian, maka akan diburu hingga ke selokan yang paling bau sekalipun. Cara ini terpaksa ditempuh karena donor darah sukarela semakin langka, sementara kebutuhan darah kian bertambah. Di semua kantor PMI di seluruh Indonesia telah dibangun pintu-pintu rahasia di mana nyamuk dapat datang dan pergi secara leluasa tanpa diketahui oleh umum.
Kebetulan Pak Mar’ie kenalan lama, sehingga Sony kebagian pekerjaan membuat brosur dan poster untuk program sosialisasinya. Seukuran kuku jari kelingking dilipat empat untuk brosur, dan posternya sebesar sepuluh kali dua puluh milimeter, masing-masing dicetak dua ratus juta eksemplar. Sedangkan Ahmad Yani, pesaing kuat Sony, memenangkan lelang pembuatan handuk nyamuk ukuran lima kali sepuluh milimeter dengan logo kerajaan nyamuk dan PMI di tengahnya, diproduksi sebanyak lima ratus juta unit. Tapi Yani harus menelan kecewa. Dia dibayar pakai duit nyamuk. Somasi sudah dilayangkan ke pihak PMI, karena alamat raja nyamuk tak pernah dia temukan. Pak Mar’ie memilih bungkam. Sepertinya dia mencoba melindungi koleganya yang bersayap itu.
Tapi nyamuk tetaplah nyamuk. Sepintar apapun dia, masih bisa dikadalin sama Pak Mar’ie. Berbeda dengan manusia yang mampu menggunakan nalarnya. Dan kemampuan ini pula yang menjadikan manusia mampu mengembangkan bahasa untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Hal yang sama tidak dijumpai pada hewan, meskipun banyak ahli perilaku binatang percaya beberapa spesies hewan mampu berkomunikasi dengan sejenisnya dalam bahasa mereka sendiri. Ayam jago, misalnya, berkukuruyuk untuk membangunkan kawan-kawannya di pagi hari. Dengan dada membusung, pejantan berjengger merah itu meneriakkan suara kukuruyuk untuk menegaskan kehebatannya di hadapan ayam-ayam jago lainnya, untuk bernyanyi menghibur diri, untuk menarik perhatian ayam betina. Kuukuuruuyuuuuuuk …. “Kog kog petoog, petoooog,” sahut ayam betina. “I’m coming, Honey!”
Berbahasa membutuhkan kerja otak yang luar biasa kompleks. Otak ayam hanya sebesar biji kacang kedelai. Bandingkan dengan ukuran badannya. Atau, ambil contoh lain. Gajah, misalnya, malah lebih parah. Dengan tubuhnya yang begitu tambun dan menuh-menuhin tempat, otaknya tak lebih dari sekepalan tangan manusia. Bagaimana mungkin otak sekecil itu mampu memproses kegiatan berbahasa yang begitu rumit. Bandingkan dengan otak manusia yang berukuran besar, dan itupun baru dimanfaatkan sekitar sepuluh persen dari seluruh kapasitasnya. Memang, hewan berkomunikasi dengan suara mereka, tapi mereka sama sekali tidak berbahasa. Hanya bunyi-bunyi tertentu dengan varian bunyi yang sangat terbatas, dengan makna dan tujuan yang terbatas pula, dan hanya dimengerti sebatas jenis mereka sendiri.
Jelas, hewan tidak berbahasa. Berbeda dengan manusia. Sony pernah pergi ke Phuket, Thailand, menghadiri konferensi HAKI se-Asia-Pasifik. Dia sama sekali tidak mengerti bahasa penduduk setempat. Ketika pergi ke pasar suvenir pada siang hari untuk membeli oleh-oleh bagi anak dan istrinya, dia mendengarkan banyak bunyi-bunyian yang tidak dikenalnya keluar dari mulut orang-orang yang sedang berjual-beli. Asing memang suara-suara itu di telinganya. Tapi begitu kaya bunyinya. Itulah bahasa. Bukan sekedar meang-meong seperti kucing di musim kawin, yang sepanjang malam mengganggu tidurnya dengan rayuan gombal tak bermutu. Maaauuuuu … ndak maaauuuuu … maaauuuuu … ndak maaauuuuu …. Yang kira-kira artinya begini, “Mau kagak? Kalau mau, ayo. Kalau tak mau, ya sudah.” Apakah itu berbahasa?
Tapi, tunggu sebentar. Bukankah Nabi Sulaiman diriwayatkan mampu berbicara dengan binatang? Sony lebih suka berpikiran terbuka mengenai soal ini. Nabi Sulaiman adalah seorang ilmuwan besar dengan berbagai kelebihan yang dianugerahkan kepadanya. Di samping masyhur sebagai arsitek jempolan dan ahli hukum yang hebat, Nabi Sulaiman adalah seorang naturalis, pecinta kehidupan. Beliau mempelajari secara seksama semua makhluk hidup – baik manusia, jin, binatang maupun tumbuhan – sehingga di dalam dirinya tumbuh pemahaman yang sangat luas dan mendalam. Maka, ketika melihat banyak gundukan kecil di tanah, beliau menyuruh rombongan pasukannya berbelok karena di depan ada banyak semut yang akan mati terinjak-injak bila mereka tetap mengambil jalan itu.
Tapi, bukankah Nabi Sulaiman berbicara dengan dan mengomeli burung Hud Hud yang pulang terlambat? Sebagian orang percaya bahwa burung Hud Hud itu adalah sebuah pesawat pengintai. Nabi Sulaiman yang menguasai pasukan bangsa jin dan manusia-manusia jempolan adalah seorang penguasa angin yang memiliki sebuah wahana (baca: pesawat terbang) yang mampu mengangkut seluruh pasukannya, lengkap dengan perbekalan mereka, dalam waktu singkat dari suatu tempat ke tempat lainnya. Sebuah pencapaian peradaban yang sangat tinggi, yang, sayangnya, kemudian hilang tak berbekas.
Tunggu dulu. Bukankah burung beo mampu menirukan suara manusia? “Assalamu’alaikum, Pak Kumis. Apa kabar hari ini?” Mirip sekali dengan suara manusia. Pak RT yang berkumis serabutan itu tingak-tinguk mencari orang yang menyapanya. Tidak ada siapa-siapa di sepanjang gang. Jangan-jangan hantu, pikirnya. Dia garuk-garuk kepala. Sedikit merinding. Sementara dari balik pagar yang bertirai rimbunnya perdu, seekor burung beo jahil cekikikan melihat tingkah polanya. Tapi beo yang sok tahu itu hanya menirukan ucapan-ucapan yang diajarkan kepadanya, dan jumlahnya hanya beberapa. Kalau terlalu banyak, otaknya bisa mendidih, dan kemudian meledak.
Berbeda sekali dengan manusia mampu menggunakan nalarnya untuk mengembangkan bahasa. Karena itu, bahasa manusia senantiasa berkembang, sejalan dengan berkembangnya kehidupan manusia itu sendiri. Dan akan terus berkembang sepanjang masa. Sehingga Sony tak habis pikir dengan segala kerepotan yang dilakukan para ahli percakapan dalam menyusun Rancangan Undang-Undang Bahasa.
“Tuan sedang membangun penjara untuk bahasa kita, agar bisa diatur dan berperilaku seperti yang Tuan kehendaki. Orang waras mana yang bisa berpikiran seperti itu. Tuan telah merampas hak suatu bahasa untuk berkembang. Tentu, setelah itu Tuan akan membentuk satuan polisi bahasa, yang akan menangkap dan memborgol kata-kata.”

2. Anak

Sony terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Ayahnya seorang guru sekolah Muhammadiyah, sedangkan ibunya pegawai negeri sipil dengan golongan pangkat rendahan. Pernah sekali terpikir olehnya, seandainya saja dia terlahir sebagai salah satu putra mantan Presiden Soeharto – asal jangan Mas Tommy, karena duda ganteng itu sempat mondok di Nusakambangan – pasti bisnisnya sekarang sudah menggurita dan bernilai trilyunan. Tapi dibuangnya jauh-jauh pikiran gila tersebut. Karena setiap orang dilahirkan ke dunia tanpa bisa memilih. Bisa saja dilahirkan dari keluarga tukang becak, presiden, menteri, pengusaha, bupati atau bahkan juragan togel. Kalaupun kebetulan dilahirkan dari keluarga kurang mampu, tak perlu kecewa, apalagi minder dan putus asa. Tuhan punya tujuan sendiri untuk menetapkannya demikian. Dan itu pasti yang terbaik.
Sony lahir di sebuah kota kecil di Jawa Timur pada pertengahan tahun enam puluhan. Dia sepenuh sadar bahwa manusia tak bisa memilih mau dilahirkan kapan dan di mana. Di tengah siang bolong atau di penghujung fajar. Di Jakarta atau di kutub utara. Di rumah sakit atau di dipan bambu di rumah dukun beranak. Pula, manusia tak punya kuasa menuntut agar kelahirannya dibantu oleh Bu Bidan atau ditolong Pak Dokter. Melalui proses kelahiran yang normal atau lewat operasi sesar. Bahkan juga tidak perlu pusing apakah dilahirkan sebagai bayi bule bermata biru terang, bayi Arab yang masih kecil hidungnya sudah mancung, atau bayi Afrika yang berbibir tebal dan berkulit legam. Kesadaran inilah yang setiap kali mengingatkan Sony untuk senantiasa bersyukur atas apa yang telah diraihnya selama ini.
Manusia sesungguhnya sangat beruntung, pikir Sony. Begitu lahir, ibu langsung mendekap bayinya dengan pelukan hangat sambil menitikkan air mata bahagia. Dalam keadaan masih kecapaian sehabis melahirkan, disorongkannya puting susunya ke mulut mungil bayi yang menggemaskan itu agar bisa minum ASI sepuasnya. Meski posisi menyusui kadang-kadang membuat badan terasa pegal-pegal, tak seorang pun ibu yang pernah mengeluhkannya. Bahkan, ketika bayi mulai tumbuh gigi dan gemar menggigit-gigit pentil susu ibunya, rasa sakit dan pedih itu hilang begitu saja ketika melihat bayinya yang imut tersenyum dan menggerak-gerakkan tangannya sambil sesekali melonjak-lonjak. Seolah ingin segera melompat berdiri dan menguasai dunia.
Bandingkan dengan bayi sapi yang baru lahir. Dalam hitungan menit, sapi unyil itu harus berjalan dengan kaki yang masih tertatih-tatih mencari puting susu induknya. Dia mesti berjuang sendiri. Bapaknya tak mau menggendong. Ibunya juga cuek. Mungkin masih kehabisan tenaga setelah melahirkan. Cempe itu terus mencari kesana-kemari dengan berjalan sempoyongan. Induknya sekedar melirik sambil cengengesan.
“Kalau sudah ketemu, langsung saja eloe sedot. Kalau belum, ya cari lagi. Jangan putus asa. Hidup ini memang berat. Masih untung emakmu tidak jadi dipotong untuk dijadikan bakso atau sop konro. Oom dan tantemu bahkan harus pergi tanpa sempat berpamitan. Tapi mereka tidak mengeluh, karena sudah tahu suatu hari nanti hidupnya akan berakhir di piring.”
Bayi sapi itu sudah sangat kehausan. Kelihatan sekali. Napasnya ngos-ngosan. Beruntung, akhirnya dia temukan juga benda lunak yang bentuknya menyerupai dot besar itu. Langsung tancap gas, pedal rem tak perlu diinjak. Pokoknya harus minum sepuas-puasnya. Ini anak benar-benar serakah dan kemaruk. Air susu emaknya digenjot habis-habisan. Begitu kenyangnya dia, sehingga harus berdiri dengan kaki-kaki yang bergetar. Matanya kedap-kedip, mengisyaratkan panggilan alam. Mengantuk. Tak perlu repot-repot cari kasur. Tak usah mikirin popok kalau-kalau nanti ngompol. Toh, dia tidak di-bedong. Ada tempat yang sedikit nyaman dan teduh, kaki langsung ditekuk dan kepala diturunkan. Pelor. Nempel langsung molor. Sudah. Begitu saja.
Krucuk krucuk krucuuuuk …. Krucuk krucuk krucuuuuk …. Perutnya bernyanyi dengan irama lembut, minta diisi lagi. Sama seperti bayi manusia, dia juga akan bangun begitu merasa lapar. Tapi, manusia ya manusia. Sapi ya tetap sapi. Nggak boleh disama-samain. Kalau dibanding-bandingkan, bolehlah. Maka, dengan tak sabar sapi kecil itu segera mencari sasarannya. Tapi dia mengalami kesulitan. Rupanya sewaktu tertidur tadi, induknya berpindah ke lahan sebelah mencari rumput yang lebih tebal. Berkali-kali menyeruduk ke kiri dan ke kanan, tak kunjung ditemukannya benda itu. Sempat beberapa kali ketemu tonggak yang mirip kenyotan favoritnya. Langsung disedot-sedot. Sialan. Tak keluar airnya. Mbok … mbok …, ojo ngece aku. Moooooh.
Para koboi, si penggembala sapi, memperhatikan kebodohan sapi imut tersebut dengan seksama sambil ketawa-ketawa. Bukannya mengajari sapi blo’on itu menemukan kenyotannya dengan mudah, mereka malah memanfaatkannya untuk tujuan iseng. Bayi sapi yang suka srondal-srondol tersebut disuruh menghukum maling sapi yang tertangkap. Caranya? Maling sapi ditelanjangi dan kemudian diikat berdiri pada sebatang tonggak. Bayi sapi bego itu kemudian digiring mendekati maling yang sudah terikat tadi.
“Sedap benar baunya, pasti ini makanan gue.” Tanpa kerja keras, dia segera menemukan benda lunak yang bentuknya menyerupai dot besar itu. Hap. Langsung di-emut-emut. Teksturnya mirip. Tapi, rasanya kok agak aneh? Bodoh amat. Tancap teruuuss …. Tentu saja, si maling kejet-kejet, terguncang-guncang. Rasain loe. Masih mending daripada dihukum gantung.
Namun manusia suka bersikap keterlaluan dan tidak beradab ketika seorang bayi terlahir kurang sempurna alias cacat. Misalnya, bila bayi lahir tanpa kaki atau tangan. Pihak keluarga cenderung akan menyembunyikan peristiwa kelahiran yang dianggap memalukan itu. “Aib. Kutukan dewata,” kata mereka. Sebaliknya, bila yang terlahir cacat adalah sapi, maka dia akan segera bikin woro-woro yang menggemparkan seisi kampung.
“Ada sapi ajaib. Kepalanya dua belas kakinya delapan.” Dengan bangga dia melayani wawancara reporter TV. Sesekali mejeng, boleh dong. Kotak sumbangan pun disiapkan di depan kandang, untuk membantu biaya pemeliharaan sapi-gurita itu, atau, sapi-anggur, karena kepalanya bergerombol. Malah ada yang bikin karcis segala. Dewasa lima ribu, anak-anak tiga ribu saja. Meski tidak tersedia tempat duduk, pengunjung boleh menonton sapi ajaib itu sepuasnya. Sejumlah pemuda tanggung memanfaatkan keramaian tersebut dengan membuka parkir dadakan untuk mobil dan motor. Sebagian lagi bikin kaos sablon.
Masya’ Allah. Itu kan cuma binatang yang kebetulan terlahir cacat, tidak sempurna. Tak perlu dilebih-lebihkan, apalagi dikeramatkan. Anomali seperti ini juga bisa terjadi pada tumbuhan maupun manusia. Di mana pun dan kapan pun. Biasa saja. Tapi manusia gampang tergoda untuk melihatnya dengan sudut pandang yang lain.
“Ini pertanda akan datang goro-goro dari delapan penjuru mata angin setahun ke depan. Berupa dua belas raksasa berambut geni yang nggak pernah mandi dan gosok gigi,” jelas Pak Aman, si empunya sapi invalid tersebut, sambil sesekali tangannya menepuk-nepuk salah satu dari kedua belas kepala sapi jelek itu. Anehnya, sapi kecil tersebut ikut manggut-manggut. Seolah membenarkan ucapan tuannya.
Kali ini Pak Aman tidak sendirian berbicara di hadapan media. Sesosok angker berjubah gelap berdiri di samping kirinya. Ikat kepala hitam kusam, kacamata gelap lebar, kumis dan jenggot lebat yang senantiasa berkibar-kibar menyembunyikan wajahnya. Tapi kelihatan jelas pipinya kasar, berlubang-lubang. Mungkin bekas cacar semasa balita. Kedua tangannya bersedakap di dadanya yang tak terlalu bidang. Pandangan matanya entah ke mana. Karena tertutup kacamata hitam. Atau, jangan-jangan, dia buta, pikir Sony. Jangan su’udon dulu, apalagi berprasangka. Meski pakaiannya serba hitam dari atas ke bawah, belum tentu dia orang jahat. Warna hitam kan tidak selalu merepresentasikan sesuatu yang buruk. Betul kan, Pak Permadi? Malahan, warna putih kadang-kadang berarti kurang baik. Misalnya, keputihan.
Salah satu kamera wartawan dengan iseng menyorot gelang akar bahar yang menghiasi pergelangan tangan sang dukun. Besar-besar dan legam. Berlenggak-lenggok liar, dengan cabang-cabang kecilnya yang saling melilit tak beraturan, persis seperti kabel telepon milik Telkom yang baru saja terbakar. Close up bergeser ke arah jemarinya yang dikawal sejumlah cincin alpaka yang mengikat batu-batu akik sebesar telor puyuh. Sony yakin, ini orang pasti masih satu komunitas dengan Tessy Srimulat. “Heeem …!” Hanya suara itu yang terdengar dari mulutnya. Lantang dan berwibawa. Bikin berdiri bulu roma. Meski begitu, Sony juga yakin, sekali lagi, dia tidak bisu.
“Sudah ada yang nawar enam ratus juta. Tapi saya belum mau lepas,” tambah Pak Aman yang bertubuh kerempeng dan wajahnya terlihat agak culun itu. Katrok, kata Tukul.
Tentu saja sapi kecil tersebut stres karena setiap hari dikerubuti banyak orang dan setiap saat harus menghadapi sorotan lampu kamera. Minum susu jadi tidak teratur, walaupun telah disediakan bermacam-macam susu formula yang mengandung vitamin A-Z, plus DHA dan Omega 3. Tidur juga tak teratur. Lebih menjengkelkan lagi, Pak Aman selalu menggulang-ngulang pesan yang sama setiap pagi, “Kamu harus murah senyum di depan kamera.” Sinting. “Aku ini sapi. Belum pernah ikut kursus acting.”
Dan lebih gila lagi, banyak juga wartawan yang mencoba mewawancarainya, mengajaknya bicara. Edan. “Heey … aku ini sapi! Mooooooh ….” Berkali-kali dia harus berteriak seperti itu. Tapi tak seorang pun mengerti ucapannya. Tidak juga mbah dukun sakti yang seram itu. Karena terlalu capek, stres dan nelongso, akhirnya sapi gurita itu mati keesokan harinya. Pak Aman menangis berguling-guling. Hilang sudah duit enam ratus juta.
Sudah. Sudah. Jangan mikirin sapi melulu. Manusia sebaiknya ngomong soal manusia saja. Gitu, lho. Sony tersadar dari lamunannya ketika nyala api rokoknya yang semakin memendek itu menggigit jarinya. Tapi syaraf-syaraf di otaknya tak mau diatur. Mereka membujuk jantung agar mau mengalirkan lebih banyak lagi campuran darah dan oksigen sebagai bekal untuk berjalan-jalan. Ya sudah, kalau maunya begitu, silahkan lanjut.
Tiba-tiba muncul kelebat Sarah, adik iparnya. “Lihat Pa, bibirnya seperti aku, matanya dari kamu. Hidungnya yang agak besar menurun dari kakeknya.” Siapa sih, yang tidak berbahagia kedatangan anggota keluarga baru yang mungil dan lucu itu? Semua orang pasti menginginkan bayinya lahir dalam keadaan sempurna dan sehat. Laki-laki atau perempuan tidaklah penting, sama saja. Pokoke sehat. Titik.
Masih segar dalam ingatan Sarah nasehat Ustadz Kadir, “Sar, banyak sholat malam. Minta sama Allah. Dan jaga perangai kamu. Insya’ Allah, permohonanmu akan dikabulkan.” Benar. Sarah telah mendapatkan sebuah karunia yang luar biasa. Seorang bayi perempuan yang montok dan lucu.
“Pa, jangan lupa kasih tahu suster supaya nanti sore kupingnya ditindik. Tadi saya sudah suruh Candy beli anting emas dua gram di pasar.” Pasangan muda itu saling bertatapan, saling tersenyum, dan kemudian berpelukan.
“Ma, aku sudah siapkan nama untuknya, Soleha. Mama ada titipan nama apa? Jadi bisa digabung,” kata suaminya dengan suara setengah berbisik sambil tak henti-hentinya mengelus-elus kening istrinya.
“Arini, Pa. Kita taruh nama pilihan aku itu di depan,” jawab istrinya dengan manja. Jadilah Arini Soleha. “Mudah-mudahan kalau sudah besar nanti kamu tidak berjodoh dengan Baim Wong, nak. Karena jelas-jelas usia kalian terpaut sangat jauh. Dia pasti sudah jadi kakek-kakek peot.”
Sukacita, ungkapan apalagi yang paling tepat untuk menggambarkan kebahagiaan itu. Buah cinta anak manusia, orok yang belum mengerti apa-apa itu, adalah harta yang paling berharga bagi setiap keluarga. Sehingga Sony tak pernah habis pikir bagaimana seorang ibu tega membuang bayi merah yang baru dilahirkannya di WC umum ke dalam tong sampah. Dibungkus tas kresek lagi. Untung cepat ketahuan, sehingga bisa diselamatkan. Tapi banyak juga yang ditemukan dalam keadaan sudah meninggal, atau sudah dicekek sebelumnya.
Laknat sekali perbuatan mereka. Lebih parah lagi, (calon) bapaknya juga ngilang begitu saja. Kalaupun tahu, biasanya dia berlagak bego. “Itu bukan saya. Pasti orang lain. Kan, saya bukan pemain tunggal. Salome,” kilahnya.
Heeeeey … manusia laknat, setan apa gerangan yang telah merasuki kalian hingga berperilaku lebih rendah dari binatang?! Apakah kalian tidak malu? Apakah kalian tidak takut pada hukum Tuhan?
Kalau saja Sony ketemu langsung dengan mereka, pasti dia jewer kupingnya hingga molor sepuluh senti. Setelah itu, serahkan saja kepada penduduk. Biar ditentukan hukuman apa yang sepadan untuk perilaku bejat seperti itu. Dirajam? Why not? Mereka sangat pantas mendapatkan hukuman yang pedih itu. Ini kan cuma siksa dunia. Masih jauh lebih ringan daripada siksa di akherat kelak.
Lagian, apa sih, yang mereka takutkan, sehingga harus membunuh bayi yang tak berdosa itu? Malu? Waktu berbuat, apakah sudah dipikirkan masak-masak akibatnya? Tentu saja tidak. Lha wong lagi asyik melek-merem. Kalaupun sempat terpikir, pasti setan akan langsung menutup keran aliran darah ke akal sehat dan membuka lebar-lebar semua hidran untuk menggelontorkan campuran darah-oksigen-viagra-sosis-acar-kopi-bir ke dalam syaraf-syaraf birahi, seperti yang sering mereka lakukan terhadap kuda maupun singa.
Setan menang lagi. Rencananya sangat jelas. Manusia digiring melakukan dosa yang lebih besar setelah dia berhasil menjerumuskan mereka ke dalam jebakan mautnya. “Bunuh saja. Biar tidak bikin repot. Kalian kan masih muda. Energi besar, dan meluap-luap. Harus disalurkan setiap hari.”
Di rumah kosong itu, seorang remaja kencur agak ragu-ragu ketika hendak memasukkan bayi yang baru dilahirkan ceweknya ke dalam kantong plastik. Gamang. Sekali lagi ditengoknya pacarnya yang masih tergolek pingsan karena pendarahan. Orok merah yang dibungkus kain pel berwarna biru kusam itu terus menangis. Dia bekap mulutnya agar mau diam. Bayi itu malah menangis sejadi-jadinya. Nuraninya mengatakan tak tega. Tapi setan terus membujuknya, “Ayo. Lakukan. Lakukan. Bunuh saja. Nanti kita bikin reuni di neraka.” Mau, kamu?
Ada pula yang takut tak mampu menghidupi si orok nantinya, sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidup sang bayi agar tidak membebani dirinya kelak. Sok tahu mereka. Dan mau menangnya sendiri. Setiap anak lahir ke dunia membawa rezekinya masing-masing. Sudah diatur dari sononya. Tidak usah khawatir. Rajin-rajin sajalah sholat dhuha. Niscaya akan segera diturunkan rezeki yang masih menggantung di langit dan dimunculkan yang masih tenggelam di lautan. Tapi bukan berarti tak perlu bekerja keras untuk menafkahinya. Harus terus bekerja keras, sambil memohon ampunan Tuhan. Allah pasti akan mengampuni dan memberikan jalan keluar bagi orang-orang yang mau bertobat dan memperbaiki diri.
Lagian, ngapain mesti dimatiin? Pendek banget loe punya pikiran. Berikan saja kepada orang. Tidak harus panti asuhan. Kalau takut ketahuan, tinggalkan saja di masjid, misalnya. Itu lebih baik, dan beradab. Jangan ditaruh di bak sampah. Kasihan. Bayi juga manusia. Banyak kok keluarga-keluarga – walaupun kehidupan mereka tidak terlalu berkecukupan secara materi – yang mau menerima dan membesarkan bayi yang bahkan tidak pernah mereka kenal siapa orangtua kandungnya?
Jadi …, sekali lagi, jangan dimatiin! Emangnya eloe bisa menciptakan kehidupan, sehingga eloe berani menghilangkan sebuah kehidupan? Ngaca! Hargai kehidupan! Sony jadi agak lepas kendali dan terlalu berapi-api mengenai soal yang satu ini.
Anak itu anugerah Tuhan, dan juga milik Allah. Orangtua hanya menerima titipan, amanah untuk membesarkannya menjadi orang yang baik dan berguna. Dan itu pun tidak gratis. Tuhan akan membayar semua jerih payanya. Akan diberikan ganjaran yang sepadan. Jangan khawatir soal makannya, bajunya, sekolahnya. Itu anak sudah punya garis rezekinya sendiri.
Para orangtua dahulu bahkan percaya, “Banyak anak banyak rezeki”. Tak terhitung keluarga yang memiliki anak lebih dari sepuluh. Sepuluh? Ya, sepanjang mampu menyayangi dan mendidik mereka secara baik. Tapi kalau merasa belum mampu, sebaiknya jangan. Banyak jumlahnya, tapi tidak terurus, alias keleleran. Sehingga berkontribusi besar terhadap penciptaan generasi yang kurang berkualitas. Mendingan ikut KB, cukup dua anak, laki perempuan sama saja. Jadi, ini bukan melulu soal bagaimana memberi makan. Melainkan, bagaimana memberikan kehidupan yang berkualitas kepada mereka.
Soal, kasih makan? Gampang. Tak usah takut. Jangan sekali-kali anak dianggap sebagai beban tambahan. Sebaliknya, sebagai pemacu semangat untuk bekerja lebih keras. Lihat saja Cina, yang jumlah penduduknya lebih dari 1,3 milyar jiwa. Toh, mereka bisa hidup makmur. Tak kurang makan. Bahkan dapat dikatakan berkelimpahan. Memang, ada pembatasan jumlah anak di sana. Tapi itu bukan karena takut tidak bisa kasih makan. Ini masalah keterbatasan ruang untuk hidup. Luas wilayah kan tidak serta merta bisa dimekarkan untuk menampung penduduk yang jumlahnya berjibun. Lagian, mengurus orang sebegitu banyak pasti juga tidak mudah, kan?
“Pak, ini daftar uang makan karyawan. Saya juga sudah siapkan cek dan giro yang harus Bapak tanda tangani.”
Ucapan Anita membuyarkan lamunannya. Seraya mengucek-ucek kedua matanya, Sony memeriksa berkas-berkas yang diajukan oleh staf keuangannya itu. Setelah memastikan semuanya beres, dia langsung membubuhkan tanda tangannya. Gadis berjilbab itu segera memasukkan berkas-berkas tersebut ke dalam map. Tak lupa pula dia membereskan meja Sony yang agak berantakan.
“Bapak, kalau merokok abunya jangan ke mana-mana, dong. Kasihan OB, harus membersihan sampai ke kolong.”
Anita kadang berfungsi seperti sekretaris baginya. Meski Sony punya seorang sekretaris, Sandy namanya. Hanya saja orangnya kurang cekatan. Namun, karena molek luar biasa, banyak klien Sony yang merasa senang dan nyaman dilayaninya, sehingga Belanda Depok itu tetap dipertahankannya. Sebagai pajangan. Sedangkan untuk urusan-urusan penting, selama ini Anitalah yang menanganinya.
Gadis Tionghwa asal Pontianak itu memang pekerja yang handal. Di samping mengurus keuangan, perempuan beranak satu itu juga berfungsi ganda menangani urusan umum. Untuk urusan surat-surat, Sony lebih suka melakukannya sendiri. Tapi dia merasa sangat beruntung memiliki karyawan seperti Anita. Di samping cekatan dan pintar, wanita berkulit putih bersih yang hanya lulusan kursus komputer itu rajin sekali sholatnya. Namun, kadang-kadang sikapnya suka ketus, dan ngomongnya ceplas-ceplos. Tidak apa-apa. Pada dasarnya dia orang yang baik dan sopan, dan lebih penting lagi, bisa dipercaya.
Kepercayaan adalah sesuatu yang tak dapat ditawar, dan tidak boleh diciderai. Apalagi kalau sampai dimanfaatkan untuk tujuan mengelabui. Seperti yang pernah dilakukan pemerintahan Odol Bau di masa lalu. Dengan menyodorkan dalil-dalil yang menyesatkan namun meyakinkan, mereka mengatakan bahwa jumlah penduduk yang banyak akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Sehingga kesejahteraan akan lebih sulit diraih. Karena terlalu banyak mulut yang harus disuapi. Ini benar-benar ngapusi.
Negara melihat anak-anaknya, penduduk yang berjubel itu, sebagai kendala kemakmuran. Manusia dipandang sebagai beban. Padahal negara-negara maju jauh-jauh hari sudah melihat penduduk Indonesia yang jumlahnya banyak sebagai pasar yang menggiurkan. Demikian pula cara pemerintah Cina memandang penduduknya yang berdesak-desakan. Sebuah pasar raksasa yang mampu menggerakkan ekonomi pada gigi delapan. “Wuuuuuus … yang lain, jadi ketinggalan,” kata Komeng.
Di mana pun di dunia ini, ekonomi digerakkan oleh konsumsi. Dan konsumsi pula yang membuat sektor riil terus menggelinding seraya membagi-bagikan daya beli. Sehingga real economy, bukan bubble economy, tanpa perlu disuruh-suruh akan jalan sendiri. Tak perlu khawatir kekurangan beras untuk memberi makan penduduk yang banyaknya seperti tumpukan jerami. Impor saja kekurangannya bila produksi rumput berbulir di dalam negeri belum mencukupi. Juga bisa digalakkan diversifikasi pangan, sehingga tidak melulu tergantung pada butiran padi. Toh, purchasing power akan terbentuk dan menguat sendiri sepanjang sektor riil tidak enggan melangkahkan kaki. Tak akan terjadi busung lapar sepanjang masyarakat memiliki daya beli. Jadi, jangan menganggap mulut-mulut yang mangap itu sebagai sesuatu yang membebani. Sebaliknya, tanpa daya beli, akan sulit untuk mewujudkan ketahanan pangan maupun memasyarakatkan diversifikasi pangan. Tanpa daya beli, yang ada hanyalah keterpaksaan pangan. Terpaksa makan nasi aking. Terpaksa makan singkong. Terpaksa menyantap makanan kadaluarsa. Terpaksa tidak makan.
Namun, banyak orang yang menganggap tugasnya selesai begitu saja setelah mampu membuat perut anaknya kenyang dan memberikan pakaian yang bagus-bagus. Belum, Tuan. Mereka bukan binatang piaraan, yang sekedar butuh makan cukup dan kandang yang bersih. Kertas putih polos itu harus diisi dengan tulisan dan gambar yang baik-baik agar anak nantinya tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi keluarga dan masyarakat. Lebih penting lagi, membesarkan anak dengan kasih sayang, karena itulah sumber gizi yang sesungguhnya sangat mereka butuhkan.
Kasih sayang. Memang takarannya tak gampang. Tidak boleh berlebihan dan tidak boleh pula kurang. Tengok saja kebiasaan para orangtua yang memperlakukan bayi dengan extra hati-hati. Tidak seperti orang Barat yang membiarkan bayi merah tengkurap begitu saja. Mereka tidak tega melakukannya. Karena bayi belum kuat mengangkat kepala. Takut kalau-kalau mulut dan hidungnya menempel di kasur dan menutup jalan pernapasan. Bahkan, obat puyer dari dokter harus diminumkan ke anak dengan dicampur gula terlebih dahulu. Biar tidak pahit. Makanya, orang Indonesia tidak suka minum susu tawar. Karena sedari kecil sudah dibiasakan dengan yang manis-manis. Sehingga, kalau ada produsen yang ngotot menjual susu tawar kalengan siap minum di sini, sesungguhnya mereka sedang menyusahkan diri sendiri. Atau, sedang melakukan proses edukasi konsumen? Biar sajalah. Itu urusan mereka. Pasti sudah ada hitung-hitungannya.
Justru Sony belum pernah menemukan produk saus tomat khusus anak. Padahal, kedua anaknya, Rizky dan Salsa, demikian pula anak-anak sebaya mereka, doyan sekali saus tomat. Chicken nugget dan sosis tak akan mereka sentuh bila tidak ada saos tomatnya. Bikin saja Tomato Kidz, misalnya. Saus tomat yang agak manis. Biar mereka tambah lahap makannya. Juga Chili Kidz, yang tidak terlalu pedas. Karena anak senang mencoba-coba makanan orang dewasa. Eh, kebalik. Orang dewasa malahan yang suka iseng makan cemilan anak. Karena rasanya memang enak. Para produsen tahu benar, anak sering kali susah makan. Makanya mereka beramai-ramai memanjakan anak dengan ratusan, bahkan ribuan, jenis cemilan yang menggoda selera.
Tapi Sony selalu berusaha tidak terlalu memanjakan kedua anaknya. Sesekali dia menghukum mereka bila agak bandel. Hal tersebut sama sekali tak membuat anak-anaknya menggaris jarak dengannya. Hanya saja, semenjak masuk TK, Salsa tak pernah mau lagi dikeloni bapaknya. Dia langsung menolak apabila papanya menawarkan diri untuk mengeloninya.
“Papa suka kentut, dan berminyak,” katanya, sambil menunjuk wajah Sony yang mengkilap.
Agak tersinggung dia dibilang seperti itu oleh anaknya sendiri. Tapi, sudahlah. Pasti gadis imut yang gemar ngupil itu tak punya maksud apa-apa. Asal ngomong. Tiada sedikit pun niatan untuk menyinggung perasaan papanya. Namun, bukan Sony namanya kalau tidak menemukan jalan memutar untuk mewujudkan keinginannya. Setiap kali putrinya yang suka tidur ngiler itu terlelap sambil memeluk bantal iler favoritnya, Sony pelan-pelan merebahkan diri di sampingnya. Dia elus-elus keningnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Dia ciumi rambutnya yang wangi. Dia pegang-pegang hidungnya yang mungil. Dia usap-usap pipinya yang lembut.
Tanpa sadar, Salsa, yang tampaknya sedang bermimpi, memeluknya. Tangannya yang kecil suka usil menggaruk-garuk leher Sony. Mungkin dia mengira sedang dikeloni mamanya. Sony senang-senang saja. Karena mendapatkan bahan untuk meledek putrinya secara telak. “Sa, waktu tidur semalam, kamu peluk-peluk Papa, ya?”
Mendengar ucapan papanya seperti itu, Salsa biasanya malu, langsung ngambek, marah dan kemudian menangis agak lama. Tapi tangisnya akan segera reda begitu Sony mulai menceritakan petilan-petilan kisah dari masa kecilnya kepada putrinya yang luar biasa susah kalau disuruh gosok gigi itu. Bahkan, rasa-rasanya Salsa sudah hapal semua kisah masa kecil Sony. Sering dia merengek-rengek memintanya bercerita. Tak pernah bosan, meskipun cerita itu diulang-ulang, karena Sony sudah banyak lupa akan kenangan masa kecilnya.
Kegemaran Salsa mendengarkan cerita persis sama seperti ketika Sony masih kecil dulu. Dia selalu merengek-rengek kepada ibunya agar mau mendongeng. Kebetulan, ibu Sony memiliki perbendaharaan cerita yang luar biasa. Sebagian besar cerita rakyat, dan sebagian lagi dongeng-dongeng dari Eropa, terutama karangan H.C. Andersen. Namun Sony kecil suka bingung sendiri, karena kalau sedang asyik bercerita, tanpa sadar ibunya sering mencampur-campur bahasa: Jawa, Jepang, Belanda, Inggris dan Indonesia. Salsa selalu mengingatkannya pada kenangan masa kecil. Mereka berdua memiliki banyak kemiripan di usia yang sama. Ngiler kalau tidur. Suka ngompol. Malas gosok gigi. Gemar menyantap cemilan yang gurih-gurih.
Lain lagi Rizky, anak sulungnya. Sepertinya dia asyik bergelut dengan dunianya sendiri. Hobinya mengumpulkan poster mobil balap. Komputer di kamarnya juga penuh dengan gambar-gambar mobil supercepat itu. Makanya, setiap kali ke luar negeri, Sony selalu menyempatkan diri memborong majalah-majalah otomotif untuk putra kesayangannya itu. Dan, anehnya, untuk anak seusianya, Rizky sama sekali tidak tertarik main PS. Dia justru menemukan keasyikan membongkar pasang komputernya. Merakit-rakit sendiri. Tambah hardware ini. Tambah itu. Hingga pernah suatu kali CPU-nya jebol. Terlalu banyak hardware dan pheripheral yang dicangkokkan. Kipas pendingin tak mampu lagi mengusir udara panas dari dalam kotak kaleng tersebut.
Sungguh beruntung anak-anak sekarang. Sony baru mengenal komputer kira-kira di akhir tahun delapan puluhan. Masih pakai disket lebar yang mungkin sudah punah kini. Memory hanya delapan mega. Paling tinggi enam belas mega. Kapasitas harddisk yang terbesar cuma lima ratus empat puluh mega. Game yang paling populer adalah digger.
Dulu, ketika masih seusia Rizky, satu-satunya hiburan Sony adalah buku-buku cerita dan bacaan apa saja. Semenjak kelas lima SD, dia dipercaya oleh gurunya memegang kunci lemari perpustakaan. Mungkin Pak Wakijan bosan karena hampir setiap hari Sony meminjam kunci untuk menukar buku cerita yang sudah selesai dibacanya. Hingga lulus SD, buku-buku cerita selemari penuh habis diganyangnya. Belum lagi bacaan di rumah. Karena keluarganya memang gemar membaca, terutama ibunya. Sony masih ingat, di rumahnya dulu berlangganan beberapa majalah dan koran.
Semasa TK, Sony sangat dimanjakan oleh ayahnya. Ke mana-mana selalu digendong di pundak. Minta apa saja tak pernah ditolak. Kalau tidak dikeloni bapaknya, tidurnya tak pernah nyenyak. Mandi juga bapaknya yang harus bergerak. Memakaikan baju juga bapak. Pendeknya, anak bapak. Menangis pun tak pernah memanggil-manggil ibunya. “Wawa’i … Wawa’i … Wawa’i ….” Tangisan seperti itulah yang dinyanyikan Sony apabila dijahili kakaknya atau sedang dimarahi oleh ibunya. Dia merengek-rengek memanggil bapaknya. Tidak seperti anak kecil pada umumnya, yang selalu memanggil-manggil ibunya bila sedang menangis.
Sony sepenuhnya sadar, tidaklah baik memanjakan anak. Bukan hanya dalam hal perlakuan, tetapi juga benda-benda kesukaan yang sering mereka tuntut untuk dibelikan. Sesekali dia tolak permintaan anaknya apabila barang yang mereka inginkan dianggapnya tidak terlalu penting. Namun, dia melihat banyak juga orangtua yang sangat memanjakan dan overproteksi kepada anak. Sony percaya, kebiasaan seperti ini menjadikan anak kurang mandiri. Mereka jadi manja. Sedikit-sedikit minta tolong. Maunya ketemu yang enak-enak melulu. Ingin apa-apa main suruh. Tak mau susah. Sehingga apabila suatu saat nanti harus ketemu dengan kenyataan hidup yang pahit, mereka tidak siap menghadapinya, bahkan cenderung lari menghindar, karena sejak kecil selalu dilindungi secara berlebihan. Tentu, tak seorang pun yang ingin menciptakan generasi manja seperti ini.
Namun, tidak semua anak beruntung mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari orangtuanya. Apalagi dimanjakan oleh bapak-ibunya. Banyak juga anak yang tak pernah mengenal orangtua kandungnya. Tidak pula merasakan kasih sayang mereka. Semenjak bayi sudah dijual dengan alasan ekonomi. Sebagian lagi melego murah bayinya akibat hamil tanpa suami. Masih untung bila dijual kepada keluarga yang sudah lama merindukan kehadiran bayi. Karena banyak juga orok yang dikirim ke luar negeri. Berakhir tragis di meja operasi. Organ-organ dalamnya dipereteli. Untuk kepentingan transplantasi. Agar anak-anak di negara-negara kaya sehat kembali. Sehingga orangtuanya kembali tersenyum dengan wajah berseri-seri.
Lebih menyedihkan lagi, belakangan ini tindak kekerasan terhadap anak terjadi hampir setiap hari. Kasus Arie Hanggara yang sempat bikin geger Indonesia di era delapan puluhan, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan keadaan yang berlaku sekarang. Berita-berita mengenai tindak kekerasan terhadap anak yang ramai menghiasi layar kaca hanyalah sebuah puncak gunung es. Tekanan ekonomi menjadikan orang gelap mata. Tak hanya orangtua tiri atau orangtua angkat, orangtua kandung pun ikut-ikutan menyiksa anaknya. Rasa-rasanya, OST filem Ratapan Anak Tiri yang pernah menguras habis air mata penonton Indonesia pada tahun tujuh puluhan itu sudah waktunya direvisi liriknya. Karena dibesarkan sendiri oleh orangtua kandung tak lagi menjadi jaminan seorang anak akan bebas dari siksa.
Meski perlindungan anak sudah diatur oleh Undang-Undang, dan sudah pula dibentuk Komnas Perlindungan Anak, tindak kekerasan terhadap anak masih sering terjadi. Modusnya tak banyak berubah. Dipukul tanpa alasan, dikurung di kamar mandi, tidak dikasih makan, disundut dengan api rokok, dan sejenisnya. Pelakunya itu-itu juga. Bahkan sekarang berkembang menjangkiti orangtua sedarah. Korban terus berjatuhan. Mulai dari yang tinggal tulang berbalut kulit, luka dan memar di sekujur tubuh, hingga yang mati dan dikubur di bawah lemari. Liputan media hanya mampu membangkitkan rasa iba dan simpati. Efek jerah tidak bekerja maksimal. Karena para pelaku tidak diganjar dengan hukuman setimpal. Mereka sekedar dianggap sebagai kriminal.
Tak hanya manusia, hewan juga ikut-ikutan melakukan tindak kekerasan terhadap anak. Seorang gadis kecil menjerit-jerit kesakitan karena wajahnya dicakar monyet jinak. Untung ada orang lewat. Ditendangnya monyet itu sekeras-kerasnya hingga mencelat. Sepertinya monyet itu sangat kesakitan. Langsung ngibrit memanjat pohon rambutan. Gadis mungil bernama Chusnul Chotimah itu berhasil diselamatkan. Penduduk segera berkerumun seperti orang-orang yang sedang arisan. Segera distop seorang pengendara motor yang lewat. Dipangku bapaknya, Chusnul dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat. Untung lukanya tak terlalu berat. Hanya beberapa goresan kuku tajam di pipi dan keningnya. Tak ada bekas gigitan di badannya.
Beberapa orang melempari monyet bengal itu dengan batu. Semakin ketakutan, monyet tersebut naik ke puncak pohon dengan tatapan mata kaku. Dua orang polisi yang berboncengan motor kebetulan lewat, dan langsung berhenti melihat keramaian itu. Kedua polisi tersebut mencoba meredakan amarah penduduk yang bergerombol di sana. Mereka menurut, tapi menuntut monyet sialan itu ditangkap, agar tidak jatuh korban lagi nantinya.
Polisi yang masih muda-muda itu kebingungan dibuatnya. Tidak mungkin menembak munyuk nakal itu. Mereka tak bawa pestol. Lantas, bagaimana mungkin menangkap monyet yang nongkrong ketakutan di pucuk pohon yang tinggi? Lagian, sesuai prosedur, pelaku kejahatan yang sudah menyerah tak boleh disakiti. Tapi beberapa anak muda menghampiri mereka. Memberikan sebuah saran sambil ketawa-ketawa. Anehnya, ide gila tersebut langsung disetujui semua orang.
Rupanya, monyet ugal-ugalan ini gemar menenggak bir. Awalnya tidak sengaja, mungkin juga iseng tanpa dipikir. Singgir, nama monyet peliharaan Pak Hadiri itu, memang sering dibiarkan berkeliaran bebas. Di dalam kemerdekaan tanpa tanggung jawab itu, Singgir suka mengais sisa-sisa bir dari botol-botol yang dibiarkan berserakan oleh pemuda-pemuda pengangguran yang pada teler. Monyet berandalan tersebut kayaknya sangat menikmati minuman beralkohol yang memabukkan itu, dan kadang-kadang ikut teler bersama mereka. Pernah sekali Singgir diberi sebotol besar bir yang masih utuh. Baru dibuka tutupnya, bukan sisa. Gila. Satu botol ditenggak habis. Singgir sempoyongan. Kemudian rebahan di perut Sigit yang sudah terkapar duluan.
Dari sinilah ide itu muncul. Segera dibeli sebotol bir sebagai umpan buat si gundul. Begitu tutup botol dibuka, Singgir langsung bereaksi. Pada awalnya kelihatan ragu sekali. Mungkin masih takut-takut, karena ada banyak orang di sana. Namun aroma cairan memabukkan itu begitu menggoda. Hasratnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dengan langkah ringan khas monyet, Singgir turun dari pohon tanpa perlu tali. Dia abaikan kerumunan manusia di sekitarnya. Diraihnya botol yang penuh minuman berbusa. Diangkat dengan kedua tangannya yang kecil dan kemudian ditenggak habis dalam sekejap. Tak berapa lama reaksi itu mulai menyergap. Singgir langsung rebahan, tengkurap. Teler. Polisi dengan mudah menangkapnya. Kemudian memborgol tangan kecilnya dengan borgol mini yang biasa digunakan untuk memborgol penjahat pada kedua ibu jari.
Sony salut dengan tindakan tegas polisi. Jangankan manusia, hewan yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak pun akan diuber hingga ke pucuk pohon yang tinggi. Ini penting, agar menjadi peringatan yang tegas bagi hewan-hewan lainnya. Jangan coba-coba. Kalau tak mau celaka. Singgir kemudian dibawa ke Kantor Polisi untuk diinterogasi. Sudah disiapkan pasal-pasal tuduhan terhadap monyet ini.
Tapi masalahnya tak berhenti di sini. Pak Hadiri yang baru pulang dari pasar diberitahu bahwa Singgir ditangkap polisi. Dengan menumpang ojek, dia bergegas pergi ke Kantor Polisi. Pria berjambul itu murka besar. Menuduh polisi telah berlaku kasar. Menyakiti anak angkat kesayangannya yang berkandang di balik pagar.
“Saya akan tuntut Kapolres. Ini namanya penculikan.”
Penculikan? Benar. Penculikan anak kian menjadi-jadi. Ini kejahatan yang luar biasa keji. Manusia-manusia pengecut melakukan teror berganda. Beraninya cuma ngumpet sambil mengancam orang-orang tak berdaya. Menuntut tebusanan bagi kebebasan sandera. Bukan hanya membahayakan jiwa anak, orangtua pun menjadi korban teror perasaan dan pikiran. Ditambah lagi dengan trauma psikologis pasca-penculikan, sesungguhnya mereka melakukan kejahatan yang berkelipatan. Karena itu, pelaku penculikan pantas diganjar dengan hukuman mati. Biar mereka tahu diri.
Anak terlambat pulang sekolah saja, orangtua kebingungan setengah mati. Apalagi kalau sampai harus terpisah dalam hitungan hari. Seraya menunggu kabar yang serba tidak pasti. Sony tak mampu membayangkan bagaimana orangtua korban penculikan dilanda kegalauan hati. Bukan hanya stres, mereka pasti sangat tersiksa membayangkan anaknya berada di tangan penculik tak berbudi. Apa sudah dikasih makan? Apakah sakit atau sehat? Apakah tidak dianiaya? Apa diperlakukan dengan baik? Orang akan lebih tabah menghadapi kenyataan bahwa anaknya sudah meninggal daripada membayangkan, apalagi menyaksikan, anaknya tersiksa. Tego patine, gak tego larane.
Polisi terlalu lunak dalam menangani pelaku kejahatan keji ini. Begitu tertangkap, mestinya tak perlu langsung dibawa ke Kantor Polisi. Harus diberi pelajaran biar mengerti. Tembak saja di bagian kaki. Beri hadiah bogem mentah di dahi. Kalau perlu dipaksa makan tahi. Atau, disuruh minum kencingnya sendiri. Agar menjadi pesan yang jelas bagi siapa saja yang coba-coba melakukan kejahatan seperti ini. Tak masalah pula bila ditembak mati. Masyarakat tak akan protes sama sekali. Bilang saja, ketika akan ditangkap, mereka melawan aparat. Mencoba lari sambil melompat-lompat. Mau ditembak kakinya ternyata kena jidat. Dor dinak mate’ disa, kata orang Madura. Dor di sini yang mati di sana.
Wahai … para pengacara, jangan sekali-kali membela penjahat jenis ini. Percuma, buang-buang energi. Mereka tak punya uang barang selembar. Karena tertangkap, tebusan tak terbayar. Biar saja bengong sendiri di balik jeruji kamar. Karena sudah bikin malu keluarga dan pacar. Besok pagi mereka akan dicecar. Dengan pertanyaan-pertanyaan tajam yang mengakar. Kalaupun mereka tetap harus didampingi pembela, carikan saja pengacara yang paling blo’on se-Indonesia. Dan pilih hakim yang paling galak sedunia.
Pak Jaksa …, tuntut mereka dengan tuduhan berlapis. Sehingga tak mampu lagi menepis. Sekalipun memohon belas dengan menangis. Hukuman mati tetap harus ditulis. Protes dari mana saja tak perlu digubris.
Di bawah siraman hujan gerimis. Regu tembak itu berbaris. Senapan sudah terisi mimis. Kelima penculik berdiri berjajar membentuk garis. Tanda silang kuning digambar di pelipis. Salah seorang pesakitan ketakutan hingga pipis. Komandan regu tembak cuma menatapnya sambil meringis. Dia memalingkan muka. Kemudian membuang ludah. Raja Algojo sudah siaga. Memberi aba-aba dengan suaranya yang gagah. “Sekali tembak langsung lima,” ujarnya, memberi perintah.
Pak Komandan …, tunggu …! Jangan ditembak dulu. Ganti pelurunya dengan ulat bulu. Biar badan mereka gatal dan garuk-garuk melulu. Maka para penculik itu pun mati secara perlahan dengan sekujur tubuh bengkak-bengkak.
“Kenapa mukamu bengkak?” Bu Purnama terkejut melihat pelipis kiri Tiara lebam dan memar. Sepiring nasi goreng dan susu cokelat di nampan itu pun tumpah memenuhi lantai kamar. Dia sedang membawakan makanan untuk anak semata wayangnya yang sedang di-grounded karena ketahuan pakai narkoba. Ayahnya, Pak Djamin, menemukan bubuk putih di lipatan kertas bernoda. Bungkusan kecil itu terjatuh tanpa sengaja. Dari kantong telpon seluler anaknya yang tergeletak di meja. Dia shock. Marah. Dan langsung mengambil tindakan tegas. Tiara harus dikurung di dalam rumah selama dua minggu. Siapa pun tak boleh ketemu. Sekolah bolos dulu. Ini soal tergolong gawat.
Rupanya Tiara membentur-benturkan jidatnya ke tembok. Karena sudah tidak tahan lagi dikurung di kamar bergembok. Sakau. Atau, pura-pura sakau. Badannya menggigil. Gemetaran karena sudah dua hari tak mau makan maupun ngemil. Mukanya pucat pasi seperti lontong. Tatapan matanya kosong. Punggungnya bersandar di dipan. Kedua kakinya berselonjor begitu saja di lantai papan. Naluri seorang ibu melihat keadaan anaknya seperti itu pasti langsung bangkit. Tak tega rasanya melihat putri kesayangannya terlihat sakit. Dengan panik dan setengah menangis Bu Purnama langsung menelepon suaminya. “Pak, bagaimana ini? Tiara memukul-mukulkan kepalanya ke dinding. Bisa mati anak kita.”
Tetangga depan rumah Sony itu bergegas pulang dari kantornya. Was-was juga hatinya. Tapi Pak Djamin tetap pada keputusannya. Tiara harus tetap dikurung di kamarnya. Kemarin, Mas Darman, sepupunya yang dokter tentara itu, menyempatkan diri mampir ke rumahnya. Memeriksa Tiara. “Tidak apa-apa. Belum kecanduan. Masih coba-coba. Tindakan Dik Djamin sudah tepat. Kurung saja untuk sementara. Awasi pergaulannya. Jangan sampai kumpul lagi sama teman-temannya yang pengguna. Kalau masih macam-macam, dicambuk saja. Tidak akan mati. Demi kebaikan dia sendiri,” ujar Mas Darman.
Sony setuju belaka. Sesekali anak perlu dikerasin. Dipukul bokongnya. Biar tidak ngelunjak. Para guru sah-sah saja menjewer atau, kalau perlu, menempeleng murid yang kenakalannya sudah keterlaluan. Asal jangan keras-keras, Pak. Ini sama sekali bukan kekerasan dalam dunia pendidikan, seperti yang sering digembar-gemborkan oleh media, sehingga murid-murid bengal semakin mendapatkan angin. Ngawur itu. Itu merupakan upaya menegakkan kedisiplinan untuk menyelamatkan mereka.
Emangnya, kalian, para orangtua, mau anak pulang sekolah digotong orang karena ada belati menancap di punggungnya. Mulut monyong dan gigi rontok akibat dihajar dengan gir dalam ajang tawuran. Nyawa melayang karena perutnya disabet pedang dalam duel keroyokan. Tangan jadi buntung karena menghadang kelewang. Ini soal yang lebih gawat. Yang lebih membutuhkan perhatian kita semua para orangtua, termasuk pemerintah dan media.
Begitu pula dalam soal narkoba. Baik pengguna, pengedar, bandar maupun produsen, semuanya sama-sama kriminal. Hanya saja, derajat kejahatannya beda-beda. Pengguna narkoba tidak perlu ditempatkan sebagai korban. Keenakan mereka. Lha wong dia sudah merasakan “enaknya” surga khayal. Mereka sadar kok, ketika melakukan kebodohan itu, dan, melanggar hukum. Salahnya sendiri. Rasain.
Termasuk Tiara, tetangga depan rumah Soni itu. Dengan cecaran pertanyaan dari kedua orangtuanya, gadis kelas dua SMU yang suka mengajak Salsa main boneka tersebut akhirnya mengaku sudah hampir sebulan jadi pengguna. Pertama dikasih teman nongkrongnya. Selanjutnya beli sendiri, dengan menjual kalung emas hadiah ulang tahun dari ibunya. Asalnya coba-coba. Lama-lama ketagihan pula.
Sony jadi teringat Hamdun, teman SMA-nya dulu. Remaja kerempeng itu dipukuli oleh ayahnya pakai rotan hingga masuk rumah sakit. Gara-garanya, ketahuan mengisap ganja meski hanya sedikit. “Mending saya pukuli sendiri. Daripada digebuki polisi. Mau mati?” kata Pak Rohman, kepada teman-teman sekolah yang sedang membesuk putranya. Sepertinya dia ingin memberi tahu, sekaligus mengancam, teman-teman anaknya. Meski berbicara dengan nada marah, tetap terlihat gurat penyesalan di wajahnya. Tangannya telah lepas kendali. Memukuli anak sulungnya hingga hampir mati. Mondok seminggu di rumah sakit Bhayangkari.
Tiara kembali ceria. Sudah tak mau lagi pakai narkoba. Dikasih gratisan dia tolak mentah-mentah. Dengan marah-marah. Malahan, dia maki habis Henny. Karena mencoba mengajaknya kembali melayang ke alam khayal yang tak bertepi. “Bubuk setan. Bikin aku bertingkah seperti hewan. Begitu bodohnya menggadaikan masa depan. Biar disangka jagoan. Padahal cuma jadi pecundang. Tangan digadang-gadang. Diseret masuk ke dalam kandang.” Mau?
“Mau. Mau sekali, Pa.”
Rizky tampak kegirangan. Sony memberikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai hadiah bagi anaknya yang baru saja dikhitan. Bukan barang atau uang. Kebiasaan bagus ini mulai disosialisasikan secara luas semenjak awal tahun dua ribu oleh Yayasan Kado Anak Muslim, disingkat Yakamus. Sony pernah menghadiri acara peringatan milad yayasan itu di Hotel Indonesia. Didirikan dan sekaligus dimotori oleh Pak Achmad Subianto, mantan Direktur Utama PT TASPEN yang juga Ketua Baznas itu, organisasi nirlaba tersebut mengajak para orangtua untuk membekali anak-anak mereka yang sudah memasuki masa inisiasi kedewasaan dengan dua tuntunan utama bagi umat muslim, Al-Qur’an dan Hadits. Persis sama seperti yang dilakukan umat nasrani. Kepada remaja-remaja yang dibaptis diberikan Kitab Injil sebagai bekal mereka mengarungi kehidupan.
Sebagai orangtua, Sony merasa sangat risau dan khawatir melihat begitu bebasnya pergaulan para remaja di kota metropolitan Jakarta. Dia tak ingin anak-anaknya terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Dia sangat menyayangi Rizky dan Salsa, kedua buah hatinya itu. Begitu besar harapan yang dia gantungkan kepada mereka. “Rizky, Salsa,” demikian yang selalu dia mohonkan dalam setiap doanya, “Papa dan Mama ingin kalian menjadi orang yang baik bila sudah besar nanti.”

3. Pacar

“Tangkaplah aku. Dan penjarakan aku dalam hatimu,” kata penyair. Semua orang pasti sepakat, cinta adalah sesuatu yang menyihir. Mengubah wajah dunia. Memicu perang antarbangsa. Menggabungkan dua negara. Mempersatukan anak manusia. Dalam gelora asmara. Dan gairah menyala-nyala. Tapi cinta punya mata. Dan ia sama sekali tak buta. Hanya saja, memang luar biasa. Karena, love is a many splendoured thing. Meski tak harus saling memiliki, tambah Ebiet G. Ade, dengan iringan dawai gitar yang berdenting. Pokoknya susah diperikan. Bahagia. Senang. Gembira. Cemburu. Sedih. Marah. Susah tidur. Tak enak makan. Senyum-senyum sendiri. Patah hati. Bunuh diri. Jangan.
“Mana sikat cuci. Masukkan saja. Biar bersih sekalian,” Dokter Budi berteriak dengan suara yang dikeras-keraskan, sambil ketawa-tawa. Namun demikian, dokter yang ganteng lagi ramah itu tetap tidak kehilangan keseriusannya. Dibantu dua orang suster berseragam putih-putih, dia segera memberikan pertolongan pertama kepada pasien yang terus meronta.
Sony bertanya-tanya. Tak mengerti maksud ucapan dokter yang bernada canda. Ketika itu, bersama dua orang teman kosnya, Sony membawa Hengky ke rumah sakit. Kejang-kejang karena minum segelas air dicampur deterjen, ditambah gula sedikit. Ini bukan kali pertama. Empat bulan sebelumnya dia melakukan hal yang sama. Dokter Budi pula yang menolongnya.
Pacarnya minta putus. Hengky stres, serasa mau mampus. Asanya sudah pupus. Seperti orang linglung. Dua hari di kamar hanya berkurung. Anak mama ini akhirnya mengambil jalan pintas. Cuma akal-akalan agar mendapat perhatian dari pacarnya yang menyusul dengan langkah bergegas. Seperti anak kecil yang menangis berguling-guling, melakukan segala cara. Mencoba mempertahankan mainan yang hendak direnggut darinya. Sony tahu itu, dan maklum adanya. Tapi tak mungkin membiarkan teman kos mati dengan lambung yang putih bersih.
Sony sebenarnya tidak habis pikir. Apa sih, yang kurang? Hengky cowok yang moncer. Duitnya bercecer-cecer. Otaknya tergolong encer. Badannya terbilang tokcer. Kesukaannya makan ceker. Dengan nasi panas berteman sayur genjer. Ditambah ikan mujaer. Ditemani sepuluh cabe rawit yang berjejer. Minumnya seember. Sehingga dia sering boker.
Hengky … Hengky …. Apa lagi yang kurang sip? Pergi pulang ke kampus pakai mobil jip. Zaman segitu, mahasiswa yang bermobil bisa dihitung dengan jari. Pendeknya, hidup bagaikan gulali. Dengan segala limpahan kasih sayang yang dicurahkan kedua orangtuanya. Mereka bahkan cenderung memanjakannya. Sebulan sekali datang menyambangi anaknya. Membawa makanan dan kue kenari. Tak habis diganyang semua anak kos dalam tiga hari.
Banyak cewek naksir Hengky. Mengejarnya kesana-kemari. Tapi Hengky malah sembunyi dan lari. Menolak mentah-mentah rezeki yang datang menghampiri. Dia bilang cintanya hanya untuk seorang, Indira. Meski bukan pacar pertama, dan bukan pula cinta pertama, Indira segala-galanya baginya. Padahal, setahu Sony, Indira bukalah tipe cewek impian. Kulitnya agak legam, tapi wajahnya memang manis seperti mut-mutan. Orang bilang sifatnya keibuan. Ramah dan penuh perhatian. Apa gerangan, yang membuat Hengky begitu tergila-gila kepada Indira? Itulah cinta. Tak perlu harus begini, harus begitu. Kalau sudah cinta, ya suka begitu saja.
Namanya juga cinta. Kalau perlu tetangga sendiri dipacari. Nggopek we, tonggo dipek dewe. Itulah cinta monyet Sony, yang mulai kenal pacaran semenjak SMP kelas dua. Sebelumnya, sewaktu kelas satu, dia naksir berat sama Renata. Teman sekelasnya. Pada saat jam pelajaran Sony sering mencuri-curi pandang ke arahnya. Mata berbalas mata. Gadis yang suka menyematkan pita di rambutnya itu juga suka melirik-lirik dirinya. Sony mengiriminya surat cinta. Ditulis di secarik kertas kecil berwarna merah muda. Mengungkapkan perasaannya. Cinta berjawab, tapi berupa tanda tanya. Sony salah sangka. Ternyata selama ini dara cantik berkulit pualam itu melirik ke arah Wildan, teman sebangkunya. Meski malu karena ke-GR-an, Sony tak putus asa. Dia mulai menebar pandangan untuk menembak sasaran berikutnya.
Dapat juga. Nana. Teman sekolah sekaligus tetangga. Sekelas lagi, di IIA. Tempat tinggal mereka hanya berselang beberapa rumah. Kisah asmara bawang itu bermula di perpustakaan sekolah. Setiap jam istirahat, Sony selalu melihat gadis pendiam itu mojok membaca majalah. Sekali dua kali dia mengabaikannya. Kadang menyapanya. Toh, mereka sudah saling kenal sejak SD kelas tiga. Nana, murid baru ketika itu, pindahan dari Surabaya.
Kini, mereka sudah menginjak remaja. Sama-sama sedang mencari cinta. Karena sering bertemu, lama-lama tumbuh rasa tertarik di hati Sony terhadapnya. Tresno jalaran soko kulino. Ternyata Nana orang yang enak diajak bicara. Dia suka memasak. Sama seperti Sony. Dan, lebih gila lagi, Nana berterus terang kepadanya, bahwa dia sudah naksir Sony sejak SD kelas lima.
Mereka pun pacaran. Belajar bersama. Masak bareng. Kadang di rumah Nana, dan sering pula di rumah Sony. Nana juga pernah menjadikan Sony kelinci percobaan potong rambut. Hasilnya kacau. Sehingga harus pergi ke tukang cukur untuk merapikannya. Melihat sepasang kekasih belia itu sering pergi ke mana-mana barengan, para tetangga pada meledek, “Nggopek we, tonggo dipek dewe.”
Sebenarnya Sony malu diledek seperti itu, tapi dia berusaha mengabaikan mereka. Pernah sekali Nana mencium pipinya. Tapi Sony tidak merasakan apa-apa. Biasa-biasa saja. Jantungnya tidak berdebar-debar. Demikian pula, pada waktu semua murid di sekolahnya digiring ke gedung bioskop untuk menonton filem Giok yang dibintangi Rano Karno. Rupanya filem yang berkisah tentang percintaan antar-etnis itu cukup mempengaruhi Nana yang duduk di sampingnya. Nana menempelkan kepalanya ke lengannya. Heran, Sony juga tidak merasakan apa-apa.
Nana punya seorang sahabat. Larasati namanya. Cantik bagaikan bidadari. Rambutnya panjang tergerai. Bila menoleh, rambutnya yang lurus juga ikut menoleh. Indah sekali. Sony selalu terbayang-bayang wajah Larasati. Siang dan malam. Tapi dia berusaha menutupi perasaannya itu. Meski mereka sering pergi bertiga. Takut Nana cemburu. Dan, Larasati pasti juga tidak mau didekati oleh pacar sahabatnya.
Seperti Raja Minyak saja, ke mana-mana Sony diapit dua dara yang cantik-cantik. Agar sama-sama enak, dalam khayalnya Sony sering membayangkan terlibat cinta segitiga yang tidak sama kaki. Karena dia lebih condong ke Larasati. Meski tak mungkin menyatakan cintanya, Sony senang karena sering berada di dekat gadis impiannya.
Cinta monyet itu menguap begitu saja setelah mereka lulus SMP. Sony masuk SMA II. Nana diterima di SMA I. Sedangkan Larasati, seperti halnya bapak-ibunya, dan juga semua kakaknya, masuk SPG.
Setiap pulang kampung Sony selalu menyempatkan diri mampir ke rumah Nana. Anaknya tiga. Perempuan semua. Suaminya terlihat agak cemburu. Tapi Sony pura-pura tidak tahu. Toh, tak ada sedikitpun niatan untuk membawa lari istrinya. Hanya bernostalgia. Sambil tertawa-tawa. Nana memberi tahu Sony bahwa Larasati, yang sekarang sudah berubah menjadi ibu-ibu gendut, tinggal di Banyuwangi. Mengikuti suaminya yang bekerja di sana.
“Bagaimana rambutnya?” tanya Sony.
“Dipotong pendek,” sahut Nana.
Sony kecewa.
Tak terhitung tembang yang dilantunkan untuk merayakan cinta, juga meratapi cinta. Ditulis buku dengan beratus-ratus halaman. Filem berdurasi hingga empat jam. Puisi sependek kuku. Lukisan yang mengharu biru. Karangan bunga. Sebatang cokelat. Dan permen warna-warni.
Cinta adalah segalanya. Cinta adalah darah yang mengalir deras. Mengisi relung-relung jiwa. Menjadikan hidup bermakna. Karena dikasihi, dan mengasihi. Manusia tanpa cinta, tak ubahnya seperti roti tawar tanpa mentega. Hambar. The power of love telah menegakkan Taj Mahal dan Candi Sewu. Anthony dan Cleopatra urung berperang karena saling jatuh cinta. Romeo dan Yuliet menyatu di dalam kubur membawa cinta abadi mereka.
“Cinta adalah kenangan. Rasanya tak mudah dilupakan.” Malyda menyanyikan lagu ciptaan Deddy Dhukun itu dengan penuh penghayatan. Membawa pendengarnya larut dalam khayalan. Karena tak ada sesuatu pun di dunia ini yang mampu menghapuskan kenangan indahnya cinta. Apalagi cinta pertama. First love will never die. Bikin orang mabuk kepayang. Dalam sekejap rasa lapar hilang. Seperti habis makan sepuluh tusuk sate kambing setengah matang. Mimpin indah selalu datang. Bila malam menjelang. Wajahnya selalu terbayang. Kedua mata tak mau menutup hingga terpaksa begadang. Pikiran melayang-layang. Siang hari bikin ancang-ancang. Sabtu malam wajib jalan-jalan, meski harus ngutang. Berangkat petang. Menjelang tengah malam baru pulang. Berjalan sambil melamun hingga terperosok ke dalam lobang. Kepala langsung berkunang-kunang.
Cinta. Pacar. Cinta. Pacar. Cinta. Pacar. Sudah hampir dua jam Bethany berdiri di depan kaca. Mematut diri membetulkan letak kacamata. Seseorang yang sangat istimewa berjanji akan datang ke rumah kosnya. Setelah sekian lama dia impi-impikan kehadirannya. Malam ini harus tampil habis-habisan. Tak boleh pas-pasan. Harus kelihatan cantik dan menawan. Menjelma menjadi bidadari nan rupawan. Melangkah dengan diiringi gumpalan-gumpalan awan. Menyambut pangeran yang akan bertandang. Karena tadi siang, seorang teman memberikan secarik kertas yang terlipat rapi kepadanya. “Dari Sony,” kata Candra. Bethany tak langsung membukanya. Dia masukkan surat itu ke dalam tas, dan bergegas pulang. Dengan motor bebek Suzuki.
Hatinya berbunga-bunga membaca surat Sony. Serasa tak percaya memandangi selembar kertas yang ada di tangannya. Meski tulisan yang menempel di sobekan buku itu cakar ayam dan agak susah dibaca, baginya tak ubahnya selarik puisi cinta yang ditulis dengan tinta emas. Dengan titik dan koma terbuat dari platina. Di matanya, huruf-huruf itu seperti serumpun bunga mawar merah muda di atas kanvas. Membentuk kalimat-kalimat indah yang membuat persendian kakinya terasa mau lepas. Apalagi di dalam surat tersebut Sony bilang kalau dia suka sekali dengan rambutnya yang panjang dikepang dua. Melayang-layang rasanya, dipuji seperti itu. Seperti terbang ke atas awan. Dia pegang erat surat itu. Ditempelkannya ke dada. Diciuminya. Kemudian disimpan di bawah bantal.
Sony yang selama ini dikenalnya pendiam ternyata menaruh perhatian kepadanya, dan berani berkirim surat pula. Sudah lama sebenarnya dia memperhatikan cowok berbadan tegap yang tak pernah lepas dari rokoknya itu. Mencuri-curi pandang dari balik sapu tangan. Sesekali mereka saling berpapasan. Keduanya tak berani beradu tatapan. Dia demen banget dengan cowok pemalu itu. Tapi tak berani mendekat maju. Walaupun dorongan yang menggebu-nggebu di dadanya terus mengganggu. Dia lebih memilih menunggu. Takut bertepuk sebelah tangan. Soalnya Sony suka pergi begitu saja kalau disamperin cewek.
Kini Sony telah berada di hadapannya. Gagah sekali. Dalam balutan baju kotak-kotak dan celana biru. Eh, lupa. Baju biru, celana kotak-kotak? Sudahlah, tak penting itu.
“Halo, Son,” sapa putri Solo itu dengan manja.
Sony tak menjawab. Diam saja. Hanya tersenyum. Ya Tuhan. Senyum itu. Seperti menembus dadanya. Menyebar ke seluruh pembuluh darah, kemudian menggumpal di ubun-ubunnya. Kacamatanya hampir jatuh. Lidahnya keluh. Tapi Bethany segera menguasai diri, karena semenjak sore tadi sudah dibekali dengan tips menghadapi kencan pertama oleh kakak perempuannya. Berhasil. Dia tak kikuk lagi.
Bahagia sekali rasanya bisa mengobrol dan duduk bareng bersama cowok pujaannya. Sampai lupa makan. Dia baru tersadar kalau belum kemasukan apa-apa sedari siang. Setelah perutnya bernyanyi riang. Pada saat Sony pamit pulang.
Selanjutnya hari-hari Bethany lebih banyak dihabiskan di depan cermin. Membubuhkan bedak ke pipi. Membajak bulu mata. Mengukir alis. Melukis bibir dengan lipstik. Dan merapikan rambutnya yang panjang dikepang dua. Rambut pembawa keberuntungan, pikirnya.
Dia teringat peristiwa belasan tahun lalu, ketika masih SD kelas tiga. Bethany mengalahkan Denok secara telak dalam merebut perhatian Purnomo, teman sekelas sekaligus tetangga mereka yang sama-sama tinggal di perumahan pabrik gula. Purnomo yang berkaca mata minus tiga dan berwajah imut itu suka sekali memegang-megang kuncir rambut Bethany. Bahkan mereka sempat menikah. Denok memberinya kado serutan pensil. Farida membawa kembang sepatu. Peni menyiapkan kue tart yang terbuat dari gabus. Sedangkan Eko berlagak jadi jurufoto. Dengan jemari yang disilangkan di depan wajah, Eko berjalan mundur sambil menirukan bunyi kilatan lampu blitz. “Plas.”
Bethany tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum sendiri. Senang rasanya kembali berenang ke masa kecil. Masa-masa yang indah. Penuh canda tawa. Kenangan yang tak akan pernah terlupa. Meski cinta monyet itu harus berakhir duka. Karena empat bulan kemudian Purnomo ngotot menceraikannya. Dia ingin menikahi Farida.
Kini cinta kembali menghampirinya. Setelah vakum sekian lama. Derita sudah berakhir baginya. Tak akan ada lagi malam Minggu yang sepi seperti masa-masa SMP dan SMA yang terlewatkan begitu saja. Tanpa ada cowok yang mengelus-elus rambutnya yang dikepang dua. Selamat tinggal kesendirian dan nestapa. Terima kasih cinta.
Ya ampun. Hampir lupa. Ini malam Minggu. Mereka janjian akan pergi ke bioskop. Ada filem bagus, Witness, dibintangi Harrison Ford. Sebetulnya bukan filemnya yang ingin dia tonton. Memeluk erat lengan pacarnya itu sambil duduk di kegelapan memberinya perasaan bahagia. Seolah dunia berhenti berputar. Jantungnya berdebar-debar. Tapi tahi cicak yang jatuh tepat di keningnya membuat lamunannya buyar. Kentir, pikirnya.
Sambil menunggu Sony datang, Bethany tetap tak beranjak dari depan kaca. Dia periksa sekali lagi detil-detil riasan di wajahnya. Cermin itu seolah seorang konsultan kecantikan yang terus memberinya aba-aba. Bagian-bagian mana saja yang harus diusap ulang dengan bedak agar merata. Beautician gepeng tersebut tak pernah lelah mengomentari penampilannya. Sudah sempurna. Perfect.
Sesungguhnya, untuk siapa kita mematut diri di depan cermin? Berdandan? Bersolek mempercantik diri. Berjam-jam memandangi wajah dengan tangan menari-nari. Putar kanan putar kiri. Endus sana endus sini. Memastikan semuanya sudah wangi. Tak ada lagi bau kecut, karena parfum Bvlgari sudah menyembur ketek tiga kali. Buat apa? Untuk siapa?
“Biar cakep, sehingga cowok-cowok pada ngerubutin kita,” jawab Sasa dengan nada centil sambil melambaikan tangannya. Pinggulnya selalu berombak bila sedang berjalan.
“Biar cewek-cewek pada hanyut mencium aroma jantan dari tubuh kita,” sahut Tommy yang bertubuh atletis itu dengan penuh percaya diri.
Bahkan, sebuah iklan parfum berani sesumbar, “Bikin cewek jadi gokil.”
Benarkah manusia tampil gaya untuk orang lain? Sony malah berpikir sebaliknya. Untuk diri sendiri. Mau bukti? Perhatikan Somad, maling kambing yang belum pernah tertangkap itu. Setiap kali mau beraksi, dia selalu menyempatkan diri bercermin di depan kaca di rumahnya yang pengap. Padahal tak sedikit pun dia berencana ketemu orang, kecuali kalau ingin tertangkap. Rambutnya tetap disisir rapi. Pengharum ketek menghembuskan nafasnya lima kali. Tusuk gigi menggali-nggali. Dan kumisnya rapi jali. Belum pernah sekalipun tetangga Sony di kampung halaman itu pergi beroperasi dengan rambut awut-awutan, apalagi tanpa mandi.
Maling kambing juga pacaran. Demikian pula penjual petasan. Karena cinta akan menghampiri setiap insan. Tak peduli miskin atau kaya. Tak pandang muda atau tua. Puber pertama maupun puber kedua. Pria atau wanita. Bahkan gay dan lesbian.
Mereka memiliki hak yang sama. Untuk menerima cinta dan mempersembahkan cinta. Untuk mencintai dan dicintai. Untuk merasakan cinta. Untuk memahami makna cinta. Untuk menikmati indahnya cinta. Untuk berpacaran. Sebab cinta yang paling membahagiakan adalah pada saat pacaran. Setelah menikah, kata orang, api cinta akan meredup secara pelahan. Karena cinta harus dibagi dengan anak dan keluarga. Maka dari itu, puas-puasin pacaran.
Tapi banyak orangtua merasa sangat cemas dengan gaya berpacaran remaja masa kini. Tak ada lagi desiran darah yang begitu hebat ketika melewati pagar depan rumah. Tak ada lagi pegangan tangan sambil malu-malu. Curi-curi pandang dari balik pintu. “Kuno,” kata anak-anak sekarang.
Generasi masa kini sudah membuat aturannya sendiri. Pulang dari diskotek dini hari. Ngomongnya ngelantur mukanya pucat pasi. Berjalan bersama berdekap-dekapan. Tangan saling melingkar sambil cubit-cubitan. Cium pipi kanan cium pipi kiri. Senggol sana senggol sini. Selayaknya pasangan suami-istri. Berlibur ke Bali berduaan. Melancong ke luar negeri tanpa pamitan. Kalau ditegur minggat dari rumah. Pulang-pulang sudah berbadan dua.
Memang tak mungkin melarang anak pacaran. Lagian, para orangtua juga tak ingin anak-anak mereka di kemudian hari disensus oleh petugas IPTEK, ikatan perawan/perjaka telat kawin. Merana dan hidup melajang sampai tua, tanpa kehadiran cinta.
Tapi, jangan begitu dong, kalau pacaran. Semua serba kelewatan. Sudah sangat keterlaluan. Seperti tak punya aturan. Di depan orangtua tak sungkan lagi berpeluk-pelukan. Di depan umum malah asyik berciuman. Pulang pagi jadi kebiasaan. Menginap di puncak jadi kegiatan mingguan. Belum menikah sudah saling panggil Mami Papi. Tinggal serumah Kumpul Sapi.
Para orangtua cemas dan hanya bisa garuk-garuk kepala. Dilarang pacaran ya tidak mungkin. Dibiarkan pacaran bikin kepala nyut-nyutan. “Pusing saya, mikirin Virga,” keluh Pak Rahman.
Putrinya yang masih ABG itu sudah punya pacar. Anak punk yang suka nongkrong di seberang pasar. Dinasehati berkali-kali tak mau dengar. Dikurung di kamar, kabur lewat genteng tetangga. Lebih puyeng lagi, dandanan Virga berubah total. Hidungnya ditindik. Lehernya ditato. Rambutnya dicat warna-warni. Persis seperti anak ayam yang disumba merah, kuning, hijau, ungu, oranye, yang dijual abang-abang di depan pagar sekolah dasar.
Pernah sekali dia marah besar. Hampir saja digamitnya sepotong rotan untuk mencambuki putrinya. Untung istrinya segera menghambur dan mendinginkan kepalanya. “Tapi ini sudah kebangetan, Bu. Coba lihat itu anakmu.”
Dandanan Virga memang keterlaluan. Pundaknya yang putih mulus menjual muka. Dadanya hanya dibebat selembar kain berwarna merah muda. Celana tipis superketat menggaris malas di bawah pinggulnya. Kancingnya atasnya dibiarkan terbuka. Sepertinya dia sengaja memamerkan perutnya yang rata dan pusarnya yang indah. Ini salah Bu Bidan. Seandainya dulu tali pusarnya tidak diikat rapi, udelnya pasti bodong. Sehingga dia tak akan berani mempertontonkan perut seenaknya.
Anak punk itu membawa pengaruh buruk pada Virga, pikir Pak Rahman. Harus dihentikan. Tapi Virga malah kabur dari rumah. Beberapa potong pakaian masuk ke dalam tasnya. Duit ibunya dicuri satu juta. Selembar pesan ditinggalkan di meja. Mengungsi, bunyinya.
Tentu saja kedua orangtuanya kelabakan bukan kepalang. Sudah seminggu Virga tidak pulang. Dicari ke mana-mana juga tak ketemu. Seolah diculik hantu. Keluarga panik dan lapor polisi. Semua famili dan temannya dihubungi. Tapi anak itu tetap menghilang seperti ditelan bumi. Hingga pada suatu sore tiba-tiba Virga sudah berada di rumah. Langsung masuk kamar dan menguncinya. Tak berapa lama kemudian dia duduk di beranda, membaca majalah.
“Dari mana kamu?!” hardik Pak Rahman, dengan tangan bergetar menahan amarah.
“Jalan-jalan,” jawabnya enteng.
Wahai … perawan dan perjaka. Jangan bermain-main dengan cinta. Jangan ugal-ugalan dalam berpacaran. Bisa kuwalat nanti. Seperti Rani, yang masih jomblo meski usianya sudah kepala empat. Padahal perempuan itu molek benar. Wajahnya selalu bersinar. Senyumnya mengundang. Tatapan matanya menantang. Bodinya semloheh. Bisnisnya berbelalai. Pergaulannya luas. Hartanya tak terbatas. Tapi belum juga berkeluarga. Penyebabnya, karena dulunya urakan dalam berpacaran.
Konon, semasa kuliah, dia suka gonta-ganti pacar. Pergi satu ngantri sepuluh. Berhasil menggaet cowok idaman memberinya kepuasan tersendiri. Kemenangan yang selalu dirayakan bersama teman-temannya. Targetnya hanya show off. “It’s just an adventure,” katanya. Dalam hitungan minggu atau bulan, pasti ganti cowok lagi. Pasang perangkap dan umpan baru. Wah, Non, jangan begitu.
Namun, ketika akhirnya benar-benar kesengsem sama seorang cowok yang begitu mengena di hatinya, Rani malah berubah seperti gadis kuper yang belum pernah pacaran. Gaya hidupnya berbalik total. Tak pernah lagi hura-hura. Teman-temannya menjauh juga tidak dipusingkannya. Seorang Arjuna telah meluluhkan hatinya. Mengisi kamar-kamar kosong di dadanya. Di sela-sela paru-paru dan jantungnya. Dengan cinta sejati.
Rani telah menemukan cintanya. Setiap kali berada di samping pacarnya yang berkumis tipis dan berpembawaan kalem itu, jantungnya selalu berdebar-debar kencang. Darah berdesir-desir di sekujur tubuhnya. Mau begini takut salah. Mau begitu takut keliru. Perutnya seperti ditekan-tekan. Bolak-balik harus pamit ke belakang.
Pernah pada suatu sore, ketika mereka sedang bercengkerama di beranda depan, pacarnya yang bekerja di sebuah bank pelat merah itu memuji kecantikannya. Bahagia sekali dia. Kakinya serasa tak lagi menginjak tanah. Tapi, tiba-tiba Rani merasakan ingin buang angin dan tidak bisa ditahan lagi. Tak mungkin sempat pamit ke belakang. Lepaskan saja, tapi jangan sampai kedengaran. Geser sedikit itu kursi. Untuk menyamarkan bunyi. Seeng …, sunyi. Syukurlah, tak ada yang bernyanyi. Tapi aroma terasi tak mau segera pergi.
“Kamu kentut, ya?”
Blo’on banget ini cowok. Mestinya kan pura-pura tidak tahu. Biar pacarnya tidak malu. Raut muka Rani memerah sepeti baret Kopasus. Menyesal telah menghidangkan bau kakus. Meskipun segera terlupakan, peristiwa memalukan itu tetap saja membekas sangat dalam di benaknya.
Tapi mereka tak putus cinta hanya karena soal kentut. Malahan, semakin dekat, dan sudah mengambil ancang-ancang untuk menikah. Diputuskan tanggal delapan bulan delapan. Tepat pada pertengahan bulan besar. Pakai adat Jawa campur Makassar. Sudah disiapkan sejumlah mahar. Dan, akan digelar sebuah pesta besar.
“Ran, aku ada kejutan. Kita pergi ke suatu tempat. Tidak jauh, kok. Tapi, matamu harus ditutup, ya? Mau?”
Tanpa berpikir panjang Rani langsung mengiyakan. Namanya juga kejutan. Maka mereka pun berangkat, dan mata Rani ditutup syal coklat bergambar Mickey Mouse yang diikatkan melingkar di kepalanya.
Tak berapa lama kemudian mobil berhenti. Rani dituntun masuk ke dalam sebuah rumah. Suara pintu terbuka, hembusan anginnya terasa. Ini rumah pasti besar, ketahuan dari hempasan pintunya.
“Yang, ini rumah kita berdua. Kita akan tinggal di sini setelah menikah nanti. Coba rasakan, di sini ruang tamunya.”
Sejuk sekali. Baunya menyenangkan. Harum. Pasti telah ditempatkan bunga-bunga segar di sekitar situ. Rani merasa bahagia sekali. Pacarnya sudah menyiapkan sebuah rumah baru untuk mereka tinggali nantinya. Jangan-jangan ini kejutannya, pikirnya.
“Ayo kita naik. Tapi tutup mata jangan dibuka dulu. Nanti saja kalau sudah waktunya.”
Lho? Belum? Jadi, bukan rumah ini kejutannya.
Mereka pun menaiki tangga, menuju lantai dua. Luas sekali ruangan itu. Hening. Tenang. Lega. Lapang.
Aduh, mati aku. Gawat, pikir Rani. Rasa-rasanya dia mau kentut. Bagaimana ini? Hup. Ada akal. “Fan, aku agak kegerahan, nih. Tolong dong ambilkan tisu di mobil.” Sedikit muslihat tak apalah. Jangan sampai ketahuan kalau kentut. Soalnya, sepanjang siang tadi sepiring ubi jalar goreng menemaninya menikmati lagu-lagu melo kesukaannya.
“Tunggu di sini, ya. Aku ambil dulu tisunya.”
Tapak sepatu terdengar menuruni anak tangga, kemudian disusul suara pintu dibuka. Inilah saatnya. Duuuuut …. Tuuuuut …. Suaranya sangat keras. Seperti dentuman knalpot bus patas. Tapi hanya dua kali. Dari luaran sana pasti tak terdengar sama sekali. Dia kibas-kibaskan roknya, agar aroma tak sedap itu segera pergi. Dia cek sekali lagi. Sudut kiri aman. Sudut kanan aman. Barat laut aman. Tenggara aman. Indera penciumannya terus bekerja keras, agar hasilnya akurat. Sudah tak ada lagi baunya. Sudah pergi. Terima kasih, Tuhan.
“Ini tisunya. Maaf ya, agak lamaan. Harus nyari-nyari dulu. Tahunya nyelip di jok belakang.”
Setelah pura-pura mengusap kening dan ujung hidungnya, Rani langsung bertanya, “Apa kejutannya, Fan? Mana?” Sudah tak sabar lagi dia.
“Baiklah, aku buka dulu tutup matanya,” bisik Erfan sambil membuka ikatan syal yang menutup mata Rani. “Coba lihat. Semua keluarga dan kerabat aku telah datang ke sini untuk berkenalan denganmu. Itu Papa, Mama, Opa dan Oma. Ada Terry, adik kesayanganku.”
Astaga! Sekitar dua puluh pasang mata menatapnya dengan senyum ditahan. Mereka semua berdiri mengelilingi ruangan itu. Jadi, pada waktu dia kentut tadi, ada sekian banyak orang yang menontonnya. Mati aku. Tengsin berat.
Kini Erfan sudah menikah dengan orang lain, punya anak tiga. Sedangkan Rani masih sorangan wae. Sesekali mereka saling kontak lewat telepon. Say hello, menanyakan kabar masing-masing. Dalam kejadian yang sangat memalukan itu, Rani menyalahkan Erfan. Sementara Erfan tak pernah paham alasan Rani membatalkan rencana pernikahan tersebut. Keluarga dan kerabat Erfan juga tidak pernah membicarakan hal itu lagi. Mereka memilih tutup mulut. Dibiarkan berlalu begitu saja. Hanya Terry yang tidak bisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia membocorkan rahasia ini kepada Sony, agar diterima bekerja di kantornya.
Erfan menikahi orang yang tidak dia cintai. Gaby, istrinya itu, masih kerabat jauh. Ini semua merupakan jerih paya mamanya yang sedih sekali melihat Erfan terus mengurung diri setelah gagal menikah dengan Rani. Perihal Gaby, Bu Shinta sudah menyelidiki gadis itu secara teliti sebelum diputuskan sebagai calon istri yang cocok buat putra sulungnya. Dalam masa penjajagan, selama tiga bulan penuh dara gemuk berambut ikal itu tinggal bersama keluarga Erfan. Bu Shinta merasa sangat lega, karena belum pernah sekalipun Gaby kentut di depannya. Ini calon mantu yang tepat, pikirnya. Mereka berdua memang sangat akrab. Apalagi keduanya sama-sama bulat. Bagaikan balon berjajar dua.
Maka Erfan dan Gaby pun menikah. Erfan tak menolak dan tidak pula mengiyakan ketika ditanya kesediaannya untuk menikahi Gaby. Dia sudah pasrah. Dijalani saja semuanya. Tahu-tahu sudah punya anak tiga. Tapi setiap malam pikirannya berkelana ke mana-mana, berjalan menuruni bukit dengan Rani di pelukannya. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Meski hanya di alam khayal. Setiap hari dia merasakan keasyikan itu. Hingga ketagihan. Raganya tetap berada di rumah, tapi jiwanya absen, pergi jauh entah ke mana. Tapi dia sering jengkel karena dengkuran Gaby yang nyaring suka membuyarkan lamunannya.
Erfan dan Gaby jarang bicara. Hubungan mereka berdua serba teknis. Hanya keberadaan anak-anak yang manis-manis itu yang membuat Erfan bertahan dalam perkawinan pura-pura. Sesungguhnya jiwanya berontak. Ingin segera lepas dari pernikahan sandiwara.
Tapi, kalau urusan memasak, Erfan harus jujur, Gaby memang jagonya. Lulusan SMK jurusan tataboga itu ada saja idenya. Setiap kali menciptakan menu baru yang tak terduga. Namun selalu istimewa. Sangat kreatif dalam soal boga. Peka dalam soal rasa. Sehingga cenderung sangat bawel kalau mereka sekeluarga sedang makan bersama di restoran. Ada saja yang dikomentarinya. Mulai dari cara penyajian. Kombinasi garnish. Sampai ke soal penggunaan bermacam-macam sendok, garpu dan pisau yang begitu membingungkan bagi Erfan.
Gaby benar-benar seorang juara dalam soal boga. Kalaupun harus diadu dengan pakar kuliner Sisca Suwitomo, Gaby pasti menang ke mana-mana. Apalagi bila berat badan ikut diperhitungkan. Nggak level. Hanya saja, Erfan tak pernah bisa melupakan sepiring nasi goreng yang pernah dimasak Rani untuknya. Agak sedikit asin, memang. Dan ulekan cabenya masih kasar. Tapi rasanya benar-benar tak terlupakan.
Pernah beberapa kali Erfan bertemu Rani. Mereka pergi nonton bioskop. Makan malam bersama. Saling menyuapi sambil bertukar cerita. Tertawa-tawa bersama, seperti sepasang remaja yang sedang kasmaran. Kedekatan itu mulai terbangun kembali. Saling membutuhkan. Tapi Rani suka menjaga jarak. Mood-nya datang dan pergi. Jinak-jinak merpati. Kadang mendekat kadang menjauh. Tak ubahnya seperti orang plin-plan.
Erfan bingung memikirkannya. Apakah memberi harapan atau menolaknya? Namun, ketika dia akhirnya berhasil mengumpulkan segenap keberanian untuk mengungkapkan keinginannya memperistri Rani, suasana berubah total. Muka Rani langsung merah. Dia benar-benar marah.
“Fan, kamu pulang saja ke istrimu yang gendut itu. Anak-anakmu menunggu. Jangan sekali-kali kamu ngomong lagi soal itu. Kita tidak ditakdirkan bersatu. Hatiku sudah tertutup untukmu.”
Gawat.
Tapi Erfan tak pernah putus asa. Sudah kecemplung, sekalian basah semua. Dia bertekad tak akan menyerah. Meski harus menyeberangi lautan dan mendaki tebing terjal. Disuruh menggali sumur pun akan dia lakukan. Apalagi kalau cuma dimarahi. Kecil itu.
Maka, setiap kali ketemu Rani dalam berbagai kesempatan, dia selalu saja mengutarakan niatnya untuk memperistri cinta pertamanya itu. Berkali-kali Rani murka dan memakinya. Bahkan melemparnya dengan sepatu. Tapi toh, akhirnya dia luluh juga. Rani bersedia menjadi istri kedua Erfan. Mereka berpelukan dan menangis bersama. Cinta telah bersatu, dan rencana segera disusun. Mereka akan menikah di luar negeri. Sebuah apartemen di kawasan Kuningan langsung mereka beli hari itu juga.
Gaby merasakan ada perubahan mencolok pada diri Erfan. Tumben suaminya baik sekali. Sikapnya lebih mesra. Penuh perhatian kepadanya. Sering mengajaknya bicara. Dan, anehnya, Erfan selalu kelihatan berseri-seri setiap akan berangkat kerja. Seolah setiap hari akan menerima bonus. Hari Sabtu selalu lembur. Ada saja alasannya. Keluar kota. Peninjauan lapangan. Dikejar target. Macam-macamlah.
Gaby mengendus ada sesuatu yang tak beres. Karena Erfan bersikap tidak seperti biasanya. Tapi kecurigaan itu ditepisnya. Dibuangnya jauh-jauh. Dia tak ingin berpikir yang bukan-bukan. Takut badanya kempes dan kurus, sehingga gampang kentut. Namun rasa waswas itu senantiasa hinggap di hatinya. Maka, secara diam-diam Gaby mulai melakukan penyelidikan, dibantu anak perempuannya, yang juga gendut.
Setiap hari dia geledah saku baju dan celana Erfan di keranjang cucian. Tak akan ada setitik pun petunjuk yang bisa lolos dari perhatiannya. Sudah dibelinya kaca pembesar dua buah. Setipis apapun bau parfum yang tersisa, pasti dia akan langsung kenali. Apalagi noda gincu, yang ditunggu-tunggunya selama ini.
Mobil Erfan juga tak lepas dari perhatiannya. Semua laci dia periksa. Tidak ada apa-apa di sana. Sekali pernah dia temukan bon pembelian Viagra yang sudah kusut di bawah karpet mobil. Tapi bukan itu petunjuk yang dia cari. Karena dua malam sebelumnya dia dan Erfan berhubungan badan. Dan Erfan begitu perkasa malam itu. Sudah. Sudah. Bukan itu yang ingin dia temukan.
Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga ke tanah. Begitu kata pepatah. Karena kecapaian sehabis mengikuti rapat evaluasi tahunan yang digelar hingga malam di Hotel Mulia, Erfan melakukan keteledoran yang membawa petaka. Gaby menemukan paspor Erfan dan Rani di dalam mobil, berikut dua tiket Garuda dengan tujuan Singapura. Langsung lemas kakinya. Tak kuat lagi menyangga tubuhnya yang seberat sembilan puluh tiga kilogram itu. Kepalanya serasa mau pecah. Tangannya berkeringat. Air mata mulai menitik. Hampir saja Gaby menangis meraung-raung. Tapi dia segera menguasai diri, dan langsung menelpon mertuanya, Bu Shinta.
“Fan, ini apa?” Mamanya melemparkan kedua paspor dan tiket itu ke muka Erfan. Tangan kiri di pinggang, tangan kanan mengacung-acung ke arah Erfan yang duduk diam, tak mampu berkata apa-apa.
Malam itu juga Erfan diadili. Mamanya nyerocos tak keruan. Istrinya menangis sesenggukan. Anak perempuannya yang sangat cs dengan mamanya karena sama-sama gembul, juga ikut mengeroyoknya. Dia dipaksa membuat pernyataan tertulis yang isinya tidak akan mengulangi lagi perbuatannya. Karena kalah dan tidak punya pilihan, dia turuti saja semua kemauan mereka. Erfan menorehkan tanda tangan di atas materai. Istrinya memilih cap jempol darah. Erfan tertunduk lesu. Gaby tersenyum menang. Neraka itu baru berakhir menjelang subuh.
Halimah menjadi inspirasi. Keesokan paginya, ibu mertua dan anak menantu tambun-ikal kesayangannya itu berangkat bersama-sama menuju kantor Rani di Gedung BRI II. Tekad kedua angka nol besar itu sudah bulat. Mereka akan melabrak perempuan pengusik rumah tangga tersebut. Biar tahu rasa tukang kentut itu, karena sudah berani mengganggu suami orang.
Erfan berusaha mencegah mereka, tapi tak berhasil. Dia ingin menelpon Rani untuk memperingatkannya. Tapi tidak jadi. Dia tak tahu harus berkata apa. Keteledoran itu harus dibayar mahal. Maka dia tinggal di rumah saja. Tidak pergi ngantor. Hanya berbaring di tempat tidur, tanpa pernah bisa menutup mata. Gelisah.
Rani dengan tergesa-gesa keluar dari ruang kerjanya mendengar ada keributan di resepsionis. Betapa kagetnya dia melihat mama dan istri Erfan ada di sana sedang memaki-maki Satpam yang mencoba menghadang. Satpam kerempeng bernama Eddy Subekti itu pucat pasi. Kaget sekaligus ketakutan. Gemetaran. Kalah nyali.
Topinya terlempar saat menghindari tamparan Gaby. Pemuda kelahiran Klaten, Jawa Tengah itu, berusaha keras meniup peluit untuk minta bantuan. Tapi karena terlalu panik, tak sedikit pun jeritan yang keluar dari peluitnya. Malah alat tiup tersebut basah semua dibanjiri air liurnya. Sudah, nyerah saja, pikirnya. Mustahil menang bila harus berkelahi melawan dua pesumo kelas berat itu. Apalagi mulut mereka menyalak terus seperti senapan mesin. Tak mungkin ditangkis dengan kumisnya.
“Ini rupanya biang kerok itu, yang mau berduaan ke Singapura” sergah mama Erfan sambil mengacung-acungkan jari telunjuknya yang segede cerutu ke arah Rani.
“Mau merebut suami orang,” Gaby menimpali.
Dituduh demikian, Rani langsung menukas berang. “Nyonya ….” Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, mama Erfan malah menghampirinya sambil nyerocos soal kejadian kentut di masa lalu. The fat lady’s singing. Rani langsung terdiam seribu bahasa. Dia lari sambil menangis menuju ruang kerjanya, dan kemudian menelepon resepsionis agar menyuruh Satpam penakut itu menyeret paksa dua karung lemak bernyawa ukuran XXXL tersebut keluar dari kantornya. Kalau perlu pakai kerekan gondola.
Segerombolan awan pekat langsung memunggungi sang surya. Petir menyambar-nyambar, dengan kilatan-kilatan cahaya menyilaukan. Menerangi setiap sudut gelap, mencari-cari di mana orang-orang gendut berada. Rani murka. Dia putuskan tidak melanjutkan lagi rencana pernikahan itu.
Erfan sama sekali tak membela diri. Dia merasa sangat bersalah. Semua ini terjadi karena keteledorannya. Dua kali sudah dia mempermalukan Rani di depan keluarganya. Apakah masih ada maaf darimu, Ran? Apakah masih ada kesempatan lagi bagiku? Apakah aku harus menceraikan Gaby? Apakah aku harus kehilangan anak-anakku? Apakah aku harus mendurhakai mamaku? Tuhan, tolonglah aku.
Sungguh beruntung orang yang menikah dengan cinta pertamanya, pikir Erfan. Berbeda dengan dirinya, yang harus menikah dengan orang yang sama sekali tak dikenalnya. Dia sangat menyesal telah menikahi Gaby. Dia sangat menyesal telah kehilangan Rani. Dia merasa menjadi pria yang paling malang di dunia. Pria tak berguna. Tabah, Fan. Sabar. Kapan-kapan saya carikan jalan keluar. Saya akan buatkan cerita yang bagus untukmu. Lain kali saya akan persatukan kamu dengan Rani dalam pelukan cinta yang suci dan abadi. Sampai mati. Saya janji. Pasti saya tepati.
Erfan memang harus bersabar. Bagaimanapun, dia masih punya cinta, yang terus dia pupuk dan pelihara. Meski dia tak mungkin lagi memeluknya. Sementara di sebuah kota pesisir, banyak orang yang ramai-ramai membuang cinta ke dalam tong sampah. Dimotori seorang gadis remaja yang menikahi pria bule tua, sebuah situs perjodohan digantungkan di internet. Situs mak comblang itu memberikan kesempatan kepada remaja-remaja putri yang ingin menikah dengan lelaki bule untuk saling berkenalan melalui jagat maya. Peminatnya membludak.
Sebagian besar remaja putri dari kelas menengah-bawah itu ingin menikah dengan bule – tak peduli berapa pun umurnya, bahkan kakek-kakek yang sudah disiapkan liang kuburnya – dengan harapan mendapatkan anak berwajah Indo. Cinta sama sekali bukan target mereka. Berapa lama perkawinan itu akan berjalan juga bukan urusan penting. Ini sebuah proses inseminasi belaka, yang melibatkan dua anak manusia dari kebangsaan yang berbeda. Sama-sama senang. Sama-sama suka. Sama-sama diuntungkan.
Tujuannya perkawinan nir-cinta itu hanya satu, menghasilkan anak-anak yang cantik dan ganteng. Biar kalau sudah besar nanti bisa jadi pemain sinetron. Menjadi putra-putri kebanggaan mereka. Sehingga orangtuanya bisa nunut urip mulyo. Begitulah harapan mereka. Sudah begitu pendekkah pikiran mereka?

4. Profesi

Banyak orang yang kecemplung begitu saja dalam pekerjaan yang ditekuninya hingga saat ini. Begitu ada lowongan kerja terpampang di koran, lamaran langsung pergi. Tak peduli posisi apa yang dicari. Diterima syukur, tidak diterima ya coba lagi. Terus-menerus begitu. Sampai pekerjaan masuk ke dalam saku. Mereka tak pernah merencanakan, dan bahkan tak pernah tahu atau menyangka sebelumnya, kalau akhirnya bekerja di suatu bidang yang boleh jadi akan memberikan peluang berkembang yang sangat luas, penghasilan besar, menyenangkan, sesuai dengan hobi, menjemukan, melelahkan, kurang pas dengan karakter personal, gajinya kecil, dan lain sebagainya. Semuanya seperti tebak-tebakan.
Memang, ada kutu loncat yang terus-menerus pindah kerja. Berusaha terus mencari, hingga akhirnya menemukan profesi yang dirasa paling cocok untuk dirinya. Kesempatan seperti itu memang terbuka luas bagi para fresh graduates pada saat ekonomi Indonesia sedang booming di tahun delapan puluhan hingga paruh pertama sembilan puluhan. Masa jaya, yang tinggal kenangan. Tapi tak semua orang seberuntung mereka, terutama generasi sekarang dan ke depan. Mereka harus menghadapi persaingan yang lebih sengit, dan butuh modal lebih dari sekedar ijazah.
“Wah. Wah. Wah.” Sony hanya geleng-geleng kepala. Dia memasang iklan lowongan kerja di Kompas, mencari account executive untuk memperkuat Bagian Pemasaran di kantornya. Lamaran yang masuk lebih dari dua ratus. Semuanya tak jelas. Sehingga dia bingung sendiri, mau panggil yang mana. Dua puluh sembilan sarjana akuntasi mengira lowongan itu untuk mereka, hanya karena tercantum kata account. Mungkin dikira accounting executive, tapi salah ketik. Setelah dipilah-pilah selama empat hari, hanya lima belas pelamar yang kayaknya memenuhi syarat. Maka Anita memanggil mereka untuk wawancara. Ternyata, hanya tiga orang yang mengerti apa itu account executive. Sisanya lholak-lholok. Tidak tahu apa-apa. Setelah dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi yang disyaratkan, mereka malah menanyakan kalau-kalau bisa ditempatkan pada posisi yang lain. Asal bisa kerja. Hebat sekali semangat mereka. Patut dihargai. Tapi salah alamat.
Seperti halnya yang kerap terjadi di perusahaan lain, Sony juga beberapa kali melakukan kesalahan dalam rekrutmen karyawan. Terutama untuk karyawan di Bagian Pemasaran. Gampang-gampang susah. Sudah tak terhitung berapa orang yang dia keluarkan karena tidak kunjung berhasil membuat transaksi, meski telah diberikan masa perpanjangan dan dibantu habis-habisan. Pada waktu tes wawancara, mereka kelihatan sangat percaya diri dan berani memberikan garansi. Tapi begitu nyemplung ke dalam pekerjaan yang sesungguhnya, mereka seperti jajaran pisau majal yang terbuat dari bahan seng. Diasah berkali-kali dengan cara apapun – serong kiri, serong kanan, naik turun, depan belakang – tetap saja tak bisa dipakai untuk mengiris bawang. Seandainya dibikin panci atau kuali, mungkin mereka akan lebih berguna. Hanya saja, yang Sony butuhkan adalah tenaga pemasaran. Bukan orang produksi atau staf administrasi. Bukan pula office boy.
Kerumitan persoalan ini mengingatkan Sony pada upaya Mendikbud Prof.Dr.Ing. Wardiman Djojonegoro yang dengan semangat menggelora mendengung-dengungkan link-and-match pada pertengahan tahun sembilan puluhan. Gagasan dasarnya adalah para lulusan sekolah menengah umum/kejuruan maupun perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi SDM siap pakai ketika memasuki dunia kerja. Dunia usaha dan industri pun digandeng, digadang-gadang, dicomblangi agar berjodoh dengan dunia pendidikan. Berselingkuh juga boleh. Asal jangan sampai saling menularkan penyakit bawaan. Kenyataannya, program itu tak banyak membuahkan hasil. Hanya bergerak pada tataran wacana. Merdu di telinga, tapi tak jalan.
Sesungguhnya, link-and-match adalah sebuah gagasan brilian sebagai upaya penciptaan SDM yang siap pakai ketika memasuki dunia kerja. Hanya saja, implementasinya kurang membumi dan nuansanya serba teknis. Mungkin karena Pak Wardiman seorang insinyur. Dalam kenyataannya, tak mungkin berharap banyak kepada dunia usaha dan industri untuk berpartisipasi menyukseskan program seperti ini. Mereka hanyalah pemakai jasa yang ingin mendapatkan tenaga kerja bagus tanpa merasa perlu terlibat dalam proses penciptaannya.
“Itu urusan pemerintah, gawe-nya Pak Wardiman, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kalau output-nya bagus kita pakai, kalau tidak ada yang oke, ya kita cari dari sumber lain.” Begitulah cara berpikir mereka. Praktis.
Dengan demikian, tak perlu lagi bicara soal link, cukup match.
Kondisi mismatch dapat ditemukan dengan mudah pada perilaku mayoritas pencari kerja. Ada lowongan apa saja, surat lamaran langsung terbang. Siapa tahu diterima. Untung-untungan. Seperti berjudi. Nanti, setelah diterima, tinggal dipelajari cara kerjanya, begitu pikir mereka. Pasti ada yang mengajari. Kan, ada job training. Sudah, embat saja. Yang penting masuk dulu. Maka, lulusan Sospol jadi tenaga administrasi. Sarjana Hubungan Internasional jadi staff Bagian Umum. Macam-macamlah. Paling fenomenal, banyak alumnus Institut Pertanian Bogor yang jadi wartawan, sehingga nama perguruan tinggi itu sering dipelesetkan menjadi Institut Publisistik Bogor. Ini perguruan tinggi memang hebat, lulusannya bisa jadi apa saja, kecuali petani. Tanya saja sama Pak Bungaran. Pasti dia mengiyakan.
Situasi mismatch juga tercermin dari realitas yang sering terjadi di dunia kerja dan apa yang kerap dialami pekerja. Seorang pekerja hampir bisa dipastikan akan menjadi profesional sukses apabila mampu meraih posisi dan penghasilan yang mapan sebelum usia tiga puluh tahun. Artinya, dalam waktu sekitar lima tahun bekerja, seluruh potensi yang terdapat di dalam dirinya dapat berkembang secara maksimal. Ini hanya bisa terjadi bila dia berada di tempat yang tepat. Dengan kata lain, dia beruntung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan seluruh kemampuannya, apa pun latar belakang pendidikannya.
Sebaliknya, bila usia sudah melewati tiga puluh tahun, dan masih belum juga mengalami perkembangan berarti dalam karier maupun penghasilan, ini baru namanya gawat. Kenapa ini bisa terjadi? Itu bukan karena dia bodoh atau tidak kapabel. Juga bukan karena dia terlahir pada hari Selasa Kliwon seperti kata primbonis Drs. H. Imam Soeroso, MM MBA. Sama sekali bukan. Hanya saja, selama ini dia berada di tempat yang salah, yang tidak memungkinkan seluruh potensinya berkembang secara maksimal.
Lantas, apakah seumur hidup akan bernasib seperti itu? Stuck di situ-situ saja? Tidak juga. Tak perlu berkecil hati. Masih bisa di-restart, walaupun harus kehilangan waktu yang berharga. Caranya? Kenali seluruh kemampuan pribadi. Baru kemudian tentukan pekerjaan apa yang paling memungkinkan segenap potensi yang dimiliki berkembang penuh. Artinya, harus siap pindah posisi, atau, pindah kerja sekalian. Memang tidak mudah. Posisi atau pekerjaan baru belum tentu gampang didapatkan, apalagi usia sudah kepala tiga. Tapi itulah harga yang harus dibayar. Diperlukan kebesaran hati, ketegaran dan keberanian. Karena bisa jadi harus mulai dari nol lagi. Namun, bila peluangnya menjanjikan, why not?
Dosa apakah gerangan yang menjadikan begitu banyak orang terperangkap dalam pekerjaan yang sama sekali tidak memberikan peluang untuk berkembang? Apakah itu murni kesalahan mereka? Sama sekali bukan. Hal serupa dialami oleh jutaan orang. Sony dulu juga begitu. Tamat kuliah langsung kirim lamaran ke mana-mana. Asal tembak. Tak tahu mau jadi apa nantinya. Bahkan, ketika diterima bekerja di Citibank, dia sempat dua hari mengikuti training. Tapi, karena merasa tidak bakat menjadi orang bank, dia tak hadir lagi besoknya. Ngilang begitu saja. Beruntung, setelah empat kali loncat ke sana-sini, Sony mendapatkan pekerjaan yang lumayan cocok untuk mengasah dan mengembangkan semua kemampuannya, hingga akhirnya dia putuskan untuk memulai usaha sendiri pada usia dua puluh delapan tahun. Meski harus jatuh bangun.
Jadi, apa, atau siapa, yang salah? Sistem pendidikan? Orangtua? Guru dan dosen? Lingkungan? Pacar? Atau, dunia kerja yang tak mau tahu? None of them. Para fresh graduates sering kali tidak tahu pekerjaan yang akan dilamar membutuhkan kualifikasi seperti apa, karakter personal yang bagaimana, dan lain sebagainya. Langsung saja bereksperimen. Tanyakan kepada anak-anak yang baru lulus SMU, atau keponakan yang baru tamat kuliah, “Mau kerja di mana? Mau jadi apa?” Mereka pasti kebingungan. Karena tak tahu harus menjawab apa.
Jawaban tipikal yang sering terdengar adalah, “Ya kita lihat saja nanti, mana yang masuk duluan? Kalau dapat panggilan kerja dari sana, ya kerja di sana. Kalau panggilan kerja datangnya dari sini, ya kerja di sini. Mana yang dulu sajalah. Mau jadi ini kek, jadi itu kek. Tak masalah. Yang penting kerja.”
Terlepas dari sengitnya persaingan mencari kerja akibat timpangnya pertumbuhan jumlah pencari kerja dan lapangan kerja yang tersedia, pengenalan yang sangat terbatas, dan bahkan tidak ada sama sekali, mengenai jenis-jenis profesi yang terus berkembang menjadikan mereka tak cukup mampu mempersiapkan diri secara benar dalam memasuki dunia kerja. Sehingga, kalaupun kemudian mendapatkan pekerjaan, sering kali mereka akhirnya terjebak dalam profesi yang tidak memungkinkan seluruh kemampuannya berkembang secara maksimal. Karena itu, pengenalan profesi perlu segera diberikan kepada para siswa sekolah menengah umum/kejuruan dan mahasiswa perguruan tinggi. Ini sangat urgent. Sama sekali belum terlambat. Tapi jangan ditunda-tunda. Semakin ditunda, generasi mendatang akan semakin merugi.
“Lantas, bagaimana caranya, dan dalam bentuk apa, Mas?” tanya Pak Bambang Sudiro yang tampak sedang bersusah payah menyendoki sisa-sisa kuah mie godok yang luar biasa lezat itu. Belum sempat Sony menjawab pertanyaan tersebut, pria berdahi lebar itu sudah meyambung lagi pertanyaannya, “Magang?”
Sony langsung menukas, “Itu terlalu general, Pak, dan sekaligus terlalu spesifik. Karena orang dengan beragam latar belakang kemampuan dan karakter personal yang berbeda harus magang pada satu jenis pekerjaan yang belum tentu cocok untuk semua.”
Malam itu, Sony bersama Pak Bambang sedang menikmati mie godok di warung Pak Rebo, yang terletak tepat di depan SD Kintelan, Yogyakarta. Kelezatan mie godok di situ tak kalah dengan Mie Kadin yang terlalu ramai pengunjungnya, atau mie godok Mbah Mo yang juga mbludak pelanggannya, sehingga harus menunggu berjam-jam hanya untuk menikmati sepiring mie kuah.
“Cari metode yang paling sederhana dan applicable. Tambahkan saja mata pelajaran pengenalan profesi bagi murid kelas III sekolah menengah umum atau kejuruan dan mata kuliah pengenalan profesi bagi mahasiswa semester akhir,” sambung Sony seraya menghirup teh panas yang agak terlalu manis itu.
“Lha, materinya apa, Mas?” tanyanya lagi, seolah diburu rasa ingin tahu.
Sambil menghisap rokok kreteknya dalam-dalam, Sony mulai mengeluarkan semua unek-unek yang ada di pikirannya selama ini. Dia tak peduli, apakah Pak Bambang yang insinyur pertanian itu paham atau tidak dengan semua yang dikatakannya. Tapi, tampaknya priyayi Ngayogjokarto Hadiningrat yang berperawakan pendek tegap tersebut mendengarkan dengan sangat antusias ketika mulut Sony mulai nyerocos tak terbendung.
Pendidikan pengenalan profesi bisa dimulai dengan penyusunan sebanyak-banyaknya biografi para profesional negeri ini dari berbagai jenis profesi. Seperti advokat, apoteker, penyiar radio, penyiar televisi, MC, jaksa, pelukis, politisi, akuntan, pengusaha restoran, penari, sutradara, aktor, animator, web designer, copy writer, graphic designer, pemusik, penyanyi, penari, pemasar, dokter gigi, wartawan, humas, pembalap, petinju, arsitek, penulis, polisi, tentara, pilot, pramugari, pelaut, guru, dosen, perawat, dokter … dan masih banyak lagi yang lainnya, kata Rhoma Irama. Toh, semua jenis profesi yang berkembang di dunia ini, sudah ada di Indonesia. Termasuk astronot.
Pertama-tama, petakan dulu semua jenis profesi yang ada di dunia kerja. Kemudian dibuat pengelompokan-pengelompokan berdasarkan kedekatan antara satu profesi dengan profesi lainnya. Dan langkah selanjutnya adalah membuat percabangan-percabangan dari masing-masing profesi. Setelah peta besar tersusun, bisa ditambahkan profesi-profesi yang mungkin baru teridentifikasi belakangan atau profesi yang perlu dihapuskan karena agak tumpang tindih, kurang relevan dan tidak layak diangkat. Barulah kemudian dinominasikan figur-figur, termasuk tokoh-tokoh yang sudah meninggal, yang akan menjadi role-models untuk setiap profesi. Setiap profesi diwakili sepuluh nominees yang kemudian disaring lagi hingga tingal dua atau tiga tokoh yang dipastikan akan menjadi role-models. Setiap jenis profesi tidak harus menampilkan satu tokoh, bisa dua atau lebih. Tapi dibuat sebagai buku yang terpisah. Tidak dijadikan satu.
Setelah didapatkan kesediaan dari para role-models, langsung saja digeber habis proses wawancara dan penulisan, supaya cepat kelar. Sistematikanya tidak perlu dibuat baku seperti buku diktat. Yang penting, TOR-nya jelas dan rinci. Termasuk buku panduan pengajaran. Orang-orang Diknas pasti jago bikin yang beginian. Sudah biasa mereka.
Setiap biografi dibuat dalam dua versi. Versi lengkap untuk mahasiswa, dan versi ringkas (concise) untuk siswa sekolah menengah umum/kejuruan. Buku-buku biografi tersebut memotret perjalanan hidup role-models secara menyeluruh, mulai dari masa kanak-kanak hingga pencapaiannya yang tertinggi sebagai profesional di bidangnya. Balutan cerita menjadi penting, agar sajian tak membosankan, sekaligus sebagai media untuk mengeksplorasi berbagai kelebihan, kelemahan, kebiasaaan, kecenderungan, sifat dan karakter, serta detil-detil lain yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan hidup dan pekerjaan sang tokoh.
Bagi siswa sekolah menengah umum/kejuruan, pengenalan profesi ditujukan untuk membuka mata mereka mengenai jenis-jenis profesi yang dapat mereka masuki nantinya apabila tidak berminat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pada satu sisi, dan pada sisi lainnya memberikan panduan yang memadai bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar dapat memilih fakultas atau jurusan yang paling tepat dalam mengejar profesi impian.
Memang, tak semua profesi mensyaratkan harus lulusan perguruan tinggi. Boleh-boleh saja kalau mau langsung bekerja selepas sekolah menengah umum/kejuruan. Tak ada yang melarang, kok. Karena banyak juga penyedia lapangan kerja yang membutuhkan tenaga kerja dengan jenjang pendidikan seperti itu. Namun, tamatan sekolah menengah umum/kejuruan biasanya, meski tak semua, cenderung mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja teknis, tenaga clerical.
Namun bukan berarti bahwa pengenalan profesi tidak penting bagi siswa yang ingin langsung bekerja setelah lulus. Bagaimanapun, pengenalan profesi akan memberikan bekal yang memadai mengenai pilihan-pilihan profesi yang paling pas yang tersedia bagi mereka di dunia kerja nantinya dan juga akan sangat membantu dalam memilih kursus yang paling cocok untuk mengembangkan keterampilan.
Ngomong-ngomong soal kursus, Sony jadi teringat akan sebuah lembaga kursus terkenal di Jakarta yang membekali semua lulusannya – dari semua jurusan – dengan praktek kerja table manner. Tampaknya lembaga ini, menurut pandangan Sony, ingin agar para lulusannya jadi Jago Makan, alias orang kaya. Karena hanya orang banyak duit yang bisa jadi Jago Makan. Anita adalah salah seorang lulusan lembaga kursus tersebut. Hanya saja, hingga kini dia belum jadi Jago Makan.
Jangan ngelantur, Oom.
Bagaimana cara pengajarannya? Tidak susah-susah amat. Pak guru tinggal memberikan gambaran awal mengenai jenis-jenis profesi yang ada di dunia kerja kepada murid-muridnya. Kemudian mempersilahkan siswa memilih sendiri paling tidak tiga jenis profesi untuk dipelajari. “Pilih saja yang kira-kira paling cocok dan sesuai dengan diri kalian. Tapi, jangan sampai salah pilih,” pesan Pak Yudho.
Siswa disuruh membuat esai dan menceritakan di depan kelas apa yang telah mereka baca dan bagaimana mereka membandingkan berbagai kesamaan maupun perbedaan yang melekat pada diri sang tokoh dengan dirinya sendiri. Tujuannya adalah mengajak siswa melakukan benchmarking terhadap dirinya sendiri, sehingga tergerak untuk mulai mengidentifikasi semua kelebihan dan kekurangan, termasuk karakter personalnya, agar dapat mulai menentukan profesi apa yang paling memungkinkan seluruh potensinya berkembang secara maksimal nantinya.
“Selamat siang, Pak. Selamat siang, kawan-kawan. Saya sudah membaca biografi Slamet Raharjo, Garin Nugroho dan Christine Hakim. Setelah saya banding-bandingkan dengan minat dan hobi saya, juga sifat-sifat dan kemampuan saya, kayaknya saya ingin jadi sutradara, Pak. Setamat dari sini nanti saya akan mendaftar ke IKJ,” demikian Sahat menyimpulkan.
“Bagus. Bagus,” sahut Pak Yudho sambil membetulkan letak kacamatanya. Dia senang, karena Sahat mampu memahami dengan benar dan membuat perbandingan yang pas. “Munir, sekarang giliranmu maju. Jangan cengengesan!”
Munir yang kepalanya plontos itu langsung melenggang ke depan kelas. Dengan sebatang tusuk gigi menyelip di bibirnya. Seperti biasa, dia selalu berhasil mengocok perut kawan-kawannya bila diberi kesempatan berbicara di depan kelas. “Saya ingin jadi pelawak, Pak. Seperti almarhum Taufik Savalas. Saya mau nyatrik di rumah Tukul.”
Siapkan banyak pilihan bagi mereka. Mau jadi apa saja sudah ada referensinya. Kan, sudah ditulis ratusan biografi sebagai pengenalan jenis-jenis profesi yang dapat digeluti nantinya, sehingga bila berminat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi mereka akan memperoleh gambaran yang memadai mengenai fakultas atau jurusan apa yang nantinya akan dipilih agar jalan menuju profesi idaman lebih mulus.
Bagaimana untuk para mahasiswa? Tidak jauh berbeda. Caranya hampir sama. Tambahkan mata kuliah pengenalan profesi bagi mahasiswa semester akhir, tanpa perlu membeda-bedakan mereka dari jurusan atau fakultas apa. Bukannya tidak mungkin lulusan fakultas hukum ingin jadi pemasar atau penulis. Tak mustahil pula tamatan kedokteran hewan ingin menjadi wartawan atau penyiar televisi. Berikan pilihan tiga buku biografi untuk dipelajari setiap mahasiswa. Selanjutnya suruh mereka membuat esai dan melakukan diskusi-diskusi kelompok. Bagi mahasiswa, dari fakultas atau jurusan apa saja, pengenalan profesi ditujukan untuk memberikan wawasan dan pilihan yang makin mengerucut mengenai profesi yang nantinya akan memungkinkan seluruh potensi yang ada di dalam dirinya berkembang secara penuh.
Dengan diberikannya pengenalan profesi secara lebih dini kepada siswa dan mahasiswa, ke depan tak perlu lagi terdengar kisah-kisah sedih tentang sekian banyak pekerja yang sampai tua jadi itu-itu saja, hanya karena dari awalnya masuk ke dalam profesi yang salah atau mismatch, yaitu profesi yang sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi segenap potensinya untuk berkembang maksimal. Padahal, sesungguhnya mereka dapat menjadi pekerja yang handal dan produktif bila sedari awal menekuni profesi yang pas dengan kemampuannya. Di samping menyia-nyiakan energi dan kapasitas sekian juta tenaga kerja yang seharusnya bisa menjadi pekerja jempolan apabila bekerja dalam profesi yang tepat, kondisi mismatch seperti ini juga menghilangkan kesempatan bagi para pekerja Indonesia untuk berkembang secara optimal menuju puncak profesionalisme.
Seandainya saja kondisi ideal match ini dapat segera diwujudkan secara bertahap melalui pengenalan profesi yang memadai kepada siswa dan mahasiswa, Sony yakin Indonesia tercinta tak perlu lagi mengimpor begitu banyak manajer dari negara-negara lain. Karena para pekerja lokal sudah mampu mengambil alih peran mereka. Birokrasi dan dunia usaha akan semakin kuat karena ditangani oleh orang-orang jempolan. SDM yang siap pakai dan siap berkembang. Indonesia akan kian jaya.
Namun, terlepas dari sekian banyak profesi yang terus berkembang di dunia kerja, ada sebuah profesi pilihan yang bisa dimasuki semua orang dari berbagai latar belakang pendidikan, yaitu pemasar. Profesi ini sangat menantang, dan menjanjikan penghasilan besar. Bahkan negara-negara maju di seluruh muka bumi dulunya adalah negeri kaum pedagang. Mereka bangsa niaga. Tengok tetangga sebelah, Singapura. Bangsa makelar itu tak sedikit pun tertarik mengembangkan industrinya sendiri. “Silahkan bikin apa saja, biar nanti saya yang jualan,” kata mereka. Kenyataannya, mereka menjadi bangsa yang makmur hanya dengan berniaga.
Berkembang dari Bandar Malaka yang sejak dulu memang sudah menjadi titik perlintasan perniagaan antarbenua, negeri Cap Singa itu kini menjelma menjadi salah satu pusat perdagangan yang paling sibuk di dunia. Tak heran bila hampir semua perusahaan multinasional menempatkan kantor pemasaran wilayah Asia di negara kota itu. Sehingga tidak berlebihan pula menyebut Singapura sebagai jatung pemasaran berbagai barang/jasa yang dihasilkan oleh para produsen dari seluruh dunia. Bahkan, banyak produk ekspor Indonesia yang harus numpang lewat dulu di Singapura sebelum diedarkan ke berbagai negeri.
Di Indonesia, profesi pemasar banyak digeluti oleh masyarakat keturunan Tionghwa. Baik di daerah perkotaan maupun di pelosok-pelosok desa. Di seluruh penjuru Nusantara mereka berniaga. Dari ujung barat hingga ujung timur. Mereka ada di mana-mana. Berdagang seolah sudah menjadi identitas mereka. Dari sononya, konon kata yang punya cerita, mereka memang berjiwa pedagang. Tekun, ulet dan berani mengambil risiko.
Namun demikian, profesi pemasar tidaklah eksklusif untuk masyarakat keturunan Tionghwa. Karenanya, tidak harus berpacaran dulu dengan Mei Lan atau Fang Fang, atau melakukan operasi penyipitan mata, untuk menjadi pemasar yang berhasil. Siapa saja bisa berprofesi sebagai pemasar. Tak peduli apakah berkulit legam, coklat, kuning ataupun putih. Tak pandang apakah berambut ikal, lurus ataupun gimbal. Tak soal apakah pria, wanita atau banci.
“Kalau mau duit banyak, harus sering-sering ketemu manusia. Jangan cuma bergaul sama alat dan mesin,” demikian Ceng Li pernah memberikan tipsnya kepada Sony.
Pria bermata sipit itu teman main golf Sony. Dua minggu sekali mereka main golf bersama. Tempatnya berpindah-pindah. Kadang juga di luar kota. Bagi Sony, Ceng Li tergolong teman istimewa, meski penampilannya sepintas kurang meyakinkan, karena suka pakai sandal butut ke mana-mana. Ceng Li orang yang ramah, sopan, penuh perhatian, baik hati dan kaya raya. Tanahnya terserak di mana-mana. Ruko puluhan jumlahnya. Deposito bermilyar-milyar. ATM dan kartu kreditnya semuanya Platinum. Rumahnya besar dan megah. Mobilnya berjejer-jejer di garasi. Semuanya merek papan atas dan keluaran terbaru.
Namun Sony tak pernah tahu apa pekerjaannya. Sehingga pada suatu kali dia tanyakan kepadanya, “Emangnya, loe kerja apaan?”
“eL eM Ji E,” sahutnya singkat, sambil membetulkan celananya yang agak melorot.
“Apa?” tanya Sony dengan penasaran, karena jawabannya tadi terdengar asing dan kurang jelas di telinganya.
“eL eM Ji E,” ulangnya sekali lagi, dengan gerakan bibir yang agak samar.
LMGA, dilafalkan dalam bahasa Inggris. Lu Mau, Gua Ada. Mau traktor seratus unit, dia bisa penuhi. Mau bangun ruko, dia pasti sanggupi. Mau pensil dua kontainer, dia akan pergi mencari. Mau gula seratus ribu ton, dia akan beri. Mau besi tua, kapal dan pabrik tua akan dia pereteli. Apa saja yang diminta, dia pasti bisa kasih. Itulah Ceng Li, penggemar sate kiloan dan nasi pecel. Dan, banyak juga orang yang berprofesi seperti itu. Tak perlu bangun pabrik. Tak perlu piara karyawan hingga ratusan. Cukup menjalin jaringan seluas-luasnya. Dan, menjadi sahabat bagi setiap orang.
Sony pertama kali kenal Ceng Li di pasar ikan hias di Jalan Sumenep, di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Mereka berdua sama-sama penggemar ikan hias air laut. Hampir setiap hari Sabtu Sony pergi ke sana, membeli rebon beku untuk makanan ikan-ikan kesayangannya dan beberapa galon air laut. Terkadang dia juga tambah-tambah koleksi ikan dan terumbu karang baru.
Setiap kali duduk-duduk ngopi untuk meluruskan kaki yang pegal sambil mengamati ikan-ikan berwarna-warni berenang kian kemari di dalam akuarium besar di salah satu kios langganannya, Sony selalu ketemu orang yang sama. Seorang pria paruh baya yang gemar pakai celana kolor dan kaos oblong dengan sandal butut yang sepertinya sudah dijahit berkali-kali. Jangan-jangan itu sandal bertuah, pikir Sony. Karena sering ketemu muka dan ngobrol-ngobrol soal perawatan ikan, akhirnya mereka akrab. Mereka juga sering bertukar buku-buku mengenai ikan laut. Kebetulan, mereka juga suka main golf. Nyambunglah jadinya.
Tak peduli di laut atau di darat, profesi pemasar menuntut kemampuan personal yang lebih dalam berhubungan dengan manusia. Interpersonal skill, dalam bahasa kerennya. Suatu kemampuan untuk memahami manusia, menempatkan diri pada posisi mereka, menjadi bagian dari mereka, dan akhirnya mempengaruhi mereka, untuk suatu tujuan yang terencana. Sebagian besar memang bakat alam. Bawaan orok, kata orang. Tapi juga bisa dipupuk dan dikembangkan melalui pelatihan, atau, ditumbuhkan dengan penciptaan lingkungan yang menunjang. Namun ada satu lagi syarat yang penting untuk menjadi seorang pemasar, yaitu kegigihan. Soal jaringan, tak perlu terlalu dipusingkan. Memang penting, tapi jaringan bisa dibangun secara bertahap apabila sudah memiliki dua syarat yang disebutkan di muka.
Seorang pemasar biasanya supel dan pandai bergaul, penuh empati, pendengar yang baik, sabar dan tidak grusah-grusuh, mampu memberikan solusi, tidak defensif dan tidak pula ofensif, lebih suka menghindari konflik, tidak gampang tersinggung, serta berjiwa melayani. Satu musuh terlalu banyak, seribu kawan masih kurang, kata mereka. Personalitas seperti ini sangat penting karena setiap hari seorang pemasar harus berurusan dengan manusia-manusia dari beragam latar belakang seperti budaya, pekerjaan, sifat, adat dan kebiasaan, bahasa, keluarga, hobi dan bahkan agama. Ini merupakan modal utama yang harus dimiliki setiap pemasar. Dalam kenyataannya, banyak pemasar yang jarang-jarang ngomong soal pekerjaan dengan kliennya, karena mereka lebih suka diajak bicara soal hobi, keluarga, pengalaman dan lain sebagainya. Hal-hal seperti itulah yang akan semakin mendekatkan hubungan mereka secara personal, sehingga penetrasi menjadi lebih efektif.
Seorang pemasar akan berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang dihadapinya, baik secara korporat maupun personal, sehingga dia tidak lagi dianggap sebagai orang lain. Menjadi teman mereka. Sahabat mereka. Masuk ke dalam dunia mereka. Ibaratnya, harus nyemplung ke dalam kolam dan menjadi ikan dulu kalau sedang berjualan celana dalam ikan mas koki. Bila berjualan BH kambing, harus bisa mengembik dan bersedia memakai kostum berbulu, lengkap dengan tanduknya dan parfum khusus aroma kambing yang lebus itu. Dengan banyaknya barang/jasa sejenis yang disediakan oleh pasar, pilihan yang melimpah sering kali malah membingungkan, sehingga keputusan membeli akan lebih ditentukan oleh seberapa dekat hubungan antara penjual dan pembeli, bukan barang/jasa yang ditawarkan. Karena konsumen lebih suka membeli dari orang yang sudah mereka percayai.
Sedangkan pengetahuan mengenai produk, atawa product knowledge, relatif bisa dipelajari semua orang. Tidak terlalu susah. Kalaupun tidak bisa menguasai semuanya karena terlalu banyak detil, biasanya ada backup teknis dari orang-orang dapur. Kalau sama sekali tidak tahu? Gampang. Pemasar yang pintar biasanya akan berusaha membuat lawan bicaranya tidak tahu bahwa sebenarnya dia tidak tahu. Bingung, kagak? Pikirin sendiri. Karena seorang pemasar harus mampu menjual apapun. Termasuk telor busuk, tanpa perlu mengelabui pembeli. Caranya? Dilubangi saja pakai jarum dan buang isinya. Ambil kertas warna, lem, gunting dan spidol. Jadilah telor hias. Harganya bisa lebih mahal. Demikian pula, jeruk yang sudah tidak segar lagi kulit luarnya dapat diubah menjadi orange juice yang segar lagi mak nyus. Kreativitas menghasilkan nilai tambah.
Soal kegigihan, penjual asuransilah yang terkenal tahan banting. Para penjual keanggotaan kartu kredit tak perlu diperhitungkan. Pekerjaan mereka ringan-ringan saja, karena hampir semua orang yang ditawari biasanya memang ingin memiliki kartu kredit. Sedangkan para penjual asuransi harus bekerja ekstra keras menjual produk yang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia masih dipandang dengan sebelah mata manfaatnya. Di tengah pasar yang kurang bersahabat inilah mereka mesti meyakinkan setiap orang yang ditemui akan manfaat asuransi, dengan mulut yang berbusa-busa. Bagi mereka, tak ada calon nasabah yang sulit tembus, yang ada hanyalah orang-orang yang belum dikenal dekat. Penolakan adalah sarapan pagi. Diremehkan adalah pemacu semangat. Dipersilahkan duduk dan diberi kesempatan menerangkan produk adalah pintu menuju kesepakatan jual-beli.
Profesi pemasar menjanjikan tantangan yang menyenangkan, terutama bagi orang-orang yang gigih dan para pecandu ketegangan. Sedikitpun mereka tak pernah menganggap calon klien yang sulit ditembus sebagai suatu halangan. Malah sebaliknya, sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Setitik peluang, sudah cukup bagi mereka. Persis seperti ketika penggemar olahraga pemacu adrenalin melihat sebuah tebing terjal yang berdiri tegak lurus di hadapannya. Harus ditaklukkan. Setelah menggapai puncak, matanya akan menyalang ke mana-mana untuk mencari tebing yang lebih sulit dipanjat. Semakin menantang, semakin bikin ketagihan. Asyik, kata mereka. Namun, banyak juga pemasar pria yang memanfaatkan kelebihan ini untuk menaklukkan hati klien wanita yang sedang digarapnya. Biar saja. Itu urusan mereka sendiri. Tapi yang beginian jangan ditiru.
“Batu saja lama-lama bisa berlubang kena tetesan air, masa Pak Silaen tak mau bicara sama saya. Mana berkas-berkasnya. Sini, biar saya yang garap. Tapi bonusnya saya yang ambil. Berikutnya bolehlah dibagi dua. Kasih saya waktu dua minggu. Kalau tak mampu mengajak dia makan malam dan karaoke, lebih baik saya makan tanah. Pulang kampung. Tanam jagung. Pakai rok sekalian. Pasti bisa. Kalau gagal, kamu tak perlu lagi panggil nama saya Heru Wibowo. Ganti saja, James Bond. Biar tambah keren.”
Kadang-kadang sedikit sesumbar diperlukan, untuk membangkitkan semangat dan rasa percaya diri. Begitulah cara Heru memompakan semangat baru kepada anak buahnya yang hampir putus asa karena selalu menabrak tembok. Kalau tidak bisa ditembus dari depan, ya harus cari jalan memutar. Kenyataannya, Pak Silaen akhirnya takluk juga. Malah jadi kawan akrab. Ke mana-mana minta diantar. Sering curhat pula. Dua proyek besar pun berhasil dikantongi Heru, Manajer Pemasaran di kantor Sony. Itulah kiatnya.
Kiat. Kata itu pernah menjadi rubrik tetap di majalah Tempo sekitar lima belas tahun hinga dua puluh silam. Sony adalah salah seorang penggemar beratnya. Tak pernah sekalipun dia melewatkan tulisan Bondan Winarno yang selalu inspiring. Terutama ketika orang Madiun dia ngoceh soal pasar, pemasar dan pemasaran. Bahkan ketika tulisan-tulisan yang renyah itu dibukukan, Sony langsung mengoleksinya. Kini Pak Bondan lebih sibuk menggoyang lidah. Menguji rasa mengendus aroma. Njajah deso milang kori. Memburu top markotop. Lelaki ganteng yang beristrikan wanita bule itu sudah kebanyakan duit rupanya. Tapi kolesterolnya tampak terjaga, meski lelehan lemak sering mengulasi bibirnya. Bleger-nya pun tergolong bagus untuk pria seusianya.
“Gwen, seret papamu ke dapur. Siapkan laptop dan secangkir kopi kental, panas mengepul-ngepul. Biar dia bersemangat lagi menumis kata-kata. Menggoreng frasa. Dengan kalimat-kalimat pendek sebagai garnish-nya. Meracuni pikiran anak-anak muda agar mereka bersemangat menekuni profesi sebagai pemasar. Memberi mereka inspirasi dan contoh. Mencekoki para fresh graduates dengan anggur merah agar mereka mabuk dan terbeliak matanya melihat dunia marketing yang begitu menggoda dan menantang. Karena bapakmu itu bisa jadi panutan bagi mereka. Bujuk dia agar mau membagi-bagikan cerutu harum koleksinya itu sehingga kaum muda doyan berjualan. Paksa dia membuat jajanan yang gurih. Sesekali bikin pecel boleh-boleh saja. Juga sambal terasi. Meski hanya berbahan kertas dan tinta, dijamin, rasanya pasti mak nyus.”
Mak nyus memang, rawon bikinan nenek Sony. Di kampung halaman sana, neneknya seorang pengusaha warung makan. Bisa dibilang, Sony terlahir dari keluarga pedagang. Kakeknya seorang saudagar tembakau. Paman dan bibinya sebagian juga berprofesi sebagai pedagang. Mulai dari yang berjualan di pasar hingga yang kerjanya jadi makelar di terminal. Belum lagi yang buka depot.
Ayah Sony sendiri, seorang guru yang nyambi berdagang. Membuka sebuah toko kecil yang khusus menjual buku-buku agama, sekaligus menjadi agen majalah-majalah syi’ar Islam. Semasa kanak-kanak dulu, Sony sering diajak ayahnya pergi ke kota-kota kecamatan pada hari Jum’at. Kadang sampai bolos sekolah. Ikut ayahnya yang pergi memenuhi undangan berkhotbah. Menjadi khotib sholat Jum’at. Bubaran sholat, barulah makan sate dan gule kambing. Setelah kenyang, buru-buru ayahnya yang berperawakan raksasa itu mengajak Sony kecil mendatangi rumah beberapa kawannya untuk menawarkan buku-buku agama yang mereka bawa. Berdakwa sekaligus berniaga. Seperti kisah-kisah lama. Kadang mereka juga menggelar dagangan di pasar.
Pemasar dan pasar. Penjual dan pembeli. Begitulah mereka berinteraksi. Dalam jalinan yang saling mengisi. Meski kata para pakar pasar hanyalah sebuah persepsi, namun ia bukanlah sebuah misteri yang tak bisa dipahami. Sony merasa aneh ketika menemukan ada sebuah perusahaan yang memasang slogan “No more mistery in marketing, because we are the missing link.” Seolah menegaskan bahwa pasar adalah misteri yang tak terselami bagi banyak orang, kecuali untuk mereka yang telah menjadi the missing link. Ini benar-benar discouraging. Menjadikan orang ciut duluan nyalinya sebelum masuk ke dunia marketing.
Profesi pemasar sesungguhnya bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, ia menyenangkan dan mengasyikkan. Karena memberikan kesempatan luas untuk mengenal manusia luar dan dalam. Sekaku apapun klien yang harus ditaklukkan, pasti ada sisi-sisi lunak yang bisa dimasuki. Kalau tidak di depan pasti di belakang. Bila tidak di kiri pasti di kanan. Andai tidak di bawah pasti di atas.
Memang, tak semua orang cocok bekerja sebagai pemasar, baik sebagai tenaga marketing yang berdasi ataupun salesman yang menjajakan barang dari rumah ke rumah. Namun tak perlu takut memasuki profesi ini, sepanjang memiliki dan mampu mengembangkan karakter dasar yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemasar. Kenyataannya, banyak pemasar yang berhasil memulai karirnya dengan menjadi salesman, atau Soleman, kata orang Madura. Hanya saja, karena sedari awal sudah membayangkan yang susah-susah, banyak orang yang enggan dan jerih menjadi pemasar.
Situasi ini pernah dimanfaatkan secara culas oleh sebuah perusahaan otomotif pada masa-masa awal krisis ekonomi 1998. Keadaan yang menyesakkan dada memaksa mereka untuk segera membuang lemak yang menggelambir di tubuhnya. Karena jantung sudah agak lemah untuk memompakan darah. Badan harus dikuruskan. Ikat pinggang mesti dikencangkan. Hanya tersedia sepiring nasi untuk satu hari. Jangan sampai terkena HO. Apalagi busung lapar. Malu-maluin. Maka, ia pun mewajibkan karyawan dari semua bagian – kecuali produksi dan marketing, yang merupakan aset mereka yang sesungguhnya – beralih menjadi pemasar. Aturannya mudah dan sederhana. Apabila tak mampu menjual sesuai target dalam jangka waktu yang telah ditentukan, silahkan melangkah teratur ke tepian. Minggir. Banyak sekali yang berguguran. Bisa jadi, karena sedari awal sudah nyerah duluan. Hanya sedikit yang bertahan.
Cara seperti itu memang sangat manjur untuk program diet instan, tapi tidak fair dan cenderung curang. Terkesan mau menangnya sendiri. Tanpa mempertimbangkan kendala yang dihadapi orang lain. Pertama, pengalihan tugas tidak disertai dengan pelatihan yang memadai untuk menjalankan tugas baru. Akibatnya, banyak yang tergagap-gagap mengucapkan kata pasar. Kedua, tak semua karyawan memiliki atau mampu mengembangkan kualitas personalnya untuk menjadi pemasar. Walhasil, banyak yang nyalinya ciut duluan sebelum maju berperang. Ketiga, mereka harus beramai-ramai menjual pada saat banyak orang sedang ramai-ramai tak ingin membeli. Tentu saja, satu pelanggan harus dikerubuti puluhan orang. Tapi orang-orang di atas punya alasan, “Kapal mau tenggelam, penumpang harus sukarela berloncatan ke lautan. Sekoci hanya akan diturunkan bila keadaan sudah benar-benar darurat.” Seolah tak ada jalan lain yang lebih berbudaya.
Bagaimanapun, anak-anak muda, para fresh graduates, harus sebanyak mungkin didorong untuk menggeluti profesi sebagai pemasar. Baik lulusan sekolah menengah umum/kejuruan maupun tamatan perguruan tinggi. Inilah salah satu profesi yang akan banyak membantu Indonesia mempercepat proses kebangkitannya kembali. Berbicara di kancah global. Seperti pada zaman kejayaan kerajaan-kerajaan niaga di masa lalu.
Oleh karena itu, perlu dibuat dalam jumlah agak banyak biografi para pemasar untuk mata pelajaran dan mata kuliah pengenalan profesi. Agar para siswa dan mahasiswa terbuka matanya bahwa profesi berpenghasilan besar bukan hanya arsitek, artis, dokter, pengacara dan lain sebagainya. Ada sebuah profesi yang menjanjikan penghasilan jauh lebih besar dan tantangan yang lebih mengasyikkan, yaitu pemasar. Sudah bukan zamannya lagi menjadi bangsa yang cuma pintar membuat barang, tetapi selalu kebingunan kalau disuruh menjual.
“Perkara jual, itu urusan nanti. Yang penting, bikin dulu barangnya.”
Sony masih teringat ucapan seorang kenalannya, direktur sebuah pabrik pupuk pelat merah, sekitar sembilan tahun silam. Insinyur kimia itu sedang berancang-ancang memproduksi pupuk jenis baru. Tentu saja tak perlu pusing soal pemasaran. Karena ketika itu distribusi pupuk masih dimonopoli oleh PT PUSRI. Dia tinggal produksi. Urusan pemasaran biar holding yang memikirkan. Toh, itu pupuk memang jenis unggulan. Pasti diserap petani.
Tapi, ketika sebuah BUMN harus bersaing di pasar yang sesungguhnya, mereka selalu kedodoran. Ambil contoh di sektor transportasi. Baik di darat, laut dan udara, semuanya pada babak belur. Atau, di bidang farmasi, misalnya. Keuntungan mereka rata-rata di bawah lima persen dari nilai penjualan yang segede gajah. Kadang malah rugi. Dengan angka penjualan yang sama dan pabrik yang jauh lebih kecil, perusahaan swasta mampu meraih keuntungan rata-rata di atas empat puluh persen. Ini benar-benar anomali. Mereka cuma pintar dan fokus membuat barang, dan sibuk berorganisasi. Tidak gemar berdagang. Bondan Winarno bahkan pernah menulis, industri farmasi pabriknya kecil untungnya besar. Kenyataannya, industri farmasi pelat merah pabriknya besar-besar dan bercabang-cabang, dahan dan ranting pemasarannya menjulur-julur ke mana-mana, tapi untungnya sangat kecil.
Berkembangnya profesi pemasar di kalangan kaum muda akan memicu lahirnya banyak pengusaha baru di masa depan. Karena orang buka usaha tujuannya bukan untuk bikin barang, melainkan melayani pasar. Tanpa pasar di genggaman, sebaiknya urungkan saja niatan membuka usaha. Karena yang lebih penting adalah menjual. Urusan bikin barang, nanti saja setelah pasar benar-benar siap menyerap barang yang akan diproduksi. Kalau perlu, jualan dulu. Setelah ada yang mau beli, baru bikin barang. Sekali lagi, yang pertama dan utama, adalah berjualan.
Sekolah Alam saja sudah mengajarkan kepada murid-murid SD untuk gemar berdagang sejak belia. Dan itu benar-benar dipraktekkan. Mereka melakukan survai harga ke toko-toko. Membawa barang apa saja dari rumah untuk dijual kepada sesama teman dan juga kepada orangtua murid dan guru. Ukuran keberhasilannya sangat gampang. Mereka harus menjadi anak-anak yang mata duitan.

5. Pekerja

Pahlawan devisa. Sebutan bagi pekerja yang mengantongi visa. Karena di kampung halaman sudah tak ada lagi pekerjaan tersisa. Berangkat di hari Selasa. Mengarungi samudera membelah angkasa. Menyeberangi laut berbusa. Demi mengejar sepotong asa. Mengadu nasib di mancanegara. Bekerja jauh dari sanak keluarga. Untuk meraih impian hidup bahagia. Merelakan keringat tertumpah. Menjual tenaga demi segenggam upah. Yang terkadang tak pernah ia terima. Dera dan siska sebagai gantinya. Tanpa pernah tahu apa yang salah. Karena posisinya selalu kalah. Pahlawan itu kini terbujur kaku. Tubuhnya dingin dan membiru. Diam membisu di dalam kotak kayu. Tak boleh lagi duduk di kabin penumpang. Tempatnya lorong bagasi barang.
Setiap kali ada pekerja migran Indonesia yang disiksa, diperkosa, atau mati didera, hampir bisa dipastikan di kandang macan mana mereka bekerja, Malaysia, Singapura dan Jazirah Arabia. Namun, setiap tahun bertambah banyak saja pekerja migran yang dikirim ke kandang macan yang berjumlah tiga. Menjadi umpan mudah bagi macan yang siap menerkam dengan mulut menganga. Pemerintah lebih sering memanglingkan muka. Mereka TKI ilegal, katanya. Para pejabat menutup mata. Tak pernah bergerak kecuali dengan kata-kata. Seolah tak pernah ada fakta. Menganggap mereka sebatas angka-angka. Seluruhnya berjumlah sekian. Di negeri sini sekian. Di negara sana sekian. Yang legal sekian. Yang ilegal sekian. Yang kabur sekian. Yang dipenjarakan sekian. Yang diseterika sekian. Yang diperkosa sekian. Yang mati sekian. Hanya bilang kasihan.
Kandang macan pertama menampilkan kebengisan yang menyesakkan dada. Tanpa pernah diusut secara tuntas oleh polisi diraja. Sebagian masyarakat Malaysia memandang sebelah mata orang Indon yang mencari kerja dengan menjadi apa saja. Di negeri jiran itu, mereka dianggap manusia kelas dua. Dijual seperti butiran kelapa. Diperlakukan semena-mena. Ditangkap kapan saja. Disiksa semaunya. Menjadi kambing hitam bila terjadi sengketa antara majikan dan pekerja. Dikurung tanpa pernah diadili. Diperas bayar penalti. Bila perlu ditembak mati di tengah laut. Dijadikan makanan ikan pesut. Sesungguhnya, ini hanyalah sebuah manifestasi. Dari perasaan rendah diri. Mereka iri. Karena artis Indonesia cantik-cantik dan cakep-cakep. Sementara para pesohor mereka wajahnya seperti perawan kampung dan ban serep.
Sony pernah sekali pergi ke Malaysia. Kunjungan iseng tanpa peta. Hanya berwisata. Sekalian mengunjungi teman lama. Pergi sendirian saja. Tapi dia merasa tak betah di sana. Seseorang berseragam menghentikan langkahnya. Tatapan matanya kurang bersahabat. Seperti sedang merazia penjahat. Tangan kirinya bergelang kawat. Tangan kanannya menggaruk-garuk sesuatu di balik cawat. Wajahnya penuh jerawat. Berminyak dan tak terawat. Kumisnya tidak terlalu lebat. Tapi sepatunya mengkilat. Kayaknya baru dicat. Dari balik bajunya sepucuk pestol mencuat. Sungguh, pengalaman laknat. Ketemu oknum bejat. Mencecar pertanyaan-pertanyaan sesat. Dunia serasa mau kiamat. Rencana makan malam jadi telat.
Keesokan paginya Sony langsung cabut. Seumur hidup, tak mau lagi dia pergi ke kandang macan itu. Meski diberi tiket, uang saku dan disediakan kamar hotel supermewah. Mending ke kebon binatang. Ketemu Agnes, pacar barunya.
Tak mengherankan bila hubungan bilateral Indonesia-Malaysia selalu naik turun seperti ayunan di TK Melur. Sesekali naik, sering kali menghujam bagai sangkur. Rentan seperti kulit luar sebutir telur. Terkadang menggelinding liar membentur-bentur. Meluncur-luncur. Beberapa bagian retak dan hancur. Ketika majikan mencelakai orang yang kerja di dapur. Hanya karena salah menyajikan bubur. Kepada kakek yang sudah uzur. Layu seperti seikat sayur. Tergolek lemah di kasur. Sebentar lagi masuk kubur.
Cemeti langsung diulur. Lidahnya menjulur-julur. Suaranya mengguntur. Melukis garis-garis lurus membujur. Di punggung kurus yang melengkung seperti busur. Badan berbilur-bilur. Kucuran keringat menjadikan darah luntur. Semua persendian terasa kendur. Babak-belur. Tak mampu lagi kabur.
Tak hanya urusan pekerja migran Indonesia dizalimi, dalam banyak soal negeri jiran itu merasa superior. Meski dalam soal budaya selalu mengekor. Kepada saudara tuanya yang selalu tekor. Dan, berwajah jontor. Sering kali anak bawang itu berlagak seperi mandor. Bertamu sambil menggedor-gedor. Muka melengos masuk dengan kaki kotor. Kepala mendongak air seni menggelontor. Sayang, lupa tak pakai kolor.
Indonesia lebih suka mengalah. Bahkan ketika beberapa pulaunya ditilep dengan konspirasi gajah. Tentara gatal tangannya mau menembak. Senapan tak sabar ingin menyalak. Tapi pemerintah memilih menyingkirkan tombak. Meski harus berjalan di tengah ladang penuh onak. Dengan harga diri yang koyak. Nurani yang berontak. Meredam amarah yang bergejolak. Agar tak menjadi amuk yang menggelegak. Karena amunisi sudah memenuhi geladak. Tinggal disulut sumbunya pasti langsung meledak.
“Ganyang Malaysia.” Slogan pemompa nasionalisme yang begitu menggetarkan pada masa konfrontasi itu selalu muncul kembali setiap kali Indonesia bersinggung punggung dengan Malaysia. Pintar sekali Bung Karno mengocok kata-kata. Sederhana, tapi mobilizing, mengerakkan semua. Bahkan badak bercula satu dan orangutan dengan sukarela akan ikut angkat senjata.
Sony sependapat dengan sebagian orang, sesekali negeri congkak itu perlu diberi pelajaran. Dijewer kupingnya. Dipukul bokongnya. Orang diam bukan berarti takut. Hanya mencoba bersikap patut. Tapi jangan sembarangan kentut. Kalau tak mau dijadikan campuran sayur bakut.
“Tuan, tolong jangan berperilaku biadab. Kami orang-orang beradab. Tuan, berhentilah menganiaya. Kami bangsa berbudaya. Perbaiki perangai Tuan. Atau, kami yang akan meluruskan.”
Lain Malaysia lain lagi Singapura negeri makelar. Lobang hidungnya selalu mekar. Rambutnya kasar. Berkibar-kibar. Taringnya setajam cakar. Ekornya setengah melingkar. Memang, kadang macan kedua ini relatif kurang sangar. Tapi tak boleh disikapi dengan biar. Bisa-bisa tambah kurang ajar. Banyak saudara sebangsa merintih di sana karena dihajar. Disekap di dalam kamar. Sebagian malah masuk sangkar. Dan sebagian lagi pulang dibungkus tikar. Disisipkan uang beberapa lembar. Sebagai pengganti harapan yang telah buyar. Hati serasa terbakar. Melihat belati, tangan ingin menyambar. Tapi harus dicari jalan memutar. Karena Indonesia bukan bangsa barbar. Meski sering menderita luka dan memar. Lebih baik dibicarakan di dalam hanggar. Agar bara tidak semakin melebar. Hanya karena beberapa orang sudah tak sabar. Ingin menampar.
Kandang macan ketiga berada nun jauh di sana. Di tanah kerontang raja dahaga. Miskin air kaya minyaknya. Penduduknya gemar makan kurma. Menyantap daging domba. Ke mana-mana naik onta. Jazirah Arab namanya. Sebagian masyarakatnya masih menganut tradisi lama. Pekerja migran dianggap hamba sahaya. Dinilai sebagai harta. Ditimbang seperti tumpukan kain perca. Diperlakukan semaunya. Disentuh seenaknya. Di bagian dada. Di bagian paha. Karena telah dibeli dengan materai bergores pena. Perkosaan merajalela. Persis seperti perilaku kuda. Birahi dibiarkan menjadi raja. Atas nama tradisi yang bermuka dua. Diambil sisi enaknya saja. Sehingga korban dengan mudah menjadi tersangka. Dikurung di ruangan tanpa jendela. Tanpa seorang pun yang datang membela. Hakim telah menetapkan kata. Hukuman pancung menggelindingkan kepala.
Pahlawan devisa. Sebutan membanggakan itu begitu gampang meluncur dari mulut yang penuh busa. Tak seperti kenyataan pahit yang kerap mereka hadapi di luaran sana. Ketika siksa mendera. Ketika tamparan melukis wajah. Ketika sepiring makanan basi diberikan sebagai hadiah. Ketika tangan-tangan gatal majikan pria dengan penuh birahi menggerayangi tubuhnya. Ketika air mendidih disiramkan ke muka. Ketika setrika panas menggosok punggung. Ketika cambuk mengayun bergulung-gulung. Ketika raga meregang nyawa.
Mereka tak tahu harus mengadu kepada siapa. Tak tahu harus berlindung di mana. Tak tahu harus lari ke mana. Sebagian pulang dengan badan penuh luka. Sebagian malah ketawa-tawa karena gangguan jiwa. Sebagian menanggung malu berbadan dua. Sebagian lagi hanya pulang nama. Sampai kapan kita akan menutup mata? Menyaksikan anak bangsa mati disiksa. Kejadian seperti ini senantiasa berulang. Dan terus berbilang.
“Seperti lingkaran setan,” kata Heru dengan geram. “Padahal mereka telah berjasa besar mengurangi angka pengangguran di dalam negeri dan membawa masuk devisa yang jumlahnya hanya bisa dikalahkan oleh sektor migas. Itu pun belum dihitung dengan pemasukan devisa yang tidak tercatat dalam sistem perbankan dan jalur formal lainnya karena dibawa pulang dengan cara-cara tradisional. Bisa-bisa malah mengalahkan pendapatan devisa dari sektor migas,” dia menambahkan dengan berapi-api.
Heru sedang terlibat diskusi panas dengan Sony soal pekerja migran Indonesia. Sony mengiyakan pendapatnya. Tapi dia balik bertanya, “Memangnya, lingkaran setan itu apa, Her?”
Dengan tangkas Heru menjelaskan ucapannya, “Lingkaran setan adalah persoalan yang tak pernah bisa diselesaikan karena masalahnya terus berputar. Gambarannya begini, Pak. Tikus takut sama kucing. Kucing takut sama anjing. Anjing takut sama harimau. Harimau takut sama pemburu. Pemburu takut sama istrinya. Istri pemburu takut sama ibu mertua. Ibu mertua takut sama tikus. Berputar-putar terus. Tidak selesai-selesai. Masa, Pak Sony tidak tahu?”
Setelah Depnakertrans menyerahkan urusan pekerja migran kepada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) – tak lebih dari sekedar pelepasan organisasi – yang hingga kini belum juga kunjung pinter mengurusi, apalagi melindungi, para TKI, sudah saatnya dibentuk Kementerian/Departemen Pekerja Migran. Lembaga baru ini harus benar-benar bersih dari orang-orang lama yang gemar dengan status quo. Baik menterinya, pejabat eselonnya, karyawannya, hingga tukang sapunya. Semuanya harus orang baru. Tak boleh ada kaitan sedikit pun dengan mereka yang selama ini tak pernah becus mengurusi pekerja migran. Harus dipotong satu generasi. Seperti ketika Presiden SBY mengambil sikap tegas untuk tidak melakukan penerimaan mahasiswa baru di IPDN selama setahun untuk memutus lingkaran setan kekerasan yang melingkupi sekolah calon camat itu.
Persoalan pekerja migran tidak pernah tuntas karena banyak pihak menghendaki demikian. Terlepas dari masih banyaknya TKI ilegal, posisi tawar PJTKI, baik yang lurus maupun yang culas, sangat lemah di hadapan agen penempatan pekerja migran di luar negeri. Dengan mudah mereka ditekan bila terjadi sesuatu yang tak normal atas pekerja migran Indonesia (yang legal). Dipaksa tidak membesar-besarkan persoalan yang dianggap ecek-ecek itu. Ancamannya, quota dipotong atau tidak bisa melakukan pengiriman lagi. Tentu saja, PJTKI keder dan memilih bungkam. APJATI akan segera melobi para pejabat agar tidak mengangkat permasalahan itu ke permukaan.
“Ini soal kecil. Satu di antara sejuta,” kata mereka. Angka-angka statistik membela mereka.
Ya, Tuhan! Sekalipun satu, itu insan. Bukan hewan. Bukan pula sekedar bilangan. Tapi karena sudah rutin mendapat setoran, para oknum tak berhati nurani memilih diam. Kalaupun bergerak, hanya mulutnya. Biar kelihatan kerja. Hayo …, berubah! Jangan bikin repot Presiden melulu.
Kementerian/Departemen Pekerja Migran yang baru harus merestrukturisasi hubungannya dengan PJTKI. Dari hubungan patron-klien, dikembalikan lagi menjadi sebentuk interaksi antara regulator dan pelaku usaha. Hentikan perselingkuhan bertumbal. Stop perilaku Dajal. Dari titik baru inilah bisa mulai dilakukan penataan dan pemetaan ulang semua PJTKI. Yang asal-asalan dibubarkan saja. Kalau perlu diracun pakai sambal superpedas. Biar perutnya mulas-mulas. Yang bagus dibina dan dibantu memperkuat posisi tawarnya terhadap agen penempatan pekerja migran di luar negeri, melalui jalur government-to-government dan semua akses yang bisa diberdayakan. Karena sebagian besar persoalan berada di luaran sana. Apabila di luar sudah beres, akan lebih mudah menata yang di dalam. Agar pekerja migran tidak lagi menjadi pekerja migren.
Kementerian/Departemen Pekerja Migran yang baru juga harus mampu meminimalisir dan secara bertahap menihilkan TKI ilegal, karena dari sinilah pokok persoalan sering kali bersumber. Mereka, para TKI ilegal itu, rentan sekali terhadap segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Ini sangat crucial. Harus segera ditangani. Lha wong TKI legal saja juga sering ketimpa sial, apalagi yang ilegal.
Sebenarnya bukan salah mereka menjadi TKI ilegal. Mereka tidak punya pilihan, karena biaya keberangkatan melalui jalur formal memang sangat muaahal. Di sinilah sebenarnya Kementerian/Departemen Pekerja Migran yang baru dapat mengambil peran. Sistem penempatan dan pemberangkatan TKI harus diubah total. Dalam sistem baru, biaya pemberangkatan dan penempatan dibebankan kepada tiga pihak – yaitu, calon TKI, PJTKI dan pemerintah – secara merata ataupun secara proporsional. Dana talangan tersebut harus dikembalikan oleh TKI dengan mencicil dari gaji bulanan mereka selama enam bulan sampai satu tahun hinggal lunas. Tidak seperti selama ini, di mana seluruh biaya keberangkatan harus ditanggung sendiri oleh calon TKI. PJTKI cuma bermodal dengkul.
Dengan cara ini, secara bertahap jumlah TKI ilegal bisa diminimalkan, dan akhirnya dinihilkan, karena mereka tidak perlu lagi menyiapkan dana yang terlalu besar untuk bekerja di luar negeri. PJTKI juga akan terseleksi secara alamiah. Mereka yang cuma bermodal dengkul dan tidak profesional akan tergerus dengan sendirinya. Sedangkan pemerintah sebagai salah satu pihak yang turut andil dalam membiayai keberangkatan TKI otomatis harus ikut memantau TKI yang ditempatkan agar duitnya bisa kembali dan menjadi dana bergulir bagi calon-calon TKI berikutnya. Karena harus terus memantau keberadaan para TKI di luar negeri, Kementerian/Departemen Pekerja Migran yang baru tersebut perlu menempatkan Atase Pekerja Migran di setiap KBRI di mana terdapat TKI yang sedang bekerja.
Namun persoalan ketenagakerjaan Indonesia tidak melulu berkaitan dengan para TKI yang bekerja di luar negeri. Di dalam negeri pun, persoalan ketenagakerjaan tidak kalah peliknya. Bahkan, boleh dibilang carut-marut. Kalau tak mau dibilang rumet, rumit dan bikin kepala mumet.
Departemen Tenaga Kerja memang makhluk yang luar biasa aneh. Setelah Departemen Transmigrasi dilikuidasi dan kemudian dicangkokkan ke ketiaknya, dia memanjangkan nama menjadi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, disingkat Depnakertrans. Jaka Sembung, alias kagak nyambung. Urusan transmigrasi mestinya diplesterkan ke punggung Departemen Sosial, karena ia lebih banyak bersentuhan dengan soal-soal yang mengurai problematika sosial. Biar Depnaker bisa konsentrasi mengurus masalah tenaga kerja. Karena departemen yang satu ini agak telmi dan tabiatnya sedikit pemalas. Bertahun-tahun tak pernah mau belajar. Hanya asyik bermain gitar. PR selalu dikerjakan oleh ibunya. Walhasil, setiap kali menerbitkan aturan baru, selalu saja mengundang reaksi menyimpang dari dua pihak, pekerja dan pengusaha.
Para pengangguran berbusana necis yang justru berkantor di Depnakertrans sesungguhnya tidak pernah bekerja sepanjang para pekerja dengan wajah marah menarik garis demarkasi terhadap pengusaha. Demikian pula sebaliknya. Mereka saling bersiasat. Merentangkan pagar kawat. Mulut bertukar hujat. Padahal mereka bukanlah orang-orang jahat. Hanya saja, masing-masing takut dikepret dari belakang. Lengah sedikit bokong ditendang. Karena sang wasit asyik merapikan ikatan dasi. Mengusap-usap pantalon hitam yang begitu serasi. Seraya mengelus-elus jambul yang seksi. Urusan mendesak dibiarkan terbengkalai di lemari. Karena tak paham bagaimana menanak nasi. Beras setengah matang didiamkan di kuali. Akhirnya basi. Bau tak sedap merembes dari kisi-kisi. Menyuburkan jamur dan bakteri. Bikin keracunan orang-orang yang mengkonsumsi.
Sesungguhnya pekerja dan pengusaha adalah saudara kandung. Di tubuh mereka mengalir darah yang sama, merah. Membutuhkan udara yang sama, untuk bernapas dan memompa ban mobil. Makanannya juga sama, nasi berlauk semur jengkol, dengan ikan cuek dua ekor. Tujuannya sama, mencari nafkah. Hanya faktor kepemilikan yang membedakan mereka. Dan, otomatis, juga soal pendapatan. Tapi itu hukum ekonomi semata. Tidak perlu menempatkan diri dalam posisi yang berseberangan. Aku di sini kau di sana. Saling curiga. Merasa saling dimanfaatkan dan memanfaatkan. Pengusaha juga mati kutu tanpa pekerja. Sedangkan pekerja akan kesulitan menjual jasa apabila tidak ada pengusaha yang membuka lapangan kerja. Sama-sama saling membutuhkan. Tak perlu dikotori dengan prasangka yang bukan-bukan. Apalagi dikompori dengan omongan-omongan menyesatkan. Ayo …, bergandengan tangan. Bersalam-salaman. Berpeluk-pelukan.
Mereka pun bersalam-salaman dengan perasaan haru. Berpeluk-pelukan dengan tatapan mata sayu. Salsa menangis seharian. Tak mau makan. Dia sangat sedih. Orang yang selama ini dianggapnya sebagai kakak akan pergi. Sedangkan Rizky, terlihat diam saja. Sesekali dia mengucek mata. Sony tak tahu apa yang ada di dalam benak anak lelakinya. Titin pamit pulang. Emak-nya sudah menemukan jodoh untuknya. Tujuh tahun bekerja sebagai pembantu di rumah Sony, semenjak Salsa masih bayi, dia sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Tapi tidak dalam soal gaji. Sony selalu memberikan kenaikan gaji sepuluh persen setiap tahun. THR tak pernah terlewatkan sekalipun. Minimal satu kali gaji. Atau dua kali gaji, kalau lagi banyak rezeki. Sedang biaya mudik gratisan. Karena Titin bertetangga dengan Sony di kampung halaman.
Di perumahan di mana keluarga Sony tinggal, Titin yang berkulit legam dan berambut pendek itu tergolong pembantu bergaji besar. Dalam usianya yang masih belia, dia sudah mampu merenovasi rumah keluarganya di kampung halaman sana. Perhiasannya juga lumayan banyak. Disimpan di kotak disket di kamarnya. Pakaiannya bagus-bagus.
Pernah, beberapa sejawatnya iri kepadanya, dan kemudian mengajukan protes kepada majikan masing-masing. Malah, pakai mogok kerja segala. Menuntut gaji yang sama dengan gaji Titin. Prahara pun bermula. Akibatnya, sejumlah ibu-ibu lapor ke Pak RT, mendesaknya agar menegur keluarga Sony, karena dianggap mengganggu ketenteraman lingkungan dengan merusakan pasaran gaji pembantu.
Febriana, istri Sony, tak tahan. Telinganya merah sepulang dari arisan bulanan. Disindir oleh ibu-ibu. Meski ada juga beberapa orang yang membelanya. Tapi Sony tetap pada pendiriannya. Ini urusan domestik. Masalah kedaulatan republik. Tak boleh dikutak-katik. Tapi protes semakin bergema. Daripada harus berperang melawan tetangga, dicarilah jalan tengah. Titin pun di-briefing.
“Kamu ngomong saja sama teman-temanmu. Gajimu sudah diturunkan. Juga soal libur satu hari dalam seminggu itu. Bilang sudah dihapuskan. Pura-pura saja. Biar tidak ribut ini komplek.”
Titin setuju belaka. Dia sadar telah keceplosan omongan dan terlalu berterus-terang, sehingga menimbulkan gonjang-ganjing dalam hubungan pembantu-majikan. Syukurlah, setelah hampir sebulan masalah itu akhirnya reda juga.
Sony tak habis pikir, bagaimana mereka bisa sesewot itu. Dia hanya mencoba memanusiakan pembantu. Tapi tetap saja dianggap salah. Padahal pembantu rumah tangga bekerja lebih dari dua belas jam dalam sehari. Tujuh hari penuh dalam seminggu. Sudah sepatutnya mereka mendapatkan penghargaan yang layak. Baik dalam hal fasilitas, perlakuan dan pendapatan.
Sebagai misal, kamar Titin dilengkapi radio-tape dan TV empat belas inci. Fasilitas ini diberikan karena Titin terlihat kurang nyaman dan agak sungkan bila nonton TV bareng di ruang keluarga. Apalagi Sony punya kebiasaan buruk pindah-pindah saluran. Sehingga sering berantem dengan istri dan kedua anaknya, yang akhirnya mengungsi ke kamar masing-masing untuk menonton acara kesukaan mereka di TV yang lebih kecil.
Demikian pula perlakukan keluarga Sony yang dianggap terlalu memanjakan pembantu oleh para tetangga, karena memberikan libur sehari dalam satu minggu kepada Titin. Bagi Sony, ini sama sekali tidak berlebihan. Toh, Titin jarang-jarang memanfaatkan hari liburnya. Lagian, kalau setiap hari hanya berkutat di rumah, bagaimana mereka bisa melihat dunia luar dan cari pacar? Apakah mereka tidak berhak mendapatkan pasangan?
Titin saja sudah dua kali pacaran. Pertama dengan Dahlan, tukang ojek di gerbang depan. Akhirnya putus, karena pemuda ceking itu ternyata mata keranjang. Kedua, dengan Tukijan, supir Sony. Tapi yang ini dipotong di tengah jalan oleh Sony, karena Tukijan sudah beristri, anaknya dua masih kecil-kecil. Keduanya dijewer oleh Febriana. Dicuci habis pakai Rinso. Hingga putih bersih. Dengan ancaman yang tidak main-main, bubar atau dikeluarkan.
Kini, Titin akan pergi. Di kampung telah menunggu calon pasangan hidupnya. Sugito, tukang becak yang tinggal di belakang rumahnya. Mudah-mudahan pemuda itu menjadi suami yang baik baginya. Sony tak kuasa berkata-kata. Istrinya sama saja. Matanya berkaca-kaca.
“Tin, baik-baik ya, di sana. Salam untuk emak-mu dan calon suamimu. Ini, saya beri pesangon tujuh kali gaji,” kata Sony dengan suara terbata-bata.
“Iya, Pak. Terima kasih,” jawabnya, sambil menadahkan tangan dan mengucurkan air mata.
Sementara Febriana yang terus-menerus kelilipan, mengulurkan sebuah amplop sambil berpesan, “Tin, aku ada uang lima juta. Mudah-mudahan cukup untuk biaya pernikahanmu. Sering-sering telepon ke sini, ya. Biar Rizky dan Salsa tidak kesepian. Jadi obat kangen buat mereka.”
Kedua perempuan itu kemudian saling berpelukan. Bertangis-tangisan. Sama-sama menumpahkan air mata. Lantai basah semua.
Pembantu. Pembantu. Pembantu. Sebagian orang suka menyebutnya babu. Belum lagi sebutan sinis lainnya, yang terkesan merendahkan, seperti jongos, kacung, bedinde, pesuruh, buruh dan lain sebagainya. Padahal mereka orang-orang yang sangat berjasa, dan luar biasa vital keberadaannya. Sony merasakan sendiri. Bila salah seorang karyawannya tidak masuk kerja, dia tak terlalu pusing asal ada alasan yang jelas. Tapi, bila Usep, office boy yang kocak itu, absen, kantor langsung lumpuh. Cari minum susah. Mau makan siang susah. Sampah menggunung. Piring dan gelas kotor semua. Pendeknya, minta ampun.
Begitu pula pada musim mudik Lebaran. Pembantu pada pulang. Banyak keluarga yang kelimpungan. Berhari-hari menyantap makanan kalengan. Sebagian terpaksa makan di restoran. Belum lagi soal cucian. Juga seterikaan. Punggung patah menyapu halaman. Encok kumat mengurus binatang piaraan. Karena tak tahan, akhirnya mengungsi ke penginapan.
Banyak orang bekerja sebagai pembantu karena tak punya lagi pilihan. Itulah pekerjaan yang paling gampang mereka dapatkan. Meski imbalan yang diterima sering kali tak sepadan. Dibanding kucuran keringat yang membasahi badan. Bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan. Kemudian membereskan cucian. Dilanjutkan dengan bermain tarik-ulur bersama gosokan. Siang malam disibukkan oleh pekerjaan. Mulai dari memasak hingga menjaga kebersihan. Istirahat tak lagi jadi perhitungan. Namun mulutnya tak pernah menyuarakan keluhan. Menerima apa adanya tugas yang dibebankan. Tak pernah sedikit pun berpikir soal masa depan. Yang penting tenaganya masih dibutuhkan. Sebagian malah menekuni profesinya hingga kepalanya penuh uban. Sebagian lagi tetap setia dengan panggilan jiwanya hingga hayat berpisah dengan badan.
Sony suka sedih mendengar berita-berita mengenai pembantu yang dianiaya. Gaji tak terbayar, badan penuh memar. Makan tak diberi, berhari-hari dikunci di kamar mandi. Geram hatinya. Menitik air matanya. Maka, dia berkirim surat kepada Presiden, dengan tembusan kepada Menakertrans. Karena sudah berkali-kali SMS-nya tak berjawab. Dia tulis surat itu dengan tinta jelaga yang diaduk dengan air mata. Tanda tangannya berbentuk sebuah crying face. Tak lupa dia sisipkan sepotong baju Titin yang tertinggal di rumahnya.
“Pak Presiden, tolong dong, ditunjuk seorang Dirjen PRT. Agar para pembantu rumah tangga di seluruh Indonesia mendapatkan penghargaan, perlindungan dan perlakuan sewajarnya. Dibuatkan standar gajinya. Ditentukan hak cutinya. Diberikan hari liburnya. Diperjuangkan nasibnya. Diangkat martabatnya.”
Jangan mentang-mentang mereka diam saja maka majikan bisa berlaku semena-mena. Kalau perlu kumpulkan beberapa PRT senior dari seluruh penjuru tanah air untuk diangkat menjadi staf ahli Pak Dirjen. Biar mereka memberikan masukan-masukan berharga bagi Direktorat Jenderal yang baru itu.
Surat itu tergeletak begitu saja di meja. Isinya singkat. Pemberitahuan pengunduran diri. Orangnya sudah tak nongol lagi. Padahal kemarin sore, pada saat gajian, Sony masih sempat berbicara dengannya. Menanyakan salah satu pekerjaan yang sudah harus selesai empat hari lagi.
Palgunadi, karyawan di Bagian Produksi, memilih kabur begitu saja tanpa merasa perlu bertemu dengannya. Sony agak kecewa. Sesungguhnya dia tak berharap berlebihan. Kalau masuknya dengan cara baik-baik, mestinya pergi dengan cara yang baik pula. Minimal ada pemberitahuan sebulan sebelumnya. Toh, Sony tak pernah melarang, apalagi menahan, orang yang mau mengundurkan diri. Biasa saja. Itu terjadi di mana-mana.
Sudahlah, tak perlu dimasukkan ke dalam hati. Beberapa karyawan mengatakan kepadanya, lulusan Universitas Diponegoro itu diterima bekerja di sebuah perusahaan raksasa di daerah Kuningan. Syukurlah kalau begitu.
Bukan sekali dua kali hasil didikan keras Sony dipanen orang lain. Palgunadi hanyalah salah satunya. Tapi Sony tak terlalu mempermasalahkannya. Dia ikhlas saja. Itu merupakan salah satu kontribusinya sebagai warga negara untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai bagi perusahaan lain. Asal tidak keterusan saja. Bisa kuwalat mereka. Sebab, sebagai pengusaha kecil, Sony cukup tahu diri untuk tidak merekrut tenaga kerja yang sudah jadi.
Makanya, dia telaten mencari bibit-bibit unggul yang kemudian dia godok dengan air garam. Tak lupa diceburkan tiga lembar daun salam. Juga selembar celana dalam. Direbus bermalam-malam. Hingga lebam-lebam. Dalam waktu tiga bulan, paling lama, seorang fresh graduate akan menjelma menjadi pekerja yang mumpuni di tangan Sony. Tapi dia tak pernah mencegah kutu loncat lari dari kantornya. Itu sudah garis tangan mereka. Dia hanya berdoa. Mudah-mudahan mereka menjadi anak manis, dan tidak nakal di luaran sana.
Tapi, kadang-kadang karyawan mau menangnya sendiri. Pernah Sony membuat peraturan baru karena beberapa karyawan suka titip absen padahal datang terlambat. Dia kumpulkan seluruh karyawannya dalam rapat paripurna. Sony meminta mereka berkata jujur, siapa yang suka nitip absen dan siapa yang sering dititipi absen. Tidak akan dikenai sanksi. Hanya perlu diperbaiki. Agar tidak menjadi tradisi.
Tak seorang pun mengaku. Resepsionis, yang mestinya paling tahu soal ini, karena mesin absen berada di samping mejanya, malah ketakutan. Sepertinya Amelia diancam, agar tidak membocorkan rahasia. Demikian pula Anita, yang setiap hari memeriksa absensi terkait dengan tugasnya menghitung uang makan. Wajahnya agak kecut karena dimusuhi beberapa karyawan. Ketika Sony panggil mereka berdua ke dalam ruangannya untuk menanyakan soal itu, mereka memilih bungkam. Inikah yang namanya solidaritas karyawan?
Biasa. Di mana-mana begitu. Namanya juga karyawan. Macam-macamlah kecurangannya. Sony mahfum adanya. Nyolong-nyolong sedikit dia biarkan. Asal tidak keterlaluan. Dia juga tahu klaim bensin terkadang aneh-aneh. Anita bahkan pernah menemukan sebundel bon bensin kosong tertinggal di mejanya. Tapi, yang bikin Sony gusar adalah kebocoran telepon. Dua bulan berturut-turut. Biayanya bengkak lebih dari delapan juta. Setelah di-print, ketahuan ada yang suka ngendon di kantor hingga malam hari untuk menelepon nomor esek-esek.
Penjaga malam langsung menunjuk hidung Rofi’i, orang Produksi yang belakangan suka lembur sendirian. Tinggal digelandang. Rofi’i mengaku. Minta ampun supaya tidak dipecat. Dia bersedia mengganti semua kerugian dengan dipotong gaji. Anehnya, besoknya dia ngilang. Tak pernah datang ke kantor lagi.
Tapi ada juga kecurangan yang benar-benar keterlaluan. Heru pernah bercerita kepada Sony mengenai Heri, kakaknya yang menjadi Penyelia Produksi di sebuah pabrik perakitan elektronik. Karena pusing mengurus pekerja-pekerja yang curang dan banyak ulah, dia stres dan akhirnya mengundurkan diri. Malu kepada manajemen.
Bagaimana tidak, mereka selalu mencari berbagai cara untuk memperlambat pekerjaan, bahkan dengan menjaili mesin. Tujuannya, lembur. Target produksi memang terpenuhi, tapi harus lembur setiap hari. Tak mungkin tambah shift, karena yang demikian berarti harus merekrut pekerja tambahan. Terlalu berisiko untuk order dadakan. Jadilah Heri ikut-ikutan lembur saban hari. Pola hidup jadi tak normal. Mending mundur teratur. Daripada babak belur. Kurang tidur.
Lembur boleh-boleh saja. Sesekali perlu dilakukan. Apalagi kalau tengat waktu sudah menampakkan taringnya. Tapi, kalau setiap hari lembur, berarti ada masalah. Boleh jadi karena cara kerjanya kurang efektif. Atau, mungkin saja, jumlah dan kapasitas SDM-nya tidak mencukupi.
Sesungguhnya, kerja lembur yang keterusan sama sekali tidak menyelesaikan masalah, bahkan cenderung menciptakan persoalan baru. Manusia pada dasarnya mempunyai keterbatasan. Ketika bekerja dari jam delapan pagi hingga pukul lima sore, kapasitasnya masih seratus persen. Apabila diteruskan hingga pukul sembilan malam, kapasitasnya tinggal lima puluh persen. Bila dilanjutkan lagi hingga tengah malam, sesungguhnya kapasitasnya tinggal dua puluh persen. Apalagi kalau digeber sampai pagi. Mereka bekerja dengan kapasitas cuma sepuluh persen. Apa yang bisa dihasilkan dengan kapasitas sekecil itu?
Lebih gawat lagi, setiap kali habis lembur, datangnya selalu telat. Tidur dulu, alasannya. Sehingga jam kerja dimulai siang hari, dan bahkan sore hari. Kalau terus-terusan begini, namanya menggeser jam kerja. Bagaimana mau berkoordinasi dalam teamwork? Mereka bekerja pada saat orang lain lagi enak-enaknya tidur di malam hari. Pagi hari, pada saat orang lain sibuk bekerja, mereka pada ngorok sambil ngiler di gudang bawah. Jarang mandi lagi. Celana dalam sudah side B. Andalannya cuma minyak wangi. Hal seperti itulah yang mendorong Sony agak ketat dalam soal absensi. Karena orang Pemasaran pernah komplain. Pagi-pagi klien sudah tanya ini-itu, tapi orang-orang Produksi belum pada nongol. Jadi tengsin. Bisa kabur itu peluang. Urung dapat bonus. Gondok mereka.
Tapi tak semua karyawan suka berulah. Sony paling salut kepada karyawannya di Bagian Pemasaran. Mereka semua pekerja keras. Saling bersaing satu sama lain, sehingga tak sedikit pun punya waktu luang untuk bertingkah aneh-aneh. Motivasi mereka hanya bonus. Siapa yang mendapatkan paling banyak bonus dialah raja. Tak peduli orang baru atau lama. Ukurannya hanya angka-angka.
Heru Wibowo, Manajer Pemasaran di kantor Sony, hanya jebolan SMA. Tapi dia orang yang luar biasa. Tidak kalah dengan anak buahnya yang hampir semua lulusan sarjana. Meski bicaranya suka belepotan, dia mampu menutupi kekurangannya dengan kepiawaiannya menyihir manusia. Terlebih lagi, dia ahli menyerap ilmu orang dalam sekejap. Meski baru kenal, dijamin, orang itu akan segera menjadi sahabatnya. Itulah Heru, orang Semarang yang sudah pernah melakoni semua jenis pekerjaan di ibukota. Seperti Tukul, manusia setengah monyet yang jenaka itu.
Sony pernah sekali merekrut seorang pemasar jebolan perusahaan besar. Hernawan namanya. Langsung dia tempatkan pemuda yang menyandang gelar pasca-sarjana dari Amerika itu sebagai wakil Heru. Harapan Sony, agar ilmunya dicuri habis-habisan sama Heru. Memang benar, Heru mengakui, ini orang ilmunya sangat tinggi. Tapi tidak sakti. Buktinya, selama enam bulan tak pernah bikin transaksi. Barang sebiji. Cuma pintar teori. Padahal gajinya bergerigi. Akhirnya dipersilahkan pergi. Setengahnya dia juga malu sendiri.
Sony menduga, selama ini karir itu orang moncer di tempat kerja sebelumnya karena perusahaan tersebut sudah mapan. Dia tak pernah menghampiri pelanggan. Sebaliknya, pelanggan yang datang kepadanya. Hanya menunggu. Kalau cuma beginian, tak perlu lulusan luar negeri.
Kasus seperti ini sering terjadi. Beberapa orang hebat dari perusahaan raksasa seperti mati kutu ketika memulai usaha sendiri atau pindah kerja. Kesaktiannya luntur begitu saja setelah tak lagi menjadi bagian dari institusi yang membesarkannya. Mereka kelihatan sakti hanya karena perusahaan tempatnya bekerja sudah well-established. Jadi, yang sakti sebenarnya perusahaannya. Bukan orangnya.
Banyak contohnya. Tak perlu sebut nama. Pasti yang bersangkutan manggut-manggut dan mengakui sendiri. Tapi banyak juga perkecualian. Misalnya, almarhum Cacuk Sudaryanto. Ini orang memang jagoan. Berlaga di mana saja tetap saja sakti mandraguna. Sesungguhnya, Sony pernah punya karyawan jenis ini. Sayang, setelah menikah, dia mengundurkan diri. Ikut suaminya yang melanjutkan sekolah ke luar negeri.
“Ke luar negeri? Kapan?” tanya Sony.
“Kemarin berangkatnya, Pak. Pulangnya seminggu lagi,” jawab Sandy, sekretarisnya.
Pagi itu Sony minta tolong sama si Belanda Depok agar disambungkan dengan Pak Ferdy, kliennya di Surabaya. Ternyata dia pergi ke Amerika Latin. Mendampingi Direktur Utama menghadiri simposium gula internasional. Ya sudah. Berarti harus menunggu minggu depan. Padahal ada pekerjaan yang membutuhkan approval Pak Ferdy. Tidak bisa digantikan orang lain. Pesannya sudah begitu. Mau dikata apa.
Pak Ferdy bukan klien biasa. Kebetulan, adiknya teman lama Sony. Pernah sekantor di daerah Sudirman di masa lalu. Bagi Sony, Pak Ferdy adalah sahabat sekaligus teman mengobrol yang mengasyikkan. Wawasannya luas. Analisanya tajam. Dan, suka berterus-terang.
Bulan lalu, mereka berdiskusi soal pekerja di perusahaan perkebunan pelat merah yang memproduksi gula, cemilan legit kegemaran semut itu. Sony bertanya kepada Pak Ferdy, kenapa perusahaan tempatnya bekerja piara karyawan hingga belasan ribu orang. Padahal mereka sibuk pada saat musim giling saja. Belum lagi karyawan kampanye, yang jumlahnya seperti rayap itu. Seandainya pola budidaya diintensifkan melalui mekanisasi dan dilakukan perbaikan teknologi pada pabrik-pabriknya yang sudah uzur, jumlah karyawan pasti bisa dipangkas hingga tinggal seperempatnya saja. Hari gini, teknologi gula tidaklah mahal. Sangat sepadan dengan efisiensi yang bisa dihasilkan.
Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama menggantung di benaknya. Baru kali ini Sony berkesempatan menanyakan langsung kepada orang yang mestinya tahu betul masalah tersebut. Ternyata Sony sok tahu. Dan harus menanggung malu. Pak Ferdy yang wajahnya mirip bintang filem kawakan Herman Felani itu menjawab dan sekaligus mematahkan pertanyaannya secara telak dengan paparan logika yang sangat masuk akal.
Apabila dilakukan mekanisasi, bagaimana nasib ribuan karyawan dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan? Namanya juga BUMN. Ada misi bisnis sekaligus misi sosial yang dibebankan ke pundaknya. Jadi, tidak bisa dilongok dari hitung-hitungan bisnis semata. Demikian pula aktivitas di pabrik, yang sebagian besar mesinnya peninggalan dari zaman Belanda. Bahkan usianya jauh lebih tua dari para pekerjanya. Bila diganti dengan teknologi mutakhir, ribuan orang harus dirumahkan. Padahal, semenjak zaman dulu, yang namanya pabrik gula mampu memberikan efek berganda kepada masyarakat sekitar dalam jangkauan yang sangat luas. Tak hanya dalam spektrum ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Kalau harus diubah, sekian puluh ribu orang akan kehilangan pekerjaan. Pasti mereka akan kesulitan untuk beralih profesi. Tatanan sosial-budaya juga akan terguncang. Jadi, dibiarkan saja begitu. Itulah pilihan yang paling masuk akal. Toh, perusahaan masih mampu mencetak laba operasi.
Tapi, Pak Ferdy yang sangat religius dan santun itu mengeluhkan soal serikat pekerja. Mereka luar biasa galak. Suka memaksakan kehendak. Main keroyokan. Unjuk kekuatan. Beberapa organisasi buruh dari luar negeri malah ikut-ikutan mengompori. Hampir semua BUMN dibelit persoalan serupa. Direksi kerepotan dibuatnya. Kalau tidak dilayani, percikan kecil akan berkobar ke mana-mana dan melumpuhkan aktivitas usaha. Bila sedikit saja diberi angin, mereka akan langsung nglunjak. Menuntut macam-macam sambil jual lagak. Seolah hendak menjadi manajemen bayangan. Ikut ngatur-ngatur jalannya perusahaan.
Sebenarnya ini anomali. Bukankah sejarah pergerakan kaum buruh di seluruh dunia dimotivasi oleh tuntutan akan jaminan kesejahteraan pasca-kerja? Mereka ini, para karyawan BUMN itu, adalah pekerja-pekerja yang sudah dijamin hari tuanya. Jadi, untuk apa lagi berserikat seperti itu? Situasi konyol ini tak ubahnya seperti satu raga yang diperebutkan oleh dua nyawa. Jadinya, kesurupan melulu. Bagaimana bila PNS, tentara dan polisi juga melakukan hal yang sama? Membentuk serikat pekerja? Sama sekali tak relevan. Dan cenderung mengada-ada. Bubarkan saja. Bergabung sajalah dalam koperasi dan paguyuban karyawan.
Pangkal masalah bermula dari Menteri BUMN yang sekarang, Pak Sofyan Djalil, Mister James itu, alias si Penjaga Mesjid. Bagaimanapun, penjaga masjid itulah, yang di masa lalu menjabat sebagai Deputi Bidang Komunikasi di bawah Menteri P-BUMN Tanri Abeng, yang membidani pembentukan serikat pekerja BUMN. Nuansanya serba politis. Karena mendekati Pemilu. Sekarang, terbukti menjadi senjata makan tuan. Tanya saja kepada semua direksi BUMN. Daripada tambah tidak keruan ke depan, mending buru-buru dikekang. Kalau perlu dilikuidasi sekalian. Bila dibiarkan terus-terusan begitu, lama-lama menjadi macan. Mau dicakar, kamu?
Silahkan dibereskan, Oom, mumpung masih menjabat. “Kau yang mulai kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji kau yang mengingkari.”
Ngomong-ngomong soal Mister James, Sony jadi teringat kawan lamanya. Dia langsung meneleponnya. “Halo, Pak Kopo. Keren sekarang. Sudah jadi Staf Ahli Menteri. Bagi-bagi kerjaan, dong.”
Sohib Sony yang kini menyandang gelar doktor itu kelihatannya sudah agak berubah. Sedikit pelit dalam berbagi informasi. Bicaranya seperti tertata dan diatur. Namanya juga pejabat. Tapi Sony yakin, meski belum sempat bertemu sejak beberapa lama, ada satu hal yang tak akan pernah berubah darinya, potongan rambut cepak. “Isis,” katanya.
Pak Kopo orangnya memang serius. Luar biasa cerdas bin pintar. Tapi suka berkelakar. Pernah dia mengeluh kepada Sony mengenai tidak enaknya tinggal di Bekasi. “Buku teleponnya tipis,” katanya, sambil membuka-buka Buku Petunjuk Telepon Jakarta yang setebal bantal bayi, di ruang rapat di kantor Sony, beberapa tahun lalu.
“Pak Kopo, saya dapat titipan amanat dari beberapa direksi BUMN kenalan saya, supaya Pak Menteri membubarkan saja serikat-serikat pekerja. Biar orang bisa bekerja dengan tenang. Agar pembayaran dividen naik terus. Kebetulan kan, dulu Mister James bidannya, sekarang bisa jadi algojonya.”
Pak Kopo tidak berkomentar sedikit pun mengenai permintaan itu. Hanya menanggapi dengan ucapan singkat tanpa makna, “Ya. Ya. Ya.”
Bagi Sony, tak penting apakah permintaannya diteruskan kepada Mister James atau tidak. Pokoknya, dia sudah menyampaikan amanat tersebut. Sebab, dia suka sedih melihat direksi BUMN yang memilih ngumpet dan tidak ngantor ketika serikat pekerja lagi angot. Takut ditodong ramai-ramai untuk membuat pernyataan tertulis.
“Tapi ini kan hanya tulisan. Tak akan berpengaruh terhadap produktivitas pekerja,” kata Pak Jumhur, sambil menyedot dalam-dalam rokok Gudang Garam merahnya.
Sony sedang mengobrol dengannya mengenai produktivitas karyawan di kantor Pak Jumhur, sebuah perusahaan pupuk raksasa bercat merah. Sungguh aneh, pria yang rambutnya sudah penuh uban kendati usianya belum terlalu tua itu malah mencotohkan dirinya sendiri. Dia pernah melakukan penelitian kecil-kecilan. Sebagai orang yang tergolong paling banyak pegang kerjaan di kantornya, dia malah menemukan bahwa dirinya bekerja secara efektif hanya dua jam dalam sehari. Sisa jam kerjanya dihabiskan untuk nyamper sana nyamper sini, telepon sana telepon sini, main games, ke kantin, bercanda dengan asap rokok, dan sesekali jalan ke mall. Panji Klantung, luntang-lantung.
Bukannya malas. Tapi sudah tak ada lagi pekerjaan yang perlu diselesaikan. Pekerjaan yang semestinya cukup ditangani satu orang, dikeroyok ramai-ramai oleh puluhan karyawan. Biar semuanya kebagian kerja, atau, pura-pura kerja. Bandingkan dengan pembantu rumah tangga yang harus bekerja keras hampir seharian penuh, sendirian lagi. Yang paling konyol, katanya, perusahaan tempatnya bekerja memelihara pekerja klerikal dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada pekerja teknis di pabrik. Seolah semua urusan pabrik berada di papan ketik komputer dan kertas-kertas yang berlembar-lembar itu.
“Jujur saja, urus pabrik beginian tak perlu sampai tiga ribu orang. Sudah hi-tech. Tinggal pencet-pencet tombol. Semuanya terpampang di monitor. Seandainya jumlah karyawan harus dipangkas habis hingga tinggal sepuluh persen saja, pasti masih bisa jalan,” begitu katanya.
Sony agak bingung, sesungguhnya Pak Jumhur berada di pihak mana?
Sebenarnya bukan hanya Pak Jumhur yang suka bengong kurang kerjaan. Banyak PNS malah tidak pernah bekerja sama sekali. Mas Hardi, tetangga sebelah rumah Sony di kampung halaman, adalah PNS yang lebih banyak meluangkan waktu bersama burung-burung dara kesayangannya.
“Nggak ngantor, Mas?” tanya Sony yang saat itu sedang pulang kampung untuk memperbaiki kijing keramik di makam ibunya yang patah karena tanahnya gembur.
“Nanti,” jawabnya. Besoknya juga begitu. Hanya sedikit agak panjang jawabannya. “Habis, tidak ada yang dikerjakan. Mendingan di rumah.”
Lha, kalau pekerjaannya sedikit, ngapain karyawannya mesti menyemut? Sehingga mereka bosan sendiri duduk-duduk di kantor, dan akhirnya lebih suka kelayapan di luaran atau tinggal di rumah saja. Namun, tidak semua PNS bebal seperti itu. Banyak juga yang pekerja keras, dan hebat-hebat. Pintar-pintar lagi. Sony banyak kenal orang-orang seperti itu. Bahkan, mereka bekerja jauh lebih keras daripada karyawan swasta. Tanya saja sama Pak Taufik Effendi.
Untuk mengubah tabiat buruk sebagian PNS, sejumlah Pemerintah Daerah getol merazia pegawainya yang kelayapan di luar pada saat jam kerja. Tapi jarang sekali yang terjaring. Padahal kantor-kantor pada melompong. Di manakah mereka? Apa ngumpet di got? Tak mungkin. Bau. Konon katanya, sebagian langsung menyamar jadi patung. Ada pula yang pura-pura jadi tukang dagang. Biar tidak ketangkep.
Kalaupun ada yang terjaring, biasanya ibu guru yang baru sempat pergi ke pasar sepulang mengajar. Para pahlawan tanpa tanda jasa yang memiliki tugas dan jam kerja yang jelas itu – meski banyak di antara mereka belum mengantongi status kepegawaian yang jelas – malah sering menjadi kambing hitam.
Sebenarnya, bukan itu pokok masalahnya. Jawaban Mas Hardi sudah jelas, “Tidak ada kerjaan.” Dengan demikian bisa dikatakan sebagian PNS adalah pengangguran tak kentara. Dibandingkan dengan para pekerja serabutan yang sering direndahkan dengan sebutan disguised unemployment, segolongan PNS malah lebih parah. Mereka real unemployment. Pengangguran tulen. Namanya juga PNS, eh, salah, penggangguran.

6. Pengusaha

Pencapaian tertinggi bagi orang-orang yang memilih berkarir di swasta berbeda-beda ukurannya. Sebagian orang merasa cukup puas dengan menjadi safety player, asal pekerjaan aman dan pendapatan menjulang. Tak peduli pegang jabatan atau hanya menjadi staf biasa. Bagi sebagian lainnya, menapak ke jenjang manajer sudah dianggap sebagai pencapaian yang lumayan membanggakan. Sementara para profesional mematok target yang lebih tinggi, mengincar posisi puncak, duduk di jajaran direksi. Apalagi bila dipercaya menjadi direktur utama, itulah pencapaian tertinggi. Tapi, banyak pula yang lebih suka bermetamorfosis menjadi ikan besar di kolam kecil. Berwiraswasta, menjadi pengusaha. Apabila keberuntungan memihaknya, suatu saat nanti bisa membesarkan kolamnya sendiri, menjadi telaga.
Sony mulai berwiraswasta pada usia dua puluh delapan tahun. Setelah dipikirkannya masak-masak, akhirnya dia memutuskan keluar dari pekerjaannya yang lumayan mapan. Dia berhimpun bersama dua orang rekannya mendirikan sebuah perusahaan. Hanya saja, kedua temannya itu, Rachmad Santosa dan Sunarna Wiguna, masih tetap menekuni pekerjaan masing-masing. Rachmad seorang wartawan. Sedang Sunarna adalah pengusaha perakitan komputer yang baru genap setahun memulai usaha sendiri setelah sebelumnya cukup lama ngenger di salah satu perusahaan milik pengusaha-politisi liat dan tahan banting asal Surabaya.
Maka, jadilah Sony pengelola tunggal perusahaan kelas gurem itu. Kedua sohibnya hanya seminggu sekali datang. Tak apa. Di luaran sana, mereka giat membantunya mencari order. Pekerjaan apa saja disabet. Pokoknya ada pemasukan. Dapat sedikit untung dibagi-bagi di antara mereka bertiga.
Sebuah rumah kos di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur, mempertemukan mereka di akhir tahun delapan puluhan. Sama-sama masih bujangan dan culun karena baru datang dari kampung. Rachmad, orang Solo itu, menyelesaikan kuliahnya di Institut Pertanian Bogor, jurusan Tanah. Makanya, kulitnya agak gelap. Malahan bisa dibilang gosong. Mungkin karena terlalu sering dijilati matahari. Sedangkan Sunarna, yang orang Cianjur, hanyalah tamatan SMA, namun sangat cerdas. Kemampuan analisanya luar biasa tajam dan selalu optimistis menatap masa depan. Keterbatasan ekonomi keluarga melarangnya duduk-duduk di bangku kuliah. Karena omongan yang sama-sama nyambung, jadilah mereka tiga serangkai yang ke mana-mana selalu bareng, pergi ke bioskop, berburu buku loak di Kwitang, menggoda waria di Taman Lawang, nonton video porno, termasuk main kyu-kyu.
Selama dua tahun pertama perusahaan baru itu tidak mengalami perkembangan berarti. Sekedar bisa jalan. Kantornya numpang di garasi rumah mertua Rachmad di daerah Kemang. Karyawan hanya dua orang. Nancy menangani administrasi. Sedangkan Suradi kebagian urusan umum. Tugasnya mengantar surat dan barang, bersih-bersih kantor, dan juga membelikan makan siang.
Memasuki awal tahun ketiga, Sony mulai terengah-engah. Gaji karyawan dua kali tertunda. Sementara kebutuhannya sendiri terus meningkat semenjak anak pertamanya lahir. Akhirnya Sony menyerah. Kantornya bubar. Sebulan kemudian dia diterima bekerja di sebuah perusahaan pameran. Di sinilah pertama kali dia bertemu Heru Wibowo, orang kepercayaannya saat ini. Juga Mualim, yang tidak terlalu pintar tapi hokinya besar. Dan Lexy, orang Manado yang berwajah cina itu.
Pak Mansyur, pemilik perusahaan tersebut, sangat menyukai Sony karena dianggap membawa banyak perubahan bagi kemajuan perusahaan. Dalam waktu kurang dari setahun dia dipromosikan jadi manajer. Namun promosi ini membawa berkah sekaligus petaka. Biasa, selalu ada sisi hitam dan putih, baik dan buruk. Djumali, orang lama kepercayaan Pak Mansyur, iri kepadanya. Dia merasa terancam, dan dipinggirkan. Beberapa kali Sony difitnah. Namun mental belaka.
Sebenarnya jenggah juga. Bekerja di bawah sorotan mata. Tapi Sony agak terhibur hatinya. Posisi baru tersebut memberinya kesempatan luas untuk memahami apa itu pengelolaan usaha. Yang sebelumnya dia jalani begitu saja. Apa adanya. Tanpa rencana. Inilah saatnya. Mencuri ilmu dari mulut yang menganga. Serap habis hingga tak bersisa. Biar tinggal tulang berbalut kulit bertambal kain kassa.
Hanya satu setengah tahun Sony bekerja di sana. Sungguh tak nyaman, sekaligus menyebalkan. Kaki kiri menginjak bara neraka, kaki kanan bertumpu di tubir surga. Akhirnya dengan berat hati dia keluar, dan memutuskan kembali berwiraswasta.
Ada beberapa pertimbangan yang membulatkan tekadnya. Pertama, Djumali yang gemar memakai sepatu koboi itu semakin keterlaluan. Sudah menjurus ke cara-cara edan. Kedua, Sony merasa tidak nyaman dengan istri bosnya yang sering datang ke kantor dan sok mengatur. Apalagi, perempuan ganjen itu cs berat dengan Djumali. Mereka seperti berkomplot untuk menjatuhkan Sony. Ketiga, merasa sudah makmur, Pak Mansyur mulai mengimpor lusinan kerabat dari kampung halaman untuk bekerja di kantornya. Sebagian orangnya baik-baik, tapi kebanyakan cuma merecoki orang yang lagi kerja. Keempat, Rachmad dan Sunarna mengajaknya bergabung kembali. Anak seorang konglomerat bersedia mendanai.
Keren benar. Sony berkantor di Menara Mulia. Karyawan langsung direkrut lima. Dia tarik Lexy menjadi pembantu utamanya. Ini baru namanya perusahaan, pikirnya. Namun, seperti biasanya, Rachmad dan Sunarna tidak bergabung penuh. Mereka memilih menjadi direktur freelance. Seperti yang sudah-sudah, kedua karibnya itu masih berat meninggalkan pekerjaan masing-masing. Sudahlah, tak perlu dirisaukan. Karena dua proyek besar sudah di genggaman tangan.
Baru sekali ini Sony benar-benar merasa percaya diri sebagai seorang pengusaha. Kejayaan sudah di pelupuk mata. Satu pekerjaan sudah diselesaikannya. Menghasilkan keuntungan yang luar biasa gendut. Segendut Pretty Asmara, perawan cantik dari Sukodono itu. Sementara pekerjaan kedua hampir kelar, dan beberapa pekerjaan baru segera menyusul.
Kiamat. Datang begitu cepat. Seperti kilat. Cakarnya menggurat-gurat. Langit langsung pekat. Sebulan setelah Sony berhasil menyelesaikan pekerjaan besarnya yang kedua, krisis ekonomi menyergap. Harapan tiba-tiba lenyap. Sirna ditelan senyap. Semua orang tergagap-gagap. Banyak yang megap-megap. Seolah mulutnya dibekap. Padahal mereka mangap. Masih untung, sebagian malah sudah tengkurap. Berenang di atas kayu sirap. Dengan paku-paku tajam yang menancap.
Palu godam datang dengan mengendap-endap. Kemudian mengepakkan sayap. Meliuk-liuk melintasi deretan atap. Berayun-ayun seperti tongkat sulap. Menghancurkan bisnis menyisakan asap. Bank-bank pada tiarap. Dari tubuh mereka berlelehan kecap. Tertatih-tatih beringsut merayap. Sementara bank sentral terus menghamburkan parap. Menyembelih anak-anaknya yang terperangkap. Sebagian berhasil lari menyelinap. Korban berjatuhan ke dalam lobang gelap. Berguguran seperti rayap. Mereka hanya bisa meratap. Sedikit berharap. Dan, kalap.
Dalam gilasan krisis, kantor baru Sony hanya mampu bertahan setahun. Keuntungan dari pekerjaan pertama dan kedua habis untuk menutup biaya bulanan. Beberapa pekerjaan batal. Hanya dua yang tetap jalan. Tanpa tetesan keuntungan. Krisis itu telah menggerus modal. Bubar.
Sony goyah. Malahan sempat memunggungi Tuhan. Karena kemalangan menimpanya justru pada saat kejayaan sedang bermula. Kecewa. Putus asa. Merasa seolah telah terlempar dan tidak lagi menjadi bagian dari dunia yang sedang berputar. Beruntung, Febriana yang terkena PHK malah lebih tabah dan senantiasa mengingatkannya agar lebih tawakal. Benar, pikir Sony. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dengan menjual mobilnya, sebuah sedan Toyota Corona keluaran tahun sembilan tiga, ditambah secawan perhiasan istrinya, Sony memulai usaha baru. Dia menyewa ruangan seukuran garasi di sebuah gedung jangkung yang matanya selalu awas memelototi kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang di jalan tol lingkar luar itu. Karyawannya hanya tiga. Heru, Anita dan Usep, office boy yang jenaka itu, yang masih kerabat jauh Sunarna.
Tapi kali ini Sony jalan sendirian saja. Single fighter. Tidak bergabung lagi bersama kawan-kawannya. Beruntung, Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Belum genap dua bulan, Sony sudah mendapatkan pekerjaan yang lumayan besar dari sebuah perusahaan pupuk milik negara, dengan sedikit tepu-tepu, tentu saja. Dari sinilah dia mulai melebarkan kepakan sayapnya. Menembaki sasaran mudah. Sitting ducks. Institusi pemerintah dan perusahaan-perusahaan pelat merah.
Dalam kenyataannya, banyak pengusaha yang lebih suka menguber proyek-proyek dari pemerintah atau institusi yang terkait dengan pemerintah, juga BUMN dan BUMD. Alasannya sederhana saja. Pertama, pasti dibayar, karena setiap proyek baru bisa dilaksanakan setelah anggaran turun. Artinya, uangnya sudah pasti ada. Kedua, harga bisa dimain-mainkan, bila perlu, diajak berjoget gaya jaipongan, semalam suntuk.
Di masa lalu, permainan harga cenderung gila-gilaan, hingga bisa digelembungkan sesukanya, seperti balon udara, sebagian lagi melar menjadi balon raksasa. Tetapi tetap ada batasnya, jangan sampai balon itu meletus dan memuntahkan isi perutnya yang berbau anyir.
“Monggo, Mas. Mau ambil untung berapa, asal setengahnya untuk kita,” kata mereka.
Hanya orang gila yang akan membuang muka menerima tawaran menggiurkan seperti itu. Dengan demikian, berarti para pengusaha adalah orang-orang yang waras. Kalau begitu, yang gila, siapa?
“Katakan tidak pada korupsi”, kata iklan sebuah partai politik. Ngawur itu. Iklan tersebut seolah menyiratkan bahwa kalangan dunia usaha suka usil menggoda para aparat birokrasi untuk melakukan korupsi. Terbalik, nyung. Aparat birokrasilah yang gemar mengajak para pengusaha untuk melakukan kong-kalikong. Mau bukti? Banyak. Ambil contoh, kasus BNI Melawai yang melibatkan Pauline Lumowa itu. Orang-orang BNI justru yang mengajari Bu Gendut dan mengatur segala sesuatunya.
Banyak orang geram menyaksikan praktek-praktek binal seperti itu. Dengan tatapan mata marah dan mulut berapi-api mereka menyebutnya korupsi. Wajar-wajar saja, karena mereka bersandar pada sudut pandang sistem. Bagi pengusaha seperti Sony, itu tak lebih dari sekedar biaya lobby, yang sudah diperhitungkan dan dianggarkan dalam pos biaya entertain atau pos-pos biaya lain yang disamarkan.
Memang tipis perbedaannya, antara korupsi dan biaya lobby, karena mereka berdua masih sedarah, terlahir dari bapak dan ibu kandung yang sama. Artinya, bukan anak haram, tapi anak blasteran. Buah cinta dari perselingkuhan nikmat antara para birokrat dan pengusaha. Karenanya, tak perlu dibikin pusing. Biarkan saja masing-masing melihat dengan cara pandangnya sendiri-sendiri. Korupsi, atau biaya lobby, boleh-boleh saja, asal jangan keterlaluan. Kenyataannya, begitu banyak, kalau tak mau dibilang jutaan, anak Indonesia yang dibesarkan dari uang hasil korupsi, termasuk sebagian pendemo itu, yang suka mejeng di TV.
Namun, sebagai warga negara, bagaimanapun, Sony juga ingin korupsi bisa terus ditekan di negeri ini. Kalau mau dibasmi, mustahil. Sampai kepalanya botak juga tak akan berhasil. Seperti orang yang kurang kerjaan saja, usil.
“Korupsi mempercepat derap langkah pembangunan, dan melahirkan para pahlawan.” Ini sama sekali bukan ucapan yang ngasal dan mengada-ada. Kalimat yang agak membingungkan itu meluncur dari mulut seorang mantan direktur sebuah bank bergincu merah yang telah beralih profesi menjadi pengusaha.
Siang itu, Sony sedang mengobrol sambil menyantap iga panggang di Tony’s Roma bersama sohib kentalnya tersebut, dan juga Ceng Li. Mereka bertiga sama-sama penggemar ikan hias air laut yang sering ketemu di pasar ikan hias di Jalan Sumenep hampir setiap Sabtu. Makanya, setiap kali makan bersama, mereka sebisa mungkin menghindari seafood. Jangan sampai PMP, pren makan pren.
“Maksudnya apa, Pak,” tanya Sony, sambil mengunyah gigitan kecil daging harum itu seraya memperhatikan Ceng Li yang tampaknya juga agak bingung dengan pernyataan aneh tersebut.
Kedua bola mata pria tinggi besar itu agak melotot. Pupilnya bergerak-gerak sedikit liar ke atas dan ke bawah. Berputar-putar lembut. Dari keningnya mulai menitik beberapa noktah cairan asin. Jakunnya naik turun pelan. Kedua tangannya diregangkan. Sepertinya dia kesulitan untuk menjawab pertanyaan Sony karena mulutnya penuh dengan potongan-potongan kecil daging iga yang lembut, manis dan pedas yang sedang dikunyahnya. Lelehan saus merah mengalir malas dari sudut-sudut bibirnya. Enak tenan. Mantap kale, kata Benu Buloe si jurumakan.
“Begini, Bung,” ujarnya sambil mengelap mulutnya. Tapi dia tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Napasnya masih belum teratur. Mungkin tenggorokannya bingung. Karena harus terus-terusan membuka tutup secara bergantian, saluran pernapasan untuk memberi jalan kepada pasukan yang sedang memanggul jutaan karung oksigen ke dalam paru-paru, dan saluran menuju lambung yang setiap saat kemasukan bagian-bagian kecil dari seekor sapi tak bernama. Salah langkah, bisa cegukan itu orang.
Setelah meneguk segelas air putih, barulah pria berbusana batik sutra itu terlihat agak rileks. Kemudian dengan tangkas dia menguraikan logikanya. Selama ini orang selalu menyorot korupsi dari sudut pandang sistem. Karena ada aturan yang dilanggar, maka ada pihak yang dirugikan dan ada pula pihak yang merugikan. Yang beginian sudah jamak di mana-mana. Sudah basi. Anak SD juga tahu. Persoalan korupsi mestinya didekati dengan tinjauan bisnis, dan juga sosiologis.
Para pelaku korupsi sebenarnya bukanlah orang-orang tamak bin serakah. Sebaliknya, merekalah pahlawan ekonomi, karena senantiasa berbagi hasil korupsi dengan keluarga, kerabat, sejawat, masyarakat dan dunia usaha, sehingga terbentuklah jutaan mata rantai ekonomi dalam untaian-untaian kecil namun panjang melalui uang hasil korupsi yang dibelanjakan tersebut. Konsumsi naik ekonomi bergerak. Sektor riil mau diajak beranjak. Asal jangan diinjak. Ayo …, korupsi. Edan.
Pahlawan ekonomi itu, para pelaku korupsi, tambahnya, janganlah diuber-uber. Mereka harus dihormati, dan diberi penghargaan. Kalau perlu disiapkan pin emas barang tiga atau lima gram. Bagaimanapun, tabiat buruk mereka selama ini terbukti mampu mempercepat laju pembangunan dan menggerakkan ekonomi, sehingga masyarakat dan para pelaku usaha pada tersenyum. Itulah chemistry yang paling pas untuk situasi faktual Indonesia.
Buktinya, setelah para pahlawan ekonomi itu diuber-uber dengan ganas, pembangunan jalan di tempat. Proyek-proyek cuma dikurung, tak dilepas. Pengusaha ngaplo. Masyarakat melongo. Duit Pemda yang jumlahnya ribuan kali lipat penduduk bumi itu dibiarkan berpesta mesum di bilik-bilik tertutup di kantor-kantor bank. Sehingga berceceranlah anak-anak haram yang dihasilkan dari perselingkuhan bejat itu. Mereka jadi malas beredar. Tiduran saja. Pinggulnya masih ngilu. Semalam bertempur habis-habisan.
Sekarang, kalau tukang uber-uber tersebut memang sakti, mampu kagak mereka memaksa trilyunan duit Pemda yang sedang pelesiran sambil menikmati wine dan menghisap cerutu Kuba itu agar segera check out dari kamar-kamar SBI dan perbankan? Agar Sony menari-nari riang. Karena main proyek di pemerintahan nikmat banget. Sedangkan, kalau main di swasta, agak seret. Harga ditekan habis. Pasti dibayar, meski ada juga yang tak terbayar. Karena pembiayaan pekerjaan biasanya dianggarkan dari proyeksi pemasukan. Kalau pemasukan agak terganggu, pembayaran bisa mundur tak keru-keruan. Menciptakan efek berantai yang merugikan banyak pihak serta menimbulkan ketidaknyamanan.
Sony sendiri tak pernah menolak pekerjaan dari swasta, bahkan terus mengubernya. Dia pegang pekerjaan besar dari salah satu perusahaan kawannya. Dia tekuni dengan serius meski marginnya kecil kalau dihitung per satuan. Namun, karena rutin dan volumenya lumayan tambun, akumulasi marginnya bisa menutup biaya bulanan.
Sony merasa sangat bersyukur karena usaha barunya berjalan relatif lancar. Sejumlah pekerjaan baru dia dapatkan. Fadli, adiknya itu, beberapa kali meminjaminya tambahan modal kerja. Tanpa bunga. Meski pekerjaan terus bertambah, dia belum punya keinginan merekrut karyawan baru untuk meringankan beban kerja. Masih melihat-lihat dulu. Tunggu sampai benar-benar aman. Panggil saja pekerja freelance. Banyak di luaran sana. Tidak perlu bayar gaji bulanan.
Dia lebih fokus pada pemupukan modal. Sebagian keuntungan dia sisihkan untuk beli mobil, sebagai ganti dari mobilnya yang telah dijual untuk modal awal, sehingga tak perlu lagi pinjam mobil istrinya bila berangkat kerja. Karena Febriana, istri kesayangannya itu, sudah bekerja lagi sebagai pemasar di sebuah perusahaan furnitur raksasa. Katanya, banyak klien gajah – sebagian besar instansi pemerintah dan BUMN – yang suka datang ke kantornya.
“Saya mau ke kantor Bapak besok pagi. Ada beberapa perbaikan yang harus saya periksa sendiri, karena menyangkut angka-angka.” Pak Jumhur menelepon Sony siang itu.
Gawat, pikirnya. Di luaran sana, selama ini dia selalu berkoar-koar kalau perusahaannya mapan dan memiliki daya dukung SDM yang kuat. Padahal, kantornya hanya seluas dua puluh empat meter persegi. Dengan empat set meja-kursi, dua komputer dan satu laptop. Karyawan hanya tiga. Plus freelance satu, yang datang sesuai panggilan.
Karenanya, Sony tak pernah sekalipun mengundang klien untuk datang ke kantornya. Malu-maluin. Ketahuan nanti kalau selama ini bo’ong. Makanya, dia yang aktif menyambangi klien-kliennya. Kalau mereka ingin berkunjung, dia selalu punya cara untuk mengelak. Sedang tidak berada di kantor adalah alasan yang paling mudah diterima. Sehingga dengan gampang mereka digiring masuk ke restoran atau numpang ngobrol di lobby hotel mewah. Biar kelihatan gaya. Tak perlu keluar uang banyak. Hanya segelas dua gelas minuman dingin, atau beberapa cangkir kopi. Tapi kali ini Sony tidak bisa mengelak. Sudah empat kali Pak Jumhur gagal ke kantornya. Harus putar akal. Cari cara yang tepat.
“Pak Sony, kok bengong saja? Ayo, ngobrol-ngobrol di kantor saya. Kayaknya saya jarang lihat Bapak di kantin.” Pak Hanggono dari kantor sebelah menyapanya.
Sony agak kaget. Baru tersadar, rupanya sudah cukup lama dia berdiri bengong di depan pintu kantornya. “Eh, Bapak. Bagaimana kabar? Iya, kayaknya sudah lama kita tidak ngobrol. Bolehlah ke kantor Bapak.”
Mereka pun berjalan beriringan menuju kantor Pak Angga, demikian nama panggilan tetangga kantornya itu. Di ruang kerja pria baya yang berbadan pendek-gemuk itu, mereka mengobrol seru soal BLBI dan bank-bank yang dilikuidasi.
“Persis seperti sapi goyor. Dikasih minum banyak-banyak, baru kemudian disembelih,” ujar Pak Angga, yang pensiunan pejabat itu, sambil ketawa.
“Betul, Pak. He ... he ... he,” Sony menimpali.
“Pak, mohon maaf ini. Kok, saya lihat seperti ada beban yang berat?” tanya Pak Angga tiba-tiba, dengan tatapan mata serius.
Sony terdiam sejenak. Tapi akal kotornya langsung bergerak. Seperti biasa, dia paling doyan menggiring orang untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya. Kemudian dia bercerita mengenai Pak Jumhur. Belum sempat Sony menyelesaikan ceritanya, Pak Angga langsung memotong. “Gampang itu.”
Sony sudah tahu arahnya. Benar, kan. Pak Angga menawarkan kantornya untuk pura-pura dijadikan kantor Sony bila Pak Jumhur datang berkunjung besok pagi. Kebetulan, kedua kantor yang bersebelahan itu punya pintu penghubung yang selama ini dibikin mati. Tinggal pinjam kuncinya – kalau perlu sekalian dibikin duplikatnya – kepada pengelola gedung agar pintu itu bisa dibuka sementara. Sudah. Tak pusing lagi.
Jadi, begini rencananya. Dengan menggabungkan kantor Sony dan kantor Pak Angga, maka akan didapatkan sepuluh orang yang kelihatan sedang sibuk bekerja. Sambil bekerja seperti biasanya, mereka hanya perlu pura-pura sibuk menelepon dan menerima telepon. Pakai interkom saja. Juga, beres-beres ini itu. Sudah cukuplah untuk membangun kesan pertama yang meyakinkan. Tinggal panggil Idrus, pekerja freelance, agar melakukan atraksi. Urusan lainnya gampang. Semua bisa diatur. Kan, ada Heru, yang juga ahli kadal.
Sungguh kebetulan, besok si empunya kantor ada acara seminar di Hotel Borobudur. Seharian lagi. Maka Sony bisa menggunakan ruang kerja Pak Angga untuk bergaya di depan Pak Jumhur. Beberapa foto di ruangan itu langsung diturunkan. Herlina, sekretaris Pak Angga, di-briefing. “Lin, jangan lupa kasih tahu kawan-kawan yang lain. Bantu Pak Sony,” pesan orang Yogjakarta itu.
“Pagi. Bisa ketemu Pak Sony?”
Ini dia. Pak Jumhur sudah datang. Lina menyambut tamu yang dinanti-nanti. Setelah basa-basi sebentar, diajaknya Pak Jumhur menemui Sony di ruang kerja Pak Angga.
“Ee, Pak Jumhur. Sudah saya tunggu-tunggu dari tadi. Kena macet, ya?” Sony menyapa tamunya itu dengan penuh hormat.
Pak Jumhur langsung duduk dan kemudian membuka map yang sedari tadi dikempit di ketiaknya. Semua berjalan lancar. Pekerjaan lancar. Pembayaran uang muka lancar. Atraksi lancar. Sandiwara lancar. Tepu-tepu lancar.
“Wah, kantor Pak Sony nyaman sekali, ya. Karyawannya hebat-hebat. Pekerja keras semua.”
Sony tersenyum lebar menerima pujian yang tulus itu.
“Siapa tadi sekretarisnya, Pak?”
Sony langsung menyahut, “Lina.”
Pak Jumhur mengangguk sambil tersenyum. “Oh, ya. Mbak Lina. Cekatan sekali dia.”
Dua boks besar Dunkin’ Donats sudah cukuplah sebagai tanda terima kasih kepada para aktor dan aktris dadakan itu. Kadang-kadang juga Pizza Huts. Kalau dihitung-hitung, sudah enam kali Sony bersandiwara seperti itu, dengan tamu yang berbeda-beda. Sepanjang masih bisa membantu, Pak Angga yang rambutnya sudah beruban semua itu tampaknya sama sekali tidak keberatan. Kelihatannya dia sangat tulus. Begitu pula karyawannya. Terutama Lina. Sesekali Sony mentraktir Pak Angga makan di restoran kece sebagai ungkapan terima kasih. Juga bertandang ke rumahnya di Lebak Bulus. Sedangkan Pak Jumhur, yang kini menjadi sahabat dekat Sony dan keluarganya, cuma ketawa-tawa setiap kali diingatkan mengenai sandiwara di kantor sekuprit itu. Begitu obrolan mereka menyinggung-nyinggung soal kantor lama, dia pasti akan langsung berucap, “Lina.” Kemudian mereka tertawa bersama.
Herannya, setiap kali berhasil mengerjai orang, Sony selalu merasa menang dan puas. Dia mulai khawatir, jangan-jangan dirinya sebenarnya orang yang culas. Heru juga pernah curhat mengenai hal yang sama kepadanya. Malahan, bapak dua anak yang asli Semarang itu lebih parah lagi kalau soal ngerjain orang. Sampai-sampai dia tak pernah punya klien, yang ada hanyalah korban. Karena klien-klien yang rajin menggelembungkan bonusnya tak lebih dari korban-korban omongan gombalnya. Lebih mengherankan lagi, klien-klien itu tidak pernah merasa dikadali. Malah sebaliknya, merasa sangat dibantu dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tapi Sony tak ingin tabiat buruknya itu menurun ke anak-anaknya kelak. Makanya, setiap sehabis sholat, yang suka bolong-bolong itu, dia selalu berdoa agar sifat-sifat buruk tersebut diangkat dan dibersihkan darinya. Tapi, namanya juga Sony, setiap kali berubah menjadi orang baik sebentar, tak lama kemudian menjadi anak nakal lagi.
“Nakal anak ini. Mau menangnya sendiri.” Tapi Sony tak sependapat dengan istrinya. Dia tidak melihatnya seperti itu. Rizky, anak pertamanya, hanya manja. Bukan nakal. Buktinya, setelah adiknya lahir, dia berubah menjadi anak yang manis. Rasa tanggung jawabnya mulai tumbuh. Sudah tak pernah lagi menangis sambil berguling-guling hanya karena permintaannya tidak dituruti. Sudah berubah dia.
Memang, kelahiran Salsa, anak keduanya, membawa banyak perubahan bagi keluarga maupun bisnis Sony. Semenjak kelahiran anak keduanya itu, usaha Sony kian berderap melangkah. Jumlah karyawan bertambah dua lagi mengikuti pekerjaan yang terus berganda. Sudah saatnya pindah, pikirnya. Cari kantor yang lebih lega. Sebuah ruko berlantai tiga menjadi incarannya. Di daerah Mampang, tepatnya di Jalan Kemang Utara. Sewanya tergolong murah.
Dengan kantor barunya yang cukup lapang, Sony tak perlu lagi bersandiwara di hadapan kliennya. Malahan, dia suka mengundang mereka untuk memamerkan ruang kerjanya yang seluas lapangan badminton dan dilengkapi dengan meja rapat yang sangat besar. Di dalam ruang kerja yang dindingnya dicat biru muda itu terpasang empat foto raksasa seukuran daun pintu, dengan pigura tebal berwana keemasan.
Keempat-empatnya foto Sony semua. Masing-masing dengan busana yang berbeda-beda, tapi posenya sama. Tegap berwibawa. Foto pertama menampilkan Sony yang bergaya sebagai Panglima TNI merangkap KSAD, dengan lima bintang di pundaknya. Pada foto kedua, Sony berlagak sebagai KSAL. Sedangkan foto ketiga dan keempat, memperlihatkan Sony yang sedang tersenyum gagah dalam balutan seragam KSAU dan Kapolri.
Sebenarnya masih ada yang lebih unik lagi di ruangan itu. Melatarbelakangi meja kerja Sony yang besar dan bentuknya sangat sederhana, seperti meja pingpong dibelah dua, di dinding atas terpampang foto diri Sony yang sedang bergaya sebagai Presiden Republik Indonesia. Sedangkan di sebelahnya dia pasang foto mendiang ibundanya yang sudah dikutak-katik sehingga dandanannya mirip Ratu Elizabeth.
Sony sama sekali tidak berolok-olok. Dia ingin mewujudkan cita-cita masa kecilnya, meski hanya dalam bentuk foto diri. Sebagian tamunya sangat respek atas gagasan besar itu. Namun, kebanyakan yang lainnya hanya melirik dengan senyum ditahan. Juga karyawan-karyawannya, yang suka mengganggapnya sebagai orang gila yang baik hati.
Selanjutnya, di samping kanan meja terpasang bendera merah putih. Sedangkan di ujung satunya lagi, berkibar dengan gagah panji-panji berwarna krem yang di tengahnya bergambar buaya sedang bercengkerama dengan seekor macan, melambangkan kerukunan.
Sony menciptakan sendiri logo itu. Karena selama ini dia merasa kurang sreg dengan ikon merpati sebagai lambang perdamaian dan persahabatan. Konon katanya, merpati tak punya empedu, sehingga tidak ada yang pahit di dalam dirinya. Seolah perdamaian dan persahabatan hanya bicara yang manis-manis. Tidak ada pertengkaran. Tanpa rasa cemburu. Nir-ancaman, dan berbagai negasi lainnya.
Padahal, kata Tolstoy, banyak orang yang bisa tidur nyenyak di rumahnya pada malam hari, karena ada orang lain yang pergi berperang untuknya. Damai, perang. Sahabat, musuh. Biasa saja itu, bahkan sangat natural. Seperti halnya ada malam ada siang. Gelap, terang. Laki, perempuan. Malahan, absennya empedu di tubuh merpati sangat merugikan. Mas Hardi, tetangga Sony di kampung halaman, yang memelihara banyak burung dara itu, suka marah-marah kalau ada tetangga yang menjemur nasi basi di genting. Begitu mematuk-matuk karak, nasi aking, atau nasi basi yang dikeringkan, burung dara langsung keracunan, dan mati.
Mati aku, kata Sony, dalam hati, seraya menepuk-nepuk ubun-ubunnya yang luas dan berambut tipis. Dia benar-benar lupa. Kemarin Rachmad meneleponnya. Sohib lamanya itu memberi tahu ada peluncuran VCD Pasir Berbisik di Hard Rock Café. Karena tahu kalau Sony tergila-gila pada Dian Sastro, Rachmad menyuruhnya datang ke sana. Tombo ati, katanya. Masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telinga Sony akan janji kawannya itu, “Son, nanti saya coba atur supaya kamu bisa duduk semeja dan makan malam bareng dengan gadis pujaanmu.” Tapi dia juga berpesan, “Awas! Jangan dipelet!”
Tukijan langsung menyiapkan mobil. Begitu Sony sudah duduk nyaman di jok belakang, mobil langsung digeber. Menyelip-nyelip di sela-sela kemacetan. Lincah sekali. Seperti gerakan ikan yang sedang menghindari tangkapan tangan. Ciiiittt …. Ciiiittt …. Clep! Mobil masuk ke kolong truk. Hancur bagian depannya. Mangap. Sony tidak apa-apa. Tukijan hanya mendapatkan lecet-lecet kecil di tangannya. Digigit pecahan kaca. Bahkan, dia masih sempat cengengesan, sepertinya untuk meringankan rasa bersalahnya.
Namun, kecelakaan itu membuat Sony kehilangan mood untuk bertemu gadis pujaannya. Bukan soal mobilnya yang hancur. Tetapi seperti ada sesuatu yang membuat perasaannya seperti tak keruan. Dia sendiri juga tidak mengerti. “It’s not my day,” keluhnya. Meski Tukijan sudah menyetop taksi, Sony memutuskan tidak pergi. Batal. Dia malah menyuruh supir Taksi Express itu mengantarnya pulang ke rumah.
“Tunggulah aku, Dian. Suatu saat nanti kita akan bertemu. Saling jatuh cinta. Berpacaran. Meski hanya dalam mimpi.”
Bagi Sony, ini bencana. Mestinya hari itu dia mendapatkan kebahagiaan besar.
Benar-benar besar. Karena belum pernah Sony ketiban proyek sejumbo itu. Sering-sering saja begini, pikirnya. Saking girangnya, rambutnya mbrodol lima. Pun, seandainya disuruh lari mengelilingi Monas sebanyak tiga kali, pasti dia sanggupi. Cari saja orang yang agak mirip dengannya. Didandani sedikit, kemudian disuruh lari. Dia cukup menguntitnya dari belakang, sambil ngumpet di dalam mobil. Soal dokumentasi video, bisa direkayasa.
Sudahlah. Tak usah beranda-andai. Karena paket pekerjaan raksasa itu sudah di genggaman tangan. Semuanya harus segera diselesaikan. Cepat selesai cepat dibayar. Dari keuntungan proyek ini, Sony mengganti mobil inventaris yang dipakai Heru dengan mobil baru. Dan, menggeber habis penyelesaian pembangunan kantornya di Kebayoran yang sudah hampir setahun terhenti pada pekerjaan pondasi.
Setelah sempat dua setengah tahun ngantor di garasi yang sempit dan gerah di Kemang, kemudian melakukan big leap dengan berkantor sambil bergaya di gedung mentereng Menara Mulia selama satu setengah tahun, dilanjutkan dengan terjun bebas ke ruangan seluas dua puluh empat meter persegi di gedung jangkung di seberang jalan tol lingkar luar selama setahun akibat krisis ekonomi, kemudian menyeberang ke ruko tiga lantai di daerah Mampang setelah rezeki dan jumlah karyawan bertambah, pada tahun dua ribu empat Sony berhasil menyelesaikan pembangunan gedung kantornya sendiri di Kebayoran.
Kantor tiga lantai yang dibangun di atas sebidang tanah seluas tiga ratus empat puluh meter persegi itu merupakan hasil jerih payanya selama beberapa tahun berwiraswasta. Dua lantai di atas dia manfaatkan untuk kantor. Sedangkan lantai bawah dijadikan tempat parkir. Sony menamakan bangunan kantor barunya tersebut Gedung Sanga, dalam bahasa Jawa berarti angka sembilan. Nama itu muncul begitu saja di dalam benaknya. Maknanya, tidak ada sama sekali. Sekedar nama.
Tapi Ceng Li, temannya main golf itu, sangat percaya dengan keberuntungan yang melekat pada sebuah nama. Lima bulan lalu dia mengajak Sony pergi ke Gunung Kawi untuk berburu nama bagi perusahaan baru yang akan didirikannya. Dengan halus Sony menolak ajakan tersebut, karena dia tidak percaya dengan yang begitu-begitu. Baginya, soal keberuntungan dan hoki sudah ditetapkan di atas sana. Manusia tinggal berusaha. Mudah-mudahan saja hasilnya sesuai dengan yang telah dipatok oleh asa. Buktinya, Mualim, kawan lamanya, langsung sukses besar begitu memulai usaha. Padahal, pada awalnya banyak kawan yang meremehkannya. Menganggapnya tak punya daya, apalagi gaya, untuk menjadi pengusaha. Kenyataannya, tanpa harus menempuh jalan yang berliku, bisnisnya membesar begitu saja. Menjadikannya kaya raya.
Tidak harus pintar untuk menjadi pengusaha yang berhasil. Persis seperti yang pernah dikatakan pakar pendidikan Dr. Arief Rachman, bahwa bukan kepintaran yang menjadikan orang berhasil dalam pekerjaannya, tapi kualitas personalnya. Mualim adalah salah satu contohnya. Begitu banyak pengusaha sukses yang semasa sekolah tergolong siswa yang biasa-biasa saja. Bahkan ada juga yang putus sekolah. Tapi, begitu memasuki dunia kerja, dan kemudian membuka usaha, mereka menjelma menjadi orang-orang yang luar biasa hebat.
Namun, rasa-rasanya tak adil menyebut mereka tidak pintar. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang sangat pintar, karena jeli melihat peluang dan piawai membuat keputusan. Kemampuan itulah yang tidak dimiliki semua orang. Syukur-syukur kalau hebat di sekolah sekaligus memiliki kualitas personal yang bagus. Pasti tambah jadi.
Pengusaha pada dasarnya adalah orang yang baik. Di dunia ini, tidak ada pengusaha yang jahat. Kalaupun pernah ditemukan beberapa, jumlahnya sangat kecil. Jarang sekali. Dan, itu termasuk anomali. Sesungguhnya, mereka yang suka berperilaku amoral bukanlah pengusaha. Mereka hanyalah para petualang. Membuka usaha dengan tujuan culas di belakang. Seperti paguyuban tepu-tepu Qsar, koin emas, arisan lebaran dan lain sebagainya. Tujuannya jangka pendek saja. Mengumpulkan nasabah sebanyak-banyaknya. Sekali tepuk mati ribuan nyawa. Kemudian kabur dengan langkah tergesa-gesa. Ngumpet di rumah kerabatnya. Hingga polisi datang menjemputnya. Sebagian lagi, petualang kelas teri. Bikin perusahaan karena dapat proyek. Mengelabuhi pemodal dengan janji bonek. Setelah itu perusahaan di-engek-engek. Tak peduli karyawan pada kececeran ke mana-mana. Yang penting sudah tercapai tujuannya. Setelah itu berpetualang lagi, menjebak korban-korban berikutnya. Sekali lagi, mereka bukanlah pengusaha.
Lain petualang lain pula pengusaha. Pengusaha adalah orang-orang yang berhati mulia. Malahan, Sony yakin, para pengusaha sudah punya kavling masing-masing di surga. Bagaimana tidak? Mereka adalah pribadi-pribadi yang mampu menciptakan lapangan kerja, atau, dalam bahasa yang lebih sederhana, memberikan mata pencaharian dan nafkah bagi puluhan juta keluarga, dengan sekian banyak mulut yang menganga di belakangnya. Kalau boleh sedikit menepuk dada, para pengusaha berkontribusi besar bagi terciptanya kehidupan yang berkualitas di negeri ini. Tidak hanya melalui lapangan kerja yang mereka ciptakan, tetapi juga melalui jalannya kegiatan usaha sebagai salah satu engine yang memberikan power untuk menggerakkan ekonomi. Seraya membagi-bagikan daya beli. Sehingga terangkatlah kesejahteraan keluarga dan masyarakat, yang pada akhirnya juga berarti kesejahteraan bangsa.
Makanya, para pekerja tidak perlu mencurigai, apalagi memusuhi, pengusaha. Karena pada dasarnya pengusaha tak suka bermusuhan. Musuh hanya akan menutup jalan di depan. Malahan, pengusaha ingin merangkul kawan sebanyak-banyaknya. Termasuk menjadikan para pekerja sebagai mitra. Sesungguhnya, para pengusaha akan merasakan kebahagian dunia akherat ketika melihat para pekerjanya hidup sejahtera.
Tapi gegap-gempita euphoria demokrasi semenjak bergulirnya era reformasi telah menjadikan para pekerja Indonesia kehilangan tatakrama. Malahan, cenderung beringas. Sedikit-sedikit unjuk rasa, tanpa peduli dengan keadaan ekonomi yang terkadang kurang bersahabat. Di mata mereka, para pengusaha adalah orang-orang jahat. Tak pernah sedikitpun berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. Dengan wajah marah selalu menuntut pemerintah berdiri di belakang mereka. Padahal pemerintah harusnya berdiri di tengah, di antara pengusaha dan pekerja.
Kalau begini, namanya mau menang sendiri. Padahal, di samping puyeng menjalankan roda usaha, para pengusaha juga harus berpikir keras mengenai kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Dan, mengantisipasi semua risiko yang setiap saat datang tanpa perlu diundang. Ujung-ujungnya, sebenarnya untuk para pekerja juga, dan, tentu saja, bagi kepentingan pengusaha sendiri. Sama-sama, agar masing-masing pihak, pekerja maupun pengusaha, tidak merugi. Agar perusahan tak sampai tutup dan para pekerjanya pada keleleran. Yang begini ini, para pekerja sering tak mau tahu. Menutup mata. Seolah hanya mereka yang punya hak untuk menuntut begini dan begitu.
Soal upah selalu menjadi pangkal sengketa. Masih untung ada UMP, UMR, standar biaya hidup minimal, atau apalah namanya. Kalau mau jujur, soal upah seharusnya tunduk pada hukum permintaan dan penawaran, mekanisme pasar. Cukup diselesaikan di antara pengusaha dan pekerja. Tak perlu memaksa-maksa pemerintah berpihak. Pemerintah harus berdiri sebagai wasit. Tak perlu cawe-cawe. Cukup mengawasi saja. Karena pengusaha dan pekerja adalah sama-sama warga negara yang harus dilindungi dan dibela kepentingannya. Harus diperlakukan sama. Tidak ada bedanya. Sama-sama makan nasi.
Semuanya harus diserahkan kepada hukum pasar. Mekanisme pasar akan bekerja dengan tangan-tangan gaibnya, kata orang pintar. Di Cina, misalnya, belum lama berselang pernah kejadian di mana suatu kawasan industri kehilangan semua pekerjanya karena mereka ramai-ramai pindah ke daerah dan perusahaan lain yang memberikan upah lebih besar. Biasa itu. Itu yang namanya mekanisme pasar, yang hampir saban hari didengung-dengungkan oleh banyak orang, termasuk pemerintah, dan juga para pekerja. Bahkan, orang-orang yang tinggal di pucuk gunung pun tunduk pada mekanisme pasar global, karena mereka harus membeli barang kebutuhan sehari-hari pada tingkat harga dunia, minyak goreng, misalnya.
Jadi, begini gampangnya. Kalau perusahaan mampunya hanya bayar segitu, mau di bilang apa? Kalau mau, ya silahkan kerja baik-baik, lah. Kalau tidak mau, ya cari saja kerja di tempat lain. Masih bagus bisa kerja. Banyak pengangguran di luaran sana yang bengong jadi penonton dengan mulut menganga. Pun, begitu pula yang berlaku bagi para pengusaha. Kalau mau mendapatkan pekerja yang baik dan terampil, atau supaya tidak ditinggalkan oleh pekerjanya, pasti mereka harus memenuhi tuntutan upah yang lebih tinggi dari para pekerja. Itulah hukum permintaan dan penawaran. Gitu aja kok repot.
Tidak perlu pakai demo-demo segala. Nyusahin orang lain. Mengganggu ketertiban. Memacetkan lalu-lintas. “Berisik,” kata Presiden. Setiap hari demo. Pakai sweeping segala. Itu tabiat keroyokan, alias tawuran. Memberikan contoh yang tidak baik bagi anak-anak kita. Lagian, kalau keadaan dibiarkan begini terus, bisa runyam. Sony sedih melihat sekian banyak investasi asing yang memilih berkemas karena tak tahan dengan ulah para pekerja yang ugal-ugalan. Belum lagi para investor yang urung masuk.
Sony memang paling sebel melihat demo yang begitu marak di mana-mana. Setiap hari, pula. Selalu saja melibatkan, dan dimotori oleh, mahasiswa. Seolah demo sudah menjadi salah satu mata kuliah. Sudalah. Mahasiswa kan telah memberikan kontribusi yang luar biasa besar bagi bergulirnya era reformasi dengan menurunkan Presiden Soeharto melalui demo di gedung DPR. Cukup itu. Semua orang tahu. Dan, mengakui.
Sekarang ndak usah demo lagi, lah. Demo bukanlah satu-satunya cara untuk menyampaikan kebebasan pendapat dan menyuarakan tuntutan. Apalagi dengan mengatasnamakan aspirasi rakyat. Apa bener, itu? Mahasiswa kan calon intelektual bangsa? Apa tidak ada lagi cara lain yang lebih intelek? Dengan tulisan-tulisan tajam yang menggugah di media massa, atau internet, misalnya. Ini zaman keterbukaan, Mas. Pasti mendapatkan perhatian. Paling tidak, akan direspon oleh mereka-mereka yang berkepentingan. Toh, koran ada di mana-mana. Mulai dari yang kelas kabupaten hingga nasional. Atau, pergi ke warnet. Apa susahnya?
Susahnya? Ya, nulisnya itu, Bung. Makanya, para mahasiswa harus dibiasakan mengorganisasikan pikiran-pikiran mereka dalam bentuk tulisan. Dengan demikian mereka dapat menyampaikan apa yang ada di kepala secara lebih sistematis, dan tidak bias. Kalau perlu, dosen diwajibkan membuat soal-soal ujian dengan jawaban yang berbentuk esai. Bukan pilihan ganda yang mirip tebak-tebakan itu. Juga kewajiban membuat paper untuk setiap mata kuliah. Dengan demikian, para calon intelektual itu akan lebih banyak mencurahkan waktu mereka untuk masuk ke dalam kebiasaan intelek tersebut. Mereka akan sibuk, sehingga tak sempat demo. He ... He ... He ....
Sebenarnya ada sesuatu yang salah di negeri ini sehingga setiap hari ada demo. Tapi, apa, atau siapa, yang salah? Jelas, media massa, terutama TV. Stasiun-stasiun televisi begitu gemar meliput demo, sehinga para pendemo merasa mendapat dukungan, dapat ngeceng, dan, unjuk muka sambil berteriak-teriak lantang dengan ucapan yang hebat-hebat. Bahkan, demo yang tidak jelas juntrungannya pun dijadikan berita. Sebaiknya media massa, terutama TV, tidak perlu meliput demo. Kalau perlu, memboikot demo. Kagak bakal naikin rating, kok. Jadi, kalau ada orang-orang yang lagi demo, tidak perlu lagi diliput. Biarin saja. Lama-lama mereka akan bosan sendiri. Capek. Kepanasan. Tidak ada penontonnya.
Ngomongnya jadi ke mana-mana, nih. Padahal tadi kan bicara soal hubungan antara pengusaha dan pekerja. Oh, ya. Beberapa tahun lalu Sony pernah diperkarakan oleh mantan karyawannya. Tapi, tiga kali surat panggilan dari pengadilan hubungan industrial dia abaikan begitu saja. Karena dia tidak mau melayani dendam dan fitnah. Mau lapor ke Depnakertrans kek, atau mengadu ke Presiden sekalipun, tidak akan dia gubris. Akhirnya mereka capek sendiri. Tidak ada kabarnya lagi.
Jadi, begini ceritanya. Yopie, mantan anak buah Heru itu, dikeluarkan karena tidak mampu membuat transaksi. Bahkan setelah diberi waktu perpanjangan selama tiga bulan, masih gagal juga. Ya sudah. Dikeluarkan saja. Model beginian sebenarnya sudah biasa di mana-mana. Marketing yang tak mampu membuat transaksi ya harus minggir. Biar tidak menuh-menuhin tempat. Kalau Depnakertrans ngotot membela pekerja model begini, itu kebangetan namanya. Karena dia sama sekali bukanlah orang yang dizalimi. Malahan, sebaliknya, dia menzalimi diri sendiri.
Ngapain repot-repot menanggapi orang model begini. Mending konsentrasi membesarkan usaha, dan melakukan pemupukan modal. Karena belakangan uang muka semakin susah didapatkan. Lagian, Sony bukanlah tipe pengusaha yang gemar mengambil kredit bank, meski beberapa orang marketing dari bank tempatnya membuka rekening berkali-kali datang ke kantornya menawarkan kredit usaha. Tapi Sony tetap kukuh dengan pendiriannya. Dia tak mau mengelola utang. Dia lebih memilih menempuh jalan tradisional, tidak boros dan tidak pula menunda-nunda membayar utang. Karenanya, pemupukan modal usaha sangat dia perhatikan. Sehingga tak perlu bingung cari pinjaman kiri kanan bila harus memodali pekerjaan-pekerjaan yang agak besar.
Fadli, adiknya, yang membesarkan pabrik pupuknya dengan kredit dari bank, bahkan pernah mengritiknya habis-habisan mengenai soal ini. “Kapan kamu jadi besar kalau tidak mau bersinergi dengan bank dan lembaga pendanaan,” katanya suatu kali.
Sony tak menanggapinya. Diam saja.
Demikian pula soal kartu kredit. Sony cuma punya satu, Visa Platinum. Selebihnya hanya dua keping kartu ATM. Mau dikata tidak modern, kuno, biar saja. Hal yang sama juga dia coba terapkan kepada para karyawannya. Dia berpesan kepada Anita jangan sampai sembarangan memberikan surat keterangan penghasilan atau rekomendasi lainnya kepada karyawan untuk kepentingan pembuatan kartu kredit. Dia tak ingin mereka terperangkap dalam jebakan kartu kredit, yang dengan mudah akan menjerumuskan orang ke dalam tabiat buruk lebih besar pasak daripada tiang. Biar tekor asal tetap sohor. Hal yang seperti ini akan menjadikan hidup mereka tidak normal, karena dikejar-kejar utang. Gali lobang tutup lobang. Bikin kartu kredit baru untuk melunasi sebagian utang kartu kredit lama. Begitu seterusnya. Akhirnya, pekerjaan jadi ikut-ikutan kedodoran. Say no to credit cards? Ndak perlulah. Biar saja.
Namun, sudah waktunya pemerintah, YLKI, Bank Indonesia, atau siapapun dan juga lembaga apapun yang berkepentingan, mulai turun tangan. Memang tidak mungkin melarang orang memiliki kartu kredit, seperti halnya mustahil melarang orang merokok. Ini hak asasi. Toh, banyak juga orang yang mendapatkan manfaat positif dari kartu kredit karena cukup bijak, hati-hati dan bisa menahan diri dalam menggunakannya. Dan tidak mungkin pula bagi YLKI untuk memberikan advokasi kepada para penunggak kartu kredit yang terperangkap dalam utang berlapis-lapis. Bagaimanapun, mereka sudah menikmati berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan, hanya saja digunakan tanpa perhitungan dan benar-benar sembrono. Sebagian lagi karena pada dasarnya memang hobi ngemplang utang. Jadi, harus tanggung sendiri risiko ditongkrongi orang-orang berwajah garang.
Namun, perangkap kartu kredit yang menjebak sekian juta orang yang tidak siap itu sesungguhnya tak kalah merusak dibandingkan dengan berbagai kebiasaan buruk lain yang meracuni masyarakat, seperti merokok atau menenggak minuman beralkohol, misalnya. Bila pada kemasan rokok saja dicantumkan peringatan pemerintah – diadopsi dari aturan yang berlaku di seluruh dunia – yang berbunyi MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN, maka pada setiap keping kartu kredit mestinya juga bisa dituliskan peringatan sejenis, misalnya PENGGUNAAN KARTU KREDIT SECARA TIDAK BIJAKSANA DAPAT MENYEBABKAN PERILAKU LEBIH BESAR PASAK DARIPADA TIANG.
Di samping itu, persyaratan aplikasi dan persetujuan pemberian kartu kredit perlu lebih diperketat lagi dengan survai yang tidak asal-asalan. Upaya perlindungan seperti ini akan lebih bermanfaat bagi kedua belah pihak, nasabah dan bank penerbit kartu kredit. Masyarakat senantiasa diingatkan agar lebih bijaksana dan dapat menahan diri dalam penggunaan kartu kredit, agar tidak terjebak dalam pusaran utang. Sedangkan bank penerbit kartu kredit bisa menghimpun nasabah yang benar-benar memenuhi syarat sehingga jumlah tagihan bermasalah bisa ditekan. Tak perlu menyuburkan profesi tukang tagih.
Begitu gampangnya aplikasi kartu kredit diluluskan sehingga office boy pun bisa memiliki kartu kredit. Sony, yang memiliki kartu kredit Visa, tiba-tiba saja dikirimi kartu kredit Master oleh bank penerbitnya. Setelah dia telepon ke bank, jawabannya sederhana saja. “Kalau Bapak mau pakai, tinggal dilakukan aktivasi. Bila Bapak tidak berkenan, gunting saja kartu itu.” Seandainya kesempatan tersebut jatuh ke tangan orang yang pada dasarnya doyan berutang, pasti langsung diembat penawaran yang menggiurkan seperti itu.
Namun kartu kredit tidak selamanya buruk. Ada juga kolega Sony yang memulai usaha dengan bermodalkan sejumlah kartu kredit dan kredit tanpa agunan atau pinjaman personal. Memang agak berisiko. Gali lobang tutup lobang harus dilakukan. Syukurlah dia berhasil. Usahanya cepat berkembang. Seandainya saja gagal, pasti langsung kiamat. Kejadian deh, libur panjang.
“Libur lagi? Minggu kemarin ada hari libur. Masa, minggu ini masih saja ada tanggal merahnya?” Sony semakin tak paham saja. Sambil bersungut-sungut dia mematikan api rokoknya. Kalau libur hari Sabtu dan Minggu, wajar sajalah. Manusia membutuhkan waktu untuk beristirahat yang cukup setelah bekerja keras. Tapi, banyak banget hari kerja yang diwarnai merah pada kalender. Belum lagi soal cuti bersama. Termasuk penggeseran hari libur yang mengapit Harpitnas di tahun-tahun sebelumnya.
Apa pemerintah kurang kerjaan? Sepertinya senang betul kalau ketemu hari libur. Bagi Sony, libur sehari saja, berarti hilang sudah kesempatan untuk cari duit, sementara biaya bulanan tak mau sedikitpun dimintai libur. Pusing. Pusing. Pusing.
Beberapa jenis industri bahkan harus kelimpungan setiap kali hari kerjanya kepotong tanggal merah. Mereka tak mungkin mematikan mesin, karena butuh waktu berhari-hari untuk proses start up. Tapi pekerja pada menghilang. Jadilah mesin dibiarkan tetap menyala tanpa menghasilkan apa-apa. Utilities terpaksa jalan terus. Rugi. Mau dikata apa.
Sony setuju belaka kalau hari-hari besar keagamaan ditetapkan sebagai hari libur. Tapi mestinya hanya untuk penganut agama yang bersangkutan. Tak perlu berlaku untuk semua. Hari Raya Nyepi, misalnya, harusnya yang mendapatkan libur hanya orang-orang yang beragama Hindu Bali, dan sah-sah saja bila semua kegiatan di Pulau Bali dihentikan. Tapi, bagi penganut agama lain yang tidak tinggal di Pulau Dewata, tentu tak perlu ikut-ikutan diliburkan. Untuk apa? Sebagian besar mereka cuma tidur-tiduran di rumah. Hanya sebagian kecil orang yang punya kelebihan uang yang bisa menikmati long week end.
Pemerintah suka mengganggap semuanya sama rata. Gebyah uyah. Kalau yang satu libur, yang lain harus ikutan libur, meski tak punya kepentingan sama sekali dengan hari yang diliburkan itu. Mungkin mereka tak mau susah-susah membuat pengaturan hari libur yang lebih rinci. Toh, pada dasarnya mereka suka hari libur, karena memang kurang kerjaan. Sementara para pekerja swasta senang-senang saja dengan kebiasaan yang sama sekali tidak menguntungkan bagi kalangan pengusaha ini. Toh, mereka tidak merasa terikat dengan target produksi, target pemasukan dan beban-beban berat yang menghimpit lainnya. Itu urusan manajemen, kata mereka. Asal gaji tak sampai telat dan THR terbayar, mereka pada senyum. Sebaliknya, pengusaha puyeng dibuatnya. Mau protes tidak bisa. Karena sudah ditetapkan di kalender. Sudah formal. Final.
Seandainya pemerintah mau memperhatikan sedikit saja kepentingan para pengusaha dalam menetapkan hari-hari libur nasional dan keagamaan. Misalnya, pada Hari Raya Imlek, hanya masyarakat keturunan Tionghwa yang berhak mendapatkan hari libur. Sedangkan mereka yang tidak ikut merayakan hari yang serba merah itu tetap bekerja seperti biasanya. Kalaupun para pemilik toko di kawasan Glodok menutup toko mereka dan meliburkan karyawannya, itu sah-sah saja. Diliburkan boleh, tidak diliburkan juga tak apa. Terserah mereka. Dengan demikian, tidak perlu dibuat tanggal merah untuk hari libur seperti itu. Bisa saja diganti dengan warna biru atau hijau. Hal yang sama juga dapat diterapkan untuk hari-hari libur keagamaan lainnya.
Lebaran atau Idul Fitri merupakan perkecualian, karena sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam. Sehingga ketika sebagian besar pekerja libur, tidak lucu juga bila kantor-kantor yang karyawannya tinggal satu atau dua orang tidak ikut meliburkan mereka sekalian. Kasihan. Pada bengong sendiri nanti. Tapi tidak perlu diatur-atur soal cuti bersama. Biar para pengusaha yang menentukan sendiri. Mereka toh juga punya toleransi dan cukup tahu diri. Lagian, cuti bersama kan cuma akal-akalan untuk mengatur sebagian PNS yang suka memulur-mulurkan hari libur. Maunya mengatur satu kelompok pekerja, tapi aturannya ditetapkan untuk semua. Ini aneh sekali. Untungnya Menpan sudah membatalkan cuti bersama sebagai hari libur bagi PNS, sehingga karyawan swasta tidak perlu ikut-ikutan menuntut libur.
Sudah waktunya dilakukan pengkajian ulang soal penetapan hari libur, baik libur nasional maupun libur keagamaan. Setiap agama mendapatkan hari libur secara adil dan berlaku khusus hanya untuk penganut agama yang bersangkutan. Jangan terlalu royal dengan hari libur. Itu bukan tabiat bangsa pekerja keras.

7. Tender

Tengah hari. Terik sang surya tak berkutik melawan dinginnya AC sentral di ruang rapat yang luas namun terkesan agak muram itu. Sony sedang duduk membuka-buka berkas di hadapan seseorang. Ada pekerjaan dari Kantor Walikota. Tapi hanya perusahaan Sony yang hadir saat anwiizing. Maka, dia harus menyiapkan minimal lima perusahaan untuk dilakukan tender bo’ong-bo’ongan. Pak Rustam Gazali, ketua panitia lelang, tak mau tahu, pokoknya besok semuanya harus sudah siap. Kalau tidak, tender dibatalkan.
“Daripada mondok, lebih baik tidak jadi sajalah. Nggak usah ngapa-ngapain. Kita balikin saja uangnya,” ujar pria tambun yang rambutnya sudah mulai menipis itu, sambil menutup map hijau kusam yang ada di hadapannya.
Biasa. Cuma gertakan.
“Kalau memang harus begitu, akan kita siapkan semua. Beres, Bos. Bapak tidak usah khawatir. Besok pagi pasti sudah siap.” Sony langsung pamitan.
Model beginian sebenarnya sudah jamak di mana-mana, dan sebagian memang diatur begitu, agar kedua belah pihak tidak perlu repot-repot. Yang penting sama-sama diuntungkan dan aman. Sama-sama senang. “Di sini senang di sana senang. Di mana-mana hatiku riang,” kata anak-anak Pramuka.
Bahkan Sony pegang beberapa dokumen legal yang dia pinjam dari teman-temannya, lengkap dengan kop surat, stempel asli tapi palsu dan semua tetek-bengeknya, yang memang khusus disiapkan untuk jadi perusahaan pendamping dalam tender. Bukan soal besar. Semua bisa diatur. Hanya saja, kali ini agak lain dari biasanya. Tidak hanya berkasnya yang harus hadir, semua penanggung jawab perusahaan wajib datang secara fisik karena proses tender akan didokumentasikan dengan video. Agar benar-benar aman. Sebagai antisipasi bila nanti ada pertanyaan macam-macam dari pihak pemeriksa.
Agak merepotkan, memang. Apalagi ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Berarti harus datang beberapa kali. Tapi tetap harus dilakukan. Dulu Sony tak pernah mau ikut tender kecuali dia sendiri yang mengatur tender itu. Tapi sekarang agak sulit. Maka Sony menghubungi sejumlah kawannya agar mau membantu. Beberapa menyanggupi. Tapi ada juga yang tak bisa ikutan karena pekerjaan lagi padat.
Gampang. Seperti biasanya, Sony memoles dan mendandani karyawannya. Dua orang terpilih untuk bermain sandiwara. Heru Wibowo, Manajer Pemasaran, dan Astrid Saraswati, mojang Priangan yang jelita itu. Cukup diberikan briefing ringan kepada Astrid, sedangkan Heru sudah biasa lompat kadal seperti itu.
“Kamu harus begini. Kamu harus begitu. Kalau ditanya begini kamu jawab seperti ini. Kalau ditanya begitu kamu jawab seperti itu.”
Beres sudah.
Bayar berapa?
Gratis. Namanya juga karyawan dan teman. Cukup diajak makan siang, sekalian sambil ngobrol-ngobrol.
“Sekarang serba susah. Kita sudah bekerja sesuai aturan. Tapi pemeriksa suka berkata lain. Padahal aturan yang dipakai sama. Penafsirannya saja yang suka beda-beda,” ujar Pak Rustam seraya membetulkan letak kacamatanya. Kemudian pria berparfum Cigar itu bercerita kepada Sony tentang seorang Kasudin yang masuk kurungan karena tender yang tidak beres. Pesertanya fiktif dan bodong semua. Pemenang tender menjual kontraknya kepada perusahaan lain. Tanpa harus bekerja, dia mendapatkan fee lumayan. “Sebenarnya, itu Kasudin lagi apes saja. Korban pemeriksaan random. Mungkin ada orang yang jail, sirik, iri dan iseng. Yang lain aman-aman saja, kok,” tambah Pak Rustam.
“Betul, Pak. Pasti ada yang sirik,” Sony menimpali. Sony memperhatikan sedari tadi pria asli kelahiran Jakarta itu mengelus-elus jenggotnya yang agak awut-awutan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya asyik bermain-main dengan rokok kreteknya yang tak pernah berhenti menyala.
“Semuanya mesti transparan. Pekerjaan di atas lima puluh juta harus ditenderkan. Wajib pasang iklan di koran,” imbuhnya lagi, sambil mencomot pisang goreng yang sudah dingin dan agak keras itu.
Sony mendengarkan dengan penuh perhatian semua keluh kesah penggemar gulai kepala kakap tersebut. Dia senang, karena Pak Rustam yang belum lama dikenalnya sudah berani bicara blak-blakan kepadanya. Berarti dia sudah dianggap bukan orang lain lagi. Bagus. Tinggal digarap lebih serius ini orang, pikirnya.
“Coba Pak Sony pikir. Kita sudah pasang iklan tender ini sejak lebih dari dua minggu lalu. Kenyataannya, hanya Bapak yang datang. Sia-sia itu iklan.”
Sony hanya tersenyum menggiyakan. Sesungguhnya, iklan tender itu sudah direkayasa sedikit. Sony mendapat bocoran informasi mengenai proyek tersebut dari orang dalam dan berhasil menggarap salah seorang anggota tim tender untuk memunculkan beberapa syarat yang pasti akan sulit dipenuhi oleh perusahaan lain.
Memang, jarang-jarang orang cari proyek dengan melototi iklan tender di koran. Setiap kali ada iklan tender yang muncul di koran, Sony suka apriori. Itu hanya untuk memenuhi syarat formal. Karena pekerjaan yang ditenderkan sudah dikerubuti banyak orang dan, biasanya sudah ada calon pemenangnya, terutama pekerjaan-pekerjaan yang nilainya besar. Kalau ngotot mau masuk, hanya akan jadi penggembira.
Tapi, jangan juga terlalu apriori. Bagaimanapun, kewajiban memasang iklan tender di koran membawa banyak perubahan. Instansi pemerintah tidak bisa lagi menawarkan proyek secara umpet-umpetan kepada kalangan terbatas. Siapa saja boleh masuk asal kualifikasinya memenuhi. Kenyataannya, ada juga tender yang meski sudah diiklankan namun tak ada yang meliriknya, apalagi datang. Biasanya nilainya tidak terlalu besar, pekerjaannya rumit dan marginnya tipis. Dan, mungkin juga, karena dikira sudah ada calon pemenangnya, orang tak mau repot-repot datang hanya untuk membuang-buang waktu. Atau, bisa jadi, yang datang cuma paper company.
Paper company bercokol di mana-mana. Berkeliaran di instansi-instansi pemerintah. Orangnya itu-itu juga. Tapi jumlahnya ratusan. Mereka suka bergerombol bersama di kantin, di tempat parkir dan di lobby. Berbagi informasi dengan sesama, dan menunggu bocoran informasi dari patron-patron mereka. Ini semacam mafia. Modalnya hanya berkas-berkas legal perusahaan.
Mereka punya perusahaan, tapi tak pernah mengerjakan apa-apa. Karena kerjanya hanya ngerubuti tender. Mereka mendapatkan penghasilan dari calon pemenang tender yang harus memberikan persenan agar mereka mau mundur atau tetap maju tapi sengaja diset untuk kalah. Kalaupun terpaksa menang tender, meski sangat jarang terjadi hal seperti ini, mereka tak perlu pusing. Kontrak bisa dijual kepada perusahaan lain yang benar-benar mau kerja.
Tidak hanya fenomena paper company yang mengemuka. Ada pula perusahaan yang mati-matian menghalangi perusahaan lain untuk masuk ke instansi yang gemar menggelontorkan proyek-proyek jumbo. Caranya bermacam-macam. Mulai dari yang halus hingga yang paling kasar. Modus yang paling umum adalah menabrakkan mobil. Sony pernah mengalami sendiri.
Ketika berangkat menghadiri tender, mobilnya dikuntit oleh kaki-tangan pesaing. Pada awalnya dia tidak terlalu curiga. Tapi mobil buluk itu terus mengekor. Di suatu tempat yang agak sepi, mobil Sony ditabrak. Dan si penabrak, yang ditemani dua orang berwajah sangar, sama sekali tidak lari. Sebaliknya, mereka sengaja ingin berurusan dengannya, dan sama sekali tak mau berbicara dengan Tukijan, supirnya. Dengan segala macam dalih mereka mencoba menahannya berlama-lama. Sony akhirnya terlambat menghadiri tender.
Bukan hanya mobilnya ditabrak, Sony juga pernah dikerjai dengan cara yang tergolong agak kasar. Setelah surat penawaran harga dibuka bersama-sama, maka diketahuilah urutan pemenang berdasarkan harga yang paling rendah. Sony girang, karena perusahaannya keluar sebagai pemenang. Tapi tunggu dulu. Tidak otomatis harga yang paling rendah pasti menang. Masih ada pemeriksaan kelengkapan dokumen, yang seharusnya dilakukan sebelum penawaran harga dibuka, tapi sengaja digeser urutannya. Anehnya, ada saja selembar dua lembar dokumen yang tiba-tiba dinyatakan kurang, sehingga pemenang bisa dinyatakan batal apabila pada saat itu tidak siap dengan salinannya sebagai pengganti. Ini kerjaan pesaing, yang menggunakan tangan-tangan orang dalam untuk mencabuti lembaran-lembaran dokumen tender.
Tapi, kalau yang “dicabut” adalah salah satu dokumen yang harus asli, seperti bank garansi penawaran, sudah pasti tidak bisa ditambal dengan salinan fotokopinya. Kejadian inilah yang menimpa Sony. Kuwalat dia. Karena dulu pernah melakukan hal serupa. Dan, alasan panitia enteng saja, “Mungkin lupa belum dimasukkan. Pasti ketinggalan di kantor Bapak.”
Mana mungkin? Dibantu Anita, Sony sudah memeriksa berulang-ulang sebelum dokumen tender tersebut dimasukkan ke dalam amplop cokelat. Dia juga tak mau capek-capek ikut tender dengan persiapan seadanya. Hanya buang-buang waktu. Tapi kan tidak mungkin berantem dengan panitia tender. Bisa tambah musuh. Ya sudah, lagi apes. Dia tahu diri, karena panitia tender itu memang belum digarapnya secara maksimal. Baru dua orang yang berhasil didekati. Key person-nya belum tembus.
Namun tak semua tender diiklankan di koran. Sebagian BUMN dan BUMD masih menggunakan sistem rekanan terdaftar. Siapa saja yang diundang mengikuti tender tergantung selera panitia, suka-suka mereka. Kedekatan dan kekuatan lobi sangat menentukan. Begitu pula soal setoran. Dan juga kunjungan rutin. Say hello dan makan siang bersama.
Dalam sistem setengah tertutup ini, panitia tender berlagak seperti Tuhan. Menentukan siapa saja yang pantas diundang. Sehingga posisi tawar mereka luar biasa besar. Baik dalam menggilir pemenang maupun dalam menentukan besarnya jatah. Peluang menang akan lebih besar bila mampu mengatur tender bo’ong-bo’ongan.
Dalam kasus seperti ini, Pak Jumhur punya cerita. Kantornya membeli pensil seharga dua ribu rupiah per batang. Padahal di kaki lima dijual seribu tiga. Kalau beli sebatang mungkin tak masalah. Tapi mereka membeli dalam jumlah berjibun. Untuk kebutuhan satu tahun. Belum lagi tip ex, ballpoint, stappler dan barang-barang kecil lainnya. Ketahuan berapa banyak duit yang bisa dihimpun.
Dia juga pernah mendapati sebuah perusahaan pemenang tender mengirimkan pipa-pipa baja yang sebagian bekas pakai namun kelihatan seperti baru. Sebagai mantan orang pabrik, Pak Jumhur cukup paham soal-soal teknis. Tapi dia tak bisa menolak, karena para aggota tim yang lain tidak mempersoalkannya. Terpaksa diam saja. Daripada dimusuhi atau dikucilkan.
Tapi, yang bikin dia benar-benar gondok adalah kenyataan bahwa pipa-pipa bekas itu sesungguhnya berasal dari pabriknya sendiri. Barang-barang bekas pakai yang disimpan digudang itu mungkin dijual oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Dan si pembeli kemudian merekondisinya. Lalu dijual kepada pemenang tender tersebut. Jadinya balik kucing. Membeli barangnya sendiri. Sudahlah. Mau bilang apa?
Tender. Pekerjaan mudah yang selalu dibikin susah. Padahal urusannya hanya membeli. Tapi diatur dengan banyak regulasi. Berbeda dengan menjual, membeli sesungguhnya pekerjaan yang paling gampang di dunia ini. Apalagi uang sudah ada di tangan. Usep, office boy di kantor Sony, tak pernah salah membeli. Selalu mendapatkan barang terbaik dengan harga termurah. Kalau tidak, disuruh mengembalikan oleh Anita. Tak boleh balik kantor sebelum berhasil. Atau, mendapatkan hukuman. Disuruh menghitung butiran pasir segelas penuh.
Apa susahnya membelanjakan uang? Anak TK bahkan tak pernah mengalami kesulitan membeli es doger. Meski hanya berbekal uang seribu rupiah. Tapi budaya nilep telah menjadikan banyak orang dewasa seperti tak becus membeli. Sehingga harus dibuatkan banyak aturan untuk pekerjaan paling sepele di dunia itu. Manual-manual setebal bantal disusun bukan untuk memandu jalannya pekerjaan yang rumit. Tapi, mencoba membatasi gerak orang-orang yang hobinya ngentit. Sony tak tahu persis, yang beginian ini tergolong kebobrokan atau kebodohan birokrasi.
Pada dasarnya tender diadakan agar si empunya proyek mendapatkan pilihan pemasok yang tepat dari segi harga, kualitas barang/jasa, pengalaman, bonafiditas dan profesionalisme. Iklan di koran maupun pengumuman yang dipasang di papan diharapkan akan menjaring sebanyak-banyaknya calon pemasok, sehingga dapat dipilih yang terbaik dari antara mereka.
Tapi pengumuman yang terlalu terbuka juga mengandung kelemahan. Sama seperti iklan lowongan kerja. Mengundang laron datang berbodong-bondong. Sembilan puluh persen paper company. Seperti ketika secara iseng Sony mendampingi Heru menghadiri undangan tender dari suatu departemen beberapa tahun lalu. Dia hanya geleng-geleng kepala. Lebih dari dua ratus orang hadir di sana. Tumpah ruah seperti ceceran darah. Suasananya tak ubahnya sebuah demo. Wajah-wajah sangar bikin kecut muka. Ada yang menggebrak-gebrak meja. Sebagian mengacung-acungkan gulungan map di kepalan tangannya. Sebagian lagi menundukkan kepala.
Telah datang Raja Sawer. Bagi-bagi amplop dengan hidung meler. Di badannya terpasang selang kateter. Tersambung pada segulung pipa kapiler. Di sampingnya diletakkan sebuah ember. Agar muntahan dari mulutnya tidak tercecer.
Ajaib, dalam pertemuan berikutnya peserta tinggal delapan saja. Sihir itu telah bekerja. Lembar-lembar merah menggantikan mantra. Mengusir nyamuk-nyamuk yang suka berdengung. Ketua panitia tender langsung menyapa dengan senyum menggantung. Memimpin rapat dengan gaya kentrung. Lagaknya seperti raja panggung. Menyerocos sambil membalik punggung. Sorot lampu OHP membengkakkan jari telunjuknya segede pentung. Penonton memperhatikan dengan tatapan mata bingung. Namun suaranya terus mengalun. Tangannya berayun-ayun. Mengiringi naik turunnya jakun.
Sony mendapat bocoran resmi. Proyek pengadaan poster yang didanai lembaga donor asing itu benilai tinggi. Diproduksi sebanyak dua juta lembar. Selama empat tahun berturut-turut dimenangkan oleh Raja Sawer. Dengan harga per lembar sebesar lima belas ribu perak. Tahun ini, harga dipatok hanya setengahnya, agar tak kelihatan semarak.
Pemeriksa curiga menemukan poster harganya tak main kira-kira. Panitia berusaha mencari cara. Lima orang kunci bertemu Sony di Hotel Grand Melia. Dilanjutkan dengan makan malam bersama di Move n Pick Marche. Sony langsung buka kartu. Setiap orang akan dapat seratus juta. Bila mau, bisa diambil di muka. Asal kontrak sudah bertanda. Plus masing-masing sebiji mobil keluarga. Hitung-hitungannya amat mudah. Biaya produksi tak lebih dari seribu rupiah.
Raja Sawer berang. Langsung menabuh genderang. Menghunus pedang. Dengan tangan terentang. Berteriak-teriak lantang. Seperti binatang jalang. Melolong panjang. Kepala terangkat mulut mengerang. Tatapan matanya nyalang. Kursi rodanya menerjang-nerjang. Merobohkan semua penghalang. Dari balik bajunya yang tipis berbayang. Dadanya bergambar tulang. Seperti gambang. Perutnya terbelit selang. Kesadarannya hampir hilang.
Untung asistennya segera datang. Dengan membawa selembar map biru bertanda silang. Berusaha membuat majikannya tenang. Menjanjikan pasti menang. Dengan gemilang. Karena sumber bahan baku sudah dihadang. Kapal tak boleh berangkat dari Jepang. Ini bukan lagi lelang. Tapi perang. Adu gelanggang. Main ganyang. Harga langsung digantang. Sekalian, sudah kepalang. Daripada bernasib malang.
Ini benar-benar gila. Sony mendengar kabar dari sumber terpercaya bahwa Raja Sawer sudah memproduksi poster itu bahkan sebelum diputuskan menang. Lebih parah lagi, bocoran tersebut sudah merembes ke sudut-sudut arena. Maka, ketika tahu bakal kalah, pria berkumis tebal itu kalap. Amarah langsung menyelinap. Meski tak terucap. Tergambar jelas dari mulutnya yang terus-terusan mangap. Napasnya megap-megap. Seolah paru-parunya dipenuhi rayap.
Begitu seorang peserta nekad menawarkan harga lima ribu, dia langsung menutup transaksi dengan harga yang sama sekali tak masuk akal, delapan ratus lima puluh rupiah. Angka itu hanya cukup untuk beli bahan baku. Tapi itu langkah jitu. Daripada barang menumpuk di gudang. Hanya berharga kalau ditimbang. Dijual kiloan. Kepada juragan barang loakan. Semua orang langsung membisu. Sony menggerutu. Kali ini ketemu batu.
Sesungguhnya, penciptaan kondisi ideal melalui proses tender akan memungkinkan si empunya proyek memperoleh barang/jasa sesuai dengan spesifikasi, kualitas dan jumlah yang telah ditentukan. Tentu saja, dengan harga yang paling menguntungkan. Suatu mekanisme kerja yang, bagaimanapun, patut mendapat apresiasi karena memang jempolan.
Kenyataannya, sebagian besar tender lebih menekankan aspek proporsional dan profesional saja. Proporsional berarti si empunya proyek mendapatkan fee yang layak dari pemenang tender, sebagai imbalan karena telah memberikan kemenangan yang mudah dan sebagai ungkapan terima kasih dari pemenang tender atas berbagai kemudahan yang mereka berikan selama proses pelaksanaan pekerjaan. Sedangkan profesional berarti pekerjaan bisa diselesaikan tepat waktu dan tuntas, tak peduli hasilnya kelas dua atau kelas tiga. Lihat saja bangunan gedung-gedung Sekolah Dasar yang pada layu sebelum berkembang.
Untuk urusan proporsional, si empunya proyek lebih suka berhubungan dengan perusahaan yang sudah dikenal. Aman dan nyaman. Tak perlu was-was. Tak bakal dicurangi. Tak mungkin gigit jari. Karena sudah TST, tahu sama tahu. Tanpa dibilang, sudah ketahuan jatah yang akan dikantongi. Termasuk kapan akan diterima itu fee. Semuanya sudah jelas. Malahan, kadang-kadang bisa kasbon, minta sebagian di muka.
Kalau ketemu perusahaan yang baru dikenal, urusan fee jadi agak panjang. Harus meraba-raba dulu. Penjajagan. Negosiasi. Tawar-menawar. Pokoknya repot. Jangan sampai ditinggal pergi begitu saja setelah pekerjaan selesai, dengan ucapan “Thank you.” Keamanan harus diutamakan, tapi jatah jangan sampai tak kebagian, apalagi kurang. Tetap harus hati-hati. Jangan sampai maunya girang, eh malah masuk kandang.
Meski sekarang semuanya serba ketat, mereka tak pernah kehilangan arah. Kalau tak mau kehilangan sabetan, ya jangan menyerah. Emang mau hidup murni dari gaji? Berapa harga gincu istri? Anak sudah merengek-rengek minta dibelikan iPod. Mobil sudah waktunya ganti ban. Sementara selingkuhan minta tambah jatah bulanan.
Harus putar otak. Cari celah-celah yang masih mungkin dimasuki. Semut saja bisa melubangi tembok. Masa, manusia tak bisa membongkar gembok? Semua pasti bisa dicari jalannya. Peraturan dibuat untuk diakal-akali. Bukan untuk dilanggar. Karena sudah bukan zamannya lagi main kayu. Apalagi sim salabim. Yang penting harus bermain cantik. Pengusaha juga tak pernah keberatan untuk diajak main mata. Asal sama-sama untung. Sama-sama aman. Yang dibutuhkan cuma pakar manajemen akal-akalan.
Seketat apapun peraturan, pasti bisa diakali. Dijamin. Pekerjaan yang nilainya tidak terlalu besar tak perlu ditenderkan. Cukup dipecah-pecah menjadi beberapa pekerjaan kecil sehingga nilainya di bawah lima puluh juta. Yang penting jatah tak berkurang. Caranya juga tidak terlalu sulit. Misalnya, untuk pekerjaan yang nilainya seratus juta, rekanan tinggal diminta menyiapkan tiga atau empat perusahaan. Masing-masing perusahaan mendapatkan pekerjaan senilai dua puluh hingga tiga puluh juta. Dengan demikian, seolah-olah ada tiga atau empat transaksi yang berbeda. Padahal yang mengerjakan proyek tersebut hanya satu perusahaan. Model seperti ini tergolong sangat aman. Karena nilai transaksi di bawah lima puluh juta, jarang menjadi perhatian pemeriksa.
Tapi tak semua proyek bisa dipecah-pecah menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil yang terpisah, terutama bila angkanya cukup besar. Dalam beberapa kesempatan, peserta tender diadu bantai-bantaian harga. Menang tapi tersiksa. “Karena tahun kemarin ada pertanyaan dari pemeriksa,” mereka beralasan sekenanya. Mau tak mau, harus tetap diikuti.
“Untungnya mefet,” kata Wan Abud, seorang kolega Sony. Dia memenangkan lelang pengadaan meja kursi. Akibatnya, kualitas barang harus diturunkan supaya perusahaan ada untung dan si empunya proyek tetap dapat jatah. Karena marginnya tak seberapa, maka jatah si empunya proyek harus dinegosiasikan ulang.
“Mau kagak, kalau jatahnya cuma segini? Untuk bagian ini, segini. Untuk bagian itu, segitu.” Begini ni ni ni. Begitu tu tu tu. Begini. Begitu. Begini. Begitu. Begini. Begitu.
“Wah, kalau caranya begini, dapatnya tipis. Kurang manis. Tak cukup untuk menambal pengeluaran bulanan yang selalu berbaris.”
Si empunya proyek pusing, pengusaha terkencing-kencing. Mesti peras otak lebih kencang dan cari cara yang lebih liat. Harga harus tetap ditekan, biar kelihatan pintar menawar dan hemat. Tapi jatah tidak boleh kurang barang sekuku.
Gampang itu. Bantai-bantaian harga tetap jalan. Pemenang harus menawarkan harga serendah mungkin. Bahkan harga yang sama sekali tak masuk akal. Tapi mereka bukan orang nekat bin bodoh. Ada jurus Spanyol, separuh nyolong. Delivery tak perlu sesuai jumlah yang ditentukan. Cukup setengahnya saja. Tanda terima bisa diatur. Siapa yang mau mengecek satu per satu sticker yang jumlahnya jutaan itu. Ini kan cuma masalah administrasi. Semuanya aman dan terkendali. Proprosional dan profesional. Everybody’s happy.
Jurus Spanyol tergolong permainan kayu. Harus tahan pukul seperti petinju. Mainnya lumayan kasar. Risikonya juga agak besar. Terkadang tidak lancar. Salah sedikit bisa kena cecar. Hanya dilakukan kalau sudah tidak ada alternatif lain sebagai jalan keluar.
Tapi kebuntuan sering kali melahirkan kreativitas. Maka para pakar manajemen akal-akalan pun memeras otak lagi hingga ide baru menetas. Ketemu. Kali ini para peserta tender yang diatur. Para pemain tetap kemudian dipanggil dan di-briefing bersama.
“Tahun ini ada sepuluh pekerjaan. Kalian berlima menangnya gantian. Jadi tidak perlu tabrak-tabrakan. Masing-masing dapat dua,” kata si empunya proyek. “Daripada harus baku-harga, kita stel saja itu tender. Calon pemenang bikin harga, yang lain ngikutin. Naik-naikin dikit, lah. Biar kelihatan seru. Tapi kalian harus rukun,” tambahnya lagi.
Ini baru namanya win-win solution. Kanan senyum. Kiri senyum. Pengusaha dapat margin yang memadai. Si empunya proyek jatahnya aman. Pemeriksaan sudah pasti aman, karena tidak ada yang janggal. Bahkan cenderung sangat rapi.
Sony paling senang dengan tender model begini. Tak perlu pulang dengan muka jontor. Tangan juga tak terlalu kotor. Menang telak tanpa perlu menggedor-gedor. Cukup menunggu kabar di kantor. Duit langsung menggelontor.
Tapi tidak gampang mengatur tender seperti ini. Mesti ada gentleman agreement di antara para pemain, terutama dengan si empunya proyek. Mereka harus saling kenal secara dekat. Harus saling percaya dan satu suara. Harus benar-benar dijaga jangan sampai ada salah satu yang jail dan kemudian koar-koar di luaran sana. Bisa bubar semua. Bukannya untung, malah dikurung.
Lain tender lain pula penunjukan langsung. Memang semua harus ditenderkan. Tapi dalam kasus-kasus tertentu penunjukan langsung dimungkinkan, misalnya untuk pengadaan barang/jasa yang sangat spesifik, yang jelas-jelas hanya bisa dipenuhi oleh satu pemasok. Tapi si empunya proyek biasanya tak terlalu suka dengan cara ini, karena pemeriksa suka cerewet setiap kali menemukan pengadaan barang/jasa yang dilakukan dengan model penunjukan langsung, apapun alasannya.
Daripada harus menjawab pertanyaan macam-macam nantinya, dan keceplosan salah ngomong, paling aman ya ditenderkan saja. Tak peduli meski harus menghimpun peserta tender yang sama sekali tidak punya kualifikasi. Persyaratan teknis bisa diakal-akali. Tinggal ditambahkan tulisan di sana dan tulisan di sini.
“Tetap harus ikuti aturan. Pemeriksa tak mau tahu. Pokoknya harus ditenderkan.” Mereka suka ngotot begitu.
Ya sudah, yang waras ngalah.
Jujur saja, tidak ada tender yang bebas dari soal jatah. Kalaupun ada, bisa dihitung dengan jari. Satu di antara sejuta. Itulah kenyataannya. Seperti sudah ada kesepakatan tak tertulis bahwa pelaksana pekerjaan harus menyisihkan sebagian keuntungan untuk si empunya proyek. Bahkan ada yang terang-terangan minta di muka, terutama kepada perusahaan yang baru dikenal. “Tes bonafiditas,” kata mereka. Kalau tidak dituruti, sebenarnya mereka juga tidak ngotot. Tapi jalannya pekerjaan jadi kacau, karena disalahin melulu. Ada saja yang tidak beres. Soal kecil dibesar-besarkan.
Memang bukan kewajiban, tapi tetap harus diberikan. Kalau tidak, besok-besok pasti masuk daftar hitam. Di-blacklist, tak bakal dapat pekerjaan lagi dari mereka. Gembok besar akan dipasang di pintu depan kantor. Semua orang membuang muka. Lebih buruk lagi kalau mereka main pantun sindiran. Bikin merah telinga.
Pemeriksa sebenarnya bisa langsung tahu soal-soal seperti ini dari struktur biaya yang dirinci dalam penawaran harga. Tapi mereka biasanya tutup mata. Melewatkannya begitu saja. Karena hal seperti itu terjadi di mana-mana. Daripada repot, pura-pura tidak tahu adalah jalan keluarnya. Kalau ngurusi yang beginian, mereka harus menangkap semua orang. Sehingga, jalannya pemerintahan, di pusat dan daerah, akan lumpuh total. BUMN dan BUMD pada tutup semua.
“Jangan. Tak perlu seperti itu. Toh, jumlah yang diembat masih dalam batas-batas ‘wajar’. Biasa itu. Di mana-mana juga begitu,” demikian alasan mereka. Maka, biar kelihatan kerja, bikin saja pemeriksaan acak, dengan sasaran orang-orang yang pelit, yang tidak suka bagi-bagi. Atau, orang-orang yang sok bersih. Mereka tinggal melempar dadu. Seperti main ular tangga. Tunggu saja, siapa yang bakal ketiban apes kali ini.
Namun belakangan suasananya agak berbeda. Semangat pemberantasan korupsi sedang hangat-hangatnya, dan menular ke mana-mana. Pemeriksa lagi unjuk gigi. Jarang-jarang yang mau diajak main mata. Yang jadi masalah, perbedaan persepsi antara si empunya proyek dengan pihak pemeriksa telah menyebabkan banyak orang masuk bui. Masing-masing memiliki persepsi yang berbeda terhadap peraturan yang sama. Meski merasa sudah bekerja dengan ekstra hati-hati, masih saja ditemukan hal-hal yang kurang pas. Karenanya, banyak orang yang memilih berdiam diri, takut keliru.
“Daripada salah, lebih baik tidak usah dikerjakan sekalian. Kembalikan saja uangnya.”
Tidak mengherankan bila trilyunan uang Pemda leyeh-leyeh di SBI dan perbankan. Sekalipun Presiden berteriak-teriak sampai urat lehernya bengkak, itu duit tidak bakalan bangun dari tidur nyenyaknya.
Walhasil, serapan anggaran minim sekali. Mereka khawatir kena tendangan penalti. Proyek-proyek tak jalan karena orang enggan jadi Pimpro. Meski diancam dengan sayatan pedang Zorro. “Mendingan nguras laut,” kilah mereka. Semua pada tiarap seraya mengelus dada. Menunggu sambil garuk-garuk kepala. Wait and see. Sampai keadaan benar-benar aman terkendali.
Soal anggaran gampang diakali. Didiamkan juga tidak akan basi. Malahan, bisa menghasilkan anak haram, karena berselingkuh dengan bank. Pemerintah jadinya piara banyak pengangguran. Karena mereka ogah bekerja. Takut ditonjok langsung mondok. Gawat kalau keterusan begini. Duit cuma disuruh tidur-tiduran. Mestinya mereka disuruh banting tulang. Agar terjadi perputaran uang. Sehingga sektor riil bisa jalan. Dan orang-orang gampang cari makan.
“Sekarang mah, mau bikin apa-apa susah. Kagak ada yang beli. Orang pada nggak becus duit.” Pak Dadang tak habis mengerti. Penjual gorengan itu harus tabah karena dagangannya makin sepi. Berangkat pagi, pulang dini hari. Hasilnya cuma cukup buat beli peniti. Padahal setiap hari perut minta diisi. Paling tidak sehari sekali. Dengan sepiring nasi. Tak ada lauk pun jadi. Yang penting pakai sambal. Sehingga perut terganjal.
Tapi dagangannya cuma pulang modal. Pak Dadang kesal. Kehabisan akal. Semuanya serba mahal. Gas mahal. Minyak tanah mahal. Minyak goreng mahal. Buku sekolah anak mahal. Istri jual mahal. Sudah sebulan tak mau disenggol karena belum dibelikan sandal. Si Imron jadi tumbal. Hanya bisa berkhayal. Semalaman berdiri tegak seperti rudal. Sasaran yang tersedia hanya bantal. Sarungnya kusam seperti gombal. Koyak di sana-sini belum juga ditambal.
Sementara dari atas sana, orang-orang pintar beraroma wangi dan berbusana necis terus menebar angin surga yang membuai rakyat. Dengan parameter makro-ekonomi yang hebat-hebat. Seolah hidup hanyalah sebatang cokelat.
“Ndak mudeng aku,” kata Sony kepada Fadli, adiknya punya pabrik pupuk itu.
Bunyinya canggih-canggih. Pertumbuhan naik sekian. Pengangguran turun sekian. Indikator keuangan mengesankan. Gombal. Yang bergerak kan cuma pasar modal dan pasar uang. Yang ada di genggaman tangan beberapa orang. Hanya investasi portofolio. Bikin banyak orang melongo. Kenyataannya, cari duit tambah susah saja. Laba usaha makin tipis belaka. Coba lihat kenyataan hidup yang ada di masyarakat. Dari hari ke hari mereka kian melarat.
“Tuan, datangi mereka dan hampiri. Kalau Tuan masih punya hati. Tuan akan menangis berhari-hari. Itupun kalau Tuan berani.”
Sebenarnya, tak perlu susah-susah amat untuk mengetahui bahwa ekonomi sedang dirundung masalah. Tak usah ngantor, tinggal saja di rumah. Tongkrongi TV seharian. Perhatikan silih bergantinya iklan. Sepanjang para produsen consumer goods jor-joran tebar hadiah, langsung ketahuan bahwa daya beli masyarakat sedang payah. Duit lagi susah. Sehinga banyak produk konsumsi diproduksi dalam kemasan supermini.
Tak perlu riset berbulan-bulan. Tidak perlu laporan-laporan tebal dengan beratus-ratus halaman. Tidak pula angka-angka statistik yang berkerlap-kerlip seperti bintang-bintang yang bertaburan. Tak perlu kurva-kurva yang berlenggak-lenggok kegelian. Tidak dibutuhkan profesor-profesor yang kepalanya penuh uban. Mereka, para produsen itu, adalah pelaku pasar. Mereka tahu benar realitas yang terjadi di balik pagar. Ukuran mereka cuma keluar masuknya barang di gudang. Itu doang.
Masih banyak petunjuk lain. Hanya untuk memperebutkan uang pembagian zakat sebesar lima belas ribu perak, puluhan orang harus kehilangan nyawa. Petunjuk yang lebih mengerikan, malah terpampang di mana-mana pada lembaran-lembaran kain. Tapi bukan Blue Clues yang terkadang suka menempel di kaki meja atau di tubir dinding. Bukan. Yang ini justru bikin orang merinding.
Membubungnya kredit konsumsi mengindikasikan bahwa masyarakat sedang hidup di alam mimpi. Mengumpulkan barang-barang yang sesungguhnya tak mampu mereka beli. Mereka mengambil jalan pintas. Menggadaikan hidupnya pada selembar kertas. Karena pikiran sudah getas. Untung saja masih waras. Meski bayar utang tidak pernah tuntas. Sementara cicilan motor belum juga lunas. Tapi sayang kalau harus dilepas. Biar saja dikejar-kejar orang berwajah beringas. Yang mengancam akan merampas. Akhirnya ke mana-mana bawa belati di dalam tas.
Sinetron di TV juga setali tiga uang. Setiap hari berebut jam tayang. Semuanya menebar mimpi. Keajaiban dijadikan solusi. Mengajak orang lari dari kepenatan hidup. Melupakan kesedihan yang tak berkatup. Sementara di bawah terik matahari yang tak berpenutup. Seorang preman tidur telungkup. Keringat terus menyelusup. Pakaiannya basah kuyup. Mulutnya mengatup. Perutnya bernyanyi sayup-sayup. Amarahnya gampang meletup. Karena cahaya kian redup. Sehingga bunga mawar tak mau lagi mengeluarkan kuncup. Persis sama seperti ketika India masih melarat. Filem-filem Bollywood menjual khayal kepada orang-orang yang hidup kesrakat. Setelah mulai makmur, mereka mulai beralih ke tema-tema cinta.
“Cinta? Emangnya kamu bisa kenyang dikasih makan sepiring cinta berlauk dusta.”
Pak Sabar benar-benar kehilangan kesabarannya kali ini. Dagang minyak tanah kelililing harus terhenti semenjak pemerintah demen bagi-bagi kompor dan tabung gas cebol. Puntung rokok saja harus disambung-sambung pakai lem glukol. Semua gelas sudah diloakin sama bininya sehingga terpaksa dia minum dari botol. Tempat beras sudah kosong. Meja makan melompong. Dalam keadaan nyesek begini, si Eneng, anak perawannya itu, merengek-rengek minta kawin. Padahal si Ujang, pacarnya, sehari-hari kerjanya cuma garuk-garuk punggung sama ngupil.
“Kalau kamu tetap maksa minta kawin, sono kirim SMS sama Pak Presiden. Minta ongkos.”
Presiden sesungguhnya sudah mengambil langkah yang tepat dengan menaikkan gaji PNS, tentara, polisi, pensiunan dan veteran. Diharapkan kenaikan gaji itu akan memperbesar konsumsi. Sehingga penjual nasi liwet kebagian rezeki. Dan petani bersemangat lagi menanam padi. Ibu-ibu bernyanyi ketika menanak nasi. Gadis-gadis perawan bersedagurau sambil mencuci di kali. Anak-anak rajin gosok gigi.
Tapi itu semua belum cukup berarti. Akumulasinya masih jauh dari kurang untuk membujuk sektor riil agar mau melangkahkan kaki. Perlu upaya lebih dari ini. Duit Pemda yang ngendon di bank harus dilepas agar menari-nari. Sengol sana senggol sini. Cium kanan cium kiri. Rini. Tuti. Yanti. Meti. Tari. Yuli. Prapti. Dini. Meri. Sari. Syaukani.
Perbankan kita salah, kata sebagian orang. Mereka pelit sekali kepada sektor riil. Bahkan Wapres Yusuf Kalla pernah mengancam para bankir pelat merah agar berlomba-lomba mengguyurkan kredit. “Kalau masih mau jadi direktur, tebarkan kredit sebanyak-banyaknya,” katanya, dengan nada mengancam.
Tapi, bagaimana mungkin memberikan transfusi darah kepada orang yang lagi sekarat? Kalau koit, gimana? Atau tidak mati, tapi cacat permanen, alias invalid. Siapa yang tanggung jawab? Siapa yang akan menggantikan mereka mengangsur utang? Bisa gatal-gatal kena penyakit NPL.
“Mereka butuh obat jenis lain, Pak. Namanya uang beredar. Fulus berputar. Duit melingkar. Bukan satria bergitar.”
Tender. Tender. Tender. Kamu bikin nyali orang ciut. Sudah beberapa hari Pak Gubernur selalu merengut. Nasi goreng ditolak oleh mulut. Hanya kopi pahit yang diseruput. Sebungkus rokok sudah habis disulut. Pikirannya sedang kalut. Serapan anggaran kian menyusut. Para Pimpro pada takut. Maka diajaklah seorang Bupati berlibur ke laut. Agar terurai pikiran yang kusut. Muka Pak Bupati jadi kecut. Lupa tak pakai kancut. Anunya digigit ikan cucut. Diperban pakai kasut.
“Ngapain takut?” kata Menteri Pertanian, seraya mengedarkan dokumen pengadaan benih padi unggul untuk ditandatangani secara berjama’ah oleh sejumlah pejabat tinggi negara. Bravo, Pak Anton. Sangat kreatif. Kalau tidak pakai model beginian, petani menunggu kelamaan. Bisa-bisa, karena sudah tak sabar lagi, mereka pada menanam juwet. Mau kamu makan juwet? Biar lidahmu berwarna ungu.
Pengawasan yang ketat memang wajib dijalankan. Agar tidak terjadi kebocoran anggaran. Indonesia tak mau lagi jadi juara korupsi. KKN harus diperangi.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak pejabat hidup dengan berkelimpahan materi. Padahal mereka bergaji mini. Apa pun bisa mereka miliki. Sabet sana sabet sini. Mendapatkan uang berpeti-peti. Bikin bangga anak bini. Setiap tahun liburan ke luar negeri. Mobil-mobil mewah mereka getol jual tampang di tempat parkir. Perilakunya sama saja dengan tuannya yang kikir. Suka bergaya dengan muka nyinyir. Jor-joran tak mau minggir. Saling menyindir. Mentang-mentang belum diafkir.
Tapi banyak juga pejabat yang suka berpenampilan sederhana. Gemar bertegur sapa dengan siapa saja. Wajahnya selalu sumringah. Pergi ke mana saja pulangnya bawa hadiah. Ngantor pakai mobil butut. Kalau di-starter knalpotnya langsung kentut. Padahal, di garasi rumahnya, sebuah Mercy S-class, Jaguar S-type dan BMW seri tujuh sedang berikrar bersama menjalin persahabatan sehidup semati.
“Dalam keadaan apa pun, kita harus selalu mendukung tuan kita. Dalam gembira dan senang. Susah bukan urusan kita. Itu jatahnya mobil omprengan.” Kemudian mereka saling membunyikan klakson dan mengedipkan lampu depan.
Bahkan orang sering menuding Departemen Agama, yang seharusnya ditegakkan dengan moral, sebagai sarang korupsi nomor wahid. Agama urusan pribadi. Korupsi menjadi nadi institusi. Beberapa kali pergi ke sana untuk urusan tender, Sony menemukan sebuah anomali yang menjadi keseharian yang dianggap normal. Gedung jangkung yang berdiri mengangkang di sebelah barat Lapangan Banteng itu pintu depannya selalu tertutup dan dijaga Satpam. Hanya Pak Menteri dan pejabat eselon yang keluar-masuk lewat situ. Pak Satpam dengan sigap akan membukakan pintu. Sedangan karyawan dan tamu dipersilahkan lewat pintu belakang. Yang dibiarkan menganga seharian. Seolah sedang mendesiskan sebuah bisikan, “Kalau ente punya urusan, lewat pintu belakang saja.”
Kreativitas Pak Anton patut diteladani, sekaligus ditiru. Tidak hanya untuk urusan penunjukan langsung, tapi juga bisa diaplikasikan pada proses tender. Karena tak semua orang punya keberanian seperti pria berjenggot mini itu. Membuat keputusan yang cepat dan aman. Meski ada yang iseng mencoba mengutak-atik persoalan tersebut. Tuduhan tak berdasar itu mental belaka. Tak mempan. Tetap aman.
Ini hanyalah sebuah siasat. Tidak ada maksud culas di belakangnya. Dalam lingkup daerah, Gubernur, Bupati atau Walikota bisa saja melibatkan jajaran Muspida dalam kepanitiaan tender. Semacam pertanggungjawaban secara berjama’ah. Seperti yang sudah dicontohkan Pak Anton. Tinggal dibuatkan payung hukumnya. Keppres baru atau apalah namanya. Sehingga hilanglah ketakutan-ketakutan yang selama ini menghantui. Tinggal dinyalakan saja sumbunya. Karena sudah ada yang memulai. Terbukti bisa jalan dan aman.
Tak perlu ada lagi alasan takut. Karena aparat penyidik dan pemeriksa sudah terlibat di dalamnya. Sehingga mereka bisa memberikan masukan-masukan langsung mengenai apa yang boleh dan tidak boleh menurut opini profesional mereka. Memang tak lazim. Panitia tender akan menjadi lebih gemuk, karena melibatkan banyak pihak. Tapi tak ada pilihan lain. Anggap saja sebagai proses peralihan. Dan nanti bisa ditinggalkan kalau sudah ditemukan cara yang paling tepat dan aman. Daripada harus menunggu berlama-lama. Antara jalan dan tidak jalan. Keadaan yang mengharuskan menempuh cara seperti itu, agar semua merasa terlindung. Agar proyek-proyek bisa menggelundung. Agar uang Pemda yang sedang bertapa itu mau turun gunung.
Pak Presiden, bikin saja Keppres baru secepatnya. Agar pembangunan segera berderap melangkah. Agar kegiatan ekonomi berdenyut di daerah. Agar dunia usaha tidak makin susah. Agar sektor riil kembali bergairah. Agar uang menari-nari. Agar meningkat daya beli. Agar pasar dan mall tidak lagi sepi. Agar laku sepatu bikinan Pak Munali. Agar mbok jamu kembali menumbuk lumpang. Agar tukang becak dapat banyak penumpang. Agar penjahit kebanjiran pelanggan. Agar nelayan gembira melempar umpan. Agar pak tani bersemangat menanam padi. Agar peternak mau mencium sapi. Agar gilingan tahu terus berputar. Agar bakul pecel bisa membelikan anaknya sebuah gitar. Agar dokter makin akur dengan apoteker. Agar Sony dapat banyak order.
Wahai proyek …. Kemarilah kamu. Langkahkan kakimu. Goyangkan pinggulmu. Rentangkan tanganmu. Janganlah malu-malu. Tender sudah menunggu. Pak Bupati mau pakai cara baru. Agar ketakutan segera berlalu. Sehingga uang tidak tidur melulu. Ayo beli kayu. Di ujungnya ditancapkan paku. Jembatan dibangun. Martil mulai mengayun. Gergaji berjoget naik-turun. Para kuli mengangkut batu. Pak Mandor tak lagi menggerutu. Pak Pimpro mengisap cerutu. Sementara warung tegal menyiapkan santap siang. Tukang ojek sibuk berlalu-lalang. Anak-anak asyik bermain layang-layang.
Hari ini Pak Gubernur meninjau pembangunan jalan. Yang sudah lama terhenti di tengah jalan. Sehingga tanda seru harus dipasang di badan jalan. Agar kendaraan pelan berjalan. Sebentar lagi cerita itu tinggal riwayat. Yang menggantung pada seutas tali kawat. Pagi itu pita merah telah digunting. Tong-tong aspal langsung didorong berguling-guling. Batu ditata rapi menutup sarang cacing. Kerikil ditabur merata di punggung kakaknya. Aspal panas dituangkan di atasnya. Pasir halus menjadi bedaknya. Jalan itu kini bersolek. Sehingga tampak lebih molek. Jalan itu kini terawat. Sehingga tidak dipenuhi lagi dengan jerawat.
Tukang urut tangannya pegal. Kesemutan, memijit tubuh-tubuh yang kenyal. Sudah tiga minggu kuli-kuli itu kerja lembur. Mengejar target yang telah ditetapkan juru ukur. Tapi mereka senang. Karena upah terus berbilang. Tak perlu lagi ngutang ke warungnya Bu Ipah. Di kantong sudah ada segepok upah. Rokok lintingan tak lagi mereka sentuh. Djie Sam Soe dibeli sebungkus utuh. Cincin kawin ditebus dari pegadaian. Suami pulang disambut belaian. Setelah kecapaian senam bersama mereka tidur berpelukan. Sayup-sayup terdengar nyanyian.
“Wahai fulus. Kuingin kau berputar terus. Agar anakku tak sampai kurus. Keluargaku jadi terurus.”

8. Jakarta

“Orang mati kok ndak boleh dikubur,” keluh Christine Hakim dengan nada geram. Rambutnya agak awut-awutan. Tergurat kesedihan yang mendalam di wajahnya. Putus asa. Maka dia pun membiarkan mayit anaknya yang mati ditikam preman pasar itu teronggok begitu saja di halaman depan rumah, karena sudah tidak ada lagi uang untuk biaya pemakaman.
Sepotong dialog lugas dalam salah satu adegan filem Daun Di Atas Bantal garapan sutradara cemerlang Garin Nugroho itu membuat Sony terperangah. Bukan hanya orang yang masih hidup yang mengalami kesengsaraan karena biaya hidup yang mencekik leher. Orang yang sudah meninggal pun harus dibebani dengan biaya mati yang juga tak bisa ditawar. Hidup susah, mati pun susah.
Padahal, filem itu mengambil setting kehidupan masyarakat bawah di Kota Gudeg, Yogyakarta. Bagaimana di Jakarta? Jangan sampai meninggal dalam keadaan miskin. Biaya mati di sini tidaklah murah, bahkan lebih mahal daripada biaya hidup. Di lingkungan tempat tinggal Sony harga tanah masih berkisar pada angka delapan ratus ribu rupiah per meter persegi. Sementara di pemakaman yang menghampar tak jauh dari rumahnya biaya penguburan dipatok dua setengah juta per kepala. Artinya, per meter persegi harganya mencapai satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah. Apabila ingin full service, paket lengkap dengan segala tetek bengek perawatan jenazah sekalian, harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Tiga juta rupiah.
“Pak, ada warga kita meninggal tadi malam. Tapi pihak keluarga tak punya biaya,” kata Pak RT sambil mengulurkan formulir sumbangan yang dijepit rapi di dalam map hijau itu kepada Sony.
Tenggorokan Sony seperti tercekat. Baru saja dia menonton VCD yang membuatnya menitikkan air mata. Kini, tetangganya sendiri yang mengalami hal serupa. Dia langsung merogoh dompetnya. Diambilnya semua uang yang ada di dalam dompet itu tanpa menghitungnya lagi. Diberikannya kepada Pak RT. Tak tahu jumlahnya berapa. Karena dia menolak mengisi formulir sumbangan.
Ini urusan mendesak. Tak bisa ditunda. Syukurlah, warga perumahan yang hampir semuanya kaum pendatang mempunyai kepedulian sangat tinggi atas kesusahan yang menimpa tetangga. Jadilah almarhum, Pak Samad, yang semasa hidupnya tinggal hanya berdua dengan istrinya itu, dikuburkan dengan biaya yang ditanggung orang sekomplek. Ya, sebuah pemakaman yang layak, sebagai bentuk penghormatan kepada sahabat yang telah pergi mendahului.
Namun, pemakaman yang layak saja tidaklah cukup. Harus pula aman. Jangan sampai telat, apalagi lupa, membayar iuran tahunan jika tak ingin kuburan kerabat dianggap tak bertuan. Liang baru akan digali di atas kuburan yang tak terbayar untuk menampung penghuni lain. Sebagai antisipasi, Perda melarang peti mati dibuat dari bahan kayu jati atau kayu keras lainnya. Harus dari kayu lunak sehingga mudah lapuk dan hancur dalam hitungan dua atau tiga tahun.
Lantas, di manakah rasa hormat kita kepada orang yang sudah meninggal? Jangan-jangan hantu tanpa kepala di Pemakaman Jeruk Purut itu merupakan korban dari tukang gali kubur yang tanpa sengaja mencangkul tengkorak kepalanya hingga hancur ketika sedang menyiapkan liang lahat baru untuk tamu yang sudah membayar penuh masa sewa tiga puluh tahun.
Rest in peace. Bersemayam dalam damai. Beristirahat dengan tenang. Pesarean, demikian orang Jawa menyebut kuburan. Karena di situlah orang yang sudah meninggal dapat sare atau tidur dengan tenang untuk menunggu dibangkitkan di hari perhitungan. Jadi jangan diganggu. Apalagi digusur. Tapi, siapa peduli pada jeritan dari dalam kubur?
“Sudah mati. Sudah nggak bisa ngapa-ngapain. Kita butuh tempat ini untuk orang yang masih hidup,” mereka beralasan begitu. Seolah tak punya kerabat yang sudah dikubur. Bagaimana bila di pemakaman itu ada salah satu anggota keluarganya yang sedang tidur. Masih tega juga? Bisa jadi, karena takut digusur di belakang hari, atau karena lokasinya yang semakin jauh, biayanya mahal dan harus rutin bayar iuran tahunan pula, sebagian warga asli Jakarta memilih menguburkan anggota keluarganya di halaman rumah.
Banyak areal pemakaman di Jakarta yang telah beralih fungsi menjadi apartemen, mall, perumahan, perkantoran dan restoran. Melenceng jauh dari rencana semula. Bongkaran kuburan batal menjadi jalan dan fasilitas umum. Begitu sudah bersih dari batu nisan, rencana awal dibelokkan. Tak terhitung pemakaman yang bernasib seperti itu.
Dalih bisa dicari. Itu tanah harus diincar. Kalau perlu dikasih panjar. Kemudian ditutup pagar. Satu per satu kuburan dibongkar. Meski seorang tukang gali jatuh terkapar. Ketika mencoba mengutak-atik sebuah kuburan sangar. Terletak tak jauh dari rimbun belukar. Sebagian daunnya sudah hangus dibakar. Itu makam Abu Bakar. Semasa hidupnya dulu seorang pendekar. Tapi anak keturunannya sudah tak mampu lagi bayar. Karena biayanya terus mekar. Salah seorang cucunya menatap nanar. Melihat kuburan moyangnya dibongkar. Bubar.
Suatu saat nanti tidak ada lagi kuburan di Jakarta. Hanya TMP Kalibata yang masih tersisa. Tapi arealnya semakin menyempit saja. Ribuan nisan tegak berdiri berdesak-desakan. Saling berhimpit-himpitan. Karena sudah penuh, hanya orang penting yang dikuburkan di sana. Tim seleksi akan menentukan siapa yang boleh tidur dengan tenang di pemakaman yang teduh itu. Untuk orang-orang yang tidak penting, bukan urusan mereka.
Jakarta harus bersih dari kuburan. Seperti halnya Jakarta harus bersih dari sampah. Kalau sampah masyarakat ibukota saja bisa dititipkan di luar wilayah DKI, kenapa kuburan tidak? Retribusinya kan masuk ke mereka. Bisa nambah-nambah kas Pemda. Sekalian, dapat dijadikan obyek wisata ziarah. Lagian, itu orang-orang kan sudah mati. Jadi jangan khawatir. Mereka tidak akan bikin keributan di sana. Cilaka.
Siapa suruh datang Jakarta? Tak seorang pun dapat melarang mereka datang ke Jakarta. Bahkan jumlah penduduk kota metropolitan itu selalu bertambah sehabis Lebaran. Banyak pemudik yang balik ke ibukota dengan membawa beberapa orang kerabat. Sebagian lagi datang sendiri naik kereta. Umpet-umpetan di Stasiun Senen dan di Terminal Pulo Gadung menghindari petugas razia.
Orang pergi ke Jakarta bukan cari mati. Mereka berbondong-bondong datang ke ibukota untuk meraih mimpi. Mengais rezeki. Mencoba mengadu nasib. Dengan selembar ijazah yang menyisip. Ada yang mujur. Ada yang tersungkur. Sebagian jadi masyhur. Banyak pula yang babak belur. Tapi mereka pantang mundur. Kalau perlu cari uang pakai sangkur. Nongkrongnya di daerah Galur. Sambil makan ketupat sayur. Minumnya bajigur. Diselingi permainan catur. Siang tidur. Malam ngeluyur. Paginya nyarap bubur. Daripada nganggur.
“Pak Gubernur …. Janganlah aku digusur. Ototku sudah kendur. Aku tak punya sedulur. Harta yang kupunya tinggal selembar kasur,” seorang nenek uzur menjerit histeris melihat rumah kardusnya hancur. Perempuan sebatang kara itu terlihat bingung sambil berjalan mundur. Akhirnya jatuh terduduk di bibir trotoar. Sementara suara buldozer menderu-deru main bongkar. Sehingga tangisnya yang menyayat terdengar samar.
Dengan lembut dan penuh empati seorang anggota Satpol PP mencoba menenangkannya. Dia teringat nenek di kampung halamannya. Hatinya trenyuh dibuatnya. Namun tak ada sesuatu pun yang bisa dilakukannya. Menitiklah air matanya. Kawan-kawannya hanya tertawa melihatnya.
“Sudahlah. Biarkan saja. Entar juga bikin gubuk lagi di tempat lain. Kita garuk lagi.”
Berjalan dengan langkah tegap pentungan digenggam. Berkumis sangar berkacamata hitam. Berkacak pinggang dengan kaki mengangkang. Menghardik siapa saja yang dianggap membangkang. Siapa bilang gerombolan Satpol PP yang beseragam biru gahar dengan kopel besar dan belati tajam di pinggang itu orang-orang yang tak punya hati? Mereka juga manusia, sama seperti rocker. Sebagian dari mereka juga berasal dari keluarga yang tergusur. Mereka bisa merasakan kesedihan itu. Keputusasaan. Kemarahan. Ketidakberdayaan. Hati mereka tersayat-sayat. Tapi harus tetap kuat. Karena sedang menjalankan tugas. Ini perintah dari atas. Mesti dilaksanakan secara tuntas. Meski dengan cara yang kurang pantas. Nurani untuk sementara ditinggalkan di rumah. Disimpan di lemari dimasukkan ke dalam toples kaca. Di raganya tinggal sekerat hati. Tanpa isi.
Satpol PP punya surat tugas. Pemukim liar punya berkas.
“Sudah lima belas tahun saya tinggal di sini. Setiap bulan bayar sewa. Sudah punya KTP DKI pula. Ini wilayah RT lima. Resmi tercatat di buku besar Pak Lurah. Saya Ketua RT-nya. Kok sampeyan bilang liar.”
Kalau sudah begini, repot jadinya. Ini pemukiman liar tapi resmi. Juga, resmi tapi liar. Mereka punya Kartu Keluarga. Bahkan ikut nyoblos dalam Pilkada. PLN dan Telkom juga tak keberatan mereka jadi pelanggannya. Demikian pula PAM Jaya yang kini sudah digunting menjadi dua. Mereka pun berang meneriakkan hak-haknya. Batu jadi senjata. Dahan pohon jadi gadah. Sejumlah anak muda membuat pagar betis dengan bertelanjang dada. Sebagian lagi menyiapkan anak panah. Satpol PP kalah jumlah. Akhirnya mengalah. Untuk sementara.
Sebagian pangkal masalah bersumber dari tingkah polah oknum yang nakal. Demi fulus KTP diobral. Syarat kurang lengkap bisa ditambal. Meski serba tertutup, itu tetap skandal. Dengan pelanggan kaum bersandal. Korban sekaligus tumbal. Dasar berandal. Seragamnya necis tapi perilakunya seperti begundal. Rajin mencari sabetan untuk memanjakan rudal. Di tepian rel kereta terkenal paling royal. Bangga dikelilingi perempuan-perempuan sundal.
Di kantor gayanya meyakinkan. Hebatnya lagi, berani memberikan jaminan. Mau bangun gubuk di mana saja silahkan. Asal bayar. Dan harus sabar. Karena setiap saat bisa dibongkar. Terkadang juga dibakar. Oleh orang-orang berbadan kekar. Berwajah sangar. Sehingga malam itu mereka tidur beralas tikar. Ditemani obat nyamuk bakar. Tak ada lagi lampu pijar. Apalagi roti bakar.
“Tuan, apakah kami tak boleh mencari nafkah dengan tenang? Tanpa harus dikejar-kejar. Sehingga terpaksa sembunyi di balik pagar. Menunggu aman hingga fajar. Sementara waktu terus melar. Perut terasa lapar.”
Para pekerja tak berkantor itu meratap pilu. Menggigit kuku. Sudah kepalang, tak mungkin berpaling. Tapi mereka tak mau jadi maling. Hanya menginginkan setetes rezeki yang halal. Menyambung hidup yang tak seempuk bantal.
Tapi aparat Tramtib punya alasan. “Kalian cuma bikin kotor kota ini. Jakarta metropolitan bukan kota gembel. Bukan kerajaan asongan. Tidak pula negeri kaki lima. Semua mesti tertib. Tak boleh kacau-balau. Harus berkilau. Supaya orang luar silau.”
Gundulmu.
Beberapa produsen rokok telah berkontribusi dengan menghibakan kios-kios cantik sebagai pengganti gerobak-gerobak kumal. Beriklan sambil beramal. Meski dimusuhi dengan Perda larangan merokok di tempat umum yang majal itu, mereka tak pernah dendam. Lagian, iklan rokok sudah diatur habis-habisan di media massa, mulai dari format hingga jam tayangnya. Tinggal media luar ruang yang bikin mereka agak leluasa.
Pemda DKI sebenarnya bisa memanfaatkan mereka. Dengan menawarkan kavling-kavling non-komersial. Agar ditempatkan kios-kios mungil yang genit itu di setiap sudut perempatan, dan di ujung-ujung gang. Untuk mengakomodasi pedagang asongan dan anak jalanan. Sementara kios knock-down yang lebih besar bisa dibagikan kepada pedagang kaki lima. Aparat Tramtib tenang. Produsen rokok gembira. Rakyat kecil bahagia. Semua orang happy. Karena Jakarta untuk semua, seperti yang dijanjikan Bang Kumis.
Kios-kios mungil dengan warna-warni mencorong itu juga dapat berfungsi sebagai bunga-bunga artifisial bagi taman kota dan hutan kota, dan tempat-tempat umum lainnya. Enak dipandang menyejukkan mata. Asal selalu dijaga kebersihannya.
Jumlah maling dan pencoleng, termasuk gerombolan Kapak Merah, akan berkurang bila semakin banyak anak jalanan yang mendapatkan kesempatan kerja. Di mana pun tak ada orang yang mau jadi maling atau rampok, karena jadi susah cari pacar.
Jakarta berbenah. Jakarta bersolek. Jakarta indah. Jakarta hijau. Jakarta berbunga. Jakarta manusiawi. Jakarta aman. Jakarta tenteram. Jakarta macet.
Siapa bilang Jakarta macet? Salah itu. Jakarta tidak macet. Tapi, muuuaaaceeet. Termasuk kemacetan temporer akibat galian kabel telepon, pipa air, kabel listrik, perbaikan jalan dan selokan, serta pembangunan jalur bus raja.
Kemacetan juga tak pernah berkurang meskipun banyak mobil lebih suka nongkrong di kandang. Dipanasi setiap pagi hanya untuk dipajang. Karena banyak orang beralih dari mobil ke motor yang biayanya lebih murah. Meski dalam balutan jaket badan terasa gerah. Di balik kaca helm mata memerah. Terpaksa, karena hidup makin susah.
Morat-marit ekonomi keluarga kelas menengah. Dan anak-anak dari keluarga miskin putus sekolah. Sebab pendapatan orangtuanya habis dipakai untuk mengisi tabung gas cebol yang harganya suka memanjat setinggi galah. Agar anak-anaknya tidak menyantap makanan mentah. Bisa muntah. Kadang bercampur darah. Berwarna merah. Seperti bus Trans Jakarta.
Busway telah bermula. Masih terbatas armada maupun jalurnya. Penumpang berjubel di dalamnya. Kebanyakan mereka orang-orang yang terpelajar dan santun. Meski tak suka saling melempar pantun. Karena harus menjalani rutinitas kerja. Pergi dari rumah di pagi buta. Belum sempat sarapan hingga badan agak lemah. Pulang kerja pun dalam keadaan lelah. Bila harus berdiri, pandangan mata terhalang deretan kepala. Bila beruntung dapat tempat duduk, di depan mata berjajar pusar belaka.
Apanya yang nyaman? Kalau cepat memang iya. Tapi tetap harus menunggu lama. Di halte perak tak bernyawa.
“Tuan, apakah Tuan tidak tergerak untuk memberikan sedikit kenyaman kepada mereka? Yang telah mencoblos kumis Tuan.”
Pertumbuhan pesat jumlah motor juga jadi masalah. Setiap kali berhenti di lampu merah, pasukan tawon itu selalu melebihi marka. Sangat besar jumlahnya. Begitu lampu hijau menyala, mereka berdengung seperti lebah raksasa. Saling menyalip. Saling memotong. Berlomba menunjukkan siapa yang raja. Jalanan disulap menjadi istana. Sekaligus neraka. Mereka berjumpalitan semaunya. Meski nyawa jadi taruhannya.
Kasihan Pak Polisi. Karena harus tidur terlentang di tengah jalan tanpa pernah bisa pulang. Berselimut semen dan batu bata. Agar kendaraan melambat lajunya. Dulu Sony pernah mengira itu kuburan ular. Ternyata polisi yang sedang tidur. Mungkin lagi berantem sama istrinya.
Mobil juga sama saja. Jumlahnya terus membuncah. Sementara ruas jalan tak pernah bertambah. Sebagian malah dirampok oleh busway yang gagah. Berbeda dengan manusia, ada yang lahir ada yang mati. Pertumbuhannya agak terkendali. Mobil di Jakarta bertambah terus, tapi tak ada yang afkir. Jumlahnya kian membanjir. Sudah waktunya menerapkan pembatasan umur kendaraan. Dua puluh tahun – sebagaimana batasan umur pesawat terbang yang masih diijinkan beroperasi di Indoesia – ditetapkan sebagai usia paling tua.
Kepada mobil-mobil tua itu, diterapkan peraturan yang berbeda. Mereka hanya boleh melenggang di jalanan pada hari libur saja. Dengan demikian orang tak bisa lagi menunggang mobil gaek untuk berangkat bekerja. Lagian, mobil tua suka mencuri uang dari dalam dompet tuannya, karena gemar minum dan hobinya keluyuran di bengkel.
Tak peduli mobil mewah, supermewah, kendaraan umum, omprengan ataupun mobil keluarga, kalau umurnya sudah baya, harus tetap di kandang pada hari kerja. Bila perlu, dibawa keluar saja dari Jakarta. Taruh di rumah orangtua di daerah. Sehingga kalau pulang kampung cukup naik pesawat atau kereta. Karena di sana sudah tersedia mobil kesayangan yang siap mengantar ke mana saja.
Atau, jual murah kepada kerabat dan tetangga di kampung halaman, agar mereka bisa bergaya. Berkendara sambil sesekali buka kaca. Bisnis mobil bekas pasti akan ramai di sana. Bengkel-bengkel mobil semakin hidup dan bertambah jumlahnya. Penjualan suku cadang kendaraan tak lagi berpusat di Jakarta. Berkembang merata di daerah. Tak hanya di Jawa, tapi menjangkau seluruh Nusantara.
Dengan menerapkan aturan pembatasan usia kendaraan bermotor, jumlah mobil yang berlalu-lalang di jalanan ibukota pada hari kerja paling tidak akan menyusut secara alami. Sehingga kemacetan lebih mudah ditanggulangi. Namun Pemda DKI harus siap dengan sistem transportasi urban yang mumpuni. Armada dan jalur Busway diperluas lagi. Dengan angkutan pengumpan (feeder) yang ditata lebih rapi. Monorel harus sudah jadi. KRL diubah menjadi subway trilili. Sementara moda angkutan kota yang sudah ada biarkan saja tetap beroperasi. Mereka akan berbenah diri. Karena calon penumpang punya banyak pilihan mandiri. Apabila tidak bersaing, mereka akan mati sendiri.
Namun, ada mobil tua ada mobil kuno. Mobil tua sudah uzur dan peot. Asap hitam menyembur dari knalpot. Suara mesinnya kasar tak terawat. Mogok di perempatan, lalu-lintas langsung gawat. Sedangkan mobil kuno itu antik dan klasik. Sesekali dibawa jalan sambil memutar musik. Lagunya asyik-asyik. Tidak berisik.
Ditetapkan umur mobil antik di atas enam puluh tahun. Tidak digolongkan sebagai mobil pikun. Kepadanya diberikan STNK abadi tanpa perlu diperpanjang lagi. Seperti para orang tua mendapatkan KTP abadi, yang berlaku sampai mati. Mereka boleh melenggang di jalanan ibukota kapan saja setiap hari. Ini untuk mengakomodasi para pehobi. Toh, tak semua orang gemar mengoleksi. Karena biaya restorasi dan perawatan mobil antik sering kali melebihi harga mobil baru.
Bagaimana dengan mobil nenek-nenek dari kawasan penyangga ibukota dan dari luar kota yang ingin masuk ke Jakarta pada hari kerja? Bila warga sendiri saja tak boleh mengendarai mobil peot di Jakarta pada hari kerja, masa tetangga mau seenaknya. Boleh-boleh saja bawa mobil tua untuk berangkat kerja. Tapi tinggalkan di pingiran kota. Di tempat parkir terminal atau stasiun. Perjalanan bisa dilanjutkan dengan angkutan umum atau taksi. Juga kereta api.
Kalau mereka memaksa, bagaimana? Orang-orang DLLAJR dan Polantas pasti sudah punya jawabannya. Mereka sudah biasa. Mengutak-atik kesempatan yang ada. Namun harus tetap dijaga. Hanya mobil-mobil baru dan kinclong yang meramaikan Jakarta pada hari kerja. Dengan tingkat emisi yang sangat rendah. Sehingga bersahabat udara kita. Maka sehatlah jiwa dan raga.
“Emangnya kita orang miskin tak boleh piara mobil? Berangkat kerja naik mobik?” tanya Pak Cecep dengan sangat khawatir karena mobil Mitisubishi Galant kesayangannya itu akan merayakan ulang tahun ketujuh belas bulan depan.
Siapa bilang begitu? Siapa melarang orang punya mobil? Siapa saja boleh punya mobil, tak ada larangan, asalkan mengikuti ketentuan dan aturan yang ada. Seperti halnya tak ada larangan untuk tetap menggunakan kompor minyak tanah, bahkan setelah program konversi minyak tanah ke gas terlaksana secara merata. Tapi harus siap-siap. Minyak tanah akan menjadi barang langka, dan mahal harganya. Bahkan jauh lebih mahal jatuhnya dibandingkan dengan kalau menggunakan kompor dan tabung gas cebol yang sudah dibagikan secara cuma-cuma.
“Kamu datang modal dengkul sama kumis ….” Lirik lagu dangdut itu tentu tidak ditujukan kepada Bang Fauzi. Beliau orang kaya, berpendidikan tinggi dan berpengalaman mengelola ibukota. Tapi Jakarta adalah miniatur Indonesia. Dibutuhkan kemampuan dan kerja ekstra untuk mengaturnya. Soal tata ruang kota, misalnya, tak pernah terlaksana sesuai rencana. Persaingan peruntukan lahan untuk pemukiman, usaha, fasilitas umum dan jalur hijau selalu saja menyerah pada hukum pasar, di mana uang berkuasa. Belum lagi soal banjir. Setiap tahun selalu hadir. Hadiah dari hulu ke hilir. Tamu tak diundang itu selalu bikin orang nyengir.
Banjir memang tak selalu bisa dielakkan. Bahkan dengan pembangunan kanal raksasa yang sedang berjalan. Belum lagi banjir raya yang sering bertingkah ugal-ugalan. Karena hujan tak pernah bisa dijadwalkan. Dia datang suka-suka, dan pergi suka-suka pula. Kadang seharian menari-nari di atas langit Jakarta. Berhenti sebentar. Kemudian berjoget lagi selama tiga hari penuh dalam alunan irama petir yang menyambar-nyambar.
Sementara dari kawasan puncak dan Bogor, rombongan besar Hidrogen dan Oksigen sudah tak sabar lagi ingin berwisata ke ibukota. Mereka saling bergandengan tangan sambil tertawa-tawa. Setiap Oksigen satu digandeng oleh Hidrogen dua. Mereka berpacaran, tapi dalam jalinan cinta segitiga. Sehingga tak disukai oleh tanah Jakarta. Seraya membuang muka, dia berkata, “Ke laut saja.”
Laut pun tersinggung dibuatnya. Dia pasang badan, dengan mengundang sekawanan gelombang untuk berdansa, agar air menjadi pasang. Maka Jakarta tergenang. Penduduk berenang. Rumah berendam. Mobil tenggelam.
“Bang Fauzi, kenapa tidak kita sewa saja semua pawang hujan? Kalau perlu kita datangkan bala bantuan dari Kalimantan, juga dari Banten, tetangga kita itu. Kita gelar Festival Tolak Hujan di Pantai Carnaval. Biar mereka bikin atraksi dan berkolaborasi mengusir gumpalan-gumpalan awan. Agar gerombolan kabut susu itu pergi jauh dan mengungsi ke Gunung Kidul. Sehingga tanah di sana tak lagi gundul.”
Tapi rencana itu tak berjalan. Rumah pawang hujan juga kebanjiran. Dua bilah kerisnya hilang. Juga sekaleng kemenyan.
“Boro-boro tolak hujan, seharian perut belum kemasukan apa-apa. Hanya ada pisang raja. Tapi itu pantangan. Bisa luntur ilmu saya,” katanya sambil bersungut-sungut dan ngeloyor pergi begitu saja. Dia menghampiri istrinya yang sedang menangis sesenggukan. Tak kuat menghadapi kenyataan bahwa sandal kesayangannya hilang di tempat pengungsian.
Sony berkirim surat kepada Bang Fauzi. Kebetulan, mereka berdua masih terhitung saudara jauh. Juuuaaauuuh buuuaaangeeet.
“Bang, berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, sudah saatnya Pemda DKI memiliki Dinas Banjir dalam struktur pemerintahannya. Dan Suku Dinas Banjir dibentuk di lima Kantor Walikota sebagai ujung tombak operasionalnya, minus Kabupaten Kepulauan Seribu, yang tak mungkin kebanjiran, karena hanya bisa tenggelam ditelan lautan, maka dinamakan saja Suku Dinas Tenggelam.”
Ini bukanlah anjuran mengada-ada. Pula, sama sekali tak berlebihan. Apalagi cuma olok-olok. Ini penting sekali. Bahkan lebih penting dari yang kurang penting. Terlebih ketika Sony memperhatikan Sudin-Sudin yang sudah ada. Karena ada yang ada karena diada-adakan. Bingung, kagak?
Di setiap Kantor Walikota, Sony mendapati ada Sudin Pertanian dan Kehutanan, Sudin Kelautan dan Perikanan atau yang sejenisnya lah. Tapi tidak ada Sudin Silalahi di sana. Berdasarkan beban kerjanya dan agar tidak terkesan mengada-ada, Sudin-Sudin tersebut sebaiknya dipermak saja menjadi Sudin PERMAKAN, dengan skope kerja yang mencakup bidang pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan. Di-merger, baik lingkup kerja maupun sumber dayanya. Sehingga tidak disepelekan lagi oleh Sudin-Sudin lain yang merasa lebih penting.
Kalau urusan pertamanan, Sony setuju belaka. Jakarta membutuhkan banyak taman kota yang harus terus ditambah jumlahnya dan dirawat dengan baik. Sedangkan urusan hutan kota, yang suka rancu dengan taman kota, serahkan saja kepada Sudin Pertamanan.
Pertanian di Jakarta? Ada. Dan sama sekali tidak mengada-ada. Sebagian orang menyebutnya pertanian kota, urban farming. Bagi Sony, yang mengada-ada hanyalah kenapa harus ada Sudin Pertanian dan Kehutanan, mengingat luasan kerjanya tak seberapa. Dengan harga tanah yang begitu tinggi, tentu tidak ekonomis untuk dijadikan lahan pertanian. Mending dibangun ruko, jelas return-nya.
Memang, ada aktivitas produksi yang menghilangkan faktor tanah sebagai modal, dengan menerapkan teknologi hidroponik atau aeroponik. Tapi skalanya tak besar. Biasanya sekedar hobi. Ada pula aktivitas pertanian yang memanfaatkan lahan tidur. Itu pun tak banyak. Sehingga, saking bingungnya harus ngapain, Sudin Pertanian dan Kehutanan getol membina industri rumahan yang mengolah produk-produk pertanian – yang didatangkan dari luar Jakarta – menjadi makanan olahan dalam kemasan.
Urusan beginian, serahkan saja kepada Sudin Perindustrian dan Perdagangan, Seksi Industri Kecil. Karena untuk produk-produk pertanian, jujur saja, Jakarta tak lebih dari sebuah pasar besar belaka. Beli saja. Ngapain tanam sendiri?
Demikian pula soal Suku Dinas Kelautan dan Perikanan. Setahu Sony, dari lima Kota dan satu Kabupaten yang ada di wilayah DKI Jakarta, hanya Kota Jakarta Utara dan Kabupaten Kepulauan Seribu yang memiliki garis pantai maupun kegiatan perikanan. Di sana ada aktivitas budidaya maupun penangkapan ikan di laut, dalam skala yang lumayan besar, termasuk juga pemasarannya. Sedangkan di Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan, yang ada hanyalah budidaya ikan hias di dalam aquarium, yang tidak membutuhkan banyak lahan. Budidaya ikan air tawar untuk konsumsi? Jangan tanya lagi. Masyarakat Jakarta tak lebih dari sekedar konsumen. Beli saja. Ngapain piara sendiri?
Ditangkap langsung dari kolam. Dimasak dalam keadaan segar. Gurame goreng. Sambil menyantap ikan berdaging tebal itu di Restoran Sari Kuring, Sony mencoret-coret blocknote kecilnya. Dia hendak berkirim surat lagi kepada Bang Fauzi.
“Bang, kalau ente jadi membentuk Sudin Banjir, tolong dong, perhatikan benar lokasi kantornya. Tempatkan di kawasan bebas banjir. Jangan sampai hanya karena salah lokasi Sudin Banjir akhirnya berubah menjadi Sudin Kebanjiran. Di samping menggelikan, juga akan melumpuhkan aktivitasnya yang strategis pada saat-saat genting. Kantor Sudin Banjir juga mesti dilengkapi dengan gudang-gudang penyimpanan sarana penanggulangan banjir dan logistik bantuan. Dibangun pula perumahan bagi karyawan dan keluarganya. Tidak lucu bila pada saat banjir datang Sudin Banjir tidak berfungsi karena karyawannya pada mangkir. Dengan alasan rumahnya banjir. Atau, tak bisa menyeberangi genangan air.”
Gayung bersambut. Dalam perjalanan kembali ke kantor, Sony tertidur pulas di jok belakang mobilnya. Bang Fauzi menghampirinya di dalam mimpi.
“Mas Sony, saya sudah baca surat sampeyan. Pikiran kita sama. Sudah lama saya ingin membentuk Sudin Banjir.”
Sony kegirangan mendengar jawaban itu, dan langsung balik bertanya. “Apa tugas Sudin Banjir, Bang?”
Dengan sistematis Bang Fauzi membeberkan rencana besarnya. Tugas Sudin Banjir bukan mengundang banjir, karena yang begituan sudah mejadi keahlian umum manusia. Dan bukan pula meniadakan banjir. Karena tak seorang pun mampu menolak banjir. Tapi Jakarta bisa bersahabat dengan banjir, dan tak perlu membencinya. Hanya perlu penajaman manajemen penanganan banjir. Ada empat momen penting di mana Sudin Banjir akan memikul tugas besar. Pertama, menjelang banjir. Kedua, ketika banjir. Ketiga, pasca-banjir. Keempat, pada saat tidak banjir.
Pekerjaan terbesar harus dilakukan menjelang banjir, untuk mematangkan persiapan menyambut limpahan air. Buang kebiasaan buruk yang baru bergerak setelah banjir datang. Dan, satu hal yang sangat penting, paradima berpikir harus diubah. Jangan sekali-kali melihat banjir sebagai ancaman. Ia hanyalah tamu yang ingin berkunjung. Kadang menginap sebentar, kadang menginap agak lama. Harus dihormati, seperti mempelakukan kerabat dari kampung yang sedang berwisata ke Jakarta. Baik-baiklah bersikap kepadanya. Kalau tidak, dia akan marah. Kemudian mengontak gerombolan bonek untuk ramai-ramai menemaninya. Bisa berabe nantinya.
Pertama, menjelang banjir. Sudin Banjir mengambil alih tugas Sudin Pekerjaan Umum yang selama ini rajin membersihan aliran sungai dan selokan menjelang musim hujan. Selanjutnya, bekerja sama dengan BMG yang gemar mengintip awan yang sedang mandi dan menghitung berapa banyak hujan yang akan bertamu, dan juga berapa lama mereka akan berwisata di Jakarta, Sudin Banjir dapat mengantisipasi sampai sejauh mana sungai-sungai di ibukota mampu menyiapkan kamar bagi para wisatawan dari langit itu. Kalaupun akhirnya over-booked dan fully-occupied, dan kemudian meluber karena rombongan studi banding tersebut terlalu banyak jumlahnya, sementara laut tak mau diajak kerja sama, Sudin Banjir dapat membuat perkiraan kawasan mana saja yang akan menjadi homestay bagi mereka. Seberapa penuh, sampai berapa lama.
Barulah kemudian masyarakat, terutama mereka yang tinggal di kawasan langganan banjir, diajak bersiap menyambut tamu yang akan bertandang. Siskamling banjir digalakkan. Dengan bantuan media massa, internet, kecamatan, kelurahan, RT/RW dan kumpulan-kumpulan arisan, Sudin Banjir mengajarkan kepada masyarakat cara-cara praktis menjamu tamu yang terkadang memang suka ugal-ugalan itu. Macan dayoh, kata nenek Sony. Tuan rumah harus berlapang dada dan sabar, juga sedikit mengalah.
Dengan memetakan secara detil kawasan langganan banjir di ibukota, Sudin Banjir dapat menentukan di mana akan disiapkan dan dibangun (atau dipinjam sementara) tempat pengungsian yang memiliki daya tampung dan fasilitas umum yang memadai, termasuk tempat parkir mobil dan motor. Kalau perlu dilakukan koordinasi dengan kawasan-kawasan bebas banjir agar mereka mau dititipi mobil dan motor yang suka berenang di air kotor itu. Penempatan lokasi pengungsian jangan terlalu terpencar-pencar, agar aksesnya mudah, sehingga bantuan lebih gampang disalurkan, termasuk untuk acara kunjungan artis dan pejabat.
Khusus untuk logistik bantuan, dibuat perencanaan yang lebih komprehensif. Jangan cuma berpikir soal mie instan dan biskuit, atau nasi bungkus dan air minum dalam kemasan. Dan bukan pula sekedar alas tidur dan selimut. Yang pertama dan utama adalah pemenuhan kebutuhan air bersih untuk minum, memasak, mencuci dan mandi. Karena itu, bantuan sembako perlu dilengkapi dengan peralatan memasak. Biar para pengungsi punya kegiatan dan tidak bengong. Jangan lupa pula perlengkapan, makanan dan susu untuk bayi. Juga obat-obatan serta kelengkapan mandi dan cuci. Termasuk sandal, handuk, sarung, pakaian dalam, pembalut wanita, dan tusuk gigi. Sebagian besar disiapkan oleh Sudin Banjir, dan sebagian lagi dihimpun dari donatur melalui sistem koordinasi. Untuk kosmetik, suruh mereka beli sendiri.
Dinas Banjir tingkat provinsi juga berfungsi sebagai pusat koordinasi dalam penghimpunan donasi. Baik yang dilakukan oleh institusi maupun pribadi. Agar distribusinya lebih terkendali dan mudah diawasi. Terutama dalam soal pemerataan distribusi bantuan. Tak perlu lagi ada lokasi-lokasi pengungsian favorit yang setiap hari dikunjungi artis dan pejabat, dengan limpahan bantuan tanpa henti, sementara banyak lokasi pengungsian yang terpencar-pencar tak pernah ditengok sama sekali.
Karenanya, perlu dibentuk badan pengawas yang melibatkan unsur aparat dan masyarakat. Agar bantuan bisa disalurkan secara merata, tepat sasaran dan cepat. Secepat gerakan perahu karet yang harus segera melesat. Dan pompa-pompa hidran yang mampu menyedot air hingga tanah menjadi kesat. Juga genset cadangan agar malam tak bertambah pekat.
“Aduh … perutku mulas. Sudah dua hari buang-buang air tanpa dibilas. Hanya diusap pakai kertas. Tak bersih tuntas. Kalau begini terus, bisa jadi kadas.” Pemuda gedongan yang berkulit bersih itupun menyeringai dan sesekali meringis sambil memegangi perutnya yang buncit. Matanya yang sipit berkedip-kedip.
Dibutuhkan puluhan ribu, atau mungkin lebih banyak lagi, mobile MCK yang portable dan moveable dengan sistem knock-down untuk ditempatkan di barak-barak pengungsian. Dilengkapi dengan tandon-tandon air yang setiap hari diisi dengan air banjir yang sudah dimurnikan melalui mesin-mesin filter buatan anak negeri. Agar orang tidak buang hajat sembarangan. Sehingga Pos Kesehatan tidak melulu mengobati orang diare dan anak-anak yang terserang penyakit gatal.
Rencana koordinasi juga digelar secara rinci dengan pihak keamanan, baik polisi maupun tentara, agar warga dengan sukarela meninggalkan rumah mereka yang terendam. Tanpa khawatir hartanya digondol maling. Demikian pula koordinasi dengan PLN. Agar pabrik setrum itu segera mematikan aliran listrik di titik-titik rawan. Sehingga tidak perlu lagi ditemukan orang yang mati kesetrum seperti hewan. Dalam soal koordinasi inilah Sudin Banjir berperan sangat penting. Agar tidak terjadi duplikasi pekerjaan yang hanya buang-buang energi. Jangan sampai ada pekerjaan-pekerjaan yang tak bertuan, dan tuan-tuan yang tidak bekerja.
Kedua, ketika banjir. Dengan persiapan yang matang dalam menyambut rombongan tamu yang akan datang, masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan bila air mulai menjulang. Mereka juga sudah tahu apa saja yang perlu diamankan, apa yang harus dibawa, dan ke lokasi pengungsian mana mereka akan pergi.
Maka berbondong-bondonglah mereka mengungsi. Sebagian besar berjalan kaki. Mobil melaju di kanan, motor di sebelah kiri. Dalam barisan yang tertata rapi. Gadis-gadis saling bertukar pipi. Bapak-bapak memegang kunci. Ibu-ibu menabuh kuali. Sambil mendendangkan lagu jali-jali. Beberapa orang bahkan menari-nari. Anak-anak bermain lompat tali. Tak seorang pun kehilangan nyali. Seolah mereka hendak piknik ke Bali. Di sana telah menunggu tempat pengungsian yang asri. Cukup layak untuk ditinggali beberapa hari. Hingga air pergi.
Pasukan Dinas Banjir bergerak serentak. Dengan langkah tegap yang menghentak. Komandannya orang Batak. Garis wajahnya agak kotak. Rambutnya dipotong cepak. Senjatanya sebilah kampak. Tiupan peluit mengawali gerak yang serempak.
Para pahlawan itu menyebar bak pasukan rayap. Dengan mulut mangap. Gerakannya lincah seolah mereka bersayap. Di badan melingkar baju pelampung. Keluar masuk memeriksa setiap kampung. Meminggirkan kayu-kayu dan sampah yang mengapung. Agar penghalang laju air itu tak menggunung. Mereka terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan HT. “Kancil memanggil macan. Leher jerapah nyangkut di dahan.”
Berkelompok-kelompok tentara dan polisi. Berjaga sambil minum kopi. Sarapannya roti. Mereka sedang mengamankan harta dan materi. Agar terusir kegalauan hati. Penduduk yang sedang mengungsi. Regu Siskamling banjir ikut menemani. Sehingga orang luar mudah dikenali. Bersama-sama mereka berpatroli. Bergerak dengan penuh antisipasi. Berkeliling sehari tiga kali. Sore, malam dan pagi hari. Sementara dua perahu karet berseliweran kesana-kemari. Mereka sedang mencari-cari Pak Ali. Seorang kakek tua yang tinggal di pinggiran kali. Pintu rumahnya tertutup tanpa dikunci. Di meja plastik yang terapung hanya tertinggal sebuah peci. Akhirnya pria gaek itu ditemukan di plafon rumahnya sedang mendekap seekor kelinci.
“Saudara-saudaraku yang kucintai, Jakarta untuk semua. Baik yang kebanjiran maupun yang tidak kebanjiran.” Demikian kata penutup sambutan Pak Gubernur. Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama di tempat pengungsian. Nasi uduk dihidangkan. Lauknya telor dan ikan. Di piring besar bertumpuk potongan buah-buahan. Tersedia pula beberapa jenis cemilan.
“Ayo kita beryanyi. Berdendang menghibur hati. Begadang sampai pagi.” Anisa Bahar menghangatkan suasana dengan goyangan patah-patah. Beberapa pemuda ikut berjoget sambil melepas baju. Pak Gubernur tersenyum haru. Melihat rakyatnya bergembira. Tetesan hangat menitik dari kedua sudut matanya. Menerobos garis pipi, kemudian menyelinap dan bersembunyi di balik kumisnya.
Hari-hari di tempat pengungsian diwarnai keceriaan. Sudin Banjir telah menyiapkan. Layar tancap dan bermacam-macam hiburan. Para remaja disibukkan dengan aneka permainan. Ibu-ibu menggoreng tempe. Bapak-bapak membakar sate. Anak-anak main prosotan. Sebagian lagi duduk-duduk di Pos Kesehatan.
Ketiga, pasca-banjir. Air mulai surut. Sebagian besar pergi ke laut. Sebagian diminum oleh mesin-mesin hidran yang mulutnya penuh baut. Dan sebagian lagi diserap tanah hingga menyusut. Tak ada lagi barang-barang yang hanyut. Sampah-sampah sudah mulai diangkut. Agar tidak menyebarkan bau kentut.
Jalanan dibersihkan. Lumpur dipinggirkan. Para pengungsi kembali ke rumah-rumah mereka. Berjalan bersama dalam canda tawa. Pekerjaan berat sudah menunggu di sana. Bersih-bersih rumah. Buang-buang sampah. Lantai dipel. Tembok dibersihkan dari kotoran yang menempel. Barang-barang mulai dicuci dan dijemur. Kiri kanan berendeng jemuran menjulur-julur. Kehidupan normal kembali diulur.
Sudin Banjir membentuk task-force pendampingan korban banjir bekerja sama dengan Sudin-Sudin terkait lainnya. Mereka membantu masyarakat untuk memperoleh kemudahan mengurus dokumen-dokumen yang hilang. Bekerja sama dengan sejumlah ATPM, Sudin Banjir juga memberikan diskon untuk perbaikan mobil dan motor yang terendam. Membersihkan jalan dan jembatan. Menyisir sungai dan selokan. Serta memulihkan sarana dan prasarana umum lainnya. Mereka keluar masuk kampung untuk mengidentifikasi dan memboyong para penderita penyakit pasca-banjir ke rumah-rumah sakit. Namun kali ini rumah sakit tidak lagi sesibuk tahun-tahun sebelumnya. Penyakit pasca-banjir sudah bisa ditekan dan dikendalikan. Karena sesungguhnya mereka hidup sangat normal selama berada di pengungsian.
Keempat, pada saat tidak banjir. Sudin Banjir tak akan bengong saja pada saat Jakarta tidak banjir. Justru ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Misalnya, memperbaiki dan merawat peralatan penanggulangan banjir dan perlengkapan pengungsian. Tampak remeh-temeh, tetapi sesungguhnya sangat penting. Setelah banjir pergi, Sony sering melihat perahu-perahu karet digeletakkan begitu saja hingga akhirnya rusak dan usang.
Di samping itu, Sudin Banjir secara rutin dan berkala merawat serta membersihkan sungai dan selokan agar aliran air tidak tersendat atau terjadi pendangkalan. Sehingga dampak banjir bisa diminimalisir. Namun pekerjaan ini membutuhkan koordinasi dan pengaturan bersama dengan kawasan penyangga ibukota. Karena air bah tak pernah mau tahu apakah lagi asyik bermain di wilayah DKI atau di halaman tetangga. Dan Sudin Banjir juga tak pernah bertanya apakah seseorang punya KTP DKI atau tidak pada waktu mereka menolong korban banjir.
Masalah koordinasi dan pengaturan bersama inilah – tentu saja tak hanya dalam soal penanggulangan banjir, tetapi juga berbagai aspek lain terkait dengan hubungan antara ibukota dan kawasan penyangganya – yang mengilhami Bang Yos untuk menggulirkan gagasan gemilang mengembangkan Jakarta metropolitan menjadi Jakarta megapolitan. Gagasan dasarnya adalah mengintegrasikan kawasan penyangga ibukota ke dalam wilayah DKI agar koordinasi dan pengaturannya lebih mudah. Menimbang besaran dan kompleksitas dari gabungan wilayah yang akan diurusi itu, maka diusulkan agar Jakarta megapolitan tidak lagi dipimpin oleh seorang gubernur, tapi pejabat setingkat menteri.
Di sini kelihatan sekali kalau Bang Yos ngebet betul untuk memimpin Jakarta megapolitan yang diidamkannya itu. Karena tak mungkin lagi menjadi gubernur, ya harus kepala daerah setingkat menteri. Seandainya saja gagasan besar itu terwujud, rasa-rasanya memang tidak ada orang lain yang pantas memimpin Jakarta megapolitan selain Bang Yos, mengingat prestasinya yang luar biasa ketika menjadi Gubernur DKI selama dua periode berturut-turut.
Namun, masih relevankah gagasan itu? Jakarta megapolitan? Sebagian orang mencibir sinis. Nggak usah macam-macamlah. Sebagai kota metropolitan saja, Jakarta tak punya bandara internasional. Selama ini numpang ke tetangga. Di kelokan belalai gajah tempampang gambar besar logo Pemprov Banten memelototi semua penumpang yang hendak masuk ke atau keluar dari pesawat. Seolah-olah sedang menyindir, “Ini wilayah gue, loe cuma nebeng.” Sementara di bagian selatan sana, Universitas Indonesia yang dibangga-banggakan masyarakat Jakarta harus kos di Depok.
Tapi jangan salah, banyak juga orang yang menginginkan Jakarta megapolitan terwujud. Lagian, kalau pemekaran daerah saja diizinkan oleh Undang-Undang, apakah penggabungan wilayah tidak dimungkinkan?
Pinggirkan dulu pandangan masyarakat Jakarta. Fokus saja kepada orang-orang yang tinggal di kawasan penyangga ibukota, karena sebenarnya merekalah yang menjadi target pengembangan Jakarta megapolitan. Dengan pola yang ada sekarang, kepentingan dan aspirasi politik penduduk siang yang jumlahnya mencapai lebih dari dua juta jiwa itu sama sekali tidak terakomodasi dalam Pilkada DKI 2007.
Mereka dianggap tak pernah ada. Padahal mereka berkontribusi besar dalam menggerakkan ekonomi Jakarta, dan juga perekonomian nasional. Hanya kebetulan bila malam tiba mereka pulang dan tidur di luar wilayah DKI. Seandainya dibuat jajak pendapat, atau angket lewat media massa, misalnya, yang menawarkan kepada para penghuni kawasan penyangga ibukota untuk bergabung dengan wilayah DKI atau tetap bergabung dengan provinsi semula, Sony haqul yakin sebagian besar akan menjawab lebih suka bergabung dengan DKI. Tentu saja ada beberapa alasan yang melandasi jawaban mereka.
Pertama, percepatan pembangunan. Dengan bergabung ke dalam wilayah DKI, mereka akan menjadi bagian dari sebuah provinsi yang PAD maupun APBD-nya berukuran raksasa. Bahkan terbilang jumbo dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya. Sektor pendidikan akan mendapatkan manfaat luar biasa karena Pemprov DKI terkenal sangat royal kepada sektor ini. Pada sisi lain, pembangunan infrastruktur akan berjalan lebih kencang karena pendanaan sudah tak lagi jadi kendala. Dan, secara psikologis, Pemprov DKI akan memanjakan wilayah-wilayah yang baru bergabung itu agar tidak terlintas sedikitpun dalam pikiran mereka keinginan untuk kembali ke pangkuan provinsi semula. Persis sama seperti pemerintah pusat memperlakukan Papua, Irian Jaya Barat dan Nanggroe Aceh Darrusalam.
Kedua, kepentingan ekonomi. Banyak penduduk yang tinggal di kawasan penyangga ibukota mencari nafkah di Jakarta. Atau, kalau dibalik cara berpikirnya, sesungguhnya mereka adalah warga Jakarta yang tinggal di luar wilayah DKI. Bagi mereka, ini hanya masalah domisili. Kenyataannya, kegiatan ekonomi di kawasan penyangga ibukota digerakkan oleh orang-orang yang bekerja di Jakarta dan sebagian besar ditujukan untuk melayani kebutuhan masyarakat Jakarta. Dengan bergabung ke dalam wilayah DKI, secara otomatis mereka akan menjadi bagian dari jaringan pasar yang lebih besar. Sementara efek berganda dari pembangunan yang terus dipacu untuk mengejar kesetaraan dengan kakak-kakaknya akan memberikan darah segar bagi kegiatan ekonomi lokal. Demikian pula, harga tanah akan terkerek naik sehingga nilai ekonominya bertambah tinggi. Para pengembang akan berpesta pora.
Ketiga, identitas dan gengsi. Meski tidak mengantongi identitas formal KTP DKI, misalnya, sebagian besar masyarakat kawasan penyangga ibukota menyandang semua atribut yang dimiliki masyarakat Jakarta. Semua identitas kehidupan mereka berkiblat ke Jakarta, mulai dari gaya hidup, pergaulan, bacaan, kegemaran dan lain sebagainya. Mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari masyarakat Jakarta.
Perhatikan iklan-iklan properti. Meski mengambil tempat di Depok, misalnya, mereka selalu mengatakan berlokasi di selatan Jakarta. Peta yang dimunculkan pun peta Jakarta, dengan Monas di tengahnya, kemudian ditambahkan anak panah yang menunjukkan di mana lokasi perumahan itu berada. Maka, ketika pulang kampung pada Hari Lebaran, orang-orang yang tinggal di kawasan penyangga ibukota disebut sebagai orang Jakarta oleh para kerabatnya. Mereka sama sekali tidak keberatan disebut begitu. Malahan, bangga. Gengsi mereka akan naik bila disebut sebagai orang Jakarta.
Jakarta metropolitan. Jakarta megapolitan.

9. Hormon

Manusia pada dasarnya adalah makhluk seksual. Karena mereka senantiasa mempunyai kebutuhan dan dorongan yang meluap-luap untuk berseksualisasi terhadap lawan jenisnya. Baik kepada yang setia menunggu di rumah maupun yang bertebaran di sepanjang jalan. Baik yang mangkal di sepanjang rel kereta ataupun yang bersandar santai di sofa empuk lobby hotel mewah.
Dari sinilah tumbuh organisasi-organisasi seksual. Tak bernama. Tak terdaftar di Depdagri. Tak pernah menggelar muktamar. Tak pernah unjuk gigi. Tak pernah ramai-ramai ikut berdemo. Tak punya jam kerja tetap. Tak berkantor. Tapi massanya menyemut. Mulai dari yang sekelas Stasiun Dukuh Atas, Taman Lawang hingga gerombolan-gerombolan eksklusif yang berseksualisasi sambil berdugem ria di hotel-hotel berbintang. Tak peduli tempatnya elit ataupun kumuh, pelakunya sama saja, makhluk seksual.
Pada sisi lain, banyak spesies hewan menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial. Mereka hidup bermasyarakat untuk saling melindungi dan memperhatikan, juga saling mengasihi dan dikasihi. Membentuk masyarakat madani yang rukun dan beradab. Tanpa demo setiap hari. Tatakrama dijunjung tinggi. Saling hormat menghormati. Dengan menganggukkan kepala dan membungkukkan badan. Seperti semut-semut yang sedang berpapasan ketika merayap di tembok. Mereka berhenti sejenak. Saling bertukar kabar.
Bahkan beberapa spesies hewan sangat mengagungkan nilai-nilai perkawinan yang sakral, dengan menolak poligami di lingkungan mereka. Kuda laut, misalnya, hanya mengenal satu pasangan sepanjang hidupnya. Kesetiaan dalam kasih sayang juga ditunjukkan oleh mimi lan mintuno yang ke mana-mana selalu pergi berduaan. Laiknya sepasang remaja yang sedang hangat-hangatnya berpacaran. Seperti sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Namun, sebagai spesies cerdas, manusia pintar mengatur cara berseksualisasi yang aman, nyaman dan menyenangkan. Bersiasat sambil memunggungi istri. Daun muda menggelayut di lengan kiri. Gadis ABG memacu produksi hormon lelaki. Obat kuat menggantikan suplemen yang diminum setiap hari. Sate kambing tak lagi disantap pakai nasi. Harus selalu siaga bila tiba-tiba ada ikan asin berselonjor kaki. Menerbitkan selera makan meski tanpa sambal terasi.
Melanggar hukum manusia boleh-boleh saja, kata mereka, asal tak hingar-bingar atau ketahuan. Mengkhianati pasangan yang setia menunggu di rumah juga tak apa, asal nafkah lahir-batin tetap rutin diberikan. Melanggar hukum Tuhan? Syukurlah, banyak makhluk seksual yang masih takut melakukannya. Tapi, bagaimana caranya agar bisa tetap berseksualisasi di mana-mana dan kapan saja tanpa perlu menabrak hukum Tuhan?
Poligami adalah jalan keluarnya. Namun, meski sah secara agama, poligami tetap ilegal bagi hati yang terluka. Meski dibolehkan oleh syariah, tetap saja diharamkan oleh tatapan mata yang berduka. Meski dibela habis-habisan oleh makhluk-makhluk seksual, tetap saja dikecam oleh kesadaran sosial. Dalam kenyataannya, poligami lebih sering menghadirkan masalah daripada faedah. Tapi mereka pandai berkilah. Dengan berseloroh mengatakan, “Poligami enaknya cuma sedikit, tapi nikmatnya selangit.”
Poligami memang tidak diharamkan, tapi sebaiknya dihindarkan. Tapi apa daya. Kata orang, dari sononya kaum pria punya kecenderungan berpoligami, yang bagi sebagian besar kaum perempuan, kalau tak mau dikata semua, dipandang sebagai ketidakadilan, pengkhianatan, dan kesewenang-wenangan.
Namun ada juga kelompok perempuan yang tidak menentang poligami dengan alasan normatif. Memberikan dukungan kepada kaum pria yang kalau malam menjelang suka berubah menjadi hiperaktif. Mereka kukuh membela para pelaku poligami yang jelas-jelas tanpa merasa bersalah gemar menciderai perasaan kaumnya sendiri.
Mungkin, perasaan mereka sudah mati. Atau, tak lagi mempunyai hati. Hingga rela disakiti. Poligami diperbolehkan dalam hukum agama, sebagai emergency exit untuk menghindarkan zinah, demikian alasan mereka. Tapi hati kecil mereka pasti berontak. Tidak seperti raut wajah mereka yang terlihat dingin dan kaku. Ketika dengan gagah berani mengatakan ikhlas suami mereka menambah madu. Itu bohong besar. Hati mereka pasti remuk, berkeping-keping seperti pecahan kaca.
Agama sering dijadikan pembenaran untuk urusan yang satu ini. Bagian yang enak-enak selalu dikedepankan. Sisi-sisi yang tidak menguntungkan dan dinilai potensial merecoki kenikmatan surga dunia di pangkal paha pasti langsung dikaburkan. Kalau perlu disembunyikan. Dianggap tidak pernah ada. “Kan, Rasulullah beristri lebih dari satu,” tangkis mereka sambil mengulum senyum kemenangan. “Kita ikuti jejak Rasul,” tambah para monogam itu dengan berapi-api.
Sudah ngawur, kompak pula. Itu namanya memfitnah Rasul. Sangat berbahaya. Orang-orang yang pemahamannya kurang akan mengira Nabi Muhammad tukang kawin. Padahal beliau seorang monogam, dan bukan pula penganjur poligami. Beliau seorang kekasih yang sangat mengagungkan kemuliaan cinta. Selama seperempat abad berumah tangga dengan Khadijah, tak pernah sekalipun beliau menduakan istri yang begitu dicintainya itu. Karena beliau tahu, bagaimana menjaga perasaan wanita. Beliau juga tahu, bagaimana cara mengendalikan diri. Pertama, puasa. Kedua, puasa. Ketiga, puasa. Keempat, puasa. Dan seterusnya, puasa.
Baru setelah istrinya wafat, Nabi Muhammad menikah lagi. Itu pun dengan tujuan yang sangat mulia, yakni mengayomi janda-janda yang ditinggal mati oleh para syuhada. Beliau sedih sekali melihat banyak janda yang terlantar dan hidup susah tanpa perlindungan ekonomi setelah ditinggal mati oleh suami-suami mereka yang berkorban nyawa di medan laga. Maka dinikahilah mereka agar terayomi secara baik. Diangkat martabat dan derajatnya. Diberikan nafkah lahir dan batin yang menjadi hak mereka. Hanya seorang yang masih perawan ketika dinikahinya, yaitu Aisyah. Bahkan Nabi sempat gundah dan marah ketika Ali, sahabat yang sekaligus menantunya itu, hendak tambah istri. Jadi, jelas di sini, Nabi Muhammad sama sekali bukanlah penganjur poligami.
Lain dulu lain sekarang. Poligami yang berkembang belakangan justru sangat berbeda. Lebih didasari oleh ledakan-ledakan hormonal yang tak terkendali. Akibat mata iseng bin mesum yang setiap hari melirik kesana-kemari. Testosteron dibiarkan melakukan kudeta. Menobatkan diri sebagai raja. Memerintah dengan tangan besi. Agar terpuaskan gelegak birahi.
Memang, ada juga yang beralasan menolong janda. Mulia sekali kedengarannya. Tapi, bila begitu maunya, pilih saja janda tua, yang sudah peot dan giginya tinggal dua. Itu baru namanya mengikuti sunnah Rasul. Lha, ini kok pilih janda kembang yang montok, segar, bening, molek dan semloheh. Ser … ser … seeer …. Hayooo … jangan bo’ong.
Tak usah cari alasan macam-macam. Terus-terang saja. Bilang, remnya agak blong. Si Imron susah tidur di malam hari. Bawaannya gelisah melulu. Sebentar tidur, sebentar bangun lagi. Terserang penyakit insomnia akut. Lima belas butir pil tidur dan sepapan obat migren sekali telan masih juga tak mempan. Dibutuhkan jamu supermujarab untuk menghilangkan rasa pening di kepala Imron. Agar bisa tidur pulas, setelah berolahraga berat di malam hari.
Atau, dicari alasan lain yang lebih bergaya. Sudah bosan. Tiap hari hanya dikasih makan nasi plus lalapan. Lauknya cuma gurame bakar. Boleh dong, sekali-kali ma’em steak. Pilih tenderloin. Jangan terlalu matang. Bukan pula well-done. Apalagi yang garing dan gosong. Ogah. Medium saja. Kalau dikunyah masih terasa kenyal-kenyil di mulut. Dagingnya agak manis dan juicy.
Semakin berkilah, sudah pasti cenderung semakin defensif. Bawaannya malah stres. Mau ngomong takut salah. Muka jadi blingsatan. Mau berdiri dengkul masih gemetaran. Mau duduk pinggang masih pegal. Mau jawab begini takut ditanya begitu. Selalu merasa akan diserang melulu.
Padahal, di luaran sana banyak sekali media massa raja jail yang gemar menunggu orang salah bicara. Memancing-mancing dengan umpan sepotong keju dan segelas susu. Begitu keseleo lidah, habislah sudah. Mereka sangat jago menggoreng kacang. Jagung bontet jadi popcorn gurih di tangan mereka. Terpaksa, harus bersusah payah lagi menyiapkan jawaban berikutnya. Putar otak. Cari alasan. Cari pembenaran. Dengan cara apa pun. Bahkan, kalau perlu, dengan mengatasnamakan keikhlasan istri pertama untuk dimadu. Tega-teganya.
Sekalipun bisa menggandeng kedua istri yang kelihatan saling akrab di depan umum layaknya sebuah sirkus, akal sehat tidak bisa dibohongi. Demi cintanya kepada keluarga, terutama anak-anak, istri pertama terpaksa dan rela disuruh pakai baju yang sama dengan istri kedua untuk dijadikan tontonan konyol walaupun hatinya perih seperti disayat-sayat pakai cutter yang sudah tumpul. Ditaburi garam pula. Wajahnya memang kelihatan selalu senyum di depan umum, tapi siapa yang bisa menyelam ke dasar hati manusia.
Hampir bisa dipastikan, sesampainya di rumah pasti buru-buru masuk kamar. Pintu langsung dikunci dari dalam. Menangis sejadi-jadinya. Tak peduli anaknya yang masih kecil menjerit-jerit dan berguling-guling mencari mamanya. “Sabar dulu ya, nak. Sekarang gantian mama yang nangis. Besok-besok baru kamu lagi.”
Di dunia ini, mana ada wanita yang mau diduakan, apalagi ditigakan, diempatkan. Kecuali wanita yang tidak normal. Dalam arti bahwa dia menjadikan dirinya sendiri tidak normal karena ada sesuatu yang dikejar, misalnya keutuhan keluarga, masa depan anak, harta, status sosial dan lain sebagainya.
Mereka terpaksa menitipkan hati yang tersayat di rumah gadai, sebagai ganti dari lembaran-lembaran rupiah yang memenuhi dompet. Yang masih tertinggal di badan hanyalah sebatang nyawa, tanpa sekerat hati. Namun, sepintar-pintarnya mereka berbohong menutupi hati yang robek, akan terlihat garis tebal di bagian atas dan bawah kedua matanya. Sembab. Semalaman nangis melulu. Sebab, hanya rasa yang tak pernah bohong, kata sebuah iklan produk kecap.
Kurang opo to, Oom? Istri kan masih segar-bugar, ayu tenan, senyumnya manis, berbakti kepada suami, ibadahnya tekun, dan tentu saja, tak kalah bening. Hanya saja, mungkin sudah agak well-done. Tapi itu kan manusiawi. Gosong-gosong sedikit tak apalah. Di mana-mana juga begitu. Siramkan saja mushroom sauce agak banyakan. Tambahkan sedikit mayonnaise. Bila dirasa masih kurang, minta secawan acar. Biar ada rasa manis dan asam. Pasti enak di lidah. Dijamin, minta tambah.
Lagian, anak-anak kan sedang lucu-lucunya. Harta berlimpah. Bisnis menggurita. Kawan di mana-mana. Ketenaran sedang di puncaknya. Apalagi, Oom kan pernah bilang, istri satu saja nggak habis-habis, ngapain mesti nambah.
“Sudahlah, ndak usah didengerin. Itu orang bisanya ngomong doang,” kata Titin, pembantu Sony, dengan nada sewot bercampur kecewa. Dia telah kehilangan panutannya.
Semua orang tahu, Nabi Muhammad menikah lagi setelah istri pertama beliau meninggal. Nah, jawab apa loe, sekarang. Kalau benar-benar mau mengikuti teladan Rasul, jangan menikah lagi sepanjang istri masih bernyawa. Kalaupun setiap malam kepala terasa berkunang-kunang, ditahan saja. Lama-lama juga hilang sendiri.
Tapi Sony mendapat kiriman SMS dari seorang teman, memberikan solusi paling tepat untuk kondisi yang demikian. Bila sudah tak tahan lagi dan tetap ngotot mau poligami, sebaiknya menyewa Sumanto agar memakan istrinya yang masih hidup itu hingga mati. Baru kemudian kawin lagi. Sudah terpenuhi sunnahnya. Gampang, kan? Biayanya juga tidak terlalu mahal. Dibayar pakai duit ribuan sebanyak satu tas kresek, Sumanto sudah girang bukan kepalang. Kalaupun agak nglunjak, paling-paling cuma minta dibelikan motor.
Namun, ada juga lho seorang karib Sony yang benar-benar mengikuti sunnah Rasul. Ini asli. Bukan mengada-ada. Bukan pula rekayasa. Jadi, begini ceritanya. Menikahi seorang mualaf, Pak Achmad Kusumo belum juga dikaruniahi keturunan meski sudah berumah tangga lebih dari dua dekade. Tapi Pak Kus, demikian teman-teman biasa memanggilnya, tak pernah mempersoalkannya. Memang, dia ingin punya anak, seperti kebanyakan kawan-kawannya. Tapi pria kelahiran Surakarta itu tetap bersabar meski doanya belum juga dijawab.
Sang istri lama-kelamaan merasa tidak enak juga. Beberapa kali mendorongnya untuk menikah lagi agar segera punya anak. Tapi Pak Kus selalu menolak usulan itu dengan halus. Setiap kali diminta menikah lagi, karyawan sebuah bank swasta tersebut pasti menampiknya. Mungkin dia tidak tega melukai hati istrinya yang kelihatan tegar ketika menawarkan solusi yang mahamenguntungkan itu.
Sony yakin, walaupun jumlahnya sudah tidak begitu banyak lagi, dan bisa pula dibilang langka, selalu ada pria sejenis Pak Kus, di mana pun, di masa apa pun. Pria yang begitu mengagungkan cinta. Pria yang sangat memahami perasaan wanita. Pria yang tulus. Pria yang lebih suka mengalah. Pria yang lebih memilih mengesampingkan keinginan pribadi. Kaum wanita tentu akan trenyuh dan terharu dengan sikap Pak Kus.
“Tak semua, laki-laki ….,” kata Basofi Sudirman dalam senandungnya, seolah ingin menegaskan bahwa pria seperti itu memang belum punah dari muka bumi. Tapi, bagi kebanyakan pria, Pak Kus tak lebih dari seorang pecundang. Komentar tipikal akan langsung keluar dari mulut mereka yang bau. “Goblok, loe! Kesempatan, Broer! Hanya sekali seumur hidup. Tak akan pernah datang lagi.”
Kalau Allah berkehendak, tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi. Istri Pak Kus meninggal karena kanker rahim. Tentu dia sedih sekali. Ditinggal pergi oleh istri terkasih. Namun dia tidak larut dalam kesedihan yang berlama-lama. Kehidupan toh, harus terus berjalan. Kalau harus menikah lagi, ya sudah. Mungkin memang begitu jalan yang sudah digariskan.
Tapi, kali ini, pria yang sudah hampir seperempat abad mengais rezeki di Jakarta itu mematok sebuah syarat. Calon istrinya harus hafal Al-Qur’an. Tidak seperti Mang Ujang, juragan pangkalan gas dan air minum isi ulang tak jauh dari perumahan di mana Sony tinggal, yang membuat target besar dengan parameter serba fisik. Bodinya harus kayak gitar. Jalannya seperti kucing lapar. Irit di dapur. Boros di tempat tidur.
Kabar terakhir sungguh menggembirakan. Pak Kus akan segera menikah dengan seorang gadis yang taat beribadah dan hafal Al-Qur’an. Persis seperti yang dia idam-idamkan. Undangan langsung disebar. Pernikahan yang dilangsungkan di sebuah tempat yang ndeso itu berjalan khidmat. Dihadiri oleh para kerabat dan sahabat. Mereka berbagi kegembiraan.
Sony sangat terharu melihat kebahagiaan terpancar dari raut muka sahabatnya itu. Tulus dan bersih, meski kulitnya agak gelap. Senang rasanya melihat kawan yang berbahagia. Setelah beberapa hari berbulan madu di bahwa selimut dingin hawa pedesaan, namun dalam dekapan hangat istri idaman, akhirnya Pak Kus memboyong istri barunya itu ke Jakarta, kota tempat dia mencari nafkah.
Ini baru namanya mengikuti sunnah Rasul. Tak perlu repot-repot membolak-balik Al-Qur’an ataupun membuka-buka Hadits untuk mencari-cari pembenaran dan justifikasi yang paling masuk akal atas hasrat poligami yang meledak-ledak itu. Wong, semuanya sudah jelas, kok. Bagaimana kehidupan perkawinan Nabi Muhammad, dalam konteks apa beliau menikahi janda-janda yang ditinggal mati perang oleh para syuhada. Semuanya jelas. Terang benderang. Bahkan, sebagai manusia biasa, Nabi juga dilingkupi kekhawatiran kalau-kalau tidak bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Karena beliau menyadari bahwa kasih sayangnya lebih banyak tercurah kepada Aisyah, yang dinikahinya dalam keadaan perawan itu.
Adil? Banyak pelaku poligami yang dengan percaya diri mengatakan bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Tentu saja, itu menurut ukuran mereka sendiri. “Kan, masing-masing sudah dibangunkan rumah, dan setiap orang sudah dikasih pabrik sarung untuk sumber penghidupannya.”
Mengenai jadwal siskamling, jaga bergilir – dijamin kegiatan yang satu ini tak akan pernah membuatnya mengantuk seperti dalam siskamling sungguhan, cuman melek-merem – sudah dibuat dan disusun programnya dengan bantuan pakar telematika RM Roy Suryo. Di setiap rumah keempat istrinya sudah terpasang komputer yang masing-masing terhubung dalam jaringan tertutup. Terhubung langsung melalui satelit. Monitor akan berkedap-kedip untuk memberi tahu jadwal jaga. Tak mungkin meleset. Kalaupun ada sedikit deviasi, pasti hanya kesalahan komputer. Paling-paling lagi hang, atau error. Tak perlu diributkan.
Tapi, ada pula yang mengamalkan tuntunan Al-Qur’an secara konsisten dan konsekuen. Selalu patuh dengan batasan empat orang istri. Bisa menikah berkali-kali, asal istri yang sah jumlahnya tak boleh lebih dari empat orang. Jadi, kalau ingin kawin lagi, salah seorang istrinya yang sudah tidak piawai lagi meredam letupan-letupan hormonal yang terus berkobar-kobar, biasanya karena sudah well-done, agak sedikit gosong, harus diceraikan dulu. Setiap kali selalu begitu, terus-menerus. Tidak ada ujungnya. Alasan perceraian bisa dicari. Bahkan, kalau kefefet, tak perlu alasan sama sekali. Baru kemudian diambil satu orang istri lagi – biasanya perawan ting-ting, dan umurnya baru belasan tahun – yang memiliki daya serap dan daya redam kuat terhadap eksplosi hormonal yang dahsyat itu.
Namun, yang lebih unik lagi, ada juga yang berpoligami untuk membuktikan semangat nasionalismenya yang menggelora. Keempat istrinya masing-masing berasal dari suku yang berbeda-beda. Tujuannya, mempererat persatuan dan tali kebangsaan dalam kebersamaan yang nikmat. Agar tidak bertumbuh subur gerakan separatis di pelosok negeri. Tapi rasa-rasanya gelora nasionalisme itu tak akan pernah sepenuhnya bulat sebelum berhasil mencicipi para Srikandi dari semua suku yang ada di seluruh penjuru Nusantara.
Kalau begitu, Sony punya usulan jitu. Begini saja Pakde. Kalau ada umur, bikin safari rutin untuk berburu mangsa. Paling tidak digelar setahun sekali. Cerai satu ambil lagi satu. Atau, kalau mau kejar target, bisa sekalian cerai empat ambil lagi empat. Agar menjadi pelajaran berharga bagi generasi mendatang, kayaknya perlu didokumentasikan dengan video.
Maka video mesra itu pun bikin gempar. Beredar dari satu handphone ke puluhan juta HP lainnya. Persis seperti pesan berantai. Para operator seluler menangguk untung besar. Adegan intim berdurasi kurang dari semenit itu diburu orang. Versi VCD-nya laris manis bak kacang goreng. Para pengganda dan pedagang VCD di kota kecipratan rezeki. Gosip di TV pun menjadi acara yang ditunggu-tunggu, dan karenanya, dipadati iklan.
Seorang artis pemula, yang wajahnya jarang-jarang nongol di layar kaca, tiba-tiba saja menjadi primadona. Laron-laron berkamera terus menguntit ke manapun dia melangkah. Melontarkan pertanyaan bernada simpatik namun menjebak. Memposisikannya sebagai karakter yang teraniaya. Padahal, mereka sengaja berkomplot untuk menjadikannya sebagai bahan olok-olok. Bagaimanapun, sengaja ataupun tidak, tayangan mesum itu mampu menggairahkan ekonomi yang sedang lesu, meski dalam skala yang kecil. Terima kasih, Non, Oom.
Wajah ayu sang primadona terus menghiasi layar kaca dan halaman muka tabloid gosip. Wawancara eksklusif dan acara talkshow harus rela menunggu dalam giliran yang panjang. Sang primadona tampaknya menikmati benar siraman cahaya lampu kamera. Pagi di situ. Siang di sini. Sore di sana. Malam di sono. Piawai berperan sebagai korban sekaligus pemenang. Dengan lelehan air mata dan senyum gemilang.
Tapi, sandiwara tanpa sutradara itu berjalan timpang. Karena sang aktor, yang memilih ngumpet, hanya muncul sekelebat. Bersembunyi di balik punggung manajer sekaligus istri yang dengan cerdas melayani pertanyaan-pertanyaan jail para wartawan. Dia berhasil menciptakan pencitraan tandingan. Seorang istri yang tabah dan setia mendampingi suami yang sedang dirundung kemalangan. Simpati langsung mengalir. Dan muncul karakter baru, seorang wanita yang tabah dan kuat.
Seorang wanita yang tabah dan kuat. Benar-benar kuat. Sendirian saja dia menghadapi keroyokan kamera. Dengan wajah tanpa ekspresi, wanita beranak satu itu menyatakan mengundurkan diri sebagai istri seorang pesohor yang pernah terantuk kasus serupa. “Saya mengundurkan diri,” katanya, sambil menunjukkan foto-foto pernikahan siri dan gambar bayinya yang imut.
Televisi menggantikan fungsi lembaga agama. Seperti juga ketika seorang satria bergitar menyatakan kepada sekelompok wartawan yang sedang mengerubutinya di rumah sakit bahwa dia menceraikan istri sirinya. Perceraian jarak jauh itu baginya sudah sah. Sementara di ujung sana, seorang perempuan blasteran berwajah jelita langsung pingsan mendengar dirinya ditalak lewat kotak bernyanyi. Namanya juga pernikahan di bawah tangan. Jadi, kalau mau bercerai, cukup dengan mengibaskan tangan.
Belum lagi gadis-gadis yang menangis tersedu-sedu di tayangan-tayangan gosip seraya membeberkan pengakuan telah berkali-kali ditiduri oleh idola mereka yang suka berjingkrak-jingkrak di atas panggung. Sebagian malah sudah menghasilkan anak yang, setiap hari, katanya, mencari-cari bapaknya. Semakin banyak saja kasus perselingkuhan para pesohor negeri ini yang akhirnya menjadi bahan guyonan publik. Ruang privat dipindahkan ke halaman-halaman depan tabloid gosip dan memenuhi bidang datar kotak bergambar.
Begitu berkuasanya hormon testosteron atas manusia, sehingga seorang musisi congkak bahkan harus saling berbantahan dengan orangtua kandungnya sendiri melalui layar kaca. “Anak durhaka.” Sebuah kutukan yang hanya akan keluar dari mulut orangtua yang merasa sudah tidak dihargai lagi omongannya.
Air susu dibalas tuba. Sudah tanggung, sekalian saja. Daripada kehilangan muka, maka digeberlah manuver akrobatik yang bikin banyak orang mengelus dada. Mengumbar amarah lewat media. Meneror istri dengan kata-kata. Mengusir istri yang masih menggantung statusnya. Memisahkan anak dari ibunya. Membutakan mata. Menulikan telinga. Membusungkan dada. Seolah harta dan kejayaan adalah segalanya. Harta dunia, Mas, kalau Tuhan berkehendak mengambilnya, dalam sekejap juga tak akan bersisa.
Seorang wakil rakyat di Republik Mimpi bahkan harus berseteru dengan para petinggi partainya karena berpoligami. Permohonan recall pun diajukan kepada Ketua Dewan. Namun recall malah berbuah mosi tidak percaya kepada jajaran pimpinan partai. Urusan pangkal paha mampu memecah belah partai.
“Apa hubungannya poligami dengan kedudukan ana di DPR?” sergahnya dengan sengit. Perang pernyataan segera berhamburan di media massa yang pada dasarnya memang gemar mengompori. Pengadilan juga ikut disibukkan. Wah-wah. Masih banyak soal besar lainnya, Bung, daripada sekedar urusan syahwat ini.
Akhirnya kompor itu meledug juga. Presiden Si Butet Yogya, yang pernah dengan berapi-api mengusung isu antipoligami, menandatangani persetujuan recall. Berang. Marah. Geram. Itulah kesan yang muncul secara telanjang dan tak bisa ditutup-tutupi. Lidah-lidah api langsung menjilati apa saja yang ditemui di sekelilingnya. Tumpahan minyak yang berceceran kian mengobarkan si jago merah sehingga makin sulit dijinakkan. Meski beberapa orang petugas pemadam sudah mencoba menyelimutinya dengan karung goni yang dibasahi air, ditambah dengan semprotan kencang air got, tapi nyala api itu terus membesar. Karena ada juga kerumunan yang menyemprotkan bensin dengan selang kecil melalui tangan yang tersembunyi di balik punggung.
“Pengadilan saja belum memberikan putusan final, kok ente sudah tanda tangan. Ngawur ini.”
Tak berapa lama, jilatan api kemarahan itu sudah tidak bisa ditahan lagi. Lidah-lidah api akhirnya mengkristal membentuk upil, dan kemudian menggelinding kesana-kemari menjadi upil liar yang menyala-nyala. “Emangnya eloe kagak pernah poligami? Ada buktinya. Nih! Nih! Nih!” kata Bang Sobri dengan geram.
Dituduh demikian, Presiden yang asli kelahiran Yogjakarta itu meradang. Kantor Polisi jadi serba kerepotan ketika Presiden Si Butet Yogya beserta istrinya datang ke sana membuat laporan mengenai fitnah yang dituduhkan kepadanya. Tapi koboi yang gagah berani itu pantang mundur. Maju tak gentar. Terus serang. Ngapain takut? “Ini buktinya,” sergahnya dengan ketus, seraya menyorongkan dokumentasi foto-foto kusam mengenai klaimnya tersebut kepada para pimpinan lembaga tertingggi negara.
Tentu saja tak ada yang perlu ditakuti oleh Bang Sobri. Malahan, polisi saja suka keder kalau harus menyetop mobil anggota Dewan yang melanggar rambu lalu-lintas. “Galakan mereka daripada kita. Ya sudah. Dibiarkan saja lewat,” kata Gultom, tetangga Sony yang sudah delapan belas tahun jadi polisi.
Mereka-mereka ini, pintar berdebat, bermain dengan kata-kata yang melingkar-lingkar. Dengan kalimat-kalimat yang keriting. Di mana pun dan kapan pun, akan selalu mengambil kesempatan untuk berbicara, karena merasa bahwa selama ini mereka digaji untuk ngomong. Kalaupun ada yang kurang pintar bicara, biasanya sangat berani ngomong ngawur. Salah kan tidak bayar, kata mereka. Anggota DPR, je. Tapi, orang galak biasanya penakut. Cilik atine, kata oom Sony yang tinggal di Yogya. Begitu digertak balik, pasti langsung mungsret.
Sebentar. Sebentar. Jangan meremehkan orang. Jangan underestimate, kata Tukul, dengan mulutnya yang monyong itu. Tapi, tampaknya memang tidak ada sesuatu pun yang ditakuti oleh Bang Sobri yang gagah berani itu. Apalagi kalau lagi murka, dengan wajah merah dan tatapan mata yang mengancam. Semua orang di sekelilingnya pasti pada gemetaran dibuatnya.
Tapi, mustahil tak ada sesuatu pun yang ditakutinya di dunia ini. Bisa jadi semua tingkah polahnya itu merupakan manifestasi dari ketakutannya sendiri kalau-kalau istri mudanya minta cerai karena dia sudah tidak lagi ngantor di parlemen. Bukankah sering dijumpai orang yang galaknya minta ampun, tetapi kalau sampai di rumah suka mengkeret seperti kucing yang baru saja disiram dengan air seember? Tanya saja sama Pak Taka.
Syukurlah, silang sengketa itu tidak berlarut-larut dan melebar ke mana-mana. Dengan sikap seorang kesatria, Bang Sobri akhirnya membuat penyataan maaf di media. Bravo! Salut, Bang! Selesai sudah. Ini baru namanya gentleman. Tak perlu dipanjang-panjangkan.
Apresiasi pantas dialamatkan kepada para pimpinan lembaga tertinggi negara yang menyikapi secara dingin dan bijak soal remeh-temeh itu. Namun, penghargaan tertinggi harus diberikan kepada Bang Sobri, sahabat yang secara dewasa memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi persoalan itu lebih jauh. Juga kepada Presiden Si Butet Yogja yang – walaupun tetap memperkarakannya ke pengadilan – menganggap masalah tersebut selesai begitu saja. Mereka orang-orang yang berhati besar, berjiwa besar. Hidup Bang Sobri!
Wakil Presiden Jarwo Kuwat yang membocorkan highly classified information itu kepada Sony, dengan imbalan sekantong kacang rebus. Mana mungkin hal-hal konyol seperti itu ada di Indonesia tercinta. Tak mungkin. DPR isinya kan orang-orang terhormat dan terpelajar. Mereka orang-orang pilihan, yang tersaring dari dua ratus tiga puluh juta rakyat Indonesia. Jadi tidak mungkin ada anggota parlemen yang mau bertindak bodoh dan mempermalukan diri sendiri dengan cara sekonyol itu. Mereka cukup sadar, bahwa mereka hidup di Republik Nyata, bukan di Republik Mimpi, apalagi Republik Mimpi Di Siang Bolong. Pun, para pejabat negeri ini juga pintar-pintar, dan baik-baik orangnya. Betul kan, Pak JK, eh, Pak Jarwo Kuwat?
Tapi, tunggu dulu. Apakah semua ini dan kasus-kasus sejenisnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua orang? Sebagai warga negara, Sony berharap demikian. Sebab dia termasuk salah seorang dari jutaan rakyat Indonesia yang merasa sangat cemas melihat potensi besar erupsi libido para koboi parlemen yang sama sekali tak terkontrol.
Mereka gemar berseksualisasi dengan siapa saja dan di mana saja. Sebagai makhluk seksual, mereka merasa acara kongkow-kongkow tak lagi asyik tanpa berseksualisasi dengan makhluk seksual lainnya dari jenis yang berbeda. Semua harus diseksualisasikan. Saking gundahnya, seorang politisi senior bahkan sampai beberapa kali mengeluhkan hal tersebut kepada media, dengan menunjuk sebuah hotel supermewah yang terletak tak jauh dari gedung parlemen sebagai sarang para penyamun itu membuang iler macan.
Sebagai orang tua, sepertinya beliau merasa sangat risih menyaksikan manusia-manusia berperilaku seperti hewan di sekelilingnya. Sudah bosan dan capek menasehati mereka. Sampai-sampai rambutnya banyak yang mbrodol. Kayaknya, beliau ingin masyarakat bertindak.
Ya ndak mungkinlah, Mbah. Mustahil masyarakat menggrebek pasangan-pasangan mesum di hotel supermewah seperti ketika Simbah membayangkan mereka merangsek ke sebuah rumah petak di ujung gang di mana Tukini dan Tukino – bakul jamu yang suaminya nguli di Jakarta dan tukang ojek yang ditinggal istrinya jualan keringat di Arab Saudi itu – tengah asyik mahsyuk di atas selembar kasur belel yang berhiaskan bercak-bercak peta Kepulauan Seribu.
Bagaimanapun, ini memang berbahaya. Generasi koboi berikutnya bisa jadi akan lebih ganas lagi. Harus dihentikan kebiasaan buruk itu secepatnya. Kalau tidak, bisa-bisa mereka akan berjuang habis-habisan untuk menuntut diberikannya tunjangan iler macan secara bulanan. Bahkan, kabar yang santer beredar, kaukus ini pernah memanggil Gubernur Jawa Barat untuk di-briefing, agar melaksanakan pelebaran jalan menuju rumah Mak Erot. Kalau perlu, di-hotmix sekalian. Agar kunjungan kerja bisa lancar. Sayang, Mak Erot keburu meninggal sebelum jalan yang menuju ke rumahnya sempat diperlebar.
Kabar yang lain malah lebih menghebohkan. Disebutkan bahwah beberapa orang koboi parlemen sedang mendekati Moammar Emka untuk menjadi pemandu sekaligus panelis dalam sebuah acara seksualisasi akbar dan jambore seks di lapangan parkir Kebon Binatang Ragunan, yang malam pembukaannya akan mereka siarkan secara live di empat stasiun TV.
Sebenarnya sudah ada teguran keras yang dilayangkan kepada mereka, dari beberapa makelar mobil mewah. Kendaraan bekas pakai sejumlah anggota Dewan, yang masih seumur jagung dan bodinya terbilang mulus, ternyata susah dijual, meski ditawarkan dengan harga sangat murah. Orang tak mau beli mobil-mobil mesum itu. Takut celaka. Meski sudah dibawa ke salon mobil berkali-kali untuk overhaul bagian interiornya, bercak-bercak putih susu di jok belakang tak juga mau hilang.
Seorang pekerja salon mobil bahkan jatuh pingsan ketika membersihkan salah satu mobil mesum tersebut di bengkelnya. Di bawah karpet jok belakang dia temukan ratusan anak kecil seukuran semut sedang menangis mencari-cari bapaknya. “Bang Toyib …, di manakah kamu? Anak-anakmu menunggu di sini.”
“Bang …, tunggu Bang. Sudah saya bawakan barang yang Abang pesan kemarin,” pria berjaket lusuh itu berlari mengejar Bang Toyib yang hendak masuk ke dalam mobilnya, di areal parkir gedung parlemen.
Bang Toyib, pria muda berpakaian rapi tersebut, berhenti sejenak, dan kemudian mempersilahkan lelaki kerempeng yang menenteng sebuah bungkusan itu untuk ikut masuk ke dalam mobilnya. “Jalan Pir, kita ke kota.”
Pak Fadlan segera mengeluarkan bungkusan kain putih dari dalam tas kresek hitam yang sudah kucel. Sepotong tangkur buaya tergolek diam di atas selembar kain kafan. Sudah kering, tapi sedikit bau. Mata Bang Toyib berbinar-binar melihat penis bajul buntung itu. Sudah lama dia idam-idamkan tangkur buaya tak berekor. Khasiatnya, konon, lima kali lebih dahsyat dari tangkur buaya biasa. Bisa bangun semalaman. Kagak ada matinye. Bahkan, kalau mau matiin, harus dikompres pakai batu es segala.
Pucuk dicinta ulam tiba, pikirnya. Hari ini dia ada janji kencan dengan Shelvy, cewek bule yang dikenalnya semalam di sebuah diskotek di kawasan Tanah Abang. Kebetulan pula, seorang pengusaha telah meminjamkan apartemen di daerah kota selama sebulan kepadanya. Dan, Shelvy yang montok dan bening itu, sudah menunggunya di sana.
“Berapa?” tanya Bang Toyib.
Lelaki kurus itu tak langsung menjawab. Dia terus menimang-nimang tangkur buaya buntung tersebut. “Lima belas juta,” katanya, sambil merapatkan jaketnya. Dingin sekali udara di mobil itu. Seperti di kutub selatan.
“Ngawur kamu. Biasanya cuma tiga juta.”
Tawar-menawar pun terjadi. Akhirnya disepakati harganya lima juta. Dibayar tunai. Pak Fadlan langsung diturunkan di dekat pintu tol Latumenten. Begitu lelaki tengil itu turun, Bang Toyib buru-buru menelepon Shelvy. “Hey Honey, I’m heading to you. Be prepared. I’m bringing heaven with me.”
Gombal.
Fenomena maraknya berbagai obat kuat dengan gamblang menunjukkan bahwa para pria sesungguhnya kaum yang lemah. Sebaliknya, wanita justru lebih kuat daripada pria, bahkan secara fisik. Lihat saja, balita laki-laki lebih gampang terserang step ketika menderita demam dibandingkan dengan balita perempuan. Sejarah juga membuktikan bahwa kaum perempuan jauh lebih perkasa, karena ke mana-mana mampu membawa dua gunung kembar secara mandiri. Sementara kaum pria yang begitu manja dan lemah, harus minta bantuan kepada seekor burung hanya untuk menggendong dua butir telor. Dan, apabila burung itu agak lesu, atau mulai ogah-ogahan bersiul, buru-buru dia mencari obat kuat.
Bisnis obat kuat? Jual saja di lingkungan gedung parlemen. Pasti laris. Tak perlu sembunyi-sembunyi. Pak Kholil bahkan setiap hari duduk di bawah pohon yang tidak terlalu rindang di tempat parkir sambil membiarkan kopernya yang butut menganga lebar-lebar. Isinya macam-macam. Viagra. Pil biru. Tangkur buaya. Kondom aneka rupa dan rasa. Vibrator mini. Kumis harimau. Serbuk cula badak. Bubuk kuda laut. Ma’jun Arab. Ramuan Cina. Ramuan Madura. Batu cincin pelet dari Gunung Kawi. Vakum pembesar penis. Dan ada pula paket lengkap jamu kuat bikinan Kalimantan.
Pembelinya? Para koboi itu. Bahkan pernah ada seorang koboi, Bang To’ing namanya, masih sepupu jauh Bang Toyib, yang membawa cem-ceman-nya ke tempat parkir tersebut untuk menemaninya memilih perlengkapan syahwat yang paling tokcer yang rencananya akan mereka bawa berlibur ke Bandung.
Adelia, nama cewek itu, masih kelas dua SMU. Dia main mata dengan Pak Kholil, sehingga Bang To’ing memborong seluruh isi koper boncel tersebut, sekalian dengan kopernya.
“Semuanya dua puluh satu juta,” kata Pak Kholil.
Tidak ditawar. Langsung dibayar. Pakai duit merah yang digulung dengan ikatan karet gelang.
“Gua kerjain, loe.” Sambil mengedipkan mata kirinya kepada Adelia, Pak Kholil langsung ngeloyor pergi.
Gadis berkulit putih mulus itu menanggapinya dengan tersenyum kecil. “Bang, aku kebelet pipis nih. Tunggu di lobby, ya. Nanti aku nyusul ke sana,” ujar Adelia. Bang To’ing manggut-manggut saja. Dan cewek montok itu pun langsung berlari mengejar Pak Kholil. Minta bagian. Lima juta rupiah langsung masuk ke dalam tasnya. Pipisnya nanti saja, dalam perjalanan, pikirnya. Dia berjalan dengan riang menuju lobby. Beberapa supir yang lagi nongkrong bersiul iseng, mencoba menggodanya. Tapi ABG yang berparas mirip pedangdut Iis Dahlia itu cuek saja.
Dari kejauhan dia lihat mobil Bang To’ing sudah terparkir di depan lobby. Mesinnya dalam keadaan menyala, dengan kaca jendela depan sebelah kanan diturunkan setengah. Menandakan bahwa si empunya sudah tidak sabar lagi untuk segera pergi.
Benar. Bang To’ing sudah menunggunya di sana, dengan rokok yang menyala terselip di sela-sela jemarinya. Tapi dia tidak sendirian. Ada empat orang anggota Dewan berpakaian sangat perlente sedang asyik mengobrol dengannya. Mereka tertawa-tawa. Saling menepuk bahu.
Dengan agak ragu-ragu Adelia menghampiri mereka. Tapi tampaknya mereka orang-orang yang ramah. Sehingga Adelia pun langsung nyamperin Bang To’ing. Bergelayut manja di lengannya yang kurus itu.
“Wah, siapa ini Bang. Cakep banget,” salah seorang dari mereka usil bertanya.
“Keponakan,” jawab Bang To’ing singkat.
Sudah hilang urat malu mereka. Kalau dibiarkan terus tanpa ada orang (tua) yang cawe-cawe, bisa berabe. Mereka akan buang iler macan seenaknya, di sembarang tempat. Tak perlu lagi sembunyi-sembunyi. “Ngapain pakai ngumpet-ngumpet segala. Ini hak asasi.”
Maka mereka berlomba-lomba bikin rekor. Satu minggu nyate berapa kali. Satu kali nyate berapa ekor ayam yang dima’em. Tinggal pilih, mau ayam kampung atau ayam negeri. Viagra … Viagra … Viagraaa …. Duh, Gusti … koyo kewan wae.

10. Dukun

“Ada karyawan pergi ke orang pintar. Dia jampi-jampi kamu supaya gampang dikasih pinjam uang.” Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut kakak Sony, yang tiba-tiba muncul di kantornya.
Sony tertegun. Benar. Baru saja Sugiono, messenger-nya, dengan wajah memelas, pakai menitikkan air mata pula, mengajukan kasbon. Ada masalah keluarga, katanya. Anak lelakinya masuk sel karena mbacok orang. Untung tidak sampai mati. Harus ditebus dan mengganti biaya rumah sakit.
Sony jadi keheranan. Dari mana kakaknya tahu? Padahal, pembicaraan tadi terjadi di ruang kerjanya yang tertutup. Lagian, tidak mungkin dia membiarkan karyawan lain melihat Sugiono, bapak empat anak yang asli Balaraja, Tangerang itu, menangis tersedu-sedu. Tentu tak etis membiarkan hal seperti itu menjadi tontotan orang. Sekalipun itu kakaknya sendiri.
Sony memang gampang jatuh iba bila berhadapan dengan orang yang menangis. Kalau dibilang cengeng, sebenarnya tidak juga. Hanya saja, dia suka tak tahan bila melihat orang menitikkan air mata. Nonton sinetron juga begitu, tiba-tiba saja matanya sembab ketika terbawa oleh adegan yang mengharukan. Sehingga harus ngumpet-ngumpet mengelap air mata dengan lengan bajunya, agar tak ketahuan istri dan anak-anaknya.
Pernah sekali dia akan memecat seorang karyawan karena melakukan kesalahan fatal. Tapi karena Sandy, si Belanda Depok, sekretarisnya itu, terus menangis dan berjanji tak akan mengulangi kesalahannya, akhirnya tidak jadi dia keluarkan. Tak tega rasanya. Begitu pula, ketika Sugiono menangis kebingungan karena tak tahu harus bagaimana menyelesaikan masalah anaknya, kena lagi dia.
“Berapa?”
“Lima juta, Pak.”
Wah, bagaimana ini. Minggu kemarin Sugiono baru saja kasbon lima juta, anak perempuannya mau masuk sekolah perawat, katanya. Sony meluluskan permintaan itu, karena demi pendidikan anak. Sisa hutang dari kasbon lama langsung dipotong dari kasbon baru. Tapi, sekarang lain lagi soalnya. Aturannya, dia tidak boleh kasbon sebelum kasbon pertama lunas. Peraturan is peraturan. Tidak boleh dilanggar. Tapi ini soal kayaknya sangat gawat. Akhirnya, karena tak tahan dan kasihan, Sony mengambil duit di laci yang sedianya akan dipakai untuk bayar tagihan kartu kredit.
“Ini, saya cuma punya empat juta. Selesaikan baik-baik itu masalah. Dan kalau sampai di rumah, anakmu dicambukin saja sampai ampun-ampun. Biar nggak sembarangan bacok orang,” kata Sony sambil memberikan amplop coklat berisi uang.
“Jangan ngomong sembarangan. Dari mana kamu tahu ada orang jampi-jampi saya?” tanya Sony kepada kakaknya yang sedang asyik bermain-main dengan asap rokoknya.
“Saya tahu,” jawabnya singkat, sambil mencetak empat lingkaran asap yang berbaris lurus. Dia tidak sedikitpun memperhatikan Sony yang tampak jengkel. Malahan, dia kembali asyik membuat lingkaran-lingkaran asap gandeng yang menyerupai logo Audi.
Tapi Sony tak mau kalah. Dia merasa sangat tidak nyaman ditembak seperti itu. Mangkel, seolah dianggap sebagai orang yang lemah. Karena itu, Sony terus membantah omongan kakaknya. Bahkan dengan sesumbar, “Saya tak mempan dijampi-jampi. Dan karyawan saya tidak ada yang suka pergi ke dukun.”
“Sekarang begini saja, Son. Kamu mau enggak saya beri pegangan? Untuk pagar diri, biar tak mempan dijampi-jampi,” katanya sambil mengulurkan sebuah lipatan kecil kertas putih.
Sony diam saja. Masih kesal dia, karena kakaknya tidak menjawab pertanyaannya. Eh, sekarang, kakaknya itu, malah menawarkan ajimat lagi. Lagian, Sony sama sekali tidak percaya dengan yang begituan. Hanya saja, dia selalu mempunyai kertarikan yang kadang agak berlebihan terhadap hal-hal gaib. Diam-diam dia lirik lipatan kertas itu. Dia penasaran sekali mengenai apa yang ada di dalam bungkusan tersebut.
“Apa ini?” tanyanya sambil tak sabar membuka lipatan kertas tersebut. Tapi Sony agak kecewa, karena hanya mendapati dua helai rambut keriting seukuran tusuk gigi. Warnanya cokelat kehitaman dan besar-besar. Seperti kumis kerbau. Kasar. Kayaknya tidak pernah kenal shampoo.
“Ini bulu gendoruwoh,” sahut kakaknya dengan suara agak pelan. “Ada penunggunya, Bejo dan Beji,” tambahnya lagi sambil menjumput kedua helai rambut gedoruwoh itu. “Mau bukti, kamu?” katanya, seolah menantang Sony.
Ditantang seperti itu, Sony langsung bereaksi. “Ayo. Siapa takut?” jawabnya dengan nada menantang balik.
Kakaknya segera mengangkat cangkir kopi dari cawan yang mengalasinya. Kemudian dia tuangkan air putih dari gelas minum Sony ke dalam cawan hijau itu. Setelah air mulai tenang, dia masukkan kedua helai bulu gendoruwoh tersebut ke dalamnya. Ajaib. Bulu-bulu kasar itu langsung berjoget seperti cacing kepanasan. Ngulet. Meluruskan diri, seolah sedang meregangkan punggungnya yang pegal. Begerak kesana-kemari seperti perenang profesional.
“Hebat. Dapat dari mana kamu?” tanya Sony.
Kemudian dia bercerita. Bulu gendoruwoh itu dia dapatkan tanpa sengaja. Ketika sedang sholat malam di Masjid Jami’ di kampung halaman sana, dia merasa seperti ada tangan-tangan yang sangat besar mengganggu konsentrasinya. Tangan-tangan raksasa itu bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan secara tak beraturan dan berusaha menyentuhnya. Karena merasa sangat terganggu, maka dikibaskanlah tangan kanannya untuk mengusir tangan-tangan jail tersebut. Gangguan itu langsung hilang. Dia melanjutkan sholatnya. Setelah selesai sholat barulah dia sadar kalau di telapak tangan kanannya telah menempel dua helai bulu yang besar-besar itu. Rupanya, kibasan tangannya tadi telah merontokkan bulu tangan gendoruwoh yang mengganggunya.
Kakak Sony yang satu ini memang seorang dukun. Namun demikian, sholatnya tekun. Tak pernah telat, malah suka lebih. Ke mana-mana bawa tasbih. Baju koko jadi kostum harian. Dengan kopyah putih yang agak kebesaran. Tak sedikit pun terkesan bahwa dia seorang dukun. Dan lagi, pada dasarnya dia juga tak suka disebut dukun. “Hanya mengamalkan ilmu,” katanya.
Sony sendiri tak tahu sejak kapan kakaknya punya ilmu. Setahu dia, tak seorang pun kerabatnya yang menjadi dukun. Jadi, dari mana dia mendapatkan ilmu? Sony sering menanyakan hal itu. Tapi tak pernah dijawab. Setelah dia desak terus, empat tahun lalu, akhirnya kakaknya buka kartu.
“Itu piaraan Mbah Jiran yang ngintil terus dan kemudian saya rawat,” katanya dengan setengah terpaksa. “Sebelumnya, macan putih itu sempat menunggu mushola di samping kanan rumah selama hampir tiga puluh tahun,” tambahnya lagi.
Mbah Jiran, kakek Sony, memang orang hebat. Seorang haji yang sholatnya tak pernah telat. Suka menolong orang yang lagi kesrakat. Seorang petinggi yang dicintai masyarakat. Makanya, ketika meninggal banyak sekali yang melayat. Tetangga dan kenalan beramai-ramai mengantarnya ke tempat beristirahat.
Sony sendiri tidak terlalu paham dengan semua keramaian itu. Karena masih SD kelas satu. Terselip di antara para pelayat ada sejumlah ibu-ibu. Dan orang-orang yang tak dikenalnya berwajah biru. Tatapan mata mereka beku. Mereka menangis tersedu-sedu. Belakangan, setelah sepuluh tahun berlalu, barulah Sony tahu. Mereka ternyata istri-istri dan anak-anak kakeknya yang datang dari segala penjuru.
Jadi, begini ceritanya. Mbah Jiran semasa mudanya berprofesi sebagai saudagar tembakau yang sukses. Setiap saat bepergian ke daerah-daerah di mana petani menanam daun beraroma harum itu. Lembaran-lembaran daun tembakau yang lebar-lebar diborong dan disimpan di dalam keranjang-keranjang berbungkus tikar di rumahnya yang sangat besar.
Sebuah rumah bergaya kolonial dengan langit-langit tinggi dan penuh selasar. Ubinnya menghampar indah dengan tegel-tegel bergambar. Dengan tiang-tiang yang begitu kokoh dan kekar. Dengan banyak daun pintu dan jendela dua lapis yang lebar-lebar. Terasnya beratap seng gelombang tebal berlembar-lembar. Di rumah itulah tembakau dikumpulkan. Di sebuah gudang persis di sebelah kamar mandi. Setelah jumlahnya mencukupi, tembakau kemudian dijual ke pabrik rokok di Kudus, Jawa Tengah.
Rupanya kakek Sony yang keturunan Madura itu termasuk penganut filosofi bekerja sambil berkarya. “Business is pleasure,” mungkin nasehat seperti itu yang akan diberikannya kepada Sony seandainya sekarang masih hidup. Karena Mbah Jiran sangat dekat dengan Sony, dan cenderung memanjakannya, seperti bapaknya.
Di tempat-tempat yang biasa didatanginya, Mbah Jiran selalu menyempatkan diri menyunting dara. Duit banyak. Semangat meledak-ledak. Badan perkasa. Malam-malam sendirian di desa. Daripada susah tidur, lebih baik mengasah sangkur. Pulangnya diulur-ulur.
“Ada apa ini?” Padahal, di rumah, nenek Sony ayu benar. Kulitnya bersih bersinar. Hidungnya mancung dan tipis. Senyumnya manis. Kurang opo to, Mbah? Sudah jauh-jauh diboyong dari Kudus, Mbah Murni tetap saja tak pernah menjadi ratu tunggal bagi Mbah Jiran.
Lebih dari itu, nenek Sony juga pebisnis yang tangguh. Pedagang serba bisa. Sama seperti kesebelas anak-anaknya, yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Tanpa harus merengek-rengek minta THR, nenek Sony yang jago masak dan bikin kue itu berjualan aneka penganan selama bulan puasa. Digelar di depan rumah. Laris sekali. Pesanan datang dari mana-mana.
Mbah Murni adalah salah satu penopang utama ekonomi keluarga besar tempat mereka semua berteduh. Bersama adik perempuannya sebagai ujung tombak, nenek Sony membuka warung nasi rawon yang enak. Sampai sekarang warung itu masih ada dan tak pernah beranak. Tetap sohor dan pelanggannya banyak. Diteruskan oleh salah seorang bibinya. Bila ada acara-acara besar di kabupaten, Pak Bupati selalu menyajikan nasi rawon bikinan bibinya itu untuk menjamu para tamu kehormatannya.
Ini rawon sungguh istimewa. Sekali makan pasti tak akan pernah lupa. Boleh dicoba. Tes rasa. Memanjakan selera. Sambil cuci mata. Biarkan lidah bergoyang lenso. Menikmati rawon yang rasanya macho. Ramuan bumbunya berbeda dari rawon biasa. Tak perlu kluweg sebagai penambah rasa. Atau pemberi warna hitam pada kuahnya. Bawang goreng juga bukan jodohnya. Tidak pula potongan-potongan kecil daging bergajih. Kuahnya yang encer berwarna kecokelatan selalu mendidih. Dengan potongan-potongan kasar daun bawang yang menyebar. Rahasianya, kuah rawon dibuat dari kaldu rebusan daging dan jeroan yang digodok semalaman di atas tungku kayu bakar. Dengan kuali besar yang terbuat dari tembikar.
Lauknya disajikan terpisah di nampan-nampan beling. Empal, paru, babat, ati, otak dan tempe digoreng setengah garing. Terkadang ada juga dendeng bikinan sendiri dan telor asin Tjap Suling. Tak lupa ditaburkan kecambah cebol di bibir piring. Tinggal pilih lauk apa yang disuka. Boleh ambil dua atau tiga. Suka-suka, silahkan saja. Tak perlu takut soal harga. Karena terhitung murah. Dijamin, dompet tak akan merekah. Seperti nasi panas yang banjir disiram kuah. Rasanya yang istimewa memijit-mijit lidah. Habis sepiring pasti ingin nambah. Apalagi ditemani krupuk udang yang renyah. Mata melek-merem mulut menganga. Merasakan keunikan sambelnya yang berwana coklat muda. Berupa kotokan tahu diiris-iris ukuran dadu unyil dan jerohan yang dirajang halus. Rasanya …, mak nyuuuus.
Tak bisa sembarang waktu menikmati nasi rawon ini. Selama bulan puasa jualan berhenti. Baru setelah beberapa hari lewat riyoyo kupatan warung dibuka kembali. Buka jam enam tutup jam sembilan pagi. Paling telat pukul sepuluh pagi. Sekalipun pembeli masih ngantri. Mereka tak bisa dilayani. Karena sudah kehabisan nasi. Jualan selama tiga jam saja. Khusus melayani orang-orang yang mau sarapan sebelum berangkat bekerja.
Ini rawon memiliki khasiat luar biasa. Bisa mengubah kebiasaan manusia. Dijamin, apabila si penikmat seorang karyawan, maka setelah sarapan nasi rawon ini akan menjadi pekerja yang kreatif dan cekatan. Dan otomatis disayang atasan. Apabila si penyantap seorang pelajar yang agak pemalas, maka setelah sarapan nasi rawon ini akan menjadi siswa yang pintar dan cerdas. Dan otomatis disayang walikelas. Sony sudah membuktikannya sendiri. Ini janji bergaransi. Kalau tak percaya, silahkan ngomel sendiri.
Aroma sedap yang berkibar-kibar dari dua piring nasi rawon yang dibawakan Usep membuyarkan lamunan Sony. “Ayo makan. Keburu dingin. Ngendal nanti.”
Seusai makan, Sony dan kakaknya berdua bermain perang-perangan dengan asap rokok, sambil mengobrol mengenai kampung halaman. Tiba-tiba saja kakaknya bercerita mengenai peliharaan barunya. Aneh, kalau soal seperti itu biasanya dia pelit bicara. Tumben-tumben, pikir Sony.
Jadi, begini ceritanya. Dia mendapatkan satu lagi piaraan dari mertuanya yang sudah pikun. Sebelum meninggal, mertua lelakinya itu berpesan agar perewangan-nya dipelihara dengan tekun. Kayak cerita sinetron di TV saja.
Tapi itulah hidup. Bahkan, kadang-kadang Sony juga berpikir bahwa hidup tak ubahnya seperti lintasan-lintasan cerita dalam sinetron. Toh, pada dasarnya sinetron mengangkat kisah dari babak-babak kehidupan manusia, meski sering kali logika berceritanya berputar-putar agar bisa dipanjang-panjangkan, semua masalah dapat terselesaikan dengan solusi yang serba kebetulan, dan tak masuk akal.
Namun, meski terkesan merendahkan kecerdasan manusia, tetap saja penontonnya tak pernah protes. Mereka hanya jengkel dan bosan bila sebuah serial terlalu memberikan ruang yang berlebihan kepada karakter antagonis. Begitu tokoh yang menyebalkan muncul dengan mimiknya yang menjijikkan, para pemirsa biasanya langsung pergi ke dapur untuk mengambil minuman atau pindah saluran. Maunya menjaring banyak iklan, eh, nggak tahunya malah panen makian. Jadinya, konyol.
Konyol? Benar. Kakak Sony yang satu ini, Slamet namanya, orangnya jujur, polos, tulus, kocak, berhati mulia, namun terkadang suka konyol. Dibandingkan dengan kakak-kakak dan adik-adiknya, dia termasuk kurang beruntung kalau dilihat dari sisi kehidupan dunia. Namun ini hanya pendapat mereka. Bisa jadi dia berpandangan sebaliknya.
Wah! Jangan-jangan ada kacamata tripleks lima mili yang selama ini memburamkan mata mereka tentang apa sebenarnya makna hidup dan kebahagiaan. Buktinya, meskipun keluarganya hidup pas-pasan, Slamet tak pernah minta-minta kepada saudara-saudaranya yang mampu. Kalaupun diberi, dia lebih sering menolak. Setelah dipaksa-paksa, baru dia tak bisa mengelak. Sony kadang jadi terharu.
Slamet. Sebenarnya nama aslinya bagus sekali. Malah jauh lebih bagus dari nama saudara-saudaranya yang lain. Apalagi Tukul. Ndak level. Jauh ke mana-mana. Hanya seujung kuku. Namun, karena semasa masih bayi sering sakit panas dan dua kali kejang-kejang alias step, dan syukurlah akhirnya sembuh jua, nenek Sony memanggilnya Slamet, yang artinya “selamat”. Karena dia selamat dan berhasil melewati masa kritisnya.
“Nama aslinya terlalu berat untuk disandang,” kata neneknya, yang sangat menyayangi Slamet itu. “Kita ganti saja namanya menjadi Slamet, agar dia selamat. Biar tidak sakit-sakit lagi,” tambahnya.
Benar. Setelah namanya diganti, dia tak pernah sakit panas lagi. Slamet. Ya, Slamet.
Slamet tumbuh menjadi anak yang kurang pintar di kelas. Berbeda sekali dengan saudara-saudaranya. Pernah sekali dia tinggal kelas ketika SD. Dia paling benci pelajaran berhitung, matematika. Matek-matekan, katanya, karena harus belajar mati-matian. “Ndak nyucuk utekku,” keluhnya. Kalaupun akhirnya naik kelas, nilainya harus dikatrol dulu.
Namun, kalau di rumah, jangan tanya. Slamet adalah anak yang luar biasa. Bersih-bersih rumah dan nyapu-nyapu paling rajin. Cuci baju dan menyetrika. Bahkan memasak. Sepertinya dia selalu bergerak lebih cepat agar tidak didahului oleh saudara-saudaranya yang lain, yang malas-malas itu. Yang, kalau disuruh, harus diteriaki berkali-kali dulu baru mau jalan.
Dengan semua keterbatasan kemampuan kognitifnya, Slamet akhirnya berhasil juga lulus STM. Dia sempat bekerja di beberapa tempat. Namun tak pernah lama. Kalau merasa benar, atasan pun akan dihardiknya. Dipecat? Tidak takut. “Allah yang kasih makan keluarga saya,” katanya suatu kali kepada Sony. Selalu begitu. Bekerja. Nganggur lagi. Bekerja. Nganggur lagi.
Pernah dia ikut kakak Sony yang pemborong bangunan. Itu pun tak lama. Bentrok melulu. “Sampeyan harus jujur. Jangan main harga,” katanya dengan suara ketus dan mata melotot.
Dengan muka masam Mas Yusa menggerutu, “Bagaimana mau untung kalau caranya begini?”
We lha, sing rukun to Mas ….
Sony pun turun tangan. Maka dia tarik kakaknya yang unik itu untuk bekerja di kantornya. Pada mulanya biasa-biasa saja. Namun, lama-kelamaan mulai beredar bisik-bisik di kalangan karyawan karena mereka sering melihat Slamet makan kemenyan. Untunglah, setelah hampir dua bulan kerja di kantor Sony di Jakarta, Slamet mengundurkan diri. Kangen sama anaknya, katanya.
Life begins at fourty. Begitulah. Slamet mulai menjadi dukun setelah mencapai umur empat puluh tahun. Beberapa tetangga menyebutnya dukun tiban. Artinya, tiba-tiba saja jadi dukun. Namun tidak demikian bagi keluarga Sony. Sebelumnya tanda-tanda itu memang sudah kelihatan. Tapi, apakah dia benar-benar dukun sakti? Sony tak begitu tahu.
Dalam kenyataannya, ada saja orang yang belum juga sembuh penyakitnya setelah berkali-kali berobat ke dokter datang menemui dia. Mulai dari penderita kencing manis, stroke, liver, kanker prostat dan lain sebagainya. Anehnya, mereka sembuh total. Dari mana mereka tahu Slamet dapat mengobati. Padahal, itu anak tidak pernah woro-woro maupun gembar-gembor seperti yang dilakukan banyak paranormal yang setiap hari beriklan di koran-koran kuning.
Saking berterima kasihnya, pasien-pasien yang merasa berhutang nyawa itu rela memberikan apa saja. Uang, barang, sembako dan lain-lain. Aneh bin ajaib, Slamet selalu marah bila diberi imbalan atas jasanya. Dia tak mau menerima pemberian apapun. Kalau si pasien ngotot mau memberikan sesuatu, bisa-bisa dia tambah sewot dan mengusirnya dengan kasar. Hanya mengamalkan ilmu. Itu saja alasannya.
Tapi pasien tak kalah pintar. Secara sembunyi-sembunyi, dan diam-diam, tentu saja tanpa harus mengendap-endap seperti maling ayam, mereka berikan imbalan itu kepada anak atau istrinya. “Tapi ini rahasia, jangan sampai ketahuan Bapak,” si pasien menyerahkan pemberiannya sambil mewanti-wanti.
“Ya, Oom. Saya ndak akan bilang sama Bapak.”
Beres sudah. Tahu-tahu gentong di dapur sudah terisi penuh dengan beras.
Kali lain datang seorang penjaja cinta yang biasa mangkal di komplek pelesiran birahi tak jauh dari rumah mertuanya di Surabaya. Perempuan kenes itu minta dijampi-jampi agar laris. Gawat. Dijampi-jampi betulan. Dan laris pula. Selang beberapa minggu kemudian datanglah rombongan teman-temannya minta dijampi-jampi juga. Maka, ramailah rumah kecil itu dengan perempuan-perempuan berbusana seronok. Duduk seenaknya sambil mengepulkan asap rokok. Sampai-sampai istri Slamet minggat dua hari karena cemburu, dan malu sama tetangga.
Tapi Slamet jalan terus, sambil tak lupa berpesan, “Kalau sudah dapat uang banyak, kamu berhenti ya. Harus tobat.”
We lha, Met … Met …. Ini kan sama saja kamu mendorong orang jadi maling asalkan kalau sudah kaya dari hasil malingnya harus berhenti, tidak jadi maling lagi. Kacau dunia.
Pada kali yang lain, Slamet dimintai tolong oleh beberapa orang rahib dari sebuah kelenteng untuk mengambil sebuah batu aneh dari di dalam mangkuk yang dipegang oleh sesosok arca. Mereka sedang membersihkan kelenteng saat itu, dan ketika akan mengelap mangkuk tersebut, mereka mendapati sebutir batu berwarna putih tua nongkrong di dalamnya.
Ini batu benar-benar bandel, tidak mau dipindahkan. Disentuh sedikit saja langsung berulah. Setiap kali seorang rahib hendak meraih batu itu, tentu saja didahului dengan bermacam-macam jurus seperti dalam filem Kung Fu, langsung terjengkang dan terlempar. Dari mulutnya keluar darah segar. Beberapa orang sudah jadi korban. Mereka kehabisan akal, dan akhirnya nyerah.
“Kalian ini apa? Ini kan hanya batu. Masa, kalah sama batu.” Ketakaburan itu mulai menampakkan wujudnya secara nyata.
Mereka diam saja disemprot seperti itu. Setelah menunjukkan tempat batu nakal tersebut bersemayam, mereka mundur mengambil jarak. Menonton dari tempat yang aman. Slamet langsung beraksi. Mulutnya komat-kamit sebentar. Kemudian batu tersebut dia ambil, dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Tidak terjadi apa-apa. Pun, ketika batu itu diminta oleh Mas Yusa. Dia berikan begitu saja.
“Mudah-mudahan cocok,” pesannya.
Ketika Sony menanyakan kepada kakak sulungnya tersebut di mana batu itu sekarang, dia malah kebingungan, tak tahu di mana. Katanya, batu mokong tersebut ditaruh di lemari dan tahu-tahu hilang begitu saja.
Saudara-saudaranya, terutama Sony, sebagai adik yang urutan kelahirannya tepat di bawah Slamet, sering menasehati agar itu ilmu dibuang saja. Tidak ada manfaatnya.
“Met, itu tipu daya jin agar kamu takabur. Supaya kamu membantu orang untuk berbuat tidak baik,” kata Mbak Rahma, kakak perempuan Sony.
Tapi, seperti biasanya, Slamet selalu ngotot, dengan mata mendelik. “Ilmu saya bersumber dari Asmaul Husna.”
Sudah capek saudara-saudaranya menasehati. Sehingga akhirnya dijadikan guyonan saja. Pernah suatu kali Sony menantangnya, “Met, kalau kamu benar-benar sakti, coba suruh jin piaraanmu menambahkan tiga angka nol pada tabungan saya di bank.” Dinasehati tidak mau, ya sudah, ditantang saja sekalian. Lumayan kan, dengan tambahan tiga angka nol, juta bisa jadi milyar. Curang bener.
Slamet menanggapi tantangan itu secara sambil lalu. “Ndak bisa kalau yang begitu. Bank juga piara jin penunggu,” kilahnya.
“Yo wis, kalau gitu,” jawab Sony.
Fadli, adik Sony, cemberut mendengar percakapan tersebut. Meski tak terucap, Sony merasa adiknya ngomong begini, “Sudahlah, nggak usah ngomongin macam-macam. Bagaimanapun, dia kakakmu. Ojo diguyu. Harus kita hormati. Sabar. Mudah-mudahan dia segera mendapatkan hidayah.” Sony jadi malu sendiri.
Tapi kadang-kadang dia tak bisa menahan diri. Keingintahuannya yang begitu besar terhadap hal-hal gaib – sama seperti curiousity banyak orang yang dicoba dipuaskan oleh stasiun-stasiun TV melalui tayangan misteri – sering kali menggelitik urat jailnya untuk melemparkan pertanyaan-pertanyaan penuh jebakan. Karena dijawab terus, ya dia tanya terus. Jarang-jarang kesempatan seperti ini. Hanya ada selagi pulang kampung.
Jedueeeer! Wah. Sony kuwalat. Jendela kamar depan rontok. Untung temboknya retak belaka. Tapi kaca depan mobil Sony hancur berantakan, seperti kerikil kaca. Moncongnya ringsek. Slamet keluar dari dalam mobil dan kemudian terduduk lunglai di undakan teras. Pucat pasi mukanya. Napasnya tak beraturan. Tersengal-sengal. Badannya gemetaran.
Sony merasa kasihan melihatnya. Tapi ini bukan salahnya. Ini pasti salah Fadli, adiknya itu. Malam sebelumnya, Slamet digojlok habis-habisan. “Punya SIM kok ndak berani nyetir. Apa sih susahnya nyetir. Itu ada mobil. Tinggal pilih, mau pakai yang mana.”
Seperti biasa, Sony kebagian menabur bumbu. “Gampang. SIM kamu tempel di stir pakai selotip. Langsung putar kunci starter. Ngeeeeng. Kamu diam saja. Nggak usah ngapa-ngapain. Biarkan SIM itu yang nyetir.”
Semua jadi tergelak. Sebaliknya, Slamet tersenyum kecut. Matanya melerok.
Siapa nyana, pagi itu ternyata Slamet sudah merasa siap menerima tantangan. “Endi kontake?”
Sony langsung memberikan kunci mobilnya. Mereka semua berkumpul memberikan semangat.
“Larang-larang mbayar kursus nyetir, kok tidak ada manfaatnya. Sudah. Genjot saja.”
Sreeng …. Mesin mobil langsung hidup. Slamet berkonsentrasi. Tapi, seperti biasanya, dia tak pernah fokus pada apa yang dikerjakannya. Malah asyik memperhatikan orang-orang yang sedang menontonnya. Pasang aksi.
Sony jadi ingat zaman dulu, pada waktu kecil, ketika Slamet baru bisa naik sepeda roda dua. Sambil melaju, dia melepaskan kedua tangannya dari stang sambil berteriak lantang, “Gayaee booooo …!” Perhatiannya pun teralih. Tak lagi konsen menjaga keseimbangan sepeda yang sedang dikendarai. Sebaliknya, dia malah tingak-tinguk melihat orang-orang yang sedang menyoraki. Byuuuur! Kecebur got. We lha, kojur kowe.
Kejadian lebih dari tiga puluh tahun lalu itu terulang kembali. Dengan raut muka serius dia mulai mengoper gigi. Kopling lepas, gas langsung tekan. Jedueeerr. Jendela jadi korban. Rupanya bukan gigi mundur yang dia pakai, tapi gigi maju.
“Untung jalannya ke depan, jadi nabrak jendela. Kalau atret, pasti rontok tuh pagar besi,” sempat-sempatnya dia membela diri. Namun tetap tergurat ketakutan di wajahnya.
Saudara-saudaranya cekakaan semua. Sony ketawa paling keras. Padahal mobilnya bonyok. Ya sudah. Blahi slamet. Kecelakaan, tapi tidak ada yang celaka. Orangnya aman-aman saja. Tak kurang satu apa pun. Selamat. Tumben dia bisa nyantai begini. Padahal, kalau di Jakarta, mobil baret sedikit saja bawaannya uring-uringan melulu.
Tapi, cara Slamet membela diri mengigatkannya pada cerita mengenai orang Madura yang menabrak pohon ketika belajar naik motor. Persis sama. Setelah beberapa kali masuk selokan dan membabat habis semak-semak di pinggir jalan, akhirnya dia harus berhenti karena menyeruduk pohon besar di ujung gang. Motornya hancur, tapi orangnya selamat dan masih bisa berkelakar, “Puas aku. Sudah lama aku incar ini pohon.”
Peristiwa seperti ini memberikan pencerahan luar biasa bagi Sony. Kalaupun harta benda yang paling disukai hancur atau hilang, tak masalah. Asal manusianya selamat. Barang-barang duniawi dapat dicari lagi. Bisa dibeli lagi kalau sudah kumpul duit. Tapi, kalau orang-orang tercinta celaka, bisa sedih. Makanya, sayangi badan, bukan harta.
Sungguh berbeda dengan perilaku para penghuni rumah kos putri di gang sebelah kantor Sony. Lorong sempit yang selalu tergenang air setinggi tumit setiap musim hujan itu menjadi kendala ketika gadis-gadis penghuni rumah kos itu berangkat kerja di pagi hari maupun sepulang kerja di sore hari. Tapi mereka punya cara jitu mengatasinya. Cukup lepas sepatu dan kemudian ditenteng. Kaki-kaki mulus itu pun berjalan nyeker menyaruk-nyaruk genangan air yang tak begitu dalam.
Perhitungannya pasti begini. Kalau sepatu tetap dipakai, pasti langsung hancur. Bisa mlenyok, kisut, njeber, mangap dan rontok. Juga bau. Sekalipun bikinan Prada. Tentu biaya reparasinya mahal. Terlebih kalau harus beli lagi. Tapi, kalau hanya ibujari kaki sedikit berdarah karena tergores kerikil tajam, cukup diolesi Betadine. Besok-besok pasti juga sembuh. Berapa sih, harga Betadine? Mereka belum mendapatkan pencerahan.
Pengalaman serupa pernah dialami Fadli ketika rumahnya disatroni perampok pada malam hari. Dua mobil dan satu motor dibawa lari. Anehnya, tak satupun penghuni rumah yang terjaga. Padahal salah seorang perampok sempat kentut di dalam rumah. Buktinya, si Herman, kucing peliharaan mereka, tak ada di sekitar situ. Kucing berwarna oranye itu selalu lari ketakutan kalau ada orang yang kentut dengan suara menggelegar.
Tetangga bilang perampoknya pakai aji sirep. Bisa jadi jampi-jampi itu didapat dari dukun yang amat sakti sehingga tetangga sekitar ikut terkena pengaruhnya. Dengan deretan rumah yang begitu rapat, masa tidak ada seorang pun yang nglilir mendengar suara hiruk-pikuk para pencoleng yang sedang mencongkel jendela sambil guyon dengan saling melempar pantun berbalas, membongkar pintu garasi dan pagar, dan kemudian membawa lari hasil jarahannya.
Tentu sedih sekali kalau harus kehilangan sesuatu yang berharga. Sony tak tega melihat adiknya segundah itu. Fadli hanya terduduk pasrah. Matanya berkaca-kaca. Apalagi, di bagasi mobil ada seperangkat peralatan golf kesayangannya, yang belum sempat diturunkan oleh supirnya.
Tapi seorang polisi kerempeng dengan bijak membesarkan hatinya. “Sudahlah, Pak. Ini musibah. Kita akan bantu cari. Yang penting semua selamat,” hibur Pak Rohan yang asli Cimahi itu dengan suaranya yang lembut.
Benar. Untung tidak ada yang bangun. Polisi menduga jumlah mereka lebih dari empat orang. Minimal bawa sepucuk senjata api. Belum lagi golok dan belati. Kalau sampai ada yang bangun, pasti langsung di-dor. Bisa cilaka. Sudahlah. Toh, semuanya sudah di-cover asuransi. Tak perlu terlalu bersedih. Ini blahi slamet. Malahan, harusnya bersyukur. Kalau perlu bikin selamatan.
Jadi, meskipun mobilnya bonyok, Sony tetap merasa bersyukur karena kakak kesayangannya itu tidak apa-apa. Tidak celaka. Namun adegan French kiss yang mesra lagi bergelora antara mobil dan jendela tersebut rupanya menimbulkan penyesalan yang amat dalam pada diri Slamet. Dia merasa sangat bersalah. Dan amat gundah. Merasa telah merepotkan adiknya. Berkali-kali Sony harus meyakinkan kakaknya bahwa itu bukan masalah besar.
“Berapa sih, mbetulin mobil? Paling cuma segitu. Kalau uang segitu, sekali kedip langsung dapat.” Kadang-kadang Sony dihinggapi penyakit sombong seperti ini.
Slamet jadi agak pendiam. Malam hari dia hanya duduk sendirian di sudut teras sambli lengar-lenger. Bersila. Kepalanya menunduk. Kedua genggaman tangannya menyatu menahan dahinya yang tidak terlalu lebar. Matanya menerawang. Wah, gawat ini. Segera saja saudara-saudaranya beramai-ramai menghampirinya.
“Met, nggak usah dipikirin terus. Mobil kan sudah dibetulin. Sudahlah.” Mereka mencoba menghiburnya.
“Tapi aku sudah merugikan kamu, Son. Rugi! Rugi! Rugi!”
Semua jadi terdiam.
“Sekarang begini saja ….”
Dia pun mulai memaparkan rencananya. Singkatnya begini. Supaya pakpok alias impas, Slamet bersedia memenuhi permintaan Sony yang kemarin. Dia akan suruh Salim dan Rejeb, dua jin peliharaannya itu, minta tolong kepada teman-temannya sesama jin yang ngerti soal bank supaya bisa menambahkan tiga angka nol pada tabungan Sony di bank. Gila. Dimakan juga itu umpan.
“Mana nomer bank?”
Dengan cekatan Sony segera menuliskan nomor rekening di atas secarik kertas. ATM juga ikut berpindah tangan. “Nih. Jangan sampai keliru. Meleset satu angka bisa masuk ke rekening orang lain itu duit,” Sony mencoba mewanti-wanti.
“Beres. Tengah malam nanti saya olah. Kamu tunggu tiga hari. Besok kan kamu balik ke Jakarta, sesampainya di sana bisa langsung dicek,” jawabnya dengan penuh percaya diri.
Sony mengiyakan dengan anggukan serius. Tapi Mbak Rahma malah senyam-senyum. Dengan setengah berbisik dia meledek Sony, “Kalau benar ketambahan tiga angka nol, kamu nyamleng. Bagaimana bila Salim dan Rejeb bingung, sehingga bukannya menambahkan tapi malah mengurangi tiga angka nol? Bisa nangis kamu.”
Sony jadi gamang. Mbuh wis. Ndak usah dipikir. Ini semua kan cuma guyon. Lupakan.
Tapi, anehnya, setiap kali pergi ke ATM, jantung Sony selalu berdebar-debar kencang. Tangannya suka gemetaran. Berharap-harap kalau-kalau sudah ada tambahan tiga angka nol di tabungannya. Setiap kali selalu begitu. Tapi, tak pernah sekalipun ada tambahan tiga angka nol yang mau mampir.
Be’e, wis gendeng … aku iki, pikirnya. Sony benar-benar merasa tersika dipermainkan oleh harapan-harapan yang melambung tapi tidak pernah kesampaian tersebut. Lama-lama dia tak tahan juga menanggung beban yang sangat berat itu, sehingga akhirnya bercerita kepada beberapa orang kawannya. Bukannya menghibur, mereka malah pada ketawa ngakak. Sialan. Sony pun jadi ikutan ngekek. Wis …, gendeng kabeh. Nasib. Nasib.
Akhirnya, dengan sedikit ragu, Sony memberanikan diri menelepon kakaknya untuk menanyakan soal itu.
Jawabannya enteng saja. “Ndak berhasil, Son. Sudah saya coba. Kata Salim dan Rejeb, permintaan seperti itu dapat mengganggu perjanjian antara raja jin dengan manusia.”
Sony agak kecewa.
Tapi buru-buru Slamet menyambung omongannya, “Son, saya jadi ndak enak sama kamu. Kalau kamu pulang nanti saya akan kasih sesuatu sebagai gantinya. Atau saya saja yang pergi ke Jakarta, Son?”
Pada mulanya Sony tidak terlalu berminat menanggapi omongan kakaknya. Tiba-tiba saja, tak ada angin tak ada hujan, Sony begitu antusias menanyakan apa gerangan hadiah yang akan diberikan kepadanya. “Apaan, Met? Jum’at besok saya ada acara ke Surabaya. Sekalian saja, saya mampir ke sana. Sampeyan tidak ke mana-mana, kan?”
Sabtu pagi. Di samping rumah Sony, di kampung halaman. Slamet memasukkan dua butir kemenyan, kira-kira seukuran jagung, ke dalam mulutnya. Dia kunyah-kunyah. Setelah komat-kamit sebentar, tiba-tiba dia merentangkan kedua tangannya sambil menggerang. Persis seperti auman seekor macan. Dia berjalan menuju tembok pagar. Pless. Slamet menembus tembok itu. Dan lenyap begitu saja.
Sony ketakutan. Dia merasa bergidik. Ini sama sekali bukan tipuan. Bukan pula trick kamera. Sony langsung melangkahkan kakinya menuju tembok tersebut. Dia raba-raba tembok itu. Keras. Tidak ada pintunya. Dia mencoba memasukkan tangannya ke dalam tembok. Tidak berhasil. Malah tangannya terasa sakit. Karena tembok itu agak kasar.
Heran dia. Bagaimana mungkin Slamet masuk ke dalam tembok. Kali ini Sony mencoba dengan cara lain. Mencontoh cara yang dilakukan kakaknya tadi. Diambilnya sebutir kemenyan dan kemudian dia kunyah. Rasanya aneh. Pahit. Sambil mengaum, direntangkannya kedua tangannya. Dia berjalan menuju tembok itu. Bukannya tembus. Jidatnya malah kebentur tembok. Sakit sekali.
“Ngapain kamu, Son?”
Semakin kaget saja dia. Slamet ternyata sudah berdiri di belakangnya. “Dari mana kamu?” tanyanya dengan terbata-bata. Belum hilang rasa takutnya.
“Lha, tadi saya keluar dari sebelah kiri kamu. Masa tidak lihat?” jawabnya.
Kemudian Slamet bercerita kepada Sony. Tembok itu adalah pintu gerbang kerajaan jin. Di balik tembok tersebut, terhampar dunia lain. Bukan dunia manusia. Tapi dunia jin, dengan semua aktivitasnya. Mundari, penunggu pintu gerbang tersebut, mengizinkan Slamet masuk.
“Ini, saya bawakan oleh-oleh dari sana.” Slamet memberikan dua butir batu kepada Sony.
Tak terlalu istimewa batu itu. Masing-masing sebesar kelereng, lebih kecil sedikit. Warnanya hitam mengkilat. Tapi terasa agak berat bila dibandingkan dengan ukurannya. Lebih aneh lagi, kedua batu tersebut selalu menempel satu sama lain. Seperti ada magnetnya.
“Met, bisa nggak saya ikut kamu masuk ke sana. Saya ingin tahu kayak apa di sana,” Sony mulai merengek-rengek. Sudah lama dia ingin melihat jin. Apalagi, ini kerajaan. Pasti seru.
Slamet diam saja. Tapi kemudian dia menyanggupi. Mungkin tak tahan melihat adiknya mengiba-iba seperti itu. “Begini saja. Besok, saya akan coba bawa kamu masuk ke sana. Tapi saya tidak janji. Bisa berhasil. Bisa juga tidak. Semuanya tergantung kamu sendiri. Kalau kamu bisa membuang semua pikiranmu hingga otakmu benar-benar kosong, kamu pasti bisa melewati tembok itu.”
Girang sekali Sony mendapatkan jawaban seperti itu. Siang harinya dia langsung belanja peralatan. Dibelinya segulung tambang ukuran satu inci yang panjangnya sekitar lima puluh meter. Juga sebuah troli dorong.
Pagi itu semuanya sudah siap. Sony berdiri di depan tembok. Mengamat-ngamati pagar setinggi dua setengah meter tersebut. Keras, dan bisu. Sementara Slamet masih sarapan. Sony menunggunya, sambil sesekali berteriak memanggilnya. Sudah tak sabar lagi dia. Akhirnya Slamet muncul juga.
“Son, ngapain kamu bawa beginian. Kapan belinya? Memangnya mau bikin apa?” tanya Slamet.
Sony tidak menjawab. Malu rasanya. Tapi akhirnya dia berterus-terang kepada kakaknya. Sony membeberkan rencananya. Tambang itu akan dia ikatkan ke badannya, sedangkan ujung yang satunya lagi akan ditambatkan pada pohon melinjo tak jauh dari tempat itu. Hanya jaga-jaga, kalau-kalau dia tersesat di dunia jin. Dengan bantuan tambang tersebut, dia akan lebih mudah mencari jalan keluar. Sedangkan troli, sengaja disiapkan kalau-kalau di sana nanti dia menemukan emas. Bisa mengambil sebanyak-banyaknya. Jadi tak perlu repot-repot menentengnya.
Slamet akhirnya mengalah. “Ya sudah. Kalau maunya begitu. Silahkan,” katanya.
Mereka pun melakukan persiapan.
“Son, kamu ikuti semua yang saya lakukan. Ingat, buang semua isi pikiranmu. Harus kosong melompong,” pesannya.
Slamet mulai mengunyah kemenyan. Sony segera mengambil remahan-remahan berwarna kecoklatan itu dan kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Dia kunyah. Ketika Slamet mengaum, Sony pun ikut mengaum. Slamet langsung merentangkan kedua tangannya dan berjalan menuju tembok. Sony mengekor di belakangnya sambil mendorong troli, sementara badannya terikat pada seutas tambang.
Slamet hilang ditelan tembok. Sony langsung mengikutinya. Tapi langkahnya tertahan oleh kereta dorong yang menabrak tembok keras. Dia dorong dengan sekuat tenaga troli beroda satu itu. Tapi tak juga mampu menembus tembok. Dirabanya tembok itu. Kasar, seperti biasanya. Sialan. Gagal, pikirnya. Kecewa sekali dia. Sony mencampakkan kereta dorong baru itu dan melepaskan ikatan tambang di badannya. Duduk di tanah.
Setelah sekitar lima menit, Slamet muncul dari balik tembok. Dia tersenyum kecil melihat Sony duduk lesu di tanah, tanpa alas. “Son, kamu belum bisa. Pikiranmu terlalu banyak isinya,” katanya, dengan badan sedikit dibungkukkan. “Sudahlah. Yang penting, kamu sudah saya bawakan oleh-oleh dari sana kemarin. Masih ada, kan?” tambahnya, seolah hendak menghibur Sony.
Dalam hati, Sony membenarkan ucapan kakaknya. Dia memang tidak mampu mengosongkan pikirannya. Terlalu banyak rencana yang berkecamuk di dalam benaknya. Termasuk angan-angannya untuk membawa emas hingga setroli penuh. Dia juga meludahkan kemenyan yang dikunyahnya, karena pahit. Pada waktu mengaum, dia juga tidak sungguh-sungguh. Hanya menirukan apa yang dilakukan kakaknya.
“Met, memangnya ini batu apaan?” tanya Sony sambil menimang-nimang kedua butir batu hitam itu di telapak tangannya.
Slamet diam saja. Dia malah mengambil kedua batu itu dari telapak tangan Sony. Kemudian dia lemparkan salah satu batu tersebut ke kiri dan satunya lagi ke kanan. Ajaib, kedua batu itu berjalan menggelinding menuju telapak tangan Slamet di tanah dan kemudian saling menempel lagi. “Ini batu pengasihan. Pelet,” katanya singkat.
Sony jadi bingung. Tak paham. Untuk apa kakaknya itu memberinya aji pelet. Supaya nyeleweng, kali. Berselingkuh. Wah, itu bukan tabiatnya. Kecuali, kalau terpaksa. “Met, kok sampeyan kasih aku barang beginian?” Sony bertanya dengan setengah ketawa.
“Dapatnya itu, Son. Ya, itu yang saya kasih ke kamu. Kalau tak mau tidak apa-apa. Saya kembalikan saja.”
Akal Sony langsung berputar. Dia ambil kedua batu itu dari tangan kakaknya dan kemudian dimasukkannya ke dalam saku celana. Suatu saat nanti, kedua batu itu pasti ada gunanya.
Eureka. Jum’at kemarin, di Surabaya, dia bertemu dengan seorang klien wanita yang sangat ketus dan cenderung melecehkannya. Semua omongan Sony selalu dimentahkannya. Pendeknya, tidak ada yang beres di mata wanita beraroma wangi itu. Sebelumnya, dia memang sudah diberi tahu akan bertemu dengan Bu Narti, seorang perawan tua, tapi posisinya sangat menentukan di dalam perusahaan.
Sekarang Sony sudah bisa tersenyum. Ancang-ancang langsung disusun. Besok Senin, sebelum balik ke Jakarta, akan dia temui sekali lagi ratu cerewet itu. Akan dia pelet. Akan dia pacari. Biar dikasih banyak proyek besar. Toh, Bu Narti, sebenarnya, lumayan menarik. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung. Perawakannya juga mbodi. Lumayan tinggi untuk ukuran wanita Indonesia. Hanya saja, mulutnya suka tidak terkontrol kalau sedang berbicara. Judes.
“Son, kamu kan pemasar. Ngapain main dukun?”
Suara dari alam bawah sadar itu mengingatkan Sony. Awalnya terdengar sayup-sayup. Tapi kemudian semakin keras. Berulang-ulang. Benar. Gengsi rasanya kalau seorang pemasar harus menghancurkan sebongkah cadas dengan bantuan dukun.
“Met, kamu berikan saja batu pelet ini sama orang yang belum laku. Biar dia cepat kawin. Ada teman saya di Surabaya, perawan tua. Tolong bantu dia. Supaya cepat dapat jodoh,” kata Sony, sambil menuliskan nomor HP Bu Narti.

11. Serakah

Jadi orang jangan terlalu pintar. Karena semakin pintar, semakin gampang dikelabui. Lihat saja para korban Kospin, Qsar, Gold Coin, Ibist atau paguyuban tepu-tepu sejenisnya. Mereka semua orang-orang pintar dan terpelajar. Malahan ada yang bergelar doktor dan profesor segala. Sejumlah anggota parlemen juga termasuk di dalamnya. Tak terhitung lagi para pejabat negara, petinggi tentara, dan juga perwira polisi. Ibu rumah tangga, pensiunan, purnawirawan, guru, dukun dan bidan.
Mereka semua dengan sukarela, dan bahkan bergembira dengan wajah berseri merona, menyerahkan duitnya untuk diputar dengan kecepatan delapan belas ribu rpm. Dua kali lebih kecepatan putaran baling-baling helikopter. Dengan harapan mendapatkan imbal balik fulus berkoper-koper. Kenyataannya, sebagian besar uang itu lenyap ditelan pusaran. Jangan-jangan, sebenarnya mereka memang tidak pintar.
Organisasi-organisasi tipika-tipiki itu, tipu kanan tipu kiri, tak pernah sedikipun berminat untuk memperdayai orang bodoh. Di samping kurang menantang, orang bego biasanya tak punya uang. “Ndak level. Buang-buang waktu saja,” sesumbar mereka dengan nada menang, sambil memasukkan lembaran-lembaran uang ke dalam tas besar yang terus menggelembung.
Herannya, kejadian seperti ini terus berulang. Meninggalkan korban-korban yang malang. Dibiarkan terkapar makan tulang. Banyak orang meradang. Kaki serasa ingin menendang. Mulut bau para petualang. Yang bebas melenggang. Apakah mereka tak pernah mau belajar? Padahal mereka orang-orang terpelajar. Apakah mereka telah kehilangan nyala pijar? Yang tak mau lagi berpendar. Untuk mengingatkan manusia agar selalu sadar. Bahwa setiap orang harus bersabar. Dan itu pasti terbayar. Dasar! Manusia memang tamak.
Anton, karib Sony di kampung halaman sana, juga pernah jadi korban. Pohon berdaun emas meliuk-liuk seksi di hadapannya. Dengan belahan dada yang dibiarkan sedikit terbuka. Dan rok mini yang mengumbar paha. Menyapanya dengan kalimat-kalimat lembut bermantra, “Kamu tinggal siapkan pupuknya. Selebihnya serahkan sama saya. Ranting-ranting akan menjuntai. Daunnya melambai-lambai. Bisa dipanen berhelai-helai. Berkilau tanpa pernah padam. Suara gemerincing akan terdengar setiap malam.”
Bujuk rayu si empunya pohon emas itu, yang didendangkan oleh Karjo, juga teman Sony semasa SMA, sebenarnya sama sekali tak masuk akal. Bahkan sangat dangkal. Ketahuan jelas itu akal kadal. Janji-janji sundal. Tapi tetap terdengar senikmat cokelat. Keserakahan telah membungkam akal sehat.
Bapak, ibu, kakak, adik, pakde, bude, paklik, bulik, sepupu, sepaha, ipar, semua pada ditawari. Diajak bergabung. Semua kenalan dihubungi. Pak Lurah dan Pak Camat juga ikutan. Jadilah Anton yang berperawakan pendek dan kecil itu pengepul pupuk. “Boleh setor berapa saja. Nanti digabung jadi satu. Saya yang tanggung jawab. Sampeyan tinggal duduk-duduk manis. Koin emas akan menggelinding berlapis-lapis.”
Sedap benar kedengarannya. Semua orang pasti ngiler. Sekali dua kali tegukan air berkilau sempat menyegarkan dahaga mereka. Setelah itu tak ada lagi, setetes pun. Sudah kering. Ditunggu-tunggu juga tak kunjung datang kabarnya. Rasa was-was mulai menyergap. Jangan-jangan …. Jangan-jangan …, pikir Anton yang kian cemas dan gagap. Dia merasa harus segera bertindak sigap.
“Jo, bagaimana ini? Apakah pohonnya sudah layu?” Anton bertanya dengan curiga.
Namun Karjo terus berusaha menenangkannya dengan alasan sekenanya. “Matahari lagi tertutup awan tebal. Jadi klorofil tidak bekerja maksimal. Sabar. Jangan dulu gusar. Sebentar lagi awan akan pergi. Daun akan rimbun kembali.”
Namun awan gelap itu tak juga mau beranjak. Pohon itu layu bagai tonggak. Daunnya berguguran. Warnanya memudar. Yang tersisa hanyalah duri-duri tajam. Setajam silet, kata pembawa acara gosip di TV. Ribuan kepala langsung tertunduk lesu. Tatapan mata mereka sayu. Nafas Anton menderu-nderu. Tenggorokannya terasa kaku. Kepalanya seperti digetok palu. Dadanya serasa ditusuk-tusuk paku. Istrinya menangis tesedu-sedu. Keluarganya menanggung malu.
Karjo menghilang tanpa meninggalkan selembar pesan. Keluarganya masa bodoh dan terkesan lepas tangan. “Tidak tahu,” jawab mereka, tanpa berani menatap muka. Sony jadi teringat sebaris syair lagu mendayu-dayu yang dilantunkan Ratih Purwasih, “Jangankan menulis surat, menitip salam pun aku tak boleh ….”
Karjo. Karjo. Dua tahun kemudian Sony ketemu adiknya dalam acara halal bihalal sebuah partai politik di Jakarta. Maka dia tanyakan kabar kakaknya itu. “Bagaimana keadaan Karjo? Sudah lama tak terdengar kabarnya.”
Ichwan tampak kurang antusias menanggapi pertanyaan Sony. Sepertinya dia tak terlalu berminat untuk bercerita mengenai kakaknya. Maka Sony mengalihkan pembicaraan, berganti ke soal pekerjaan. Obrolan mereka semakin seru ketika nyerempet-nyerempet ke soal hantu.
“Karjo sekarang lebih banyak tinggal di rumah,” tiba-tiba Ichwan mengubah arah pembicaraan.
Maka mengalirlah cerita itu. Setelah terhempas oleh kasus koin emas, Karjo kehilangan gairah hidupnya. Setiap malam kerjanya cuma ngobrol ngalor-ngidul dengan pemuda-pemuda pengangguran di pos ronda. Subuh baru pulang. Kemudian tidur hingga tengah hari. Berubah dari makhluk diurnal menjadi nocturnal. Ngumpet di saat terang, keluyuran di kegelapan malam. Persis seperti kalong.
Saudara-saudaranya cemas. Tapi, anehnya, istri dan anak-anaknya tidak protes sama sekali. Mereka menganggap hal itu normal-normal saja. Bahkan mereka tetap menjalani hidup dengan gaya sok kaya. Kakak-kakak dan adiknya pun patungan modal bikin warung sembako, agar Karjo punya penghasilan. Ternyata tak juga jalan. Malahan, aset-aset warung habis dia jual. “Buat beli rokok,” katanya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“Jengkel saya. Ini orang benar-benar susah dikasih tahu,” keluh Ichwan, seolah ingin mencurahkan semua kegalauan hatinya kepada Sony. Curhat.
Sony hanya mendengarkan keluh kesahnya, tanpa memberi komentar. Sungguh tak terbayangkan, Karjo yang pintar beradu argumentasi itu telah berubah total. Dari cerita yang disampaikan adiknya, Sony merasa tak mengenal Karjo lagi. Sudah lain. Bukan lagi Karjo yang suka bercanda dan bernyanyi, dan selalu gigih mewujudkan keinginannya.
“Son, kamu kan kawan baiknya. Tolong kasih tahu dia. Jangan keluyuran malam. Bangun pagi. Kerja apa saja. Pokoknya hidup normal. Masalah uang gampang. Keluarga bisa bantu,” imbuhnya dengan tatapan mata berharap.
“Saya akan coba,” Sony mengiyakan.
“Sementara ini,” kata Ichwan menutup pembicaraan, “memang tak ada jalan lain. Secara bergantian keluarga memberikan subsidi untuk biaya hidup Karjo dan keluarganya.”
Maka, siang itu Sony menelpon Karjo. Namun dia harus menelan kecewa. Tadinya dia berharap bisa mengobrol seperti teman lama. Sony jadi keki. Omongan Karjo selalu tinggi-tinggi. Nyerocos tanpa henti. Sangat jauh dari kenyataan hidupnya sehari-hari. Makanya, sengaja dia biarkan Karjo ngomong apa saja dalam percakapan satu arah itu. “Udahan ya Jo, pulsaku habis.”
Ketika besoknya mau menelepon Karjo lagi, Sony malah ragu-ragu. Tanpa sadar ibujarinya justru memencet nomor HP Anton. “Hey, Ton, aku sudah ketemu Karjo. Ada salam untukmu. Dia bilang sekantong koin emas sudah dikuburkan di halaman belakang rumahmu. Malam Jum’at coba kamu congkel pakai kayu. Pasti ketemu.”
Anton hanya cengengesan mendengar ledekan Sony. “Ya, Son. Saya coba malam Jum’at nanti. Tolong bantu doa. Salam buat Karjo.”
Tapi Sony penasaran, mengapa Karjo suka tidur sampai tengah hari. Jadi bangsawan. Bangsane tangi awan. Tanpa sengaja dia menemukan jawabannya pada waktu melakukan hal serupa di hari libur. Mimpinya bagus-bagus. Gila. Dia terbuai mimpi cinta pertamanya, dan Bethany juga datang menghampirinya. Kali lain, dia mimpi jadi milyuner, orang terkenal, bisa terbang, bisa ngilang, dan yang asyik-asyik lainnya. Day dream. Bikin ketagihan. Don’t try this at home.
Rupanya, ketika hari terang, di mana dunia sedang berada pada puncak aktivitasnya, demikian pula lingkungan sekitar, rangsangan-rangsangan dari luar berseliweran memicu aktivitas otak orang yang sedang tidur. Makanya, orang suka dibilang mimpi di siang bolong apabila ngomongnya muluk-muluk dan berkhayal yang bukan-bukan. Ya, benar. Mimpi di siang bolong.
“Siang, Bos. Lagi banyak kerjaan kayaknya.”
Sony agak pangling dengan penampilan tamu yang datang pada saat dia sedang bersiap makan siang di kantornya, di Mampang. Berdasi dan pakai jas segala. Rambutnya yang agak panjang diikat rapi membentuk ekor kuda buntung. Tubuhnya yang tak seberapa kekar menebar wangi jantan yang khas. Sepertinya dia kenal parfum itu. Ya, Hugo Boss. Sungguh lain dari biasanya.
“Hey, Drus, keren sekali kamu hari ini. Kerja di mana sekarang? Banyak uang, ya? Bagi-bagi, dong. Oh, ya, sudah makan? Kita makan bareng, yuk.”
Sony segera memanggil Usep, office boy kepercayaannya itu. “Sep, tolong belikan soto sulungnya satu lagi. Ada tamu penting. Kamu masih ingat kan, sama Pak Idrus? Sekalian, tambah krupuk udangnya.”
Usep hanya mengangguk. Dan langsung pergi.
Idrus adalah kawan lama. Pekerja freelance ketika Sony baru memulai usaha kembali setelah perusahaannya terjengkang dihempas krisis ekonomi. Idrus. Kreativitasnya memang luar biasa. Banyak klien yang suka dan puas dengan hasil kerjanya. Dulu, ketika Sony menawarkan kepadanya untuk bergabung saja, Idrus langsung menolak mentah-mentah.
“Mas, saya nggak mau merepotkan. Sampeyan kan sudah tahu. Bagaimana bila tiba-tiba saya ngilang enam bulan untuk bertapa? Mendinginkan bara di dada. Ngunduh ilmu sambil cari pusaka.”
Kecenderungan supranatural orang Purwokerto itu memang tampak jelas dari caranya berpakaian dan bahan obrolannya. Bahkan Sony pernah mendengar Idrus membeli seekor burung perkutut sakti seharga dua puluh juta. Tak disangka-sangka, besoknya burung itu mati begitu saja. Jagat klenik pula yang membawanya masuk ke dalam lingkaran pergaulan yang sangat luas. Idrus punya banyak kawan. Mulai dari kalangan selebriti hingga petinggi tentara.
“Saya jadi salesman sekarang,” katanya, tanpa menatap mata Sony. Lelaki berjenggot dan berkumis itu sedang sibuk berjoget lidah dengan semangkuk soto. Sendok di tangan kanan, krupuk di tangan kiri. Garpu dia biarkan merana di meja. Tanpa pernah disentuhnya. Idrus menyeruput kuah soto yang panas itu dengan lahapnya. Keringat mulai menitik di keningnya. Garis bibirnya agak bergetar memerah.
Dari caranya mengunyah, Sony tahu kawan lamanya itu sangat menikmati makanan kegemarannya. “Jualan apa, Drus?” tanya Sony, sambil menyelesaikan satu gigitan lagi krupuk udang yang renyah.
“Begini. Saya disuruh Jenderal Kancil menukarkan uangnya. Dari rupiah ke dolar Amerika. Dia mau terima dolar minimal satu juta. Harganya dua puluh persen lebih murah.”
Kemudian dia bercerita mengenai kenalannya. Sesama pemburu pusaka. Seorang tentara yang kaya raya. Uang berjibun disimpan di rumahnya. Hingga dua kamar banyaknya. Dalam tumpukan-tumpukan kardus yang tertata. Semuanya pecahan lima puluh ribu rupiah. Dia takut bank bertanya. Dari mana duit itu asalnya.
“Kenapa tidak pergi ke money changer saja?” tanya Sony asal bunyi. Sebab, bila Idrus mau menawarkan uang segede itu kepadanya, jelas dia tak punya.
“Ya tidak mungkin kita jual ke pedagang valuta. Terlalu besar jumlahnya. Mereka akan curiga. Kita bisa celaka. Makanya saya datang ke sini. Kalau ada kawan yang mau, tolong saya dikasih rekomendasi.”
Rupanya sudah hampir empat bulan dia pergi kesana-kemari. Tapi belum ada satu pun yang tergenggam jemari. Kemudian dia bercerita lagi bahwa duit seabrek itu dijaga oleh empat orang tentara. Tapi si empunya masih was-was hatinya. Sehingga harus ditambahkan sepeleton jin untuk mengawalnya. Sudrun nama komandannya.
Setelah ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba Idrus melontarkan sebuah ajakan maut yang tak pernah sedikit pun terlintas dalam benak Sony. “Mas, bagaimana kalau sebagian uang itu kita colong saja. Hasilnya kita bagi dua. Saya pernah bicara sama Sudrun. Dia bilang mau bantu.”
Edan. Beginilah cara berpikir orang yang sudah putus asa. Atau, memang sudah sifat manusia untuk menjadi serakah. Dengan menghalalkan segala cara. Asalkan tercapai tujuannya. Tapi, aneh bin ajaib, Sony terpancing oleh ajakannya. “Bagaimana caranya, Drus?” tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Idrus pun membeberkan rencananya. “Kita pakai kantor ini. Di sini. Ya, di sini. Di ruangan ini,” katanya, seraya memperhatikan dengan seksama setiap jengkal ruang kerja Sony. Dia tampak tersenyum setelah melihat ada jendela kaca yang dapat dibuka-tutup.
Tapi Sony masih belum mengerti maksudnya. Kalau mau nyolong, kan harus pergi ke rumah Jenderal Kancil. Pakai kostum hitam dan menyelinap di malam hari. Mengendap-endap membongkar kunci. “Maksudnya bagaimana, Drus?” tanya Sony dengan tak sabar.
“Begini, malam Jum’at nanti, tengah malam, kita di sini. Tinggal menunggu saja. Sudrun dan anak buahnya akan membawa uang itu ke sini. Yang penting jendela dibuka. Maka uang akan melayang-layang dan masuk. Bertumpuk-tumpuk. Besok saya temui Sudrun, untuk membicarakan rencana ini.”
Tak berapa lama kemudian Idrus pamit pulang. Sony menyuruh Tukijan mengantarnya. Ini tamu yang sangat penting. VVIP. Harus diservis habis-habisan.
Sony benar-benar termakan oleh rencana jahat itu. Khayalannya langsung melayang-layang. Paling tidak bisa beli Jaguar barang sebiji. Tapi, tunggu dulu. Bagaimana mungkin hasilnya dibagi dua? Kan ada pihak ketiga? Sudrun dan konco-konco-nya. Emangnya dia mau kerja gratisan. Mana mungkin? Bagaimana kalau dia minta imbalan nyawa?
Sony jadi ketakutan sendiri memikirkannya. Gamang hatinya. Tapi ini urusan duit besar. Sayang kalau dilepas begitu saja. Lama sekali dia terpekur memikirkan jalan keluar yang paling mungkin dan aman, sampai akhirnya dia temukan solusi yang tokcer. Bila Sudrun benar-benar minta imbalan nyawa, itu tak masalah. Asal jangan nyawanya. Ambil saja salah satu nyawa dari kantor sebelah. Karena mereka suka menyerobot tempat parkirnya. Beres sudah.
Kamis sore, langit temaram. Pukul setengah enam. Semua karyawan sudah pada menghilang. Tukijan sudah duluan dia suruh pulang. “Ada pekerjaan penting yang harus saya selesaikan malam ini,” kata Sony kepada Usep, yang tampak agak bingung.
Office boy itu dia tahan hingga pukul delapan. Sony menghabiskan waktu dengan main games di laptop. Menunggu Idrus datang berselop. Tapi, hingga pukul sepuluh, pintu belum juga ada yang mengetuk. Sementara Sony mulai diserang rasa kantuk. Sambil menguap dia menengok jam di dinding. Jarum-jarumnya runcing menuding. Bulu kuduknya terasa agak merinding.
“Drus …. Idrus …. Di mana kamu? Ini sudah jam dua belas malam. Aku takut Sudrun keburu bertandang.”
Tak ada yang menjawab. Senyap. Dan tidak pula ada yang datang. Panggilan telepon tak berjawab. SMS tak bertanggap. Sony pun merebahkan diri di sofa. Langsung pulas.
Keesokan paginya Sony buru-buru menghubungi Idrus. Tapi HP-nya mati terus. Dia berusaha tanpa putus. Hingga panggilan keseratus. Tak juga tembus. Gagal sudah rencana dapat fulus. Kini saatnya pergi ke kakus. Membuang isi usus. Ampas nasi bungkus. Sambil nongkrong, pikirannya berputar-putar dalam beberapa jurus.
Jangan-jangan Idrus telah dikhianati oleh Sudrun. Bisa jadi jin plin-plan itu melapor kepada majikannya mengenai rencana konspirasi kelas kakap. Sehingga Idrus langsung ditangkap. Pergelangan tangannya digari. Sementara di keningnya sepucuk pestol menari-nari. Pelatuknya tinggal menunggu ditekan dengan jari.
Sudah. Sudah. Sony membuang jauh-jauh pikiran buruk itu. Tak mau lagi dia berhubungan dengan Idrus. Bikin perut murus. Otak kobong. Tolooong … tolooong … tolooong ….
“Mas, tolong Candra. Saya tak tahu harus bagaimana. Barang-barang di rumah sudah ludes semua. Dijual paksa. Sebagian lagi disita. Keluarga sudah pasrah. Nyerah.”
Perempuan tua itu terisak di kantor Sony. Suaranya terbata-bata. Tersendat-sendat mengalirkan kata. Berkali-kali dia menyeka matanya yang berkaca-kaca. Dengan sapu tangan yang terbuat dari kain perca. Di lehernya menggantung kacamata baca.
Candra, putra kebanggaannya itu, keranjingan berburu harta karun. Ke mana-mana yang dicari selalu dukun. Kalau diajak bicara lagaknya seperti orang pilun. Menyeringai sambil mengelus jakun. Meski kadang-kadang memasang muka tekun. Lehernya bergoyang-goyang seperti ayam kalkun.
Candra sahabat Sony semasa kuliah. Pernah bersama-sama dalam senang dan susah. Rasanya sudah lama dia tak bersua dengannya. Semenjak Candra melanjutkan studinya ke Australia. Memang, setahun sebelumnya Candra pernah datang ke kantornya. Sekali saja. Hanya sempat bertukar beberapa kata. Tampaknya dia sedang tergesa-gesa. Saat pamit pulang dia mengutarakan niatnya. Mau pinjam fulus seratus juta. Dengan jaminan selembar sertifikat tanah. Ditambah sebaris sumpah. Katanya sedang urus bisnis permata. Batu merah delima.
Sony tak bisa memenuhi permintaannya. “Sorry, Ndra. Aku nggak bisa kasih, karena uang saya harus terus diputar. Tapi, kalau kamu ada kesulitan, aku bisa bantu,” katanya sambil memberikan amplop berisi uang dua juta.
Candra. Candra. Candra. Dulu Sony mengenalnya sebagai mahasiswa yang pintar. Gemar memetik gitar. Memelihara seekor ular. Meski omongannya kadang berputar-putar. Tapi tak pernah kehilangan kelakar. Senyumnya lebar. Raut mukanya selalu bersinar. Dahinya bundar. Dengan aura terang yang senantiasa memancar. Tutur katanya halus dan mengalir lancar. Setahun sekali dia ganti pacar. Cewek-cewek yang naksir pada ngantri berjajar. Dengan hati yang bergetar. Sony iri kepadanya.
Tapi kini Candra telah banyak berubah. Garis wajahnya kaku seperti muka kuda. Bajunya dekil berwarna ungu muda. Jaketnya tengil berlubang di dada. Dalam usianya sudah tak lagi muda, dia hidup melajang tak berkeluarga. Sehari-hari numpang di rumah orangtuanya. Sony pernah mendengar Candra sudah menduda.
Candra menerlantarkan bisnisnya dengan sumpah serapah. Akibat rencana yang mentah. Rugi segede gajah. Merasa masa depannya patah-patah. Dia beralih mengejar harta dari antah berantah. Dengan pancingan sepotong emas dan asap dupa. Berharap akan berjatuhan latakan-latakan kuning menyala. Dari langit yang tak berwarna. Di tengah orang-orang yang duduk bersila. Wajah-wajah serius mengadu asa. Siapa tahu keberuntungan segera tiba. Dan impian jadi nyata. Dengan merapalkan mantra. Tanpa pernah tahu apa maknanya.
Mulut mbah dukun komat-kamit. Mengunyah kunyit. Tangannya mengayun-ayunkan sendal jepit. Mencoba memanggil demit. Ditunggu hingga bermenit-menit. Belum juga muncul pertanda barang sekelumit.
“Ada yang belum ikhlas hatinya,” kilah Mbah Cokro yang alis matanya putih menjuntai itu.
Lempengan emas seberat seratus gram, yang dibeli secara patungan oleh Candra bersama ketiga orang temannya, lenyap begitu saja. Sedikit pun tak bersisa. Ini bukan tipuan mata. Tapi sesuatu yang nyata. Padahal tadi jelas-jelas ditanam di hadapan mereka. Oleh dua orang asisten dukun celaka. Yang bekerja tanpa berkata-kata.
Candra tak percaya dengan penglihatannya. Tangannya langsung meraba-raba. Tapi tidak ada apa-apa di sana. Setelah mengorek-ngorek tanah agak dalam lagi, dia temukan sepotong kayu kecil berwana cokelat muda. Ukurannya persis sama. Bentuknya serupa. Dengan latakan emas yang telah sirna. Hanya berbeda warna. Dan, tentu saja, lain jenisnya.
“Minggu depan kita ulangi. Maharnya lebih tinggi. Dua ratus gram,” kata mbah dukun yang berwajah garang itu.
Anehnya, mereka menurut saja. Berkali-kali nyaris belaka. Dan maharnya semakin besar pula.
Seorang mantan pejabat pernah jadi korban. Rayuan gombal menggiringnya masuk ke dalam sebuah jebakan. Meski tak terlalu akrab, Sony cukup lama mengenalnya. Malang benar nasibnya. Pria terhormat bergelar doktor itu harus kehilangan fulus. Sebanyak lima kardus. Dalam jutaan, nilainya mencapai tujuh ratus. Hangus.
Petaka bermula dari hasrat yang membabi buta. Mengejar harta durjana dengan cara-cara yang nista. Modalnya memang sangat besar. Tapi dia haqul yakin duitnya bakal mekar. Sudah disiapkan dua truk kekar. Diparkir di sela-sela belukar. Kendaraan raksasa beroda sepuluh itu akan pulang dengan berkardus-kardus uang. Setiap truk diberi tanda silang. Supirnya dikawal oleh dua orang pawang. Masing-masing bersenjatakan pestol dan kelewang. Juga cabe rawit dan bawang. Ditusuk-tusuk melintang. Untuk menangkal tuyul jail dalam perjalanan pulang.
Di tengah hutan mereka berhimpun. Tanpa nyanyian-nyanyian gembira ataupun api unggun. Tak seperti Pramuka yang ramai-ramai berkemah sekali dalam setahun. Sebaliknya, hanya wajah-wajah yang tekun. Dengan duduk bersila mereka melakukan ritual dipimpin mbah dukun. Mengelilingi kardus-kardus berisi uang yang telah disusun. Tertutup rapi di bawah tumpukan daun. Rapalan-rapalan mantra segera mengalun. Tubuh sang dukun terayun-ayun.
Secara perlahan muncul kabut pekat. Sementara bau dupa kian menyengat. Lingkaran manusia itu mulai merapat. Membentuk segi empat. Mantra-mantra dilafalkan dengan penuh semangat. Dalam hentakan nada cepat. Untuk mengundang arwah jahat. Yang datang tanpa pakai cawat. Maka setan-setan besepakat. Membawa mereka ke jalan sesat.
Psssttt …. Terdengar bunyi mendesis dari dalam tumpukan daun. Tangan mbah dukun langsung berhenti mengayun. Kepala diangkat, mata menatap langit. Keningnya sedikit berkernyit. Ini dia. Mantra itu sudah bekerja. Angan-angan sudah di depan mata. Kardus-kardus itu pasti akan segera menggunung seperti tumpukan batu bata.
Namun, segaris api yang berkilat tiba-tiba menyambar. Anak-anaknya yang menyengat berlarian berkobar-berkobar. Tanpa banyak koar-koar. Langsung berbuat makar. Kardus-kardus berisi uang itu habis terbakar. Keenam kaki-tangan mbah dukun saling melirik dengan lobang hidung yang mekar. Karena sesungguhnya kardus-kardus itu telah mereka tukar. Di dalamnya ditaruh potongan koran berlembar-lembar. Ditetesi sedikit minyak ketumbar. Penanda yang baunya samar. Agar tak salah kamar. Pasti mereka dapat persenan besar.
Dukun Sumo yang perutnya buncit itu berjalan menghampiri Pak Doktor. Tatapan matanya begitu kotor. Dengan nada tinggi dia menghardik pria baya yang sedang kebingungan tersebut, “Sampeyan tidak ikhlas. Akibatnya, mahar amblas.” Sambil membuang muka, tangannya mengibas-ngibas. Bergerak-gerak seperti kipas. Mengusir hawa panas. Diteguknya air putih segelas.
Ini orang benar-benar raja tega. Tabiat celaka. Sony menduga mbah dukun pernah bergabung dalam sebuah teater. Terlihat benar dia piawai memainkan karakter. Sekalipun harus berperan sebagai dokter.
Kasihan Pak Doktor yang badannya pendek gemuk seperti Semar. Dia terduduk lesu dengan hati memar. Perasaannya hambar. Matanya nanar. Otaknya serasa terbakar. Sudah kehilangan uang, dicaci maki pula.
Sony jadi bertanya-tanya, benarkah jin bisa kasih manusia harta berlimpah? Banyak orang yang percaya begitu. Seperti Pak Doktor itu. Sony sendiri tak tahu. “Seandainya saja ketemu jin, akan aku tanyakan masalah itu. Tapi hingga hari ini, belum pernah ketemu. Tak tahu jin itu rupanya kayak apa, baunya seperti apa, kesaktiannya setinggi apa,” kata Sony kepada Heru, yang terlihat bosan karena diajak ngobrol terus sedari siang. Sampai lupa makan.
“Kalau Bapak ingin lihat jin, ada orang yang bisa bantu.” Sony teringat perkataan Pak RT dua bulan lalu. Ketika mereka sedang kerja bakti di hari Minggu. “Biayanya tiga juta. Tidak pakai syarat puasa,” dia menambahkan sambil menyebutkan nama seorang kyai yang tinggal di Jakarta Timur.
Kalau harus pakai biaya, Sony pasti ogah. Sebaliknya, dia akan minta uang sama jin. Akan ditolaknya bila hanya dikasih nomor togel. Terlalu banyak ketidakpastian. Harus diramesi dulu. Dan itu pun belum tentu tepat. Karena jin menyebutkan angka-angka dalam bahasanya sendiri. Sementara orang harus menafsirkannya ke dalam bahasa manusia.
“Met, memangnya ada orang yang pernah dikasih duit sama jin?” tanya Sony kepada Slamet, kakaknya yang dukun itu, ketika dia sedang berkunjung ke rumahnya, mengantarkan mangga hasil panen di kampung halaman sana.
“Ada. Di Bogor. Diberi dua karung.”
Sony jadi bertanya-tanya. Duit kok ukurannya karung, bukan juta atau milyar. Dan lagi, tidak dirinci apakah karungnya besar atau kecil. Bekas atau baru. Kalau isinya pecahan logam seratus rupiah semua, atau duit seribuan, sama juga bo’ong. Berapa nilainya?
“Bagaimana caranya agar jin mau kasih saya duit?” Sony mulai melemparkan pancingan iseng.
Anehnya, kali ini Slamet tidak langsung menyambar umpan yang renyah itu. Sebaliknya, dia menatap mata Sony dalam-dalam. Dari matanya mengalir seutas cahaya tipis berwarna biru yang menembus syaraf-syaraf penglihatan Sony, mengalir ke otaknya dengan berkelok-kelok dan kemudian turun menyusuri ruas-ruas tulang belakang, berhenti dan mentok di tulang ekor. Bokongnya terasa sedikit panas. Sony jadi tidak mengerti, kok begini jadinya. Agak rikuh juga dia.
“Kalau kamu, ndak mungkin dikasih. Lha wong kamu serakah,” jawabnya dengan seenaknya sambil menyeruput kopi panas yang baru saja dihidangkan Febriana.
Sialan, dibilang serakah. Terus terang saja, Sony benar-benar tersinggung dikatain serakah. Dia sama sekali bukan orang yang serakah. Cuma mata duitan.
Bukannya mbelain, Fadli yang duduk di sampingnya malah ikut-ikutan memojokkannya. “Bisa saja kamu dikasih duit banyak, tapi uang jin. Mau dipakai beli apa? Belanja di mana? Paling-paling harus pergi dulu ke pasar jin.”
Benar juga apa yang dia bilang. Money changer pasti menolak duit jin. Demikian pula bank. Di samping tidak tahu harus ditukar pada nilai kurs berapa, pasti mereka juga kebingungan harus dijual ke mana lagi uang jin itu.
Tapi, tunggu sebentar. Bagaimana, ya, kira-kira bentuk uang jin? Apakah sama dengan duit manusia? Bisa jadi wujudnya bermacam-macam. Segitiga, jajaran genjang, lingkaran, pita atau bulatan-bulatan kecil seperti permen karet yang berwarna-warni. Kalau memang demikian, berarti manusia selama ini kurang kreatif, karena hanya mengenal alat tukar dalam bentuk koin dan kertas yang dipotong-potong persegi panjang.
“Potong yang benar! Ukurannya harus sama persis. Kalau perlu saya bayar lebih.” Candra memaki pegawai toko kertas itu. Dia merasa tidak dihargai dan dilecehkan. Pemuda yang rambutnya panjang dikelabang tersebut senyam-senyum melulu. Rekan kerja di sebelahnya, yang membantunya menata dalam tumpukan-tumpukan rapi potongan-potongan kecil kertas itu, juga demikian. Mereka saling lempar kedipan. Dengan seulas senyuman kecil yang tertahan.
Candra membeli kertas HVS 80 gram ukuran plano besar sebanyak tiga rim. Dipotong-potong seukuran duit seratus ribu. Selembar uang merah dijadikan mal untuk ditiru. Diukur secara teliti. Tak boleh meleset barang semili, apalagi sesenti. Dia periksa ulang setiap sisi. Semuanya harus presisi. Kemudian dia bawa pergi ketiga bungkusan besar itu dengan taksi.
Bahan baku sudah siap, pikirnya. Sekarang harus cari kongsi untuk patungan beli minyak Jafaron. Ini bukan minyak sembarangan. Didatangkan langsung dari Arab. Konon, parfum ini sangat disukai bangsa jin dari kalangan atas, baik generasi tua maupun remaja. Parfum pilihan. Sekelas Channel di dunia manusia. Satu tetes harganya empat juta. Dibutuhkan satu ampul kecil agar jin sakti mau datang untuk menyulap potongan-potongan kertas itu menjadi lembaran-lembaran rupiah.
Candra mencoba menghubungi teman-temannya sesama pemburu harta. Sebagian tinggal di luar kota. Namun banyak juga yang berumah di Jakarta. Sungguh sial. Tak seorang pun memberi sinyal. Mereka semua pada tiarap. Kehabisan cakap. Karena baru dikerjain habis-habisan oleh seorang dukun keparat dari Cilacap.
Candra kebingungan. Duit yang ada di tangannya hanya lima belas juta. Bahkan sudah berkurang lima puluh ribu. Dipakai beli rokok dan makan siang. Ditimang-timangnya segepok uang lusuh yang berikat karet gelang berwarna kuning mentah. Hasil penjualan motor kesayangan adiknya dan semua perhiasan ibunya.
Sepuluh juta sudah dialokasikan untuk jasa mbah dukun. Angka itu sama sekali tak bisa ditawar. Sedangkan yang satu juta untuk biaya transport dan kelengkapan ritual. Berarti hanya bisa beli satu tetes. Padahal satu ampul harusnya berisi dua puluh empat tetes. Masih jauh. Tapi Candra tak kehilangan akal. Beli satu tetes saja. Nanti dicampur alkohol. Jin yang kurang teliti pasti tidak tahu. Beginilah, cara berpikir orang yang biasa beli parfum tembakan.
Candra segera berangkat ke rumah gurunya, Mbah Bardam, di Sukabumi. Sang dukun ternyata tak tahu kalau minyak Jafaron itu oplosan. Berarti aman, pikirnya. Tinggal syarat-syarat tambahan. Kembang tujuh rupa. Air dari tujuh sumur yang berbeda. Tujuh butir merica. Seekor ayam jantan putih mulus. Dan terakhir, sepotong celana dalam gadis perawan, harus sudah dipakai tapi belum dicuci. Lebih afdol lagi kalau ada sedikit bekas pipis.
Sudah siap semua sekarang. Kertas bahan baku bersama kelengkapan lainnya kemudian dibungkus dengan tiga lapis kain kafan. Kecuali ayam jago, yang dipotong dan digoreng dengan bumbu kuning. Bagian dada dan brutu disantap Mbah Bardam. Paha dan sayap sudah diembat duluan sama istrinya di dapur. Leher hingga kerongkongan khusus dipersembahkan untuk Timung, kucing belang kesayangan sang dukun. Candra cuma kebagian ceker.
Tak apalah, pikirnya. Sesekali ngalah sama kucing. Lihat saja nanti. Kalau duitnya sudah jadi, akan dia belikan kucing malas itu seratus ekor ayam potong. Biar overweight, dan kolesterolnya naik. Stroke, kemudian mati. We lha, balas dendam kok sama kucing.
“Dung dung pret, ada kodok disangka kampret.”
Setelah tuntas dijampi-jampi selama tiga hari tiga malam di sebuah kamar yang gelap dan pengap, bungkusan itu harus diperam dulu selama tiga minggu. Tak boleh dikutak-katik. Apalagi diintip. Biar cepat matang. Pasukan jin akan melukis kertas-kertas itu menjadi uang.
“Tanggal lima belas kamu datang lagi ke sini. Bawa pengawal. Biar pulangnya aman,” ujar Mbah Bardam sambil mengulurkan bungkusan kecil yang terbuat dari kain kasar berwarna hitam kepada Candra. “Ini jengger ayam jago. Simpan baik-baik. Warnanya harus tetap merah. Jangan lupa, setiap tengah malam kamu bacakan mantranya. Seribu kali banyaknya. Sudah hapal belum?” sekali lagi dukun sakti itu mengingatkannya.
“Ya, Mbah, sudah tahu. Dung dung pret, ada kodok disangka kampret. Gitu, kan?”
Mbah Bardam menangguk sambil tersenyum.
Maka, pada hari yang telah ditentukan, Candra sudah siap menjadi orang kaya. Dia pinjam baju dan sepatu adiknya. Agak kekecilan memang. Tapi terlihat lebih seksi. Mobil angkot sengaja disewa dari tetangga sebelah. Dua orang preman menemani. Yang satu berbadan ceking dan wajahnya penuh dengan jerawat besar-besar, sedangkan yang satunya lagi gendut luar biasa. Persis seperti angka sepuluh bila mereka berjalan bersama.
Sobar, si gendut itu, badannya penuh lukisan. Di dadanya tergambar tato besar sendok dan garpu menyilang di atas sebuah mangkuk. Sebagai penanda bahwa dia seorang jagoan. Jago makan. Memang, Sobar sohib kental Benu Buloe si jurumakan. Mereka berkenalan di rumah sakit MMC ketika sama-sama hendak melakukan operasi tambah lambung. Sobar baru pertama kali, sedangkan si Benu kedua kali. Jadi, lambung Benu Buloe sekarang ada tiga. “Biar tambah kuat makan,” katanya.
“Maaf ya, tidak ada makanan. Istri saya lagi pulang ke rumah bapaknya,” kata Mbah Bardam seraya mengajak tamunya masuk ke dalam rumah.
Candra sama sekali tak terpikir soal makan. “Bagaimana, Mbah, sudah bisa dibuka?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja bahkan sebelum dia dipersilahkan duduk oleh si empunya rumah. Kelihatan sekali, Candra sudah tak sabaran.
“Kalau begitu, mari kita buka sama-sama.”
Mereka pun berjalan beriring menuju kamar di mana bungkusan itu disimpan. Lampu segera menyala dan tali pengikat dibuka. Weesssss …. Candra melonjak kegirangan melihat duit merah bertumpuk-tumpuk. Kesampaian sudah impiannya. Pikirannya langsung melayang-layang. Mau beli ini beli itu. Pokoknya bela-beli.
“Ini bonusnya, Mbah,” katanya sambil memberikan tiga gepok uang kepada mbah dukun. “Tapi Mbah Bardam jangan kawin lagi, ya,” tambahnya sambil bercanda. Bahkan, si Timung, kucing belang kesayangan mbah dukun, yang saat itu anguk-anguk di depan pintu, dia kasih dua lembar.
“Baaaaarrr …. Duuuuulll …, sini …. Bantu saya angkat ini.”
Bungkusan yang cukup berat itu pun mereka gotong bertiga dan dimasukkan ke dalam mobil.
“Sudah beres? Aman?”
Sekali lagi Candra memastikan semuanya aman dan terkendali. Dengan teropong besar bermotif loreng bikinan Cina dia mengawasi lingkungan sekitar. Sambil berputar-putar, dia perhatikan dengan seksama setiap rimbun pepohonan. Siapa tahu, ada orang jahat yang sedang mengintai dari balik dedaunan. Dia tak ingin kecolongan kali ini. Karena duit itu sudah benar-benar menjelma.
“Ini jatah kalian.”
Masing-masing preman mendapat segepok uang. Gembira benar mereka. Belum pernah pegang fulus sebanyak itu. Saking gembiranya, Sobar melemparkan duit itu ke atas sehingga beterbangan dan jatuh berceceran di tanah. Hujan uang. Kayak di filem-filem.
“Lha, Bos, uang apaan ini? Masa gambarnya hanya sebelah?”
Dengan berjongkok, Sobar terus membolak-balik uang yang berserakan di tanah. Sementara Adul langsung memeriksa uang yang ada di tangannya. Sialan. Sama saja. Maka dicampakkannya uang merah bermuka satu itu ke tanah. Makin luas saja hamparan karpet dengan kombinasi warna merah putih di tanah yang berdebu itu. Sebagian malah terbang terbawa angin.
Candra tertegun. Berdegup keras jantungnya. Ubun-ubunnya terasa mendidih. Nafasnya tersengal. Matanya gatal. Benar. Duit itu bergambar satu muka. Balikannya kosong melompong. Putih bersih. Tidak ada gambar apapun. Candra langsung melompat ke dalam mobil dan buru-buru membuka bungkusan kain kafan. Dia bongkar tumpukan duit itu. Cilaka. Semuanya cuma bergambar satu muka. Lututnya terasa lemas. Dadanya panas. Susah bernafas. Impiannya kandas.
Mendengar keributan itu, mbah dukun tergopoh-gopoh mendatangi mereka. Dia ikut-ikutan memeriksa tumpukan uang tersebut. Dibolak-balik. Dikibas-kibaskan. Dibacakan mantra. Tetap saja tak berubah. Semuanya satu muka.
“Kalau dipakai beli sepatu dapat sebelah.” Adul yang sedari tadi membisu tiba-tiba nyeletuk.
Mbah dukun langsung berlari ke dalam rumah. Tiga gepok uang yang diterimanya tadi ternyata juga sama. Segera dia balik lagi ke mobil. Dia periksa sekali lagi tumpukan uang setengah jadi itu. Dibantu Sobar dan Adul, dia turunkan bungkusan tersebut. Diletakkan di tanah. Dia teliti sisa-sisa sesaji. Merica masih utuh. Air tujuh sumur tinggal sedikit, mungkin menguap. Celana dalam gadis perawan juga tidak robek, dan masih bau pesing. Kembang tujuh rupa kering semua. Terakhir, hidungnya mengendus-endus tumpukan sesajen.
“Ndra, kamu pakai minyak Jafaron palsu, ya? Beli di mana? Masa tidak ada sisa baunya sama sekali.”
Candra diam saja. Bergerak pun dia tak kuasa.
“Kita lem saja. Biar jadi dua muka.” Rupanya Sobar punya usulan jitu. Dia mencoba menempelkan dua lembar uang setengah jadi itu menjadi satu. Dilem dengan ludahnya. Dicampur sedikit ingus. Biar tidak terlalu encer. Di samping kirinya, Adul memperhatikan dengan seksama usaha keras kawannya itu. Dia rebut uang hasil rekayasa tersebut dari tangan Sobar. Dia bolak-balik.
“Betul Bar. Dua muka. Depan belakang sama. Dipakai beli sepatu dapat dua. Kiri semua,” kata Adul, sambil melemparkan uang yang bau jigong itu ke tanah. Dia sangat kecewa. Karena tidak jadi beli sepatu yang sudah lama diidam-idamkannya.
Sementara dari dalam rumah, si belang Timung berjalan gontai menghampiri mereka, dengan dua lembar uang merah di mulutnya. Diletakkannya uang itu di atas sepatu Candra. Dia ingin mengembalikannya.
Empat bulan berlalu semenjak kejadian uang satu muka, Candra datang ke kantor Sony ditemani ibunya.
“Ya sudah, Ndra. Kamu kerja di sini saja,” kata Sony.
Sesungguhnya, Sony dan ibu Candra sudah mengatur pertemuan itu dua minggu sebelumnya. Pada mulanya memang agak kaku. Tapi soto sulung berhasil mencairkan suasana. Mereka mengobrol sambil tertawa-tawa lepas. Sampai mulas. Bernostalgia, mengingat masa-masa jaya ketika kuliah.
Senang melihat Candra bisa tertawa lagi. Sepertinya sebagian beban berat itu telah terangkat dari pikirannya. Sony ingin membantu Candra. Keluar dari dunia khayal para pemburu. Sehingga tak perlu lagi keluar masuk hutan tanpa bekal peluru. Hanya untuk ditipu.
Candra seorang pekerja luar biasa. Pintar dan cepat mengerti. Sony mempercayakan beberapa klien kepadanya. Untuk diurus dan dilayani. Dia bekerja sama lumayan padu dengan Heru, yang mendapat tugas khusus dari Sony untuk membimbingnya.
Hampir setahun, banyak kemajuan yang diraih, bagi Candra maupun bagi Sony. Hingga pada suatu sore Candra menghadap Sony, dengan mata berkaca-kaca. “Saya mengundurkan diri.”
Sony masih tak mempercayai pendengarannya. “Apa?”
“Mengundurkan diri,” sahut Candra, sekali lagi.
Sony akhirnya mengiyakan, walaupun sedikit khawatir. Takut kalau-kalau Candra kambuh lagi. Bergelut dengan dunia gaib kembali. Kekhawatiran Sony ternyata tak terbukti. Lega hatinya, mendengar kabar Candra sudah bikin usaha sendiri. Bergabung dengan Jupri, mantan karyawannya. Beberapa klien Sony dia ambil. Biar saja. Sony tak terlalu pusing. Bisa dicari lagi.
Tapi dia benar-benar gundah ketika delapan bulan kemudian mendapat berita kurang sedap. Candra dicari-cari orang. Beberapa pemasoknya ngamuk-ngamuk, karena belum pernah dibayar. Di mana kamu, Ndra? HP-nya mati. Tak pernah bisa dihubungi. Akhirnya Jupri ditangkap polisi. Candra menghilang ditelan bumi.
Dung dung pret, ada kodok disangka kampret.

12. Hantu

Seumur-umur, belum pernah sekalipun Sony melihat hantu. Padahal dia sangat antusias kalau diajak ngobrol soal hantu. Ingin sekali rasanya dia berkenalan dengan hantu. Kakaknya yang dukun itu pernah menjajikan akan membantunya melihat hantu. Tapi lupa-lupa melulu.
Namun, Sony tak tahu bagaimana reaksinya apabila suatu saat nanti bertemu. Pingsan, atau, malahan hantu takut kepadanya, karena terkadang dia suka menggerutu. Memaki dengan mata beradu. Dan melempar sepatu. Paling tidak, Sony ingin berjumpa dengan hantu tak berkepala dari Pemakaman Jeruk Purut itu. Karena menurutnya hantu yang satu ini sungguh beruntung. Setiap kali bangun tidur tak perlu repot-repot cuci muka.
Hantu. Siapakah dirimu? Apakah engkau berbulu? Apa makanan kesukaanmu? Di manakah tempat tinggalmu? Apa di balik kelambu? Atau di bawah rumpun bambu? Di sela-sela semak dan perdu? Di sungai tak berhulu? Di gunung yang biru? Di rumah kosong tak berpenunggu? Kenapa engkau suka mengganggu? Apa gerangan daya tarikmu? Sehingga orang gemar memperbincangkanmu. Dengan menggebu-gebu. Apakah mereka hanya terdorong oleh rasa ingin tahu? Mengenai duniamu yang kelabu. Di tempat-tempat yang berkabut susu. Mereka menebar kembang pada empat penjuru. Membakar dupa mengundang kehadiranmu. Jangan-jangan, mereka memang hendak bersekutu. Dalam jalinan kerja sama yang saling menipu. Sudalah, tak tahu.
Suster ngesot akan mengadakan pertemuan dengan hantu Casablanca. Begitulah kabar yang Sony terima. Notaris belulang telah dipanggil. Mereka juga sudah bertemu dengan bankir yang tewas diracuni oleh seorang WIL. Beberapa pekerja yang mati bunuh diri setelah terkena PHK juga sudah hadir. Mereka berdua sedang berancang-ancang membangun bisnis berbau anyir. Mendirikan asrama untuk menampung para penghuni kubur yang tergusur.
Jadwal rapat tinggal menunggu hitungan mundur. Pertemuan akan dilangsungkan di Ciganjur. Tak jauh dari rumah Gus Dur. Dari pukul sepuluh pagi hingga menjelang dhuhur. Sekalian sambil iseng mengganggu siswi-siswi yang masih bau kencur. Bikin mereka kesurupan masal hingga kaku terbujur. Meronta-ronta dengan tubuh melengkung seperti busur. Sambil berteriak-teriak ngawur. Seolah baru bangkit dari kubur.
Genre filem hantu berpesta pora menangguk rupiah. Jelangkung mengawali tapak langkah. Filem-filem sejenis langsung mengikutinya. Terus tertawa menikmati masa jaya. Produsernya gonta-ganti mobil yang lebih bergaya. Tambah selingkuhan pula, katanya. Tak dinyana tiba-tiba kaya raya. Karena penontonnya rata-rata di atas satu juta. Jumlah itu belum termasuk setan, jin, demit, kuntilanak, pocong, tuyul, jelangkung dan gendoruwoh yang ikut nonton tanpa membeli karcis. Mereka datang dengan berbaris. Mulut terkunci tapi mengeluarkan bunyi mendesis. Karena mendapat tontonan gratis. Berbaur bersama remaja-remaja yang lagi demam busana bermotif garis.
Seorang penonton wanita ketakutan setengah mati hingga kebelet pipis. Karena tak tahan lagi dia menyilangkan betis. Dibenamkannya kepalanya ke dada cowoknya yang berwajah klimis. Menangis. Sang cowok tersenyum lebar sambil meringis. Di tangannya tergenggam sebatang linggis. Sementara di luar sana hujan gerimis.
Para remaja ramai-ramai menonton filem hantu sebagai ajang berpacaran. Berangkat bersama dalam satu rombongan. Kemudian berpencar berpasang-pasangan. Asyik berdua-duaan. Kiri kanan semua orang saling berdekap-dekapan. Sebagian malah bercium-ciuman. Sambil berpegangan tangan. Main elus-elusan. Semakin menakutkan adegan, semakin erat bergelayut di lengan teman kencan. Sambil berlagak melindungi, cowoknya mencuri-curi kesempatan. Dia elus-elus tengkuk pacarnya dengan tangan kanan. Tampaknya ada sesuatu yang baru saja dia bisikkan. Sehingga ceweknya tambah gemetaran. Semakin ketat dia berpegangan. Menempel lekat seperti ketan. Itulah tipu daya setan. Mereka keluar dari gedung bioskop dengan gesper ikat pinggang yang terlepas dan baju awut-awutan.
Setan menang. Setan senang. Karena dosa manusia kian bergelimang. Begitu berat hingga tak lagi bisa ditimbang. Bersemai bermayang-mayang. Bertumpuk-tumpuk di dalam keranjang. Memenuhi gudang. Mereka telah mengelabuhi Bambang. Menjerumuskan Endang. Di sela tubuh-tubuh yang bergelinjang. Setan mematikan lampu penerang. Sepasang anak manusia sibuk mengerang. Dengan kaki menendang-nendang. Rasa malu sudah hilang. Meski di tempat umum mereka tetap berlaku jalang.
Bertalu-talu sura kendang. Setan mengerek bendera sepenuh tiang. Berlambang tulang bersilang. Para produser terus digoda dengan uang. Agar membuat filem jenis itu berulang-ulang. Nona-nona penjual tiket sibuk menorehkan tanda silang. Karcis disiapkan dalam jumlah tak berbilang. Karena angka penonton terus menjulang.
Setelah era tayangan TV yang menguak misteri hantu ramai-ramai mendulang iklan dan secara perlahan kemudian mati suri, giliran dunia perfileman yang didominasi oleh cerita-cerita hantu. Terjadi migrasi, dari TV ke layar lebar, dari ruang keluarga ke gedung bioskop.
“Kita telah menciptakan generasi hantu,” kata Heru, teman mengobrol Sony yang kadang-kadang sok tahu itu.
Sony tak setuju. Sinyalemen itu terlalu berlebihan. Ini hanyalah suatu masa yang harus dilewati. Biarkan saja. Nanti juga redup sendiri. Tinggal menunggu waktu. Hantu juga tak suka berlama-lama tinggal di seluloid. Dia akan mencari tempat baru. Pindah lagi. Mungkin saja ke media cetak atau buku. Atau pulang lagi ke TV. Bisa pula mengambil bentuk acara live di kuburan. Penonton tinggal duduk selonjor sambil bersandar pada batu nisan. Sebagian teler karena kebanyakan menghirup asap kemenyan. Proses migrasi itu akan terus berjalan. Karena jumlah penggemarnya melonjak habis-habisan. Itulah rakyat setan.
Setan tersenyum melihat banyak manusia masuk ke dalam jebakan. Mereka bersorak sambil berloncat-loncatan. Sebagian lagi berjumpalitan. Sebagian yang lain bertepuk tangan. Bunyi terompet bersahut-sahutan. Mereka mengumpulkan teman dan kerabat untuk bikin hajatan. Manusia diundang sebagai tamu kehormatan. Telah disiapkan kursi-kursi rotan yang nyaman. Dan makanan gratisan. Juga minuman memabukkan. Dan Inex yang menyegarkan.
Gong raksasa berdentam menandai acara pembukaan. Pesta yang penuh kenikmatan. Sesungguhnya mereka sedang membangun jembatan. Membawa manusia pada kebutaan. Agar tak tahu bila sedang disesatkan. Dari jalan terang menuju kegelapan. Sehingga terkumpullah jutaan teman dalam kebersamaan. Untuk bersama-sama menikmati pedihnya siksaan. Di neraka yang telah dijanjikan.
Sony tak pernah sekalipun menganggap hantu sebagai sesuatu yang menakutkan. Baginya, mereka tak lebih dari sekedar banyolan. Ketika pindah kantor ke daerah Kebayoran, beberapa karyawannya mengatakan kalau kantor baru tersebut berhantu. Orang-orang sekitar bilang para penunggu itu pindahan dari bekas rumah sakit yang terletak bersebelahan dan belum lama runtuh dihujani palu.
“Hawanya ganjil. Seperti ada angin yang meriap bertiup usil. Pokoknya beda,” kata mereka.
Penjaga malam beberapa kali melihat seorang nenek-nenek sedang menyapu di lantai dua. Tepat di depan ruang kerja Sony yang luas lagi lega. Sedangkan di tempat parkir, dua anak kecil suka terlihat berlari-larian. Tapi Sony tak percaya pada hal-hal yang demikian. Makanya dia ingin membuktikan.
Malam Jum’at Sony sengaja tidak pulang, menginap di kantor. Siap tarung bak matador. Dengan semangat tempur seorang gladiator. Supirnya dia suruh pulang pakai motor. Kebetulan, dia sedang butuh banyak data. Sekalian, pikirnya. Malam hari internet jalannya kencang. Mungkin karena sudah agak lengang.
Maka malam itu, dia menunggu kemunculan hantu sambil kelayapan di dunia maya. Sesekali nyelonong ke situs porno, membuang kantuk dan cuci mata. Namun, hingga tengah malam tidak terjadi sesuatu yang aneh. Demikian pula ketika fajar menjelang. Tenang. Semua biasa-biasa saja. Sepi. Padahal Sony sudah sesumbar, dengan berteriak-teriak memanggil nenek-nenek peot itu supaya datang menemuinya. Tapi tidak nongol juga. Karena bosan dan capek main umpet-umpetan, Sony akhirnya tertidur di sofa.
“Hantunya tidak berani ketemu Bapak, takut dimarahi dan dimintai uang,” kata supirnya dalam perjalanan pulang.
Kadang-kadang Tukijan suka lancang bicara, meski berkata benar. Memang, ada beberapa kawan yang bilang kalau Sony tidak bakat melihat hantu. Karena ada penghalang besar antara dimensinya sebagai manusia yang agak gemar tepu-tepu dan alam gaib di mana hantu tinggal. Mungkin hantu takut dikadalinya. Sehingga menjaga jarak.
“Tembok tebal itulah yang harus dibongkar,” kata mereka yang, ternyata, juga belum pernah ketemu hantu.
Bisa jadi malam itu sebenarnya hantu nenek-nenek tersebut datang dan memperhatikan segala tingkah polahnya dengan rasa tidak senang. Mungkin pula hantu itu memukul-mukul kepalanya dengan sapu tanpa dia pernah bisa merasakan.
Sony jadi teringat cerita Pak Jamal, seorang kliennya dari Kalimantan Timur, beberapa bulan lalu. Pria tambun yang ke mana-mana suka memakai baju batik lengan pendek itu menyempatkan diri mampir ke kantor Sony setelah membereskan urusannya di Kantor Perwakilan Jakarta.
Seperti biasa, mereka ngobrol hingga berjam-jam. Pak Jamal bercerita kepada Sony mengenai pengalamannya bertemu hantu. Karena penasaran ingin melihat hantu, dia nekat laku. Berpuasa tiga hari penuh. Dan pada hari ketiga menginap sendirian di sebuah rumah kosong yang konon berhantu. Semalaman dia baca Surat Al-Jin sebanyak seribu. Menjelang dini hari, tiba-tiba seberkas cahaya menyilaukan muncul di hadapannya. Tanpa ba-bi-bu, cahaya itu langsung menghempas keras ke tubuhnya. Pak Jamal tak ingat apa-apa. Tahu-tahu, keesokan paginya dia dibangunkan orang karena tidur telungkup di rerumputan di pinggir jalan di sebelah kiri. Sarung dan kolornya nyangkut di dahan pohon turi. Lelaki setengah telanjang itu dikira korban tabrak lari.
Tentu saja Sony tak ingin peristiwa seperti itu terjadi di kantor. Bangun tanpa kolor. Karenanya, dia selalu menepis semua omongan karyawannya. Namun beberapa karyawan tetap ngotot dan bersikeras bahwa ada hantu di kantornya. Mereka memang tak bisa membuktikan, tapi bisa merasakannya. Pintu sering membuka dan menutup sendiri, kata mereka. Angin yang lumayan kencang tiba-tiba berhembus meski tak satu pun jendela terbuka. Akibatnya, karyawan tak mau kerja lembur walau tengat waktu semakin pendek. Takut digerayangi hantu nenek-nenek.
Gawat.
Akhirnya Sony mengalah. Dia suruh mereka cari orang pintar. Agar hantu-hantu itu mau dibujuk keluar. Biar pindah ke tempat yang lebih lebar. Kalau perlu dibuang ke Jelambar. Di dekat jembatan kembar.
“Siang, Pak.”
Ditemani Heru, Pak Lutfi masuk ke ruang kerja Sony. Setelah diawali dengan sedikit basa-basi, kemudian pembicaraan menjurus ke persoalan inti, mengusir hantu pengganggu.
“Insya’ Allah, mereka akan saya bawa pergi, agar tak mengganggu lagi,” kata Pak Lutfi, yang langsung beraksi. Tangannya direntangkan dan kemudian dia melangkah berputar-putar. Tatapan matanya melingkar-lingkar. Seperti bola bekel yang memantul-mantul liar. Sesekali kedua pergelangan tangannya bergetar-getar. Seolah kesenggol arang panas yang sedang terbakar. Tiba-tiba pria berbaju koko dan berpeci hitam itu bergerak mundur, seperti sedang mencekik sesuatu. “Sudah ketangkep satu.”
Anehnya, ada seorang karyawan perempuan yang sangat ketakutan begitu ketemu Pak Lutfi. Tidak seperti orang-orang lain yang ramai-ramai menyaksikan tetangga Heru itu beraksi. Desi malah meringkuk di sudut ruangan seolah hendak menyendiri. Dia mengeluh sakit kepala semenjak empat hari. Ketika Pak Lutfi menghampirinya, dia hampir saja lari. Untungnya Pak Lutfi yang kakinya tersangkut gulungan kabel hingga sarungnya hampir lepas itu masih sempat menangkap pundak sebelah kiri. Setelah mengencangkan gulungan sarungnya, dia urut-urut bagian belakang leher Desi. Ajaib. Desi terkulai lemas dan tertidur.
“Dia kemasukan,” ujar Pak Lutfi singkat. “Sekarang sudah tidak apa-apa, sudah saya keluarkan,” tambahnya.
Beberapa orang membopong Desi dan kemudian merebahkan perawan Betawi itu di sofa.
Pak Lutfi melanjutkan pekerjaannya. Satu per satu semua ruangan diperiksa dan dibersihkan. Tak boleh ada satu pun yang terlewatkan. Harus disapu bersih. Mulai dari lantai dua hingga basement yang menjadi tempat parkir. Namun Sony tidak mengikuti proses itu hingga berakhir. Seorang tamu datang mampir. Agak tengsin dia, karena tamunya terheran-heran melihat keramaian yang sedang terjadi.
“Ada apa?” tanya tamu itu dengan agak ragu-ragu, sementara tangannya bergerak-gerak kacau melonggarkan ikatan dasi.
Sony memutuskan berterus-terang. “Itu, anak-anak bilang di kantor ini banyak hantu bergentayang. Jadi, ya kita panggil orang pintar untuk menangkapnya agar bisa digelandang. Maunya sih, dibuang.”
Ternyata Sony salah sangka. Pak Jhony sangat antusias bila diajak bicara soal hantu dan benda-benda pusaka. Hantu ternyata ada juga manfaatnya. Padahal tadinya Pak Jhony datang hendak komplain karena ada pekerjaan yang agak tersendat. Tapi setelah asyik ngobrol soal hantu, ceritanya jadi lain. Mereka berdua semakin akrab saja. Memang, dia tetap komplain, tapi dengan nada bicara yang sangat halus. Dan setelah itu tak pernah lagi menyinggung-nyinggung soal keteledoran yang telah dilakukan karyawan Sony. Apalagi setelah Sony bercerita mengenai kakaknya yang jadi dukun dan mampu menembus tembok. Mendengar cerita tersebut, orang Manado itu langsung menyatakan keinginannya untuk ketemu Slamet, meski harus ikut Sony pulang ke kampung halamannya.
Mereka semakin asyik bertukar cerita. Ditemani kopi kental dan asap tebal rokok kretek yang dihisapnya dalam-dalam tanpa pernah putus, Pak Jhony bercerita tentang drakula.
Drakula sudah punah, demikian dia memulai ceritanya. Monster berjubah hitam yang biasa terbang di kegelapan malam dan doyan minum darah itu mati di tangan seorang pastur tua bersenjatakan sepotong pasak kayu berbentuk salib. Tubuhnya hangus terbakar bersama tonggak yang menancap di dadanya, tepat mengenai jantungnya. Gumpalan asap hitam menguap dari jasadnya. Bergulung-gulung, kemudian melesat ke neraka. Tapi para penghuni neraka tak suka akan kehadirannya. Maka penguasa neraka mendepaknya kembali ke dunia. Bukan lagi sebagai drakula, melainkan seekor vampir yang gemar menghisap darah sapi yang tidur dengan mulut menganga.
Tidak apa-apa, pikirnya, sambil menjilati sayap kirinya yang agak basah terkena tetesan darah sapi yang baru saja disedotnya. Sebagai makhluk yang sudah berumur ratusan tahun, dia cukup bijaksana dan sabar menerima keadaan. Yang penting masih bisa terbang, minum darah segar, dan keluyuran di malam hari. Hanya saja, sekarang harus lebih berhati-hati. Bekerja dengan teliti.
Tapi malang baginya, seorang peternak menembak mati vampir sialan itu tepat di antara kedua mata. Sang peternak marah karena sapi-sapinya kurus kering kurang darah. Apa lacur, vampir yang kepalanya sudah tak berbentuk lagi itu harus hengkang kembali ke neraka. Lagi-lagi, tak seorang pun yang mau berteman dengannya. Sehingga, sekali lagi, penguasa neraka terpaksa mengusirnya. Mengirimnya kembali ke bumi, sebagai seekor nyamuk.
“No problem. Aku tetap dapat menukik kesana-kemari, menghisap cairan merah kesukaanku, dan begadang di malam hari,” kilahnya dengan nada optimistis, menghibur diri. Sekalipun sasaran harus berganti. Dari sapi ke manusia yang sedang tertidur pulas.
Namun kemalangan tak pernah lepas darinya. Seorang ibu mengayun-ayunkan raket elektrik bikinan Cina untuk melindungi buah hatinya yang lelap. Seperti tengah bermain-main dengan tongkat sulap. Sekali dua kali nyamuk dekil itu berhasil mengelak. Tapi, pada kali ketiga, rajutan kawat halus beraliran listrik tersebut menghantam tubuh ringkihnya secara telak. Tak tersisa apa pun.
“Mati aku. Harus balik lagi ke neraka.”
Kali ini para penghuni neraka benar-benar berang. Mereka menggelar demo besar-besaran sambil menabuh genderang. Tuntutan mereka hanya sebiji. Makhluk jelek itu harus enyah dari neraka dan tak boleh kembali lagi.
Penguasa neraka pusing tujuh keliling. Lonceng demokrasi telah berdering. Lex Populi Lex Dei. Suara mayoritas selama ini telah memberinya legitimasi bagi terselenggaranya kegiatan penyiksaan yang pedih, tertib dan terkendali di neraka. Maka, tanpa pikir panjang dia hempaskan makhluk buluk tersebut ke bumi dengan tendangan pisangnya yang terkenal. Sebenarnya dia tak tega. Tapi, apa boleh buat? Maka dikutuknya biang kerok itu menjadi softex wings. Tetap punya sayap, menghisap darah, tapi tidak bisa terbang lagi.
“Sudah. Sudah. Saya harus balik ke kantor. Takut kena macet. Kapan-kapan kita sambung lagi ceritanya. Kalau perlu sambil berkaraoke,” kata Pak Jhony seraya berpamitan pulang.
Sony menemaninya turun ke tempat parkir. Dari dalam mobilnya, yang kaca jendela depannya dibuka, pria berkacamata tebal itu masih sempat-sempatnya berucap, “Pak Sony, bagaimana kalau Mas Slamet kita undang saja ke Jakarta.”
Sony hanya tersenyum. Tidak mengiyakan dan tidak pula menolak permintaan itu. Setelah mobil Pak Jhony menghilang dari penglihatan, barulah dia menghampiri Pak Lutfi yang sedang duduk-duduk di tempat parkir ditemani supirnya, Tukijan. “Bagaimana Pak, hasilnya?” tanya Sony.
“Sudah beres, Pak. Sudah ketangkep semua. Saya buang di jalan nanti,” jawabnya.
Maka Sony menyuruh Tukijan mengantar Pak Lutfi pulang. Tak lupa dia selipkan amplop di sakunya yang bertanda silang. “Terima kasih Pak, atas bantuannya.”
Pak Lutfi mengangguk.
Sony mendapat laporan dari Tukijan bahwa Pak Lutfi membuang hantu-hantu itu di Pemakaman Jeruk Purut dalam perjalanan pulang ke Pasar Minggu. Bagus kalau gitu. Di sanalah seharusnya mereka berada. Biar hantu nenek-nenek itu memukuli hantu tanpa kepala dengan sapunya karena terus mengotori rerumputan dengan darah yang menetes dari kepala lepas yang ditenteng di tangannya.
Tapi, tiba-tiba Sony khawatir kalau-kalau ada satu atau dua hantu yang masih tertinggal di dalam mobilnya. “Jan, coba kamu periksa sekali lagi, jangan-jangan ada hantu yang masih ngumpet di dalam mobil.”
Tukijan langsung membuka semua pintu mobil, termasuk bagasi dan kap mesin.
“Sudah bersih Pak. Tidak ada apa-apa.”
Sebenarnya, bukan kali ini saja Sony menempati kantor berhantu. Sewaktu masih berkantor di daerah Mampang, hantu-hantu di sana malah lebih usil dan suka mengganggu. Di antara sekian rukan yang berderet rapi, unit yang Sony tempati memang terlihat agak singup. Seperti ada sesuatu yang melingkup. Bahkan, menurut beberapa orang di kantor sebelah, unit itu belum pernah ditempati sejak pertama kali dibangun. Tak heran, Sony mendapatkannya dengan harga sewa yang terbilang murah.
Mungkin karena berhantu. Terutama di lantai dua, tepatnya di depan tangga. Ruangan yang ditempati Bagian Pemasaran itu hawanya tetap dingin meski AC tidak menyala. Lampunya sering mati. Berkali-kali diganti, selalu mati lagi. Hanya bertahan satu atau dua hari. Akhirnya dibiarkan saja tanpa lampu penerang. Agak gelap memang. Biar saja, hemat listrik. Habis, bikin jengkel melulu.
Ketika baru ditempati sehari, seorang karyawan kesurupan. Tiba-tiba saja dia terjengkang. Untung seseorang sempat menghadang. Sehingga tidak jatuh ke belakang. Kalau tidak, kepalanya pasti berlobang. Soalnya, di bawah ada tumpukan barang. Dan paku-paku segede pisang. Sisa-sisa kecerobohan tukang.
Syamsuddin, anak baru itu, kejang-kejang. Tatapan matanya kosong menerawang. Seperti orang yang ingatannya hilang. Kakinya menendang-nendang. Tangannya bergerak-gerak melintang. Seolah hendak mengusir bayang-bayang. Dari mulutnya meluncur kata-kata sembarang. Berteriak-teriak seperti binatang. Ayat Kursi segera berkumandang. Dan, dengan bantuan sesiung bawang. Yang kulitnya sudah dibuang. Setan jail itu akhirnya pergi melayang. Semua girang. Tak perlu keluar uang.
Hantu yang suka duduk-duduk melamun di pantry itu, konon katanya, arwah penasaran seorang perawan yang mati bunuh diri karena ditinggal kawin pacarnya. Menenggak racun serangga. Tidak ketahuan mereknya apa. Hanya ada gelas besar yang menganga. Jasadnya yang sudah kaku ditemukan oleh ibunya. Di dalam kamarnya.
Tapi Sony tak percaya. Itu hanyalah setan yang gemar meniru-niru. Agar manusia tertipu. Itu setan kerjanya mengaku-ngaku. Sebagai arwah penasaran yang menunggu dinding bersiku. Kehadiran manusia dianggapnya mengganggu. Karena merusak tatanan yang berlaku. Dia marah dan bersikukuh. Minta disediakan kembang yang rupanya tujuh. Harus diletakkan di atas selembar tisu. Ditambah sepotong kuku. Dasar loe, nggak tahu malu.
Sejak mula Sony sudah tahu kalau kantor itu berhantu. Dia diberi tahu Mas Yusa. Kakaknya yang pemborong bangunan itu, sengaja dia impor dari kampung halaman untuk membantunya membuat sekat-sekat ruangan dan partisi sebelum kantor tersebut ditempati. Bersama dua orang tukang, mereka kerja lembur selama dua minggu, karena Sony ingin segera menempati kantor barunya.
Malam itu, katanya, ketika kedua tukangnya turun untuk beristirahat dan makan di warteg depan, Mas Yusa tetap berada di lantai tiga memeriksa hasil pekerjaan anak buahnya. Menemukan ada pekerjaan yang kurang rapi, dia langsung berteriak ke bawah memanggil Yusron. Tapi tak ada yang menyahut. Panggilannya tak berjawab. Ke mana ini orang-orang, pikirnya. Setelah beberapa saat, baru dia ingat kalau mereka sedang makan. Maka dia putuskan menunggu seraya menandai pekerjaan yang cacat itu, agar nanti tak sampai lupa diperbaiki.
Tiba-tiba saja Yusron sudah berada di sampingnya.
“Eh, Sron, tadi saya panggil-panggil, apa kamu tidak dengar? Syaiful mana?”
Yusron tak menjawab. Mas Yusa segera menarik tangan tukangnya itu untuk memperlihatkan pekerjaannya yang kurang rapi. Yusron menurut saja. Dia minta maaf. Berjanji akan memperbaiknya nanti.
“Ya sudah. Tidak apa-apa. Namanya juga pekerjaan diuber waktu. Diburu-buru. Pasti ada kurang-kurangnya sedikit, lah,” kata Mas Yusa. “Eh, Sron, tolong belikan kopi di warung depan,” tambahnya.
Yusron langsung pergi. Dan tak lama kemudian muncul lagi dengan segelas kopi panas di tangannya. Setelah itu dia pamit turun. “Lupa beli rokok,” katanya.
Diiringi Syaiful di belakangnya, Yusron naik ke lantai tiga, dengan segelas kopi. “Pak, saya bawakan kopi.”
“Yang benar saja, Sron. Kamu kan barusan membelikan saya kopi, kok sekarang bawa kopi lagi. Yang ini saja masih setengah,” sergah Mas Yusa.
Yusron dan Syaiful tampak kebingungan.
“Pak, saya baru datang. Kok, Bapak bilang tadi saya bawa kopi. Yang benar, Pak,” tukas pria baya berambut keriting itu.
“Lha, kalau begitu, yang saya suruh beli kopi tadi siapa?” tanya Mas Yusa.
Sreeeng. Bulu kuduk mereka langsung berdiri.
“Jangan-jangan ….,” kata Syaiful, sambil garuk-garuk kepala. Dia teringat peristiwa malam sebelumnya. Sapu dan pengki bergerak-gerak sendiri membersihkan lantai yang kotor di kantor baru itu.
Bagi Sony, kantor baru di Kebayoran yang dia bangun di bekas rumah tua itu sama sekali tidak terlihat angker. Malahan, keren. Hanya saja, dua minggu lalu, Raja Tabah Pandapotan, salah seorang karyawan di Bagian Pemasaran, kesurupan. Tapi bukan di kantor, melainkan di rumahnya.
Sepulang dari menyelesaikan pekerjaan di Yogjakarta bersama Heru, Raja tak masuk kantor sekitar lima harian. Sakit kata adiknya, yang menelepon Anita untuk memberi tahu. Maka, bersama Heru, sore itu Sony bertandang ke rumah pemuda Batak tersebut di daerah Kebon Baru. Anehnya, Raja tidak apa-apa. Kelihatan sehat-sehat saja. Hanya agak kurusan. Pada kedua matanya terbentuk cekungan. Seperti kurang tidur dan banyak pikiran. Jenggot dan kumisnya tumbuh tak beraturan. Tidak dicukur. Tidak seperti Raja yang biasanya, yang selalu tampil klimis dan gaya.
Pak Tegar, ayahnya, memberi tahu Sony bahwa sudah beberapa hari anaknya itu suka bertingkah aneh. Tiba-tiba saja Raja berteriak-teriak dalam Bahasa Jawa yang sama sekali tidak dia mengerti. Dipanggilkan orang pintar juga tak mau berhenti. Malah orang yang hendak menolongnya terlempar hingga membentur lemari. Akhirnya dukun dari kampung sebelah itu menyerah dan pamit pergi.
Kalau sudah begini, dibiarkan saja berteriak-teriak sampai pagi. Akhirnya berhenti sendiri. Mungkin kecapaian atau sudah tak sadarkan diri. Kejadian seperti ini sudah berulang enam kali. Kalau kumat tak pilih-pilih waktu. Kadang sore dan lebih sering malam hari. Sudah tiga orang pintar yang jatuh menggelepar. Kini opung-nya sedang pergi ke Kampung Makassar. Menjemput dukun sakti asal Bima.
Di mata Sony, Raja tampak biasa-biasa saja. Hanya terlihat seperti orang yang sedang lelah. Mereka mengobrol di beranda ditemani teh manis dan bika ambon buah tangan opung-nya yang baru pulang dari Medan. Raja kelihatan sangat bersemangat ketika bercerita tentang Yogjakarta, kota budaya yang baru pertama kali dikunjunginya. Dia memborong kaos Dagadu dan beberapa blangkon di Malioboro. Pesanan adik-adiknya.
Kemudian dia bercerita mengenai pengalaman aneh ketika melewati depan keraton. Raja mencium bau kemenyan yang terus mengikutinya ke manapun dia pergi. Sesampainya di hotel, baru bau yang menyengat itu hilang begitu saja. Dia memang tidak bercerita kepada Heru yang ke mana-mana pergi bersamanya di sana. Takut ditertawakan.
Tiba-tiba saja mata Raja membelalak merah. Sony panik. Tapi Heru bertindak cepat dengan menangkap Raja dan kemudian menyeretnya ke sofa panjang. Sepertinya Heru kewalahan. Sony dan Pak Tegar segera membantunya. Raja berhasil ditidurkan terlentang di sofa. Mulutnya merancu. Bukan suaranya sendiri. Melainkan suara seorang perempuan dalam Bahasa Jawa halus.
Sony tak terlalu paham, tapi secara garis besar dia menangkap bahwa perempuan itu bernama Raden Ayu Inwulandari. Masih kerabat jauh keraton dari zaman baheula. Dia naksir Raja, dan ingin menikah dengannya. Tapi rupanya alam bawah sadar Raja menolak. Sehingga gadis yang sudah berusia ratusan tahun itu marah.
“Pegang tangan dan kakinya!”
Dari pintu depan opung Raja yang ditemani seorang lelaki berperawakan kecil bergegas menghampiri mereka. Pria setengah baya berpakaian serba gelap dan ikat kepala hitam itu dengan sigap mengeluarkan sebatang tongkat kecil dari balik bajunya. Diketukkannya tongkat sulap itu tiga kali tepat di kening Raja. Pemuda kerempeng tersebut langsung diam, seperti orang yang sedang tertidur.
“Biarkan saja, nanti juga bangun sendiri. Pengganggunya sudah pergi. Tak akan pernah balik lagi. Kecuali kalau masih mau dipukul pakai buntut sapi. Emang berani?” ujar dukun Bima itu sambil menyarungkan kembali tongkat ajaibnya ke dalam selongsong putih yang terbuat dari kulit biri-biri.
Tongkat itu tergeletak begitu saja. Tali pengaitnya masih melingkar di pergelangan tangan. Lampu senter tergenggam di tangan kiri. Masih menyala. Tapi sinarnya sudah lemah. Mungkin hampir habis baterainya. Pemiliknya tidur terlentang di tengah jalan.
Pak Zaenal, Hansip itu, ditemukan terge